Bab 69: Kekacauan dalam Pesta Perayaan Kemenangan
Hasil taruhan sudah ditentukan. Mengingat para karyawan telah bekerja keras tanpa henti belakangan ini, Lin Yan memutuskan untuk mengadakan pesta syukuran dan memberikan dua hari libur agar mereka bisa kembali segar menghadapi pekerjaan berikutnya.
Sebelum makan malam dimulai, Lin Yan mengangkat gelas, berdiri dan memandang ke arah lima meja yang penuh terisi, lalu berkata, “Terakhir kali kita mengadakan syukuran adalah saat kita baru saja menyelesaikan ‘Kehidupan Ajaib’. Waktu itu, anggota tim kita hanya belasan orang dan kita harus berdesakan di satu meja. Hari ini, tim kita sudah berkembang menjadi lebih dari lima puluh orang, dan kita sudah berhasil menyelesaikan empat hingga lima gim.”
“Di antara kalian, ada yang sudah bersama perusahaan sejak awal berdiri, ada juga yang baru bergabung. Tidak peduli sudah berapa lama kalian di sini, aku ingin mengucapkan terima kasih atas kerja keras kalian! Tapi, ucapan terima kasih saja rasanya kurang berarti. Karena ini adalah pesta syukuran, aku ingin memberikan sesuatu yang nyata. Aku sudah menyiapkan angpao besar untuk masing-masing, nanti akan kalian terima. Sedikit bocoran, angpaonya pasti lebih besar dari yang kalian bayangkan.”
Sorak sorai dan tepuk tangan langsung terdengar memenuhi ruangan. Cao Bing melambaikan tangan dan berseru, “Bos, aku benar-benar tak bisa membayangkan. Bisa kasih tahu aku seberapa tebal angpao-ku?”
Lin Yan tertawa lepas, “Kau ini, kalau angpaonya tak cukup tebal, bukankah aku jadi malu sendiri?”
“Hehehe, aku percaya bos pasti sangat dermawan! Beritahu saja jumlahnya, biar semuanya ikut senang~ Nanti minumnya jadi lebih semangat.”
“Sudah, sudah, kalau mau bikin semua orang senang, kenapa kau tidak menari saja untuk kami?”
Orang-orang lain mulai ikut menggoda. Cao Bing cemberut dan menggaruk kepala, “Bos, menari sebaiknya tidak, boleh diganti?”
“Aku juga tak mau lihat kau menari, takut nanti semua jadi sakit mata, haha. Begini saja, kalau kau bisa habiskan tiga gelas sekaligus, aku akan kasih tahu seberapa tebal angpao-mu!”
“Baik! Tiga gelas, ya tiga gelas!” Tanpa ragu, Cao Bing langsung menenggak tiga gelas, mukanya memerah setelah selesai, “Bos, sudah habis tiga gelas!”
“Bagus, kalau begitu aku beri bocoran. Akhir-akhir ini kinerjamu lumayan, jadi angpao-mu kali ini sedikit lebih besar daripada gaji setengah tahunmu.”
Mendengar itu, Cao Bing langsung berseri-seri, “Terima kasih, Bos!”
Setelah mendengar jumlah angpao Cao Bing, yang lain pun tampak tak sabar ingin tahu isi angpao mereka. Lin Yan segera mengangkat tangan, “Hei, hei, jangan semua ikut-ikutan bertanya. Lebih baik simpan sedikit kejutan untuk diri sendiri, bagaimana? Kalau pada ribut begini, bisa-bisa aku batal bagi-bagi angpao, tahu!”
Akhirnya, semua pun diam. Setelah Lin Yan bersulang, pesta syukuran pun resmi dimulai. Selama makan, beberapa kali ada yang datang untuk bersulang dengan Lin Yan. Sampai akhirnya, Lin Yan harus mengganti minuman keras dengan teh.
“Bos, aku ingin bersulang denganmu!” Tak lama kemudian, Cao Bing datang membawa segelas minuman.
Lin Yan menepuk pundaknya, “Kerjamu akhir-akhir ini bagus, teruslah berusaha!”
“Siap, Bos!”
Dulu, saat Cao Bing baru masuk perusahaan, dia masih sangat polos, baru lulus kuliah, tak banyak mengerti soal etika kerja, dan sering melakukan hal bodoh. Namun beberapa bulan belakangan, ia jadi makin lihai, bahkan kemampuannya menjilat atasan pun makin meningkat. Tapi memang benar, dia pekerja keras dan punya semangat maju, jadi kekurangan kecilnya pun bisa dimaklumi.
Cao Bing sudah memahami karakter Lin Yan; selama dia mau bekerja keras dan menyelesaikan tugas dengan baik, maka hal-hal sepele tak akan menimbulkan masalah, bahkan bisa membuat hubungan mereka makin dekat.
