Bab Empat Puluh Tujuh: Melindungi Diri (Bagian Tiga)
Karena sihir yang dimiliki oleh Liu Yunqing dan Mo Yi tak mungkin bisa ia dapatkan sebagai manusia biasa, maka tentu saja ia harus mencari cara lain untuk melindungi diri. Bicara soal cara melindungi diri, Yiyi memang tak suka membual. Di kehidupan sebelumnya, karena ia sering menangani kasus-kasus besar, banyak penggugat dan tergugat yang bahkan rela menyewa pembunuh bayaran hanya demi menutup kasus di tangannya. Karena itu, Yiyi pun mempelajari berbagai teknik bela diri untuk menjaga diri sendiri; entah itu taekwondo atau bela diri campuran, meski tak bisa dibilang sudah menjadi sabuk hitam atau seorang ahli, setidaknya ia cukup paham agar bisa melarikan diri jika nyawanya terancam.
Syukurlah, setelah sekian lama, hal-hal yang perlu diingat tidak terlupakan.
Namun, jika dipikir-pikir lagi, sehebat apa pun kemampuan bela diri, pada saat genting tetap saja ia tak mampu lolos, bahkan akhirnya tewas bersama sekutunya akibat ledakan. Di dunia ini, walaupun tak ada senjata canggih seperti bom, tetap saja tak boleh mengabaikan orang-orang seperti Liu Yunqing yang menguasai ilmu sihir.
Rubah abadi memang takut dihukum langit sehingga tidak bisa sembarangan menggunakan sihir, tapi itu bukan berarti manusia tidak bisa. Jika ada siluman, tentu ada juga pembasmi siluman; apalagi ada makhluk-makhluk besar yang tidak takut pada hukuman langit, bukankah itu sama saja dengan senjata pemusnah massal di dunia nyata? Jadi, teknik seperti taekwondo atau bela diri hanya cukup untuk melatih kelincahan dan menjaga kesehatan tubuh saja.
Berhari-hari Yiyi terus memikirkan cara melindungi diri sendiri hingga kepalanya terasa hendak pecah. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti memikirkannya sejenak dan berjalan-jalan di dalam kediaman untuk melepas penat. Yiyi memang tipe yang langsung bertindak; ia segera mengenakan sepatu, melompat turun dari kursi belajarnya, dan melangkah keluar dengan santai dan penuh suka cita.
Baru saja ia sampai di taman dalam kediaman, ia melihat Qin Yuhan bergegas menuju ke arahnya. Wah, ada apa ini? Sejak kejadian nyaris kehilangan nyawa itu, Yiyi belum pernah lagi melihat Qin Yuhan datang berkunjung. Apakah ada yang sakit lagi?
Siapa pun yang ingin masuk ke bagian dalam kediaman pasti harus melewati taman, jadi jelas saja ia akan bertemu dengan Yiyi. Maka keduanya pun berpapasan. “Paman Qin, mau ke mana?” tanya Yiyi penasaran. Di kediaman ini, selain dirinya, mungkinkah masih ada tamu penting yang membuat Liu Yunqing sampai memanggil Qin Yuhan untuk memeriksa kondisi seseorang?
“Eh? Yiyi tidak tahu?” Pertanyaan ini bukan ditujukan kepada Yiyi, melainkan kepada Mo Yi yang berjalan di samping sebagai penunjuk jalan, dengan nada heran.
“Ini... ehm, Nona Yiyi belum tahu kalau Tuan sedang sakit. Tuan takut Yiyi akan khawatir, jadi tidak membiarkan hamba memberi tahu Nona,” jelas Mo Yi kepada keduanya yang tampak kebingungan.
Oh?! Hehehe! Dalam hati Yiyi benar-benar tertawa geli, sungguh kejadian langka, seekor rubah abadi pun bisa sakit hingga harus memanggil tabib manusia? Siapa yang akan percaya kalau mendengar ini!
“Aku mau lihat Guru!” ujar Yiyi sambil mempercepat langkah mengikuti kedua orang dewasa di depannya. Alasannya ingin menjenguk guru memang hanya alasan, sebenarnya ia cuma ingin tahu dan ikut ramai-ramai saja.
Karena waktu mendesak, Mo Yi dan Qin Yuhan tidak melarangnya, membiarkan Yiyi berlari-lari kecil di belakang mereka. Begitu masuk ke kamar tidur Liu Yunqing, barulah Yiyi tahu apa yang terjadi. Liu Yunqing sedang berbaring di tempat tidur dengan wajah memerah, keringat halus membasahi dahinya, bibirnya membiru dan napasnya tersengal, tampak sangat menderita.
Melihat keadaan Liu Yunqing membuat Yiyi ketakutan, sebelum ia sempat mengerti apa yang terjadi, Qin Yuhan bahkan belum sempat memeriksa nadi sudah langsung memberikan kesimpulan diagnosis, “Tuan Liu ini keracunan. Mo Yi, ambilkan semua makanan dan minuman yang baru-baru ini dikonsumsi Tuan Liu, aku harus mencari tahu racun apa ini.” Sambil berkata begitu, ia pun tetap memeriksa nadinya untuk memastikan.
Yiyi yang menyaksikan dari samping hanya bisa melongo, ternyata Qin Yuhan benar-benar hebat.
Andai bisa menyelamatkan Liu Yunqing, belajar ilmu kedokteran pun sepertinya tak buruk...