Bab Lima Belas: Mengembalikan Barang Asal (Bagian Satu)
“Bagaimana maksud dari ucapan itu?”
“Aku membaca dalam Kitab Han, ada Zhang Qian yang diutus ke Barat, ada pula Ban Chao yang meletakkan pena demi menjadi prajurit; mereka semua mendapatkan anugerah bangsawan karena memahami urusan negeri asing,” ujar Jin Xiu sambil tersenyum. “Jejak para pendahulu begitu gemilang, Tuan Ning yang sangat paham sejarah, mana mungkin lupa pada dua tokoh besar itu? Lalu di masa Dinasti Tang, ada pula Biksu Xuanzang yang pergi ke Barat menuntut kitab suci, sepulangnya mendapat penghargaan dari Kaisar Taizong dan membangun suatu aliran besar Buddhisme; ini pun sangat tersohor.”
Nalan Yongning menggeleng pelan. “Kau pun bilang itu semua kisah lama. Zaman Han dan Tang, mana sama dengan sekarang? Sejak kaisar agung pendiri dinasti ini, negeri kita sama sekali tak peduli urusan luar. Selain beberapa pastor dan misionaris yang mengerti teknik mesin dan astronomi, orang asing lain seluruhnya dilarang masuk. Untuk urusan luar, hanya Guangzhou Tiga Belas Kongsi yang diperbolehkan jadi penghubung. Hanya ada jalur itu. Anak durhaka itu pun bukan seseorang dengan bakat luar biasa dalam ilmu astronomi atau hitung-menghitung, sudah pasti tak bisa unggul. Kalau mau berdagang di Tiga Belas Kongsi? Mana bisa dibilang pekerjaan baik?”
Nalan Yongning tampak suram. “Kini di masa Dinasti Yongsheng, urusan luar negeri semakin tak ada. Ia belajar hal-hal itu, paling banter hanya tak punya jabatan, jadi pemalas pun takkan sampai mati kelaparan. Tapi kalau sampai ada orang jahat membocorkan,–” Tatapannya tajam diarahkan pada Nalan Xinfang, yang seketika gemetar ketakutan, sebab memang agak takut pada ayahnya sendiri. “Hmph, dikatakan belajar urusan asing, jangan-jangan ada niat tak baik. Kalau sampai menyeret seluruh keluarga, itu tinggal menunggu waktu saja!”
Namun Jin Xiu tak menganggap kekhawatiran Nalan Yongning itu berlebihan. Ia sangat tahu betapa Kaisar Yongsheng angkuh, amat menjaga gengsi negeri sebagai nomor satu di dunia, dan kerap kali menggelar persekusi sastra semata demi ambisi pribadinya. Singkat kata, segala sesuatu lebih didasarkan pada suka atau tidaknya sang kaisar.
“Kekhawatiran Tuan Ning memang ada benarnya, jadi Tuan Muda Nalan memang harus lebih berhati-hati,” lanjut Jin Xiu menenangkan. “Tetapi ada pepatah, zaman selalu berubah, dunia tak pernah tetap. Kelak, jika ada perubahan, itu sangat mungkin terjadi. Lagi pula, andaipun semuanya tetap seperti sekarang, Tuan Ning, bagaimana kau tahu kelak Tuan Muda Nalan takkan bisa menjadi Kepala Bea Cukai Guangdong? Jika ia memang menguasai urusan luar negeri, adakah yang lebih layak daripada dirinya untuk jabatan itu?”
Nalan Yongning tak kuasa menahan tawa. “Siapa dia? Mana mungkin sampai ke posisi itu? Kepala Bea Cukai Guangdong adalah jabatan pengumpul pajak terbesar di negeri ini, satu wilayahnya saja setara dengan beberapa provinsi Jiangnan! Jabatan itu hanya untuk pejabat kepercayaan kaisar dan mereka yang sangat cakap. Dia? Tunggu saja di kehidupan berikutnya!”
Namun, segala penjelasan Jin Xiu memang cukup mengangkat pentingnya Nalan Xinfang. Ekspresi Nalan Yongning pun melunak, dan Jin Xiu tahu suasana sudah lebih baik. Ia pun tersenyum pada Zhang Gui, “Paman Zhang Gui, Tuan Ning sudah melunak, kenapa tak segera lepaskan ikatan Tuan Muda Nalan?”
“Apa-apaan Tuan Muda Nalan!” bentak Nalan Yongning, mendengus dingin. “Siapa dia, langsung saja sebut namanya!”
