Sang Kaisar membimbing dan merawat seluruh rakyat, memegang kendali atas langit dan bumi. Segala sesuatu di dunia ini menjunjung dan menghormati Sang Kaisar sebagai pemimpin tertinggi. Namun aku berkata: Sang Kaisar memang penguasa tertinggi di dunia, tetapi aku berada di atas langit itu sendiri.
Pada malam keempat belas bulan ketujuh tahun ketiga puluh satu masa kejayaan Dinasti Agung Xuan, suasana di ibu kota terasa menyesakkan. Musim panas di kota selalu terasa membakar, pengap tanpa hembusan angin sedikit pun. Pada musim seperti ini, siapa pun yang memiliki vila di pinggiran kota, rumah peristirahatan, atau taman, sudah pasti memilih mengungsi ke sana untuk menghindari panas, menjauh dari gerahnya kota. Hanya mereka yang mencari nafkah di kota yang masih bertahan, sementara para bangsawan telah lama meninggalkan tempat ini.
Kota ini memang selalu terkenal dengan panasnya, itu sudah biasa. Namun, tahun ini hawa panas terasa jauh lebih mencekik dari biasanya. Sejak akhir bulan keenam, hujan tak pernah turun barang setetes pun. Hingga kini, hampir sebulan penuh langit tetap kering. Sumur, saluran air, dan mata air di Bukit Permata pun banyak yang mengering. Beberapa waktu lalu, urusan pasokan air untuk istana nyaris terhambat. Untung saja para penghuni istana yang paling terhormat sedang tidak berada di tempat, sehingga para kasim pengurus air dari Biro Rumah Tangga Istana dapat menutupi kekurangan itu tanpa menimbulkan masalah besar. Kalau tidak, mereka bukan hanya akan dipermalukan di hadapan para bangsawan, tapi juga terancam hukuman cambuk.
Di dalam Kota Terlarang sendiri, tak terdengar suara aneh apa pun. Hanya suara kasim yang menabuh kentongan, mengingatkan setiap istana dan paviliun akan waktu, sekaligus memperingatkan agar semua waspada terhadap bahaya kebakaran karena udara sangat kering. Malam yang pekat dan sunyi tanpa angin, hanya suara