Dua Puluh Delapan, Kedatangan Juru Tulis (Bagian Kedua)
Anggur berkualitas tinggi Yuquan Chun yang didatangkan dari Ibu Kota memang tidak sempat dicicipi oleh Pengurus XIng, namun tokoh besar dari Ibu Kota justru dapat ia temui. Masih di beranda terbuka tempat menonton pertunjukan semalam, Kepala Keluarga Li membawa Pengurus Xing ke sana. Di tempat itu, Pengurus Xing melihat tiga orang duduk santai di kursi kayu cendana, menghadap panggung pertunjukan di seberang kolam.
Dari panggung terdengar suara merdu yang memukau, namun perhatian Pengurus Xing sama sekali tidak tertarik pada alunan suara itu. Melihat ekspresi Hou Yanniang, ia pun mulai memahami mengapa Kepala Keluarga Li saat menyambut tadi tampak begitu gelisah. Hou Yanniang memang bukan orang yang mudah diajak bicara. Benar saja, ketika melihat Pengurus Xing, Hou Yanniang tak berdiri, hanya menoleh sambil masih menggigit tutup mangkuk tehnya, lalu melambaikan kepala ke arah Kepala Keluarga Li. Kepala Keluarga Li pun menarik napas lega, dan segera mundur dengan tergesa-gesa seolah sedang melarikan diri.
Hou Yanniang pun tidak menyapa Pengurus Xing, malah menoleh ke arah seorang pemuda yang duduk di kursi utama, seakan meminta persetujuan. Pemuda itu membelakangi Pengurus Xing, menatap panggung di luar beranda. Wajahnya sulit dilihat, namun Pengurus Xing merasa ada sesuatu yang aneh, sebab di wilayah Kabupaten Dingxing saat ini, selain Hou Yanniang, tak ada pemuda yang memiliki kedudukan sebanding dengannya.
Bukan salah Pengurus Xing bila ia belum tahu apa yang terjadi di Taman He semalam. Kehadiran dua tuan muda dari Keluarga Nalan di Kabupaten Dingxing sebenarnya merupakan peristiwa besar. Namun semalam perhatian semua orang tertuju pada penampilan Wei Zhangsheng yang membawakan lagu Qinqiang, sehingga hari ini pun yang menjadi bahan pembicaraan hanyalah “Bai Suzhen” oleh Wei Zhangsheng. Soal kedua kakak beradik Nalan, nyaris tidak ada yang menyebutnya lagi di Dingxing.
Ini sejalan dengan keinginan Jin Xiu untuk tetap rendah hati.
Jin Xiu bangkit, berbalik menghadap Pengurus Xing dan memberi salam singkat tanpa memperkenalkan diri. Ia hanya mengutarakan dua hal, yang mana keduanya dalam situasi apa pun pasti akan membuat Pengurus Xing terkejut.
Ketika dua kabar bak ledakan dilemparkan Jin Xiu secara bersamaan, dampaknya jauh lebih mengguncang daripada jika disampaikan satu per satu. Pengurus Xing bahkan hampir terjungkal saking terkejutnya.
“Bupati Huang akan dipromosikan menjadi Inspektur Logistik Jinzhong.”
“Tuan Pengurus, apakah Anda tertarik menjadi Bupati Kabupaten Dingxing berikutnya?”
“Apa?!”
—
Yang satu adalah pernyataan mutlak, yang satu lagi pertanyaan. Namun kedua kalimat itu bukan saja hampir membuat Pengurus Xing jatuh, melainkan juga membuat wajahnya berubah drastis. Ia memandang Jin Xiu dengan curiga, lalu melirik ke arah Hou si Gendut di sampingnya. Melihat Hou si Gendut pun kini tidak lagi bersikap ceria seperti biasanya, Pengurus Xing makin merasa suasana di beranda ini sangat aneh; sebaiknya ia segera mencari alasan untuk pergi. Namun senyum pemuda di hadapannya itu, yang misterius dan penuh keyakinan, justru membuat orang merasa sebaiknya tetap tinggal. Jika pergi, mungkin akan menyesal seumur hidup. Kesempatan kadang hanya datang sekali.
"Siapakah gerangan..." Pengurus Xing menata ekspresi, berusaha tersenyum ke arah Hou Yanniang. "Tuan Ketujuh, bila ada sahabat baik datang, mengapa Anda tidak memperkenalkan kepada saya?"
"Kesempatanmu sudah tiba hari ini, Xing," ujar Hou Yanniang dengan nada serius. "Inilah Tuan Besar Keluarga Nalan, keturunan langsung Menteri Mingzhu, salah satu dari Delapan Keluarga Besar yang sesungguhnya."
