Bab Tiga Puluh Tujuh: Jika Saling Menghargai (Bagian Ketiga)
Akhirnya tarian itu selesai dan mereka bubar. Setelah benar-benar berada di luar jangkauan pandangan Cai Min, Zeng Xiaoya akhirnya menghela napas lega dua kali, lalu berkata kepada Lili, "Menurutmu, perempuan bermarga Cai itu apa memang setiap bulan hormonya kacau ya? Kenapa setiap bulan harus ada dua hari seperti ini, sungguh deh. Kalau dia sendiri yang bermasalah sih tidak apa-apa, tapi kenapa kita juga harus kena imbasnya, aduh."
Saat Xiaoya berbicara, Lili melirik sekeliling, lalu memberi isyarat agar Xiaoya diam. "Sudah, Xiaoya, jangan diteruskan. Kamu itu harus hati-hati, Tingting ada di belakang kita. Kalau sampai dia mengadu lagi, kita bisa-bisa dipotong gaji."
Zeng Xiaoya menoleh dan melihat Tingting yang memang mengikuti di belakang mereka. Ia pun kembali menoleh ke Lili dan berkata, "Lili, menurutmu ada orang yang parasnya lumayan, tapi hatinya benar-benar busuk, dan sering banget mengadu tentang kita. Menurutmu, orang seperti itu nanti setelah mati bakal dilempar ke tingkat neraka yang ke berapa ya?"
Lili ingin sekali tertawa, tapi ia menahannya, lalu balik bertanya, "Aku tidak tahu, Xiaoya. Kamu tahu tidak?"
"Hehehe, kayaknya sih tingkat ke delapan belas, ya. Katanya neraka tingkat delapan belas itu sangat mengerikan, dan dengar-dengar, di sana itu tidak bisa reinkarnasi selamanya. Aduh, membayangkannya saja sudah ngeri. Sudahlah, tidak usah dibahas lagi, toh kita tidak melakukan apa-apa, kita tidak akan masuk ke sana. Yuk, cepat ganti baju, siap-siap kerja."
Setelah mendengar itu, Lili hanya mengangguk dan masuk ke gerai khusus miliknya.
Di sini, Xiaoya ingin memperkenalkan sedikit tentang tempatnya bekerja. Pusat perbelanjaan tempatnya bekerja bukanlah mal kecil biasa, melainkan sebuah pusat perbelanjaan besar yang terdiri dari sepuluh lantai. Lantai pertama adalah tempat aksesori kecil dan berbagai barang mewah, lantai dua berisi sepatu pria, wanita, dan anak-anak pilihan, lantai tiga khusus celana pria dan wanita bermerek, lantai empat berisi beragam pakaian wanita bermerek, lantai lima untuk pakaian pria bermerek, lantai enam penuh dengan gaun pesta, lantai tujuh untuk baju anak-anak, lantai delapan menyediakan pakaian hamil dan mainan anak, lantai sembilan adalah taman bermain besar, lalu lantai sepuluh ada restoran cepat saji dan kafe. Di sini berkumpul berbagai makanan khas dari seluruh negeri, dan harganya masih cukup terjangkau, meski ada dua restoran hotpot yang sangat mahal, dan baru-baru ini juga ada restoran Barat yang baru dibuka. Oh iya, ada juga satu lantai bawah tanah yang menjadi supermarket. Tentu saja, dengan fasilitas sebagus ini, konsumsi di sini juga tidak sedikit. Ambil contoh Zeng Xiaoya sendiri, gajinya sebulan pun tidak cukup untuk membeli satu baju di sini.
Zeng Xiaoya dan teman-temannya bertugas di lantai empat, yang seluruhnya diisi pakaian wanita dan pakaian dalam wanita. Begitu Xiaoya masuk ke gerainya, ia menyalakan lampu pajangan merek miliknya, yaitu "Langit dan Lautan". Satu atasan musim gugur saja harganya bisa mencapai empat atau lima ratus, dengan gaya yang unik dan dekorasi yang khas. Saat Xiaoya menyalakan semua lampu, suasana menjadi sangat menyegarkan. Seperti biasa, ia mengambil seragam kerjanya yang sudah digantung sejak semalam, masuk ke ruang ganti dan dengan cepat mengenakan seragam, lalu menyimpan pakaiannya di loker miliknya. Ia menatap cermin di ruang ganti, merasa hari ini ia benar-benar tampak lusuh, belum mencuci muka, belum menyisir rambut. Tidak heran kalau perempuan menyebalkan tadi tidak suka padanya. Sekarang ia sendiri pun merasa tidak suka pada dirinya sendiri. Untung semalam ia sempat membawa alat make up dan perlengkapan mandi. Kalau tidak, dengan penampilan seperti ini, bagaimana bisa menyambut pelanggan? Jangan-jangan malah membuat pelanggan kabur.
Ia pun meminta Lili untuk menjaga stand-nya sebentar, lalu membawa alat make up ke kamar mandi.
Ketika ia keluar lagi, ia sudah berubah menjadi karyawan muda yang rapi dan segar. Ia mengenakan setelan jas kecil hitam, dengan kemeja putih di dalamnya, rok pensil selutut, sepatu hak tinggi lima sentimeter, dan rambut panjangnya ditata rapi ke atas. Ia bukan lagi Zeng Xiaoya yang lusuh saat baru masuk mal tadi. Dengan tampilan baru, ia melangkah percaya diri kembali ke gerainya.
Melihat Xiaoya kembali, Lili yang bersandar di luar gerai berkata, "Hei, Zeng Xiaoya, menurutmu, Tingting akan melaporkan percakapan kita tadi ke manajer tidak?"