Bab Seratus Lima: Surat Perpisahan
"Yue-jie, karena Bibi Keduamu sudah datang padaku soal urusan ini, aku tidak berani mengambil keputusan untuk kalian. Itu hanya akan membuatku terjepit di antara dua pihak. Sebaiknya kau putuskan sendiri." Setelah Yue-e pergi, Nyonya Li menatap Li Yue-jie dengan wajah datar.
Kemudian Nyonya Li menoleh ke arah Nenek Tian, "Nenek Tian, anak-anak ini sangat dekat denganmu, tolong bantu mereka mempertimbangkannya juga." Saat mengatakan kalimat terakhir, nada bicara Nyonya Li terdengar sedikit masam.
"Kau ini, Nyonya Tua, apa kau sedang menyindirku? Sekat anak-anak itu dekat denganku, aku tetaplah orang luar. Kaulah nenek mereka. Aku tidak setuju dengan ucapanmu tadi. Kasih sayang orang tua itu tak terhingga; mana ada orang tua yang tidak mengambil keputusan demi anak cucunya? Sekalipun itu menimbulkan konflik atau membuat mereka menjauh, keputusan tetap harus diambil. Kita tidak boleh lepas tangan hanya karena takut dianggap salah oleh semua pihak. Itu bukan perilaku seorang tetua. Jadi, masalah ini tetap kau yang harus memutuskan. Aku hanya bisa membantumu menimbang-nimbang. Jangan bicara dengan emosi lagi. Soal Yue-jie yang pernah menyinggungmu dulu, dia hanyalah seorang junior yang sedang panas hati. Mana mungkin kita sebagai tetua mendendam pada anak muda?" Nenek Tian yang berwatak jujur dan lugas kini justru menjadi penengah, sembari memberikan sedikit teguran pada Nyonya Li.
Sejujurnya, dia sudah banyak makan asam garam kehidupan, namun situasi di keluarga Li ini benar-benar tidak bisa dimengerti. Hubungan antara Nyonya Li dan keluarga rumah sebelah barat itu sungguh membingungkan.
Dia tidak tahu sedalam apa jurang pemisah antara Nyonya Li dan mendiang putra sulung serta menantunya. Meski keduanya sudah tiada, Nyonya Li tetap bersikap dingin terhadap rumah sebelah barat. Awalnya, dia mengira putra sulung itu bukan anak kandung Nyonya Li, namun kenyataannya tidak demikian. Li Da jelas-jelas lahir dari rahim Nyonya Li. Terlebih lagi, setiap kali rumah sebelah barat benar-benar mengalami kesulitan, Nyonya Li pasti akan turun tangan membela mereka dengan penuh perhatian layaknya seorang nenek. Namun, mengapa di hari-hari biasa dia bersikap begitu dingin? Nenek Tian benar-benar tidak bisa meraba dasarnya.
Memang benar, urusan rumah tangga adalah hal yang paling sulit dipahami dan dijelaskan.
Li Yue-jie tidak menyangka neneknya akan mengatakan hal itu segera setelah duduk. Dia tahu neneknya masih marah padanya. Memang benar, tindakannya dulu yang ingin menyeret neneknya ke pengadilan karena menolak perjodohan terasa terlalu ekstrem.
Karena itu, dia menanggapi ucapan Nenek Tian, "Nenek, dulu aku yang kurang mengerti. Semoga Nenek berlapang dada memaafkan kesalahan cucu ini. Urusan Yue-e ini tentu harus Nenek yang memutuskan. Kita semua akan berdiskusi bersama. Nyonya Zheng dan Bibi Kedua Zheng meminta Nenek yang turun tangan, bukankah itu karena Nenek adalah orang yang paling berhak mengambil keputusan?"
"Betul, betul sekali. Kakak Li dan Kakak Ipar Li sudah lama tiada, anak-anak di rumah sebelah barat ini hidup sebatang kara. Jika Bibi Li tidak mengambil keputusan, lalu siapa lagi?" Istri Tukang Daging Zheng ikut menimpali.
"Ya sudah kalau begitu. Toh nenek tua ini sudah dianggap orang jahat, aku tidak peduli lagi," ujar Nyonya Li kemudian.
Melihat sikap neneknya, Li Yue-jie akhirnya paham. Sebenarnya, kedatangan neneknya bersama Bibi Kedua Zheng hari ini memang bermaksud untuk mengambil keputusan, hanya saja kemarahannya tadi membuat neneknya tersinggung berat. Neneknya hanya ingin memaksa Li Yue-jie melunak agar rasa kesalnya tersalurkan. Benar kata orang, makin tua seseorang, sifatnya makin seperti anak kecil. Li Yue-jie membatin dalam hati.
