Bab Empat Puluh Satu: Anak Halaman Utara (Bagian Satu)
Siapa bisa menyangkal bahwa manusia tak mungkin abadi, namun Liu Yunqing benar-benar seseorang yang luar biasa. Setelah melihat tujuh ekornya yang bergoyang-goyang, Liu Yiyi akhirnya mengakui kecurigaannya selama ini. Dengan begitu, asal-usul kecantikan Liu Yunqing yang memukau dan tiada duanya di dunia pun terungkap. Konon rubah dikenal paling menawan dan memesona, ternyata memang benar adanya.
Pada saat yang sama, Yiyi juga merasa terharu atas kepercayaan Liu Yunqing yang berani menunjukkan wujud aslinya. Penghalang yang selama ini sulit ia lewati di dalam hatinya pun perlahan mencair. Jika Liu Yunqing bisa begitu terbuka dan lapang dada, mengapa ia harus terus terbelenggu oleh hasil akhir? Lebih baik ia melangkah lebih dekat bersamanya; sekalipun seperti laron yang mengejar api, setidaknya kehangatan yang terang itu sudah cukup baginya.
Setelah melepaskan beban batinnya, Yiyi akhirnya tak perlu lagi menjalani hidup yang mengekang. Setiap hari, selain menempel manja dengan Liu Yunqing, ia juga suka keluyuran ke sana kemari. Yiyi yang nakal dan jahil itu pun kembali seperti sediakala!
Liu Yunqing sangat gembira melihat beberapa hari belakangan Yiyi tidak lagi menjauh darinya. Benar saja, langkah berisiko besar dengan mengungkap rahasia itu ternyata adalah pilihan yang tepat.
Semua orang di kediaman tahu bahwa Liu Yiyi adalah kesayangan Liu Yunqing. Ia mendapatkan marga Liu dan sejak kecil diperlakukan seperti putri sendiri. Maka, ke mana pun Yiyi pergi, tak ada seorang pun yang berani menghalangi. Hanya satu tempat yang membuat Yiyi penasaran bertahun-tahun, yaitu satu halaman yang selama ini ingin ia masuki namun selalu dihalangi oleh para pengawal.
Hari itu, setelah berputar-putar, Yiyi akhirnya tiba di depan gerbang halaman utara. Melihat gembok yang biasanya terkunci kini telah hilang, ia mengira sedang beruntung, dan tanpa ragu hendak mendorong pintu masuk. Namun tiba-tiba seorang pengawal muncul menghadang jalannya.
"Nona Yiyi, halaman utara adalah tempat terlarang, bukan tempat yang boleh Anda datangi," kata pengawal itu dengan pakaian tempur yang berbeda dengan penjaga di dalam rumah.
"Astaga! Hampir saja aku kaget setengah mati! Jalan pun tak ada suaranya, ya?" Barusan Yiyi sudah melihat sekeliling dan tak menemukan satu pun penjaga di pintu, tapi tiba-tiba muncul seorang hidup-hidup, hampir saja jiwanya melompat keluar.
"Maafkan saya, Nona!" Pengawal itu bahkan berlutut dengan satu lutut, menunjukkan sikap hormat setinggi-tingginya, yang justru membuat Yiyi jadi serba salah.
Belum pernah ada seorang pun di rumah ini bersikap seperti itu padanya! Apa peraturan di halaman utara memang berbeda dengan tempat lain?
"Tidak boleh masuk? Benar-benar tidak boleh masuk? Kakak berbaju hitam, diam-diam izinkan aku mengintip sebentar saja, aku janji takkan bilang siapa-siapa," rayu Yiyi, berusaha membujuk.
"Tidak boleh, sungguh tidak boleh. Kami diperintah menjaga pintu terlarang di utara. Tanpa surat perintah dari tuan rumah, siapa pun tidak boleh masuk. Nona Yiyi, jangan mempersulit kami." Usai berkata begitu, beberapa pria berbaju hitam lainnya juga ikut berlutut di hadapannya.
Melihat sikap mereka, jelas mereka tidak akan membiarkannya masuk.
"Baiklah, baiklah, aku takkan memaksa kalian. Eh! Guru!" Yiyi mengalah, namun tiba-tiba berseru girang.
Para pengawal sontak menoleh ke arah suara Yiyi, bersiap untuk memberi hormat.
Kesempatan tak boleh disia-siakan, Yiyi segera mengangkat rok dan dengan langkah cepat hendak menerobos masuk ke halaman utara selagi perhatian mereka teralihkan.
Mereka baru sadar tidak ada tuan rumah di sana, dan langsung mengerti telah diperdaya. Seharusnya sudah waspada sejak awal, sebab Yiyi memang terkenal cerdik dan usil! Untung saja tubuh Yiyi kecil dan kakinya pendek, jadi larinya tak cepat. Pada detik-detik terakhir, sebelum satu kakinya melangkah masuk, ia berhasil ditarik kembali.
Jika sampai ia masuk, tamatlah riwayat mereka!
"Aduh, lepaskan aku!" Yiyi digendong, ia menendang-nendang dan berusaha keras melepaskan diri.
"Nona, mohon kasihanilah kami. Jangan masuk, ya! Kalau Anda masuk, nyawa kami pasti melayang!" Pengawal itu memandang Yiyi dengan wajah penuh penderitaan, berharap ia mau berbaik hati dan pulang lebih cepat.
Aduh, inilah yang namanya ditolak mentah-mentah! Yiyi merasakannya sekarang, hatinya jadi gusar, tapi hari ini tak boleh masuk, suatu saat nanti ia pasti akan masuk juga!
Kita lihat saja nanti!