Bab Delapan Puluh Empat: Maukah Kau Menikahi Seorang Penyihir Tua?
Kamar perempuan itu sangat sederhana dan sempit, menampung lima orang saja sudah menjadi batas maksimalnya. Segala sesuatu di dalam ruangan tersebut tampak tua dan suram, bahkan di siang bolong sekalipun kamar itu memancarkan aura kematian.
Saat Arthur dan Gawain melangkah masuk, perempuan itu sedang duduk di atas kursi sambil termenung dalam keheningan.
"Kalian ingin bertanya apa, cepat tanyakan. Jika kalian ingin bertanya tentang kakakku, maka aku sarankan kalian lebih baik pulang saja, karena dia bukanlah seseorang yang bisa kalian hadapi sekarang." Ucap perempuan itu setelah melihat keduanya masuk, lalu ia melepas kerudung yang menutupi kepalanya.
Arthur menahan napasnya, wajah Gawain sedikit memucat dan ia mengalihkan pandangannya.
Perempuan tua itu sama sekali tidak terlihat seperti manusia. Kulit di wajahnya keriput dan menguning, hidungnya mirip terong yang sudah membusuk, dan giginya yang tanggal menyisakan beberapa gelintir saja yang mencuat mengerikan.
Jika dilihat dari dekat, tangannya entah telah mengalami penyiksaan seperti apa hingga menyerupai cakar binatang buas. Jari-jarinya mirip tulang kering yang telah mati, kuku-kukunya tajam, panjang, dan kehitaman tanpa tahu sudah berapa lama tidak dibersihkan. Lipatan-lipatan kerutan menutupi matanya sepenuhnya, tatapannya kosong dan rabun.
Arthur telah melihat tak terhitung banyaknya gambar di internet yang membuat mata sakit. Berdasarkan wajah dan suara yang mirip orang mati itu, jika ia membintangi sebuah film horor, ia pasti bisa membuat beberapa penderita penyakit jantung mati ketakutan.
Ini sungguh sangat sialan jeleknya, benar-benar tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata! Sekilas melihatnya saja, makanan dari hari kemarin pun pasti akan termuntah keluar.
Bagaimanapun, Arthur telah melihat banyak hal, dan Gawain juga merupakan seseorang dengan tingkat pengendalian diri yang sangat baik. Keduanya masih bisa menjaga kesopanan dasar tanpa mengucapkan kata-kata yang terlalu berlebihan.
"Aku telah melihat banyak orang dengan kekuatan besar, dan tidak sedikit pula legenda serta pahlawan di daratan ini, tetapi aku belum pernah mendengar tentang Ksatria Berzirah Hitam. Itu hanya bisa menjelaskan satu masalah: dia sangat kuat, namun pada saat yang sama dia juga memiliki kelemahan fatal yang ditakutinya jika sampai terbongkar," ucap Arthur dengan sangat yakin. "Kukira kau sangat mengetahui kelemahan ini, kalau tidak, hubungan antara kau dan kakakmu tidak mungkin menjadi begitu kaku."
Perempuan itu tidak langsung menjawab pertanyaan Arthur. Matanya memandang bolak-balik ke arah mereka berdua seolah sedang memikirkan sesuatu. Wajah Gawain masih menyisakan rona pucat pasi, ia dengan lembut menarik pakaian Arthur dari belakang, memberi Isyarat agar Arthur sebaiknya menjaga nada bicaranya demi menghindari terucapnya kata-kata yang memicu kemarahan.
"Sungguh pantas disebut sebagai Utusan Avalon. Bagus, aku memang mengetahuinya, dan alasan hubunganku dengan kakakku merenggang juga karena hal itu. Tapi, untuk apa aku memberitahumu semua yang kutahu, lalu membiarkanmu pergi dan mencelakai keluargamu—maksudku keluargaku?"
"Keuntungan apa yang bisa kudapatkan?" Perempuan itu tersenyum dingin dua kali.
