Bab Tujuh Puluh Satu: Hukum Rimba (Bagian Tiga)
“Hehehe, Makam Para Pembunuh? Ternyata kau telah memberikan nama yang bagus untuk halaman utara milik gurumu, Yiyi.” Liu Yunqing menutup mulutnya sambil tersenyum ringan. Makam Para Pembunuh, sungguh nama yang cocok, sesuai dengan kenyataannya.
“Eh?” Apa maksud gurunya? Apakah gurunya sedang menegurnya karena terlalu banyak bicara? Melihat Liu Yunqing tersenyum, Yiyi malah merasa semakin khawatir.
“Mulai hari ini, nama halaman utara di luar akan diganti menjadi Makam Para Pembunuh. Jika kau ingin tetap di sini, maka tinggallah. Jika kau ingin kembali, kamarmu masih tetap aku sisakan. Istirahatlah lebih awal, dan seringlah datang menengok guru.” Dengan jari-jemarinya yang halus, Liu Yunqing mendekat dan membelai wajah Yiyi. Sorot mata yang biasanya dingin kini berganti dengan penghargaan dan kasih sayang.
Akhirnya ia merasa, membiarkan Yiyi tetap tinggal di dalam kediaman ini bukanlah hal yang buruk. Tak hanya karena keahlian pengobatannya, tetapi juga karena setiap ucapannya sejalan dengan pikirannya, itu saja sudah sangat berharga.
Meski Liu Yunqing berpesan agar ia beristirahat lebih awal, malam itu Yiyi justru tak bisa memejamkan mata. Bukan karena harus menyelamatkan orang yang terluka, melainkan memikirkan dirinya sendiri. Bukan karena Liu Yunqing, tapi karena lingkungan tempat ia berada saat ini.
Beberapa hari terakhir, Yiyi benar-benar menyaksikan kebrutalan dan kegelapan dunia ini. Ia mulai berpikir, bagaimana caranya ia bisa melindungi diri di tempat yang begitu berbahaya? Dalam dunia penuh pertumpahan darah, untuk pertama kalinya Yiyi merasa keahliannya dalam pengobatan tidak ada artinya. Apa ia harus menunggu hingga dibunuh dulu lalu mengobati dirinya sendiri?
Beberapa hari ini, ia tak hanya melihat pembunuh-pembunuh saling bertarung satu sama lain, lebih banyak lagi orang luar yang menyerbu masuk. Dalam setiap pertempuran, siapa yang lebih dulu menyerang, dialah yang punya peluang untuk hidup. Mereka yang hanya menunggu dan mengamati gerak lawan, biasanya langsung tewas hanya dalam satu serangan.
Setiap jurus yang dikeluarkan pasti mengincar titik lemah, jika pun bukan serangan mematikan, tetap saja meninggalkan luka parah. Mana mungkin masih punya tenaga untuk bertahan? Biasanya yang lebih dulu menyeranglah yang mampu mengendalikan situasi.
Semua itu diamati Yiyi. Dari situlah ia mengambil kesimpulan—menyerang adalah pertahanan terbaik.
Kalau memang menyerang adalah pertahanan terbaik, maka keahliannya dalam pengobatan hampir tidak berguna. Ketika pembantaian terjadi, ia hanya bisa menjadi korban yang menunggu ajal.
Yiyi sebenarnya tidak ingin ikut terlibat dalam pertarungan berdarah itu, namun ia pun tidak punya pilihan. Liu Yunqing punya banyak musuh di luar, lawan terkuatnya adalah beberapa kelompok kekuatan yang sepadan dengan kekuasaan kerajaan. Sedangkan Yiyi yang dibesarkan oleh Liu Yunqing, mana mungkin bisa melepaskan diri begitu saja?
Sebelumnya, karena orang luar tidak tahu bahwa Yiyi mengetahui urusan halaman utara milik Liu Yunqing, setiap kali ia keluar untuk mengobati orang, mereka masih memberinya jalan. Tapi kini, setelah beberapa gelombang pembunuh masuk ke halaman utara dan sebagian dari mereka bisa keluar hidup-hidup, pasti semua sudah melapor bahwa Yiyi punya hubungan erat dengan kekuatan gelap milik Liu Yunqing.
Ketika Yiyi masih terbaring gelisah di tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara denting senjata yang beradu dari luar. Ia segera turun dari ranjang, mengenakan pakaian dan bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Begitu pintu dibuka, suara teriakan langsung terdengar, “Liu Yiyi ada di sini, bunuh dia!”
Ternyata kini ia pun menjadi target musuh.
Beberapa orang berpakaian hitam serempak menyerangnya, Yiyi bahkan tak sempat bersembunyi. Melihat situasi itu, para pembunuh dari Makam Para Pembunuh segera berdiri di hadapan Yiyi, mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya. Melihat satu per satu musuh tumbang, namun orang-orangnya sendiri juga berguguran, hati Yiyi bergetar keras! Apakah ia akan selalu menjadi orang yang hanya menunggu untuk diselamatkan?
Ia, sungguh tidak rela...