Bab Tiga Puluh Delapan: Kabur dengan Panik!
Di dalam tenda-tenda perkemahan, api membubung tinggi menerangi langit, seluruh angkasa malam memerah menyala. Pasukan di bawah komando Xue Rengui tak banyak jumlahnya, namun karena kekacauan telah lebih dulu meletus di barak utama, kekacauan bertumpuk semakin menjadi-jadi. Dengan pasukan kecil itu, Xue Rengui bagai tak terbendung, menyapu habis ke segala penjuru.
Jika ini terjadi pada hari biasa, mana mungkin kekacauan sebesar ini bisa terjadi?
"Aneh, pertikaian dalam barak seburuk inikah?" Seorang prajurit berbaju zirah hitam mengerutkan alis, suaranya berat. Zirah hitam yang membalut tubuhnya kini menyatu dengan kelamnya malam, dan ribuan, bahkan puluhan ribu prajurit sepertinya bergerak senyap, laksana bayangan maut dalam gelap.
Mereka menanti kesempatan, dan begitu kerusuhan memuncak di dalam barak, mereka akan menerjang masuk. Namun pemandangan di depan mata sungguh tak mereka duga.
Kekacauan ini nyaris di luar nalar.
Tatapan Gao Changgong berubah redup, dalam hatinya telah tumbuh dugaan. Ini pasti ulah Xue Rengui yang telah mulai bertindak. Kesempatan emas seperti ini, mustahil ia lewatkan begitu saja.
Segera, ia pun menghardik tegas, "Serbu!"
Merekalah pemeran utama dalam pertempuran ini. Pasukan Xue Rengui hanya segelintir, jika seluruh kemenangan diambil olehnya, itu sungguh memalukan.
Dentuman dahsyat mengguncang tanah. Ribuan kuda tempur menderap serentak, menciptakan pemandangan luar biasa. Dipimpin Gao Changgong, pasukan kavaleri itu berubah menjadi arus baja, menerobos langsung ke jantung barak besar Ji Zhen.
Tak terhitung nyawa melayang di bawah terjangan tapal besi. Darah bercucuran, mengalir deras hingga membentuk sungai-sungai merah di tanah. Setiap prajurit Xia Agung mengerahkan kekuatan penuh. Seharian penuh mereka beristirahat; ketika rekan-rekan mereka bertarung mati-matian di atas tembok kota, mereka hanya bisa menyaksikan dari bawah.
Saat satu demi satu sahabat mereka dibantai tanpa ampun, mereka hanya bisa menahan duka tanpa mampu berbuat apa-apa. Namun kini, inilah giliran mereka bertarung. Energi yang terpendam seharian penuh meledak membara; tiap orang mengamuk dengan kekuatan yang menakjubkan.
Sebaliknya, pasukan Ji Zhen di sisi lain, dihantui keresahan akibat kekurangan logistik, ditambah serangan malam yang mendadak, semangat tempur mereka merosot hingga titik nadir.
Kekuatan kedua kubu kini berbalik. Kavaleri yang menerjang ke tengah barak ibarat serigala masuk ke kandang domba; dalam sekejap, pasukan Xia Agung langsung menguasai keadaan.
...
Di sisi lain, kemunculan Tang Chengyue membuat Ji Zhen kembali menumbuhkan harapan untuk hidup. Diapit oleh para prajuritnya, ia terseok-seok melarikan diri, tubuhnya sudah tak berdaya.
Tatapan Xue Rengui sedingin es; ia tak rela sekadar menonton Ji Zhen melarikan diri di depan matanya. Aura luar biasa terpancar dari tubuhnya, Tang Chengyue menggertakkan gigi, peluh sebesar biji jagung mengucur deras di dahinya.
Bunyi logam beradu bergema.
Tang Chengyue merasa tombak di tangannya makin berat, kedua lengannya mulai mati rasa dan kehilangan kendali. Dalam sorot mata Xue Rengui yang buas, terpancar nafsu membunuh. Keperkasaan tiada tara menyapu seluruh barak, sangat menakutkan.
Wajah Tang Chengyue tersungging senyum pahit, perasaan rumit membuncah di dadanya. Ia sudah bisa membayangkan akhir dari hidupnya.
Dentuman keras terdengar. Tombak di tangannya dipatahkan begitu saja oleh tombak besar Fang Tian, lalu senjata berat itu menghantam dadanya dengan kekuatan penuh.
Sekejap, Tang Chengyue mendengar suara patahnya tulang, rasa sakit yang hebat menjalar ke seluruh tubuh.
Semburan darah segar muncrat keluar dari mulutnya, dadanya pun berlumuran darah merah. Penglihatannya mulai mengabur, hawa dingin menyelimuti tubuhnya.