Nama Keluarga Nalan memang masih sangat berpengaruh. Pengurus Xing pun kembali memberi salam hormat kepada Jin Xiu dan berbasa-basi sejenak. Jin Xiu melihat Pengurus Xing ragu-ragu, maka ia pun tidak berkata apa-apa lagi, hanya mempersilakannya duduk menonton pertunjukan bersama. Hari ini, Wei San yang tampil di panggung tidak mengenakan riasan, hanya mengenakan baju biru dan membawa kipas lipat bergambar puisi lama, membawakan nyanyian dari "Paviliun Peony" dengan lembut.
Suara Wei San jelas mampu menaklukkan siapa pun, termasuk Pengurus Xing. Namun meski sudah duduk dan menatap panggung, ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Jelas pikirannya tidak tertuju pada suara Wei San. Jin Xiu dan Hou Yanniang saling bertukar pandang, paham bahwa dua kalimat tadi sudah menggoyahkan hati Pengurus Xing, hanya saja mungkin butuh sedikit dorongan lagi.
Hou Yanniang pun meletakkan tutup mangkuk tehnya ke atas meja bundar berlapis mika, lalu berkata dengan nada tidak sabar, "Wahai Xing, mari kita bicara terang-terangan saja, tak perlu ada yang disembunyikan. Dua hal yang baru saja dikatakan Tuan Besar Nalan, sudah kamu dengar kan?"
"Saya sudah dengar," jawab Pengurus Xing. Wajahnya, tak seperti Bupati Huang yang kering dan kurus. Berwajah persegi, pipinya kemerahan, tubuhnya tegap seperti seorang perwira, tidak mirip pejabat administrasi keuangan sebuah kabupaten. Ia mengangguk ke arah Jin Xiu. "Tuan Besar Nalan, saya ingin menanyakan dulu soal yang pertama. Apakah benar Tuan Huang akan dipromosikan?"
"Sudah pasti. Bahkan tadi malam, Bupati Huang masih bercanda dengan Saudara Peide, katanya akan pergi ke Keluarga Hou di Jiexiu untuk menonton pertunjukan. Menurut Anda, itu artinya apa?"
"Itu sendiri mungkin tidak berarti apa-apa. Namun Saudara Peide segera mendapat kabar dari Prefektur Baoding, bahwa hal ini sudah pasti terjadi."
"Rasanya sulit dipercaya," Pengurus Xing bertanya hati-hati, tak jelas apakah ia menginginkan jawaban positif atau negatif. Wajahnya tampak sangat bimbang. "Dari bupati langsung ke inspektur, itu... Tuan Besar Nalan, mohon maaf jika saya lancang, ini benar-benar sebuah lompatan jabatan yang luar biasa."
Mendengar ucapan itu, Jin Xiu tahu Pengurus Xing sudah mulai tergoda. Siapa pun yang pernah berjuang di lingkungan birokrasi pasti sulit menahan godaan kenaikan jabatan.
Di kehidupan sebelumnya, Jin Xiu juga pernah bekerja di sebuah instansi yang cukup santai. Meski status kepegawaiannya tetap, ia tetap ingin naik pangkat, memperoleh jabatan lebih tinggi, gaji lebih besar, dan tunjangan yang lebih baik. Mengatakan tidak pernah tergiur oleh hal-hal duniawi hanyalah omong kosong seperti kisah Tao Yuanming. Selain dia, siapa pun yang berjuang di dunia kekuasaan pasti ingin melangkah lebih jauh. Jin Xiu sendiri, meski tidak rakus, tetap menginginkan posisi dan penghasilan yang lebih baik. Itu adalah sifat manusia dan tidak bisa semata-mata dianggap terlalu ambisius.
Perkataan Pengurus Xing itu menunjukkan ia sudah tergoda, namun tetap ingin memastikan kebenarannya. Kalau tidak, ia tidak akan bertanya demikian. Jin Xiu tersenyum paham, memainkan kipas lipat di tangannya. "Tuan Xing mengira saya tidak tahu aturan negara? Biasanya, jabatan inspektur logistik tidak tetap, pangkatnya pun tidak tinggi. Jika Inspektur Logistik Jinzhong hanya pejabat pembantu, maka Bupati Huang meski menunggu sepuluh tahun pun belum tentu mendapat giliran. Tapi sekarang ia hanya mendapat promosi kecil, bukan lompatan besar."
Di sini, perlu dijelaskan sedikit tentang sistem jabatan pejabat Da Xuan. Inspektur adalah pejabat daerah yang berada di antara gubernur provinsi dan kepala prefektur. Pada masa awal Dinasti Da Xuan, pangkat inspektur tidak tetap. Pada masa Dinasti Qing, setiap provinsi memiliki inspektur, ada yang khusus menangani urusan tertentu, ada pula yang sebagai wakil gubernur. Inspektur khusus biasanya menangani logistik atau penyimpanan, disebut Inspektur Logistik; ada pula yang mengurus sungai dan irigasi, disebut Inspektur Sungai.