Saat mereka mengobrol, seorang karyawan lain mendekat dengan wajah ragu, sesekali menoleh ke meja lain, di mana beberapa rekannya melambaikan tangan menyuruhnya maju.
Dengan dorongan alkohol, ia memberanikan diri berkata, “Pak Lin, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan!”
Lin Yan menoleh dan melihat kalau yang datang adalah Xu Zheng, yang belakangan ini bertanggung jawab atas pengembangan platform gim Pahlawan.
“Ada apa, Xu Zheng?”
Xu Zheng melirik Cao Bing di sebelahnya, ragu sejenak namun tetap berkata, “Pak Lin, saya ingin bicara soal bonus.”
“Kau juga ingin tahu berapa bonusmu?” Lin Yan mencoba tetap tenang walau dalam hati agak kesal. Cao Bing yang bertanya pertama memang untuk mencairkan suasana, tapi dia sudah bilang yang lain tak perlu bertanya lagi. Xu Zheng tampaknya kurang peka.
Namun Xu Zheng menggeleng, “Pak Lin, saya sebenarnya sudah tahu, bonus kami pasti lebih kecil dari tim proyek lain, kan...”
“Bonus dibagikan sesuai tugas dan performa. Sudah saya bilang, tidak ada yang akan kekurangan.” jawab Lin Yan datar. Memang, bonus tiap tim berbeda. Jika Lin Yan tidak salah ingat, Xu Zheng hanya dapat bonus satu bulan gaji, jelas lebih kecil dari tim Cao Bing, tapi sebenarnya itu juga tidak sedikit.
“Pak Lin, kalau begitu, berarti bonus tim kami memang kecil!” bantah Xu Zheng.
Wajah Lin Yan mulai tidak senang. “Kau boleh mengeluh setelah menerima bonusmu.”
Xu Zheng tampak takut, tapi kali ini ia mewakili seluruh tim proyek, jadi ia menahan diri. Dengan keberanian dari alkohol, ia berkata, “Pak Lin, saya harus bicara, saya tidak terima! Menurut saya, tim kami bukan kurang mampu, hanya kebetulan dapat tugas yang ini saja. Kalau ditempatkan di proyek lain, kami pun bisa berhasil. Ini tidak adil, kami hanya kurang beruntung dapat proyek ini, jadi bonus kecil, sementara yang lain dapat proyek lain bisa dapat bonus besar.”
Sambil berkata, Xu Zheng melirik ke arah Cao Bing.
Cao Bing langsung naik darah, “Apa maksudmu? Apa itu namanya keberuntungan? Aku dapat bonus karena kerja keras dan kemampuan!”
“Kau itu cuma beruntung! Baru lulus kuliah, bagian mana yang lebih hebat dari aku?”
“Aku...!”
“Cukup!” Lin Yan memotong sebelum mereka bertengkar. “Berhenti! Ini pesta syukuran! Kalian mau bertengkar di sini? Xu Zheng!”
“Maaf, Pak Lin, tapi saya harus menyampaikan keluhan tim kami!”
“Baik, saya akan jelaskan. Saya minta kalian membuat platform gim, coba hitung sudah berapa lama kalian mengerjakannya?”
“Pak Lin, Anda sendiri yang bilang platformnya tidak perlu buru-buru...”
Cao Bing tertawa mengejek, “Hahaha, bos memang bilang tidak perlu buru-buru, tapi masa iya kalian jadi santai?”
Lin Yan melirik tajam pada Cao Bing, “Diamlah! Tapi memang benar, saya pernah bilang platformnya bisa dikerjakan pelan-pelan, tapi apakah itu alasan kalian mengobrol, main kartu, dan bermain gim saat jam kerja? Kau meremehkan Cao Bing, tapi perlu kau tahu, awalnya dia juga ditempatkan di tim kalian. Namun dia sendiri yang minta pindah ke tim lain dan saya puas dengan kinerjanya. Dia membuktikan diri, wajar mendapat bonus besar!”
Xu Zheng kehilangan semangat, “Tapi Pak Lin, tetap saja harus ada yang mengerjakan platform, kalau bukan kami, pasti tim lain...”
“Kenapa kau harus memikirkan siapa yang dapat tugas itu? Kalau kau merasa mampu, buktikan hasilnya! Cao Bing berani bicara, makanya dia pindah, kalian tetap di tim platform. Kalau kau juga bicara, mungkin yang pindah adalah orang lain! Xu Zheng, kalian selama ini hanya bermalas-malasan. Untuk membuat platform itu, waktu satu bulan pun lebih dari cukup. Kalau kalian selesai dalam sebulan, kalian pasti sudah dapat tugas baru dari saya!”