65. Kelahiran Adik Laki-Laki (Bagian Kedua)
"Aku sudah berpesan sebelumnya, dia tahu akan dimintai tolong untuk persalinan di rumah kita. Hanya saja, nenek tiba-tiba hendak melahirkan hari ini, bukan di waktu yang sudah dijanjikan. Bawalah uang dan surat ini untuk diberikan kepadanya, dia pasti akan datang." Tanpa uang, segalanya akan sulit. Nenek Bai adalah dukun bayi paling tersohor di sekitar sini. Dia memiliki gengsi tinggi; biasanya, keluarga lain harus membuat janji terlebih dahulu untuk memanggilnya. Dirinya sendiri dan adiknya, Er Niu, dulunya juga lahir dengan bantuannya. Orang yang punya nama besar tentu punya harga diri. Kali ini, Yufen tiba-tiba mengalami kontraksi, waktunya meleset dari rencana. Jika tidak memberikan uang tambahan, aku khawatir Nenek Bai tidak mau datang.
Shanbao segera menyahut, "Aku akan segera pergi." Jinxiu juga bergegas berkata, "Cepatlah kembali, aku sendirian di sini, takut tidak sanggup menanganinya!"
Nenek Gui tidak mau membantu, Er Niu masih terlalu kecil, sementara Ayah masih bertugas menjaga perbatasan. Di rumah ini, benar-benar hanya Jinxiu yang mengurus segalanya. Saat mendengar ucapan itu, rasa hangat membanjiri hati Shanbao. Ia segera mengangguk, "Aku mengerti. Nenek Bai itu, meski harus kutodong dengan pisau, akan kupaksa dia untuk datang!"
Setelah memberikan instruksi, Jinxiu masuk ke dalam kamar dan menyiapkan segala perlengkapan yang dipesankan oleh Nenek Bai. Persiapan ini tidak rumit, Jinxiu sudah menyiapkannya sejak lama. Yufen juga bukan lagi pengantin baru yang belum pernah melahirkan, jadi meskipun perutnya sangat sakit, ia tetap bisa menjaga ketenangan dan bahkan mengarahkan Jinxiu untuk melakukan tugas-tugas lainnya.
Bagi keluarga miskin, tidak ada ruang persalinan khusus yang terpisah, jadi persalinan hanya bisa dilakukan di kamar Yufen. Uang memang bisa melancarkan urusan. Saat Jinxiu sedang cemas, Nenek Bai akhirnya datang. Jelas, kedatangannya tidak terhitung lambat. Sebagai seorang profesional, ia bekerja dengan tenang dan memberikan perintah dengan cekatan. Hanya dalam waktu dua jam, tangisan bayi yang nyaring terdengar di dalam kamar. Er Niu yang melihat kamar penuh dengan darah langsung bersembunyi di balik punggung Jinxiu, tidak berani melihat. Namun, Jinxiu menahan rasa takutnya dan membelalakkan mata. Di bawah kesaksian kedua bersaudara itu, pada sore hari tanggal dua puluh tiga bulan dua belas tahun ketiga puluh satu era Yongsheg Dinasti Daxuan, saat langit mulai gelap, Yufen melahirkan seorang bayi laki-laki. Ibu dan anak selamat.
"Hahaha," Fuxiang yang baru pulang ke rumah di malam hari mendekap bayi laki-laki yang berkerut itu dengan penuh kebahagiaan, seolah-olah ia sedang mabuk kepayang melebihi meminum tiga kati arak Huiquanchun kualitas terbaik. "Keluarga Yuan kita akhirnya memiliki penerus! Aku, Fuxiang, punya anak laki-laki!"
Yufen yang berbaring di balik selimut dengan wajah pucat hanya bisa tersenyum tipis mendengar itu. Jinxiu, yang sedang menyuapi ibunya air jahe, telur, dan gula merah, merasa sedikit muak. "Ayah," ujarnya. Melihat ibunya begitu menderita, namun ayahnya yang baru pulang langsung menanyakan apakah bayinya laki-laki atau perempuan tanpa memedulikan kondisi ibunya, Jinxiu merasa tidak senang. "Lihatlah betapa bahagianya Ayah, seolah-olah Ayah sedang mengharapkan sesuatu dari adik laki-laki ini? Apakah Ayah punya gelar kebangsawanan yang harus diwariskan kepadanya?"
"Ibu sudah sangat menderita hari ini, Ayah bahkan tidak datang untuk menanyakan kondisinya!"
Ini adalah versi zaman dulu dari ungkapan "punya takhta kerajaan untuk diwariskan kepada anak laki-laki". Fuxiang tersenyum canggung dan buru-buru meletakkan bayi itu di samping Yufen. "Iya, iya, apa yang dikatakan Da Niu benar. Kamu sudah sangat lelah hari ini. Ingin makan apa? Besok akan Ayah belikan. Beristirahatlah dengan baik selama beberapa hari ke depan. Ayah tahu, saat melahirkan Er Niu dulu tubuhmu sempat drop, dan karena kondisi rumah kita yang sulit, kamu tidak banyak mendapat asupan gizi. Sekarang hidup kita sudah sedikit lebih baik, manfaatkanlah waktu akhir tahun ini untuk memulihkan kesehatanmu."