Dengan muka kusam dan pakaian kotor, Nalan Xinfang akhirnya dilepaskan, lalu berdiri di hadapan Jin Xiu dan Nalan Yongning dengan ogah-ogahan.
“Bocah tak berguna!” hardik Nalan Yongning. “Kalau bukan karena Nona Jin membelamu hari ini, aku pasti takkan semudah ini memaafkanmu! Cepat berterima kasih pada Nona Jin!”
Nalan Xinfang segera membungkuk memberi hormat pada Jin Xiu. Jin Xiu menyingkir sedikit, “Aku tak pantas menerima itu, Tuan Muda Nalan. Yang harus kau syukuri adalah Tuan Ning.”
Namun Nalan Yongning tak serta-merta melepaskan putra sulung yang ia gantungkan harapan padanya. “Kumafkan hukumannya, tapi bukan berarti semua selesai! Cepat keluar, berlutut di halaman, pikirkan baik-baik kesalahanmu!”
Itu sebenarnya bukan hukuman berat, Nalan Xinfang sudah terbiasa dengan pola seperti ini. Ia pun buru-buru keluar, khawatir ayahnya akan melanjutkan amarahnya dengan hukuman lain yang lebih berat.
Nalan Yongning mengundang Jin Xiu duduk lagi, meminta pelayan menyajikan teh. “Anakku itu, orang lain mungkin karena menghormatiku akan berkata-kata manis, tapi tak pernah ada yang seperti yang kau katakan, sungguh membuatku berpikir,” ujarnya sambil mengangkat cangkir teh, termenung lama. “Kau bilang zaman akan berubah, apa dasarnya?”
Tentu saja ini hanya ucapan Jin Xiu belaka, namun saat ditanya sedemikian, ia pun tak bisa mengelak begitu saja. Ia berpikir sejenak, lalu berkata, “Setiap zaman ada yang naik, ada yang jatuh, ada yang muncul, ada yang menghilang—itulah hukum alam. Kadang, hanya butuh satu pemicu, atau seseorang yang berani jadi pelopor.”
“Itu benar juga,” Nalan Yongning mengangguk, lalu berbincang ringan. Setelah suasana kembali tenang, ia bertanya pada Jin Xiu, “Nona Jin datang hari ini, apakah ada keperluan?”
Untunglah Nalan Yongning mengingatkan, kalau tidak Jin Xiu nyaris lupa tujuan kedatangannya. Ia mengeluarkan selembar kertas dari lengan bajunya, meletakkannya di atas meja di sampingnya. “Terima kasih atas hadiah kunci panjang umur dari Tuan Ning, aku sungguh bahagia dan sangat berterima kasih. Tak disangka, di dalam kotak kunci itu ada pula selembar surat utang perak. Aku takut Tuan Ning keliru meletakkannya, jadi segera kubawa kembali, supaya Tuan Ning tak mengira hilang dan tak bisa mencarinya.”
Zhang Gui yang berdiri di pintu tanpa suara, mendengar ucapan Jin Xiu, diam-diam menoleh untuk melihat ekspresi Jin Xiu. Nalan Yongning sedikit mengangkat alis, “Ternyata di sini! Aku memang sudah lama mencarinya. Mungkin memang aku memintakan Zhang Gui memberikannya padamu? Kenapa tidak kau terima saja?”
Nalan Yongning menurunkan cangkirnya, tersenyum, “Itu hanya dua puluh tael perak, tak banyak. Aku memang biasa memberi hadiah sebanyak itu.”
Sungguh licik orang tua ini, Jin Xiu tentu paham ini hanyalah ujian. Siapa pula yang tiba-tiba memberikan surat utang perak begitu saja? Lagi pula, “Waktu Paman Zhang Gui mengantarkan, beliau hanya bilang ada benda kecil untuk aku mainkan, sama sekali tak menyebut soal surat utang itu.”
“Lagipula, tak pantas menerima hadiah tanpa berjasa. Aku sama sekali belum membantu Tuan Ning, mana berani menerima surat utang ini? Jadi, waktu kulihat semalam, aku langsung berniat mengembalikannya hari ini, kalau tidak aku benar-benar tak akan tenang tidur.”
Nalan Yongning tertawa keras, memutar-mutar jenggotnya, “Ternyata aku yang salah. Sebenarnya aku tahu keadaan keluargamu susah, makanya ingin diam-diam memberikannya, tanpa sepengetahuan orang lain. Kini kau paham maksudku, bawa saja pulang—itu memang bukan salah taruh.”
Tentu saja Jin Xiu ingin uang perak itu, dua puluh tael jauh lebih berarti dari apapun.