Selanjutnya, pembicaraan beralih ke urusan serius antara Yue-e dan Tie-zhu. Kedua keluarga memiliki niat yang sama, sehingga pembicaraan berjalan lancar. Li Yue-jie mengambil buku penanggalan dari dalam kamar, dan mereka pun mulai mencocokkan ramalan tanggal lahir di bawah cahaya lampu.
Tepat saat itu, pintu halaman didobrak dengan keras. Tie-zhu masuk seperti angin kencang, diikuti oleh Zheng Dian yang menyeringai lebar di belakangnya.
"Hei... anak muda, untuk apa kau kemari? Pulang sana!" Istri Tukang Daging Zheng langsung berseru dengan nada kesal namun matanya tersenyum begitu melihat putra ketiganya itu. Anak itu sudah beranjak dewasa dan mulai memikirkan calon istri, lihat betapa tidak tahu malunya dia langsung menerobos masuk.
"Bu... Ibu, apakah Ibu sedang... menjodohkanku?" Zheng Tie-zhu berkata dengan terbata-bata, wajahnya tampak cemas namun tak mampu merangkai kata dengan benar.
"Iya, benar," jawab Istri Tukang Daging Zheng sambil tersenyum lebar.
"Lalu, lalu kenapa Ibu tidak... tidak memberitahuku?" Tie-zhu terus terbata.
"Kenapa harus memberitahumu? Urusan ini adalah perintah orang tua dan kata perantara. Sudahlah, anak bodoh ini, kenapa senang sekali sampai bicara saja tidak lancar? Memalukan saja. Dian, seret dia kembali," Istri Tukang Daging Zheng berkacak pinggang sambil menunjuk dahi Tie-zhu dengan kesal. "Benar-benar anak nakal."
"Tie-zhu, ayo pergi. Kau tenang saja menunggu jadi pengantin pria, hahahaha..." Zheng Dian menyeret Tie-zhu keluar dengan paksa sambil tertawa terbahak-bahak, tak lupa mengejek kakaknya yang tampak konyol.
Kedua bersaudara itu sangat akrab. Tie-zhu yang biasanya selalu mengikuti ke mana pun Zheng Dian pergi, meski setahun lebih tua, sebenarnya mereka hanya terpaut dua bulan berdasarkan bulan kelahiran. Jadi, kecuali dalam situasi formal, Zheng Dian biasanya hanya memanggil nama Tie-zhu saja.
"Aduh, aduh... aku, aku..." Tie-zhu masih terus menoleh ke belakang saat ditarik, namun kata-katanya tidak tersusun sempurna, dan tak lama kemudian dia sudah diseret keluar oleh Zheng Dian.
"Anak itu, benar-benar nakal. Jangan hiraukan dia. Nanti kalau Yue-e sudah masuk rumah, dia akan diatur dengan ketat. Mari kita lanjutkan," ujar Bibi Kedua Zheng sambil mengomel tentang putranya, lalu kembali mencocokkan ramalan bersama Nyonya Li dan Nenek Tian.
Li Yue-jie menatap halaman yang gelap di luar. Dia merasa Tie-zhu seolah-olah ingin mengatakan sesuatu yang mendesak. Apakah Tie-zhu punya keberatan lain? Tiba-tiba, Li Yue-jie teringat ekspresi aneh Yue-jiao hari ini. Sebuah pertanyaan yang sempat ia abaikan muncul di benaknya: Yue-jiao sering terlihat bersama anak-anak keluarga Zheng. Belum lagi urusan mencari babi setiap hari, mereka sering berinteraksi. Jangan-jangan, mereka berdua sebenarnya memiliki perasaan pribadi? Jika benar, maka dia dan neneknya sedang menjodohkan orang yang salah.
Tidak, sebelum semuanya diputuskan, aku harus memastikannya terlebih dahulu. Li Yue-jie lalu berseru, "Mo-feng, coba lihat Kakak Keempatmu. Kenapa dia mandi begitu lama? Makanan di periuk sudah mau dingin."
"Oh," jawab Mo-feng sambil meletakkan bukunya dan berlari mencari Yue-jiao.
Di dalam ruangan, Bibi Kedua Zheng, Nyonya Li, dan Nenek Tian masih sibuk mencocokkan ramalan. Li Yue-jie menatap lampu minyak yang redup, hatinya merasa kesal karena terlalu sibuk mengurus hidup hingga mengabaikan perasaan Yue-jiao.
Tiba-tiba, terdengar suara cemas Mo-feng dari kamar dalam: "Kakak, cepat ke sini!!"
Mendengar suara cemas itu, hati Li Yue-jie mencelos. Ia mengangguk pada nenek dan Bibi Kedua Zheng, lalu bergegas masuk ke kamar dalam.
Begitu masuk, ia tidak melihat Yue-jiao, hanya Mo-feng yang memegang sepucuk surat.
