Bab Tujuh Puluh: Hukum Rimba (Bagian Kedua)
Liang Yunqing menghentikan langkah pria berpakaian hitam, lalu diam-diam mendekati Yiyi. Ia melihat Yiyi menutup mulut dan hidung dengan kain putih untuk menghalau bau darah yang menyengat, tetap fokus membalut luka dan menghentikan pendarahan pada para korban, sama sekali tidak menyadari kedatangan Liang Yunqing.
Tatapan penuh keseriusan dan ekspresi yang begitu konsentrasi membuat Liang Yunqing menyadari bahwa gadis kecil yang dulu suka manja di pelukannya seolah dewasa dalam semalam.
“Kenapa malam-malam begini belum juga beristirahat?” Suaranya yang dalam dan tenang perlahan terdengar, mudah ditebak ada kepedulian di dalamnya.
“Guru?!” Mendengar suara itu di sisinya, Yiyi girang dan segera bangkit berdiri. Baru saja berdiri, ia menyadari kakinya yang sudah lama berjongkok terasa mati rasa dan nyeri, “Aduh, aduh, aduh, aduh, ya ampun, kakiku kesemutan.” Sambil mengatakan itu, Yiyi pun tak tahan melompat-lompat.
Kelakuan canggung Yiyi membuat Liang Yunqing yang biasanya serius tersenyum, “Haha, lihatlah dirimu, kenapa belum juga beristirahat?”
“Guru, kenapa Anda datang kemari? Cepatlah pergi, tempat ini sangat kotor.” Ucap Yiyi sambil menunjuk lantai yang penuh darah dari para korban dan bajunya yang juga berlumur darah.
Bau darah begitu menyengat, hidung Liang Yunqing yang sensitif semakin terganggu setelah diingatkan Yiyi. Ia pun mengerutkan kening, menutup hidung, dan menurut saran Yiyi, menjauh untuk memandang Yiyi dari kejauhan. Yiyi pun, karena bajunya penuh bercak darah, enggan mendekat, takut mengotori sosok indah nan agung itu.
“Kenapa Guru datang?” Nada suara Yiyi tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
“Beberapa hari tak bertemu, aku datang untuk menemuimu. Tempat seperti ini... sebaiknya segera kembali saja.” Baru setengah bicara, Liang Yunqing mengubah nada, hanya mengajak Yiyi pulang, sebab tempat yang kotor seperti ini memang tidak pantas untuk Yiyi tinggal lama.
Melihat wajah Liang Yunqing yang penuh rasa jijik, Yiyi berpikir, meski halaman utara ini begitu kumuh, bukankah itu salahnya juga? Sosok secantik dewa itu justru membangun kekuasaan yang menyerupai neraka. Selama beberapa hari di sini, hal yang paling sering Yiyi saksikan hanyalah hukum rimba, tak ada yang lain.
Orang-orang di halaman saling membunuh, hanya yang kuat yang bisa bertahan hidup. Mereka yang dikirim menjalankan tugas sering dibunuh oleh kekuatan dari luar, dan yang berhasil kembali biasanya setelah melewati pengalaman hidup dan mati. Satu-satunya hal yang bisa disyukuri adalah, meski terluka parah, jika berhasil menyelesaikan tugas, mereka masih bisa bertahan hidup. Namun tak lama kemudian, mereka akan digantikan oleh yang lebih kuat. Begitu seterusnya, berganti dan berputar.
Dunia ini memang kejam, apalagi orang di depannya jauh lebih kejam.
Meski tak ada tugas khusus, gangguan dari luar tak pernah sepi. Di halaman utara, Yiyi sudah beberapa kali menyaksikan kekuatan dari kelompok lain menyerbu, namun selalu berhasil dipatahkan oleh para pembunuh halaman utara.
Siapa bilang mereka tidak datang untuk membalas dendam?
“Aku tidak mau pulang, tempat ini membutuhkan aku.” Untuk pertama kalinya, Yiyi menolak kebaikan Liang Yunqing, menatapnya tanpa berkedip, takut jika guru itu akan marah karenanya.
Liang Yunqing bahkan datang di tengah malam demi gadis ini, namun ia tidak menghargainya. Seharusnya ia sangat marah, tetapi saat melihat tatapan Yiyi yang gelisah menatapnya, amarahnya pun perlahan menghilang.
“Kali ini kamu sudah memahami halaman utara dengan baik, Yiyi, apa pendapatmu?” Liang Yunqing mulai tertarik.
“...Makaman Pembunuh...” Kata itu berkali-kali terngiang di kepala Yiyi sejak pertama kali diam-diam melihat suasana halaman utara, hanya saja ia tak tahu apakah suatu hari akan benar-benar terungkap.
“Ha ha ha, Makaman Pembunuh? Yiyi ternyata memberikan nama yang bagus untuk halaman utara milik guru.” Liang Yunqing tersenyum menutup mulutnya, Makaman Pembunuh, nama yang sungguh tepat, benar-benar sesuai dengan kenyataan.