Perhatian yang tulus dan hangat itu membuat Jinxiu merasa puas, dan Yufen pun merasa tenang. "Terima kasih sudah memikirkanku, Pak."
Setelah berbincang sejenak, Fuxiang tak kuasa menahan diri untuk pamer. Ia menggendong bayi itu dan bergegas keluar. Jinxiu berteriak, "Mau dibawa ke mana?"
"Aku akan membawanya untuk diperlihatkan kepada Bibi, dia pasti akan senang!" Fuxiang pergi dengan penuh semangat, namun tak lama kemudian, raungan dan teriakan seperti badai dari Nenek Gui terdengar, "Siapa yang menyuruhmu membawanya keluar! Siapa yang mau melihat monyet kecil berkerut ini!"
Diiringi tangisan sang adik, Fuxiang kembali dengan wajah lesu. Sifatnya memang baik, ia tidak ambil pusing meski dimarahi kakaknya, tetap saja ia tertawa kecil, "Kakak hanya terlalu senang."
Ketiga ibu dan anak itu tidak bisa berkata-kata. Apakah itu cara menunjukkan rasa senang? Jinxiu berdeham dan merapikan selimut ibunya. "Ayah," ucapnya sambil tersenyum ke arah Fuxiang, "Ayah harus memberi adik nama."
"Oh, iya! Benar!" Fuxiang baru teringat hal itu. "Memang harus diberi nama." Ia berpikir sejenak, lalu tersenyum kepada Jinxiu, "Ayah tidak punya banyak ilmu, biar kamu saja yang memberi nama resmi untuk adikmu, dan Ayah yang akan memberi nama panggilannya!"
Tantangan ini justru dilemparkan kembali kepada Jinxiu. Setelah menidurkan ibunya, Jinxiu dan Er Niu kembali ke kamar untuk menyiapkan tempat tidur. Saat itulah ia menyadari Er Niu sedang murung. Setelah merapikan tempat tidur, ia menoleh dan melihat Er Niu mengerutkan kening dengan bibir cemberut. "Ada apa dengan Er Niu? Apakah hari ini sangat lelah? Mengapa tidak senang?" Jinxiu duduk di samping Er Niu dan mengusap kepalanya.
"Kakak," Er Niu yang cerdas melampaui usianya berpikir dengan cara yang berbeda, "Menurut Kakak, setelah Ayah dan Ibu punya adik laki-laki, apakah mereka tidak akan menyayangiku lagi? Nanti kalau ada makanan enak, apakah tidak akan diberikan kepadaku lagi?"
Jinxiu tertawa kecil, "Dasar anak kecil, dari mana pikiran itu muncul? Kita semua adalah anak Ayah dan Ibu, tidak ada yang lebih disayang atau tidak. Adik baru lahir, dia tidak akan merebut makanan darimu," Jinxiu merapikan rambut Er Niu, "Adik sekarang hanya minum ASI, tidak akan merebut jatah makan Er Niu. Nanti kalau sudah besar, Er Niu juga harus merawat adik seperti Kakak merawatmu. Saat itu tiba, makanan enak atau barang bagus, semuanya harus dibagi dengan adik."
"Sebagai satu keluarga, kita harus saling mendukung dan membantu. Jika ada makanan enak, kita makan bersama; jika ada kesulitan, kita tanggung bersama," Jinxiu tersenyum pada Er Niu, "Mungkin kamu belum paham sekarang, nanti kalau sudah besar kamu akan mengerti. Adik masih kecil, wajar jika Ayah lebih memanjakannya. Nanti kalau sudah besar, dia akan sama sepertimu."
Er Niu yang masih polos tetap mendengarkan kata-kata kakaknya, "Baiklah, aku akan mendengarkan Kakak. Nanti aku akan merawat adik dengan baik. Tapi Kakak," Er Niu menatap dengan mata jernihnya sambil memegang lengan Jinxiu, "Kakak harus tetap menjadi yang paling baik padaku, kalau ada makanan enak, harus disisihkan satu bagian untukku."
Jinxiu mencolek hidung Er Niu, "Tentu, tentu," ujarnya sambil tersenyum, "Selama aku punya, apa pun yang kamu minta, akan kuberikan."
Memberi nama bukanlah hal sepele. Sebagai keluarga prajurit, mereka harus segera memberikan nama untuk didaftarkan ke panji militer sebagai dasar pemberian jatah beras. Meskipun tidak seberapa, itu cukup untuk membantu ekonomi keluarga. Oleh karena itu, keesokan harinya, Jinxiu sudah memikirkan sebuah nama dan datang untuk memberitahukannya kepada ayahnya, Fuxiang.