Suara yang begitu mengerikan mirip burung hantu malam itu, baru saja diucapkan beberapa patah kata saja sudah membuat seluruh bulu kuduk Arthur dan Gawain merinding.
"Nyonya, jika Anda memiliki suatu keinginan atau membutuhkan sesuatu, aku bisa membantu Anda mewujudkannya." Gawain mengumpulkan keberaniannya, berdiri di hadapan Arthur, dan berkata kepada perempuan itu.
Perempuan itu tertawa terbahak-bahak. "Jika di antara kalian ada yang bersedia menikahiku, maka aku akan memberitahu kelemahan kakakku padanya."
Arthur hampir saja memuntahkan seteguk darah segar. Ini bahkan lebih mengerikan daripada perawan tua berusia delapan puluhan, sialan, perempuan ini benar-benar mirip nenek sihir tua jadi-jadian yang menunggu untuk dipinang.
Wajah Gawain seketika kehilangan warna darahnya dan sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Berapa usia Gawain? Ia baru saja menginjak usia dewasa! Penampilannya tampan dan tutur katanya ramah, seorang ksatria muda belasan tahun menikahi seorang perempuan buruk rupa berusia delapan puluh atau sembilan puluh tahun yang bahkan masih menyertakan tanda tanya besar—bagaimana ia bisa menghadapi orang-orang di sisa hidupnya kelak? Bagaimana ia bisa menjalani kehidupannya?
"Tapi... tapi bagaimana jika kita tidak menyetujuinya, apa yang akan terjadi pada Ketua Arthur?" Gawain mencuri-curi pandang ke arah Arthur.
Arthur memiliki mental yang kuat sehingga tidak terlalu memikirkan banyak hal. Ia dan Gawain berdiri berdampingan, dan keduanya sama-sama dibuat tercengang hingga mati rasa oleh kata-kata tajam sang perempuan.
"Nyonya, bisakah Anda mengatakan sesuatu yang lebih masuk akal? Masih ada Morgan di sisiku yang menunggu untuk mengejarku, dan masih ada segerombolan perempuan cantik di ibu kota yang belum kuluputkan serangannya." Arthur mengulurkan tangan dan merangkul bahu Gawain, sementara seluruh punggung Gawain sudah basah oleh keringat. "Saudaraku ini, tingkat popularitasnya di ibu kota jauh melampaui diriku. Jika Anda membicarakan tentang emas dan permata, kami bisa membantu Anda. Menikahi Anda? Itu sedikit sulit."
Setelah mendengarkan perkataan Arthur, perempuan itu menatapnya dengan dingin. Tatapan mata dan wajahnya jika digabungkan bagaikan ikan piranha di dalam selokan bau; di balik rasa jijik itu tersimpan hawa dingin yang tak berujung, seolah ingin memakan daging Arthur hidup-hidup.
Dengan perasaan tidak senang, ia memukul meja lalu berdiri, menggunakan jari-jarinya yang aneh dan kurus kering untuk berteriak dengan liar kepada mereka berdua, "Pergi! Enyah kalian semua dari hadapanku! Jangan berharap bisa mengetahui apa pun dariku."
Arthur mendengkus dingin. Sampai pada titik ini, jalur negosiasi ini bisa dianggap telah runtuh. Sebentar lagi ia akan langsung pergi menemui Ksatria Berzirah Hitam. Meskipun perempuan jelek ini bukanlah orang jahat, dia jelas-jelas seorang wanita gila.
*Menikahimu? Menikahi kepalamu,* batin Arthur. Ia menepuk bahu Gawain lalu berbalik untuk pergi.
"Gawain, ayo kita pergi."
Namun......
Gawain tetaplah Gawain, sang matahari kecil yang selamanya memancarkan cahaya dan kehangatan.
"Ketua Arthur, aku bersedia menikahi Nyonya ini sebagai istriku," ucap Gawain dengan suara dalam sambil menatap punggung Arthur.