"Kakak, Kakak Keempat pergi meninggalkan rumah," bisik Mo-feng dengan suara rendah. Meski masih kecil, dia tahu urusan ini tidak boleh diketahui orang banyak.
Li Yue-jie merasa jiwanya seolah melayang mendengar ucapan itu. Ia merampas surat tersebut dan membacanya dengan teliti. Ternyata Yue-jiao menulis bahwa ia telah berguru pada seseorang untuk belajar berdagang dan kini pergi mengikuti gurunya itu, ia meminta agar semua orang tidak khawatir.
Anak ini benar-benar nekat... Li Yue-jie membanting surat itu ke atas meja dengan marah, hatinya terbakar oleh kecemasan.
"Pergi, katakan pada Kakak Keduamu, minta dia membawa beberapa orang untuk berjaga di dermaga dan pos persinggahan. Tinta di surat ini belum kering, Kakak Keempatmu pasti belum pergi jauh," perintah Li Yue-jie pada Mo-feng.
Mo-feng mengangguk mantap dan segera berlari mencari Mo-yi. Hari ini keluarga mereka sedang menjamu orang-orang yang membantu di rumah, dan kakak keduanya sedang berada di kedai makan bersama para pekerja tersebut.
Li Yue-jie pun keluar dan membisikkan kabar tentang Yue-jiao ke telinga neneknya di ruang tengah, termasuk kecurigaannya tadi.
Nyonya Li membelalakkan mata dan memukul meja dengan keras, "Kalian semua ini, satu demi satu tidak ada yang bisa membuat tenang! Cepat cari dia!" Ucapan itu juga menyindir Li Yue-jie.
Setelah berkata demikian, Nyonya Li menoleh pada Bibi Kedua Zheng, "Keponakan, ada sedikit masalah di rumah. Yue-jiao anak itu keras kepala, mungkin karena sempat ditegur kakaknya, dia jadi marah dan entah bersembunyi di mana. Aku harus mencarinya. Urusan ini kita tunda dulu, besok atau lusa kita lanjutkan."
"Baiklah," jawab Istri Tukang Daging Zheng. Ia pun memaklumi dan mencoba menenangkan, "Jangan terlalu khawatir. Yue-jiao itu anak yang sangat cerdik, mungkin dia hanya pergi bermain ke rumah temannya." Setelah itu, melihat kepanikan keluarga Li, ia pun pamit undur diri.
Li Yue-jie meminta Xiao Yue-bao menjaga rumah, lalu mereka semua bergegas keluar.
"Ibu, Yue-jie, apa yang terjadi?" Saat itu, dari rumah sebelah timur, Li Er baru saja pulang kerja dan sedang makan malam di halaman.
"Yue-jiao marah pada Yue-jie dan pergi entah ke mana. Kami akan mencarinya. Berhenti makan, ajak Rong-yan pergi mencarinya," perintah Nyonya Li pada Li Er.
"Baik!" jawab Li Er, ia meletakkan mangkuk dan sumpitnya lalu masuk memanggil Rong-yan. Namun, saat hendak keluar, ia ditahan oleh Fang-shi, "Urusan rumah sebelah barat, apa hubungannya dengan kita? Kau baru saja pulang berpatroli di sungai, bahkan belum sempat makan. Lagipula, di mata Ibu sekarang hanya ada mereka, tidak ada kita lagi. Tidak boleh pergi!"
"Kau tahu apa?" Li Er memelototi Fang-shi dan mengabaikannya, lalu pergi bersama Rong-yan untuk mencari Yue-jiao.
Sejak kejadian Su-e, Li Er merasa mendapat peringatan keras. Kejadian Su-e adalah rencana keluarga Zhou, dan dia ikut serta karena ingin menjilat keluarga Zhou dan kantor inspektur. Namun pada akhirnya, dia yang menanggung semua kesalahan, sementara keluarga Zhou dan kantor inspektur mencuci tangan. Kini Li Er menanggung tuduhan tidak berbakti dan menjual adik demi keuntungan, reputasi yang sangat buruk di kota. Li Er menerimanya, tapi ketika orang-orang di kota menyebarkan rumor bahwa Su-e kawin lari dengan Xia Da-mu, keluarga Zhou justru menyalahkannya, seolah lupa bahwa Su-e dijemput dari rumah mereka. Bahkan Jin-feng pun mendapat cemoohan, membuat Li Er merasa sangat kesal.
Dia tidak mendapatkan keuntungan apa pun, justru terkena getahnya. Karena kejadian itu, dia mulai melihat sifat asli keluarga Zhou dan membuang angan-angan yang tidak realistis. Sekarang, dia benar-benar ingin memperbaiki hubungan dengan rumah sebelah barat, bukan untuk apa-apa, melainkan demi masa depan Rong-yan dan Rong-xi. Bagaimanapun, mereka tetaplah satu keluarga Li.