Pernahkah kau membayangkan selembar kertas jimat yang telah menguning, terukir lambang dewa-dewi kuno? Pernahkah kau terpikirkan sebatang pena yang patah, namun mampu mengguratkan pertanda gemilang takdir? Pernahkah kau menyaksikan ribuan jimat penuh rahasia, membangun keajaiban yang menghubungkan masa lalu dan masa kini? Inilah dunia ajaib yang hanya dimiliki oleh para jimat, menantikan kau dan aku untuk bersama menjadi saksi!
“Adik! Adik!” Dari luar gua, terdengar suara seseorang yang memanggil keras.
Tao Qian mengangkat kepala, melepaskan diri dari posisi tekun membaca, dan menatap ke luar gua. Di dalam gua, perabotannya sangat sederhana dan bersih: sebuah ranjang batu dengan selimut yang tertata rapi, satu set meja kursi, banyak buku tebal tertumpuk di atas meja, di samping tumpukan buku ada setumpuk kertas jimat dan beberapa batang kuas. Selain itu, tak ada benda lain di dalam gua.
Saat itu sudah mendekati tengah hari, sinar matahari miring masuk dari luar, jatuh tepat ke atas meja, menerangi halaman buku dan tinta yang tampak berkilauan. Tao Qian berdiri, melipat sudut halaman buku “Pengetahuan Umum tentang Aksara Simbol” yang sedang dibacanya, menutup buku tersebut, lalu menaruhnya kembali ke tempat semula sebelum keluar dari gua.
Orang di luar masih memanggil, “Adik! Adik, kau ada di dalam?” Begitu melihat Tao Qian keluar, ia segera menghampiri dengan ramah, “Wah, akhirnya kau keluar juga, adik! Ayo cepat, ikut aku ke kediaman guru, beliau mencari-mu!”
“Kakak.” Tao Qian tidak terburu-buru, pertama-tama memberi salam dengan sopan. Ia menggenggam ibu jari kiri dengan telapak tangan kanan, dan empat jari kiri melingkar di punggung tangan kanan. Dari depan, tampak seperti salam tinju, namun dari sudut pandang pemberi salam, kedua telapak tangan membentuk lengkungan seperti huruf “S”. Inilah salam “Tangan Bersatu”, etiket paling dasar. Jika berhadapan dengan orang tua, selain bersalaman, juga harus membungkuk sebagai tanda hormat.
“Sudahlah, adik. Kau makin besa