Akhirnya semuanya usai...
Xue Rengui memandang jasad Tang Chengyue dengan hening, tersirat rasa hormat dalam matanya. Ia pun segera menunggang kuda dan mengejar.
Pertempuran berlangsung sepanjang malam, baru menjelang fajar suara perang perlahan mereda. Setiap prajurit Xia Agung membara dalam amarah, tak lagi ingat berapa banyak musuh yang telah mereka tebas, yang ada di benak mereka hanya satu kata: "Bunuh!"
Tak terhitung pemberontak tergeletak bersimbah darah, seluruh pandangan hanya dipenuhi tumpukan mayat yang menggunung.
Namun kenyataannya, lebih banyak lagi pemberontak yang telah tercerai-berai melarikan diri; membasmi ratusan ribu pasukan sekaligus tetaplah sesuatu yang nyaris mustahil.
Meski begitu, sudah jelas ini adalah kemenangan besar!
"Jenderal Gao, kami tak menemukan Jenderal Xue Rengui," lapor seorang prajurit saat melihat Gao Changgong berdiri memandangi pasukan yang tengah membersihkan medan perang.
Alis Gao Changgong berkerut, "Mengapa? Bukankah semalam Jenderal Xue yang memimpin serangan?"
"Bukan, Jenderal Xue memang datang, tapi sekarang tak diketahui ke mana perginya, bahkan pasukan yang ia bawa pun tak jelas keberadaannya."
Mendengar itu, Gao Changgong terdiam sejenak. Tiba-tiba ia bertanya, "Sudah ditemukan jenazah Ji Zhen?"
"Belum."
"Benar saja, dia berhasil lolos. Ambilkan peta!" Wajah Gao Changgong berubah tegang.
Orang itu segera mengambilkan peta. "Jenderal, area ini belum selesai dibersihkan, mungkin saja belum ditemukan?"
"Tidak mungkin." Gao Changgong meneliti peta dengan saksama, lalu menunjuk sebuah titik, "Dia pasti melarikan diri ke arah sini. Begitu melewati lembah ini, ia akan selamat!"
Wajah Gao Changgong menggelap. Semalam suntuk mereka bertempur, namun jika Ji Zhen tetap bisa lolos, semua jadi sia-sia. Membunuh para prajurit saja belum cukup.
"Kumpulkan pasukan! Jangan biarkan Ji Zhen lolos!"
Tanpa ragu, Gao Changgong segera memberi perintah.
...
Di sebuah lembah, Ji Zhen terengah-engah, wajahnya pucat pasi, darah sesekali keluar dari mulutnya. Kini di sisinya hanya tinggal puluhan prajurit berkuda. Raja Wuwei yang dulu perkasa, kini dalam semalam jadi begitu nelangsa, sungguh mengharukan.
"Paduka, sepertinya Xue Rengui kehilangan jejak, ia tidak lagi mengejar," lapor seorang pengintai. Semua orang menarik napas lega.
Semalaman penuh, Xue Rengui memimpin pasukan kecil memburu mereka, sulit sekali lepas dari kejaran. Beberapa kali mereka nyaris tertangkap, sepanjang malam hati mereka diliputi ketakutan.
Kini akhirnya mereka bisa bernapas lega.
Ji Zhen menggeleng dan tersenyum pahit.
Pada akhirnya, ia terlalu tergesa-gesa ingin menang; andai bergerak perlahan dan penuh perhitungan, kekalahan setragis ini takkan terjadi. Selain itu, ia juga meremehkan Lu Yu; sikap meremehkan lawan juga menjadi penyebab utama kegagalannya kali ini.
Namun semua itu tak lagi penting!
Wajah Ji Zhen menegang, baginya ini hanya kekalahan semata. Begitu melewati lembah ini, ia yakin akan bangkit kembali!
"Tunggu saja! Suatu saat aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!" makinya marah, bayangan wajah Lu Yu yang angkuh terlintas di benaknya.
Ji Zhen memandang sekeliling, pepohonan hijau tebal, air sungai mengalir jernih menambah keindahan panorama, namun hatinya tak mampu menikmatinya.
Setelah beristirahat sejenak, ia tak sabar berkata, "Kita berangkat!"
Tiba-tiba, dari balik hutan di depan, burung dan binatang beterbangan panik, dedaunan berdesir nyaring.
Mata Ji Zhen menyipit tajam, sorot ketakutan terpancar kuat di wajahnya. Bukan hanya dirinya, para prajurit pemberontak yang tersisa pun segera mencabut senjata, wajah mereka penuh kecemasan.