Bab Seratus Lima Puluh Lima: Cao Cao Beraksi
“Tuan, Wang Jian memimpin pasukan datang menyerang.”
Di luar tenda militer Da Xia, suara pekikan pertempuran menggelegar menembus langit, namun di dalam kemah militer Cao Cao, suasana justru terasa begitu sunyi dan tenang, tanpa ada keanehan apa pun.
Seulas senyum dingin terukir di sudut bibir Cao Cao. “Maju, hadang mereka.”
Pandangannya melirik tipis, dan orang-orang di sekelilingnya langsung mengerti. Mereka tersenyum lalu pergi untuk menerima perintah.
“Wang Jian, kakekmu ada di sini!”
Xu Chu mengayunkan pedang perang di tangannya, wajahnya tampak begitu bersemangat saat ia menerjang ke arah Wang Jian.
Ekspresi wajah Wang Jian berubah beberapa kali, sebelum akhirnya berubah menjadi murka yang membara. Menahan rasa sakit yang menusuk di dadanya, ia mengutuk dengan suara geram, “Keparat, lancang sekali kau menghinaku!”
Sambil berkata demikian, Wang Jian menyeret pedang besarnya dan menyambut kedatangan Xu Chu.
Kedua pedang perang yang berat itu saling berbenturan, memunculkan suara dentang logam yang memekakkan telinga.
Bugh!
Hanya dalam sekali benturan, Wang Jian langsung memuntahkan seteguk darah segar. Rasa sakit yang merobek dada menghujam organ-organ dalamnya.
Namun, Wang Jian tidak sedikit pun mundur. Sepasang matanya memerah pekat, dipenuhiurat-urat darah. Lebar-lebar ia membuka mulutnya dan melolong penuh amarah.
Wajah Xu Chu berubah seketika, tak menyangka Wang Jian ini begitu nekat mempertaruhkan nyawa. Namun sesaat kemudian, senyum penuh antusiasme merekah di wajahnya.
Garis-garis energi pedang berkelebat liar. Sebuah kekuatan mahadahsyat membubung dari dalam tubuh Xu Chu, dan sepasang mata haus darah itu memancarkan niat membunuh yang mengerikan.
Urat-urat nadi menonjol dan terajut di sekujur otot Xu Chu. Aura dingin yang terpancar di sekelilingnya membuat seluruh prajurit terpaku di tempat!
Hati mereka bergetar ketakutan, sama sekali tidak mampu bergerak.
Klang!
Pedang perang Xu Chu berayun dengan ganas, memaksa Wang Jian mundur secara paksa.
“Lindungi Jenderal!”
Seketika itu pula, beberapa jenderal tangguh melesat keluar dari barisan tentara Qin yang kacau, menyerbu ke arah Xu Chu.
“Hahaha~”
Xu Chu tertawa terbahak-bahak.
Setelah itu, pedang perangnya menyapu ke arah dada para jenderal tersebut. Dalam sekejap, tak terhitung banyaknya cipratan darah melesat keluar, menghadirkan pemandangan yang begitu kejam dan berdarah.
Srat! Srat!
Suara bilah pedang yang merobek daging bergemuruh. Para jenderal itu pun seketika tewas seketika.
Pandangan mata Cao Cao terpaku lekat pada Wang Jian. Wajahnya tampak dingin, dan sepasang mata yang setenang air sumur tua itu terlihat begitu dalam melebihi biasanya, membuat siapapun sulit menebak apa yang tengah bergolak di dalam benaknya.
“Xu Chu sepertinya mulai kewalahan menghadapi Wang Jian. Suruh Cao Ren membantunya.”
Cao Cao berucap datar.
Cheng Yu yang berada di sampingnya menyunggingkan senyuman penuh muslihat. “Bawahan akan segera menyampaikan perintah.”
Kendati demikian, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Wang Jian terdesak dan terus-menerus mundur di bawah gelombang serangan Xu Chu.
Xu Chu sendiri memiliki keberanian yang mampu menandingi ribuan prajurit, terlebih lagi saat ini luka-luka Wang Jian belum sepenuhnya pulih. Dengan apa Wang Jian bisa bertahan?
Adapun para jenderal tangguh Qin itu?
Mereka telah lebih dulu ditebas oleh pedang Xu Chu dan kini terkapar sunyi di atas tanah.
“Xu Chu, aku datang membantumu!”
Cao Ren mengayunkan tombak panjangnya, melesat langsung menghampiri Xu Chu.
“Tidak perlu bantuan! Orang tua bangka ini terluka parah. Dalam lima jurus, aku pasti bisa mengambil kepalanya untuk dipersembahkan kepada Perdana Menteri!”
Pada saat itu, semangat bertarung yang begitu membara telah menguasai wajah Xu Chu, hingga ia sama sekali tidak mendengarkan ucapan Cao Ren.
Namun Cao Ren justru mempercepat langkahnya, tiba di sisi Xu Chu, lalu menarik lengannya dengan kasar seraya menampilkan ekspresi tegas. “Perdana Menteri melihatmu kesulitan melawan Wang Jian, maka beliau khusus memerintahkan ku untuk datang memberi bala bantuan!”
“Aku……”
Xu Chu langsung merasa cemas. Kapan pula ia kesulitan melawan Wang Jian?
Ia hendak membela diri, namun begitu melihat ekspresi di wajah Cao Ren, pemahaman pun langsung hinggap di benaknya. “Oh, benar, benar, benar! Wang Jian ini memang pantas disebut sebagai jenderal terkemuka negeri Qin. Meskipun terluka, keperkasaannya masih tersisa, menaklukkannya memang bukan perkara mudah.”