Arthur yang sudah berjalan sampai di pintu berbalik dengan kaget. Ia menatap Gawain yang berdiri di tempatnya semula. "Saudaraku, apakah kau sedang mencari mati? Aku katakan sejujurnya, calon istrimu di masa depan kelak akan sangat cantik jelita seperti dewi, tetapi sekarang kau memberitahuku bahwa kau ingin menikahi perempuan tua ini sebagai istrimu?"
Arthur menghentakkan kakinya karena cemas. Kenapa Gawain yang idiot ini begitu naif dan keras kepala? Masalah sepele apa ini, bukankah hanya karena gagal mendapatkan satu informasi kunci saja?
Sialan, memangnya tidak boleh kalau tidak menamatkan misi ini?
"Aku tidak setuju." Arthur seketika menolak usulan Gawain.
Gawain dan Arthur memulai perdebatan tiada akhir di dalam rumah kayu tersebut. Sang perempuan hanya menonton dalam diam, dan sejak awal hingga akhir ia sama sekali tidak pernah dengan sengaja memandu percakapan di antara kedua orang itu.
.......................
"Hah~~~~" Arthur duduk di ambang pintu sambil menatap Gawain yang menunjukkan ekspresi keras kepala. Pemuda itu bersikap keras kepala bagaikan keledai yang bersikeras ingin menikahi perempuan tua ini. Ditarik tidak mau beranjak, dibujuk tidak mau mendengarkan, benar-benar tidak ada cara lain yang bisa dilakukan.
Sekarang ia hanya bisa mengalihkan fokusnya kepada perempuan ini. Arthur meraba cincin penyimpanan di jarinya. Cincin ini adalah pemberian dari Morgan, dan di dalamnya terdapat beberapa gulungan sihir khusus yang digunakan untuk menghubungi Morgan. Semula Arthur tidak ingin melibatkan Morgan dalam masalah ini, tetapi jika bukan karena Morgan, bagaimanapun juga ia tidak akan bisa menyeret Gawain yang sedang keras kepala ini pergi.
"Hah!" Arthur menatap sang pelaku utama. Ia bertanya dengan suara lantang, "Sebenarnya siapa nama wanita berwajah buruk sepertimu ini?" Sampai pada situasi seperti ini, Arthur juga sudah malas berbicara dengan baik-baik kepadanya. Tangan kirinya mengulurkan tangan ke arah cincin penyimpanan, bersiap mengeluarkan gulungan sihir untuk memanggil bala bantuan.
"Nama mudaku adalah Regreleth."
Mendengar nama tersebut, Arthur menatap kaget ke arah perempuan yang sedang duduk di kursi itu. "Kau bernama Regreleth?"
Melihat ekspresi terkejut Arthur serta nada pertanyaannya yang ragu-ragu, Regreleth mengerutkan keningnya sejenak. Meskipun ia memiliki kekuatan yang besar, tidak pernah ada catatan tentang perbuatannya yang tersebar di luar. "Ya, ada apa?"
Angin hari ini tiba-tiba terasa sangat menusuk wajah. Arthur berjongkok di ambang pintu sambil memegangi kepalanya, memandangi Gawain dan wanita tua yang bernama Regreleth itu secara bergantian.
"Pernikahan kalian berdua akan kuurus dari awal sampai akhir, secepatnya akan lebih baik."
Gawain dan Regreleth sama sekali tidak mengerti mengapa sikap Arthur bisa berubah secara drastis dalam sekejap.
"Ketua Arthur, apakah Anda mengenal Nyonya ini?" Gawain bertanya.
"Tidak kenal, tapi bisa dibilang kenal." Arthur memasang ekspresi misterius, tersenyum kecil dua kali, lalu bangkit berdiri dan menepuk-nepuk debu di celananya.
Regreleth menatap Gawain dengan perasaan bahagia yang membuncah di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia berterima kasih kepada para dewa karena telah mendengar doa-doanya.
"Sekarang aku akan memberitahumu kelemahan kakakku. Arthur, dengarkan baik-baik......"