Xu Chu tertawa polos sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Jenderal, apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan?”
Seorang perwira Qin memegangi lengannya yang mati rasa, lalu berbisik di sisi Wang Jian.
Situasi di medan laga ini bisa dipahami oleh siapa saja yang melihatnya.
Xu Chu jelas-jelas memegang keunggulan mutlak.
Namun Wang Jian justru tersenyum penuh arti. “Sepertinya dugaan kita benar. Hari ini, kita setidaknya bisa menerobos keluar.”
???
Perwira itu mengerutkan keningnya dalam-dalam, dipenuhi oleh rasa bingung yang pekat.
“Kerahkan seluruh prajurit di kamp barat ke mari! Kita harus membasmi Wang Jian itu!”
Tepat pada saat itu, suara lantang Cao Ren kembali menggelegar, bergemuruh memenuhi seluruh tenda besar pasukan Cao.
Tatapan mata Wang Jian seketika berbinar terang. Ia buru-buru berpesan kepada para jenderal di sekitarnya, “Kita menerobos ke arah kamp barat!”
Setelah itu, Wang Jian memerintahkan orang-orang untuk memanggil kembali Wang Ben dan Wang Li.
Kini celah telah terbuka, tentu saja tidak ada perlunya lagi untuk terus terlibat dalam pertempuran sengit yang berlarut-larut.
Melihat pergerakan mencurigakan dari pasukan Qin di kejauhan, Cheng Yu merasa sedikit cemas. “Perdana Menteri, kualitas prajurit pasukan Qin ini semuanya sangat baik. Jika kita membiarkan mereka kembali, dikhawatirkan setelah sedikit beristirahat, mereka akan segera memulihkan kekuatan.”
Usai berkata demikian, ekspresi Cheng Yu berubah menjadi serius.
Bagaimanapun juga, Negara Qin pastinya adalah musuh besar mereka.
Jika mereka bisa melenyapkan kekuatan potensial pihak lawan, itu tentu akan menjadi hal yang menguntungkan bagi pihak mereka sendiri.
“Siapa bilang aku ingin melepaskan mereka? Bisa atau tidaknya mereka pergi, itu semua masih harus bergantung pada kemampuan mereka sendiri.” Cao Cao meremas janggutnya dan mendengus ringan.
Di arah pandangannya tertuju, Cao Ren tengah memimpin pasukan untuk “dengan liar” mengejar dan memburu Wang Jian.
Mayat-mayat bergelimpangan berserakan, namun Cao Ren selalu saja tertinggal setengah langkah.
Wang Jian menoleh ke belakang. Di dalam sepasang matanya, kobaran amarah menyala-nyala.
Gigi-gaganya bergemeutup, sementara aroma amis darah memenuhi rongga mulutnya.
Kendati demikian, ia membulatkan tekadnya, mengatupkan rahangnya erat-erat lalu berbisik tegas, “Segera menerobos keluar!”
Di sisi lain, Wang Li dan Wang Ben, setelah mendengar perintah dari Wang Jian, langsung memahami situasi yang terjadi dan berbondong-bondong berusaha melepaskan diri dari lawan masing-masing.
Namun, bagaimana mungkin Li Cunxiao dan Yang Zaixing dengan mudah melepaskan kedua orang itu? Mereka mengejar tanpa ampun!
“Ayah!”
Wang Li berseru gembira dengan mata yang berbinar terang tatkala melihat Wang Ben.
“Cepat pergi!”
Suara Wang Ben bergetar, tanpa menyisakan sedetik pun untuk berhenti.
Saat ini, kedua lengannya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Sepasang lengan itu terasa seolah-olah bukan milik tubuhnya sendiri, dengan telapak tangan yang menebal kini bersimbah darah segar!
Melihat pemandangan tersebut, hati Wang Li langsung terasa berat.
Sekilas ia melirik, dan mendapati seorang jenderal ganas tengah mengejar di belakang. Aura pembunuh yang mengepul dari tubuhnya menyerupai sesosok dewa iblis.
Hati Wang Li seketika mendingin. Dengan perasaan tegang, ia buru-buru mempercepat langkahnya.
“Jenderal Li, kita sama sekali tidak boleh membiarkan kedua orang itu melarikan diri!”
Yang Zaixing yang juga turut melakukan pengejaran berteriak lantang saat melihat Li Cunxiao.
Jika hari ini Wang Ben dan kawan-kawan berhasil menerobos keluar, itu sama saja dengan melepaskan harimau kembali ke hutan!
“Mereka tidak akan bisa lari!”
Li Cunxiao mencibir dingin. Wajahnya memancarkan aura buas saat ia mengayunkan tombak berat di tangannya. Tepat di hadapannya, dada seorang prajurit langsung tertembus dalam sekejap.
Di kejauhan, Lu Bu yang menyaksikan situasi tersebut mendadak merasa cemas.
“Sudah kuduga kalau Cao Mengde itu tidak bisa diandalkan!”
Wang Jian dan yang lainnya bertindak begitu nekat menyerbu ke arah markas Cao Cao, pasti ada sesuatu yang terjadi di sana.
Lu Bu buru-buru menghimpun pasukannya, berniat untuk menyusul dan memburu Wang Jian beserta rombongannya.
Tepat pada saat Wang Jian dan yang lainnya hampir berhasil keluar dari kepungan.
Di kejauhan.
Suara busur kuat yang ditarik bergemuruh bagaikan petir yang membelah angkasa, sementara mata panah memancarkan niat membunuh yang merenggut nyawa!