Bab Enam Puluh Tujuh: Kenapa Sang Pewaris Ingin Membuat Ulah Lagi?
"Apakah Kakak Sepupu mempercayai perkataan wanita itu?"
Daiyu bertanya dengan cemas di dalam perjalanan pulang.
Begitu mendengar masalah ini, ia terkejut hingga tidak tahu harus berbuat apa.
Masalah ini sungguh terlalu besar, jika tidak ditangani dengan baik, ini bisa berujung pada bencana pemenggalan kepala dan pemusnahan seluruh anggota keluarga.
Jia Lang mendongak dan melirik Daiyu sekilas saat mendengar hal itu, tangannya terus mempermainkan manik-manik giok yang baru didapatkannya.
"Benar atau tidaknya, kita akan segera tahu setelah mengirim orang untuk menyelidiki, tidak perlu terburu-buru."
Para pelajar dari marga Lin yang beberapa hari lalu diminta oleh pelayan Zhui'er untuk dijamu oleh Jia Lang kini bisa dimanfaatkan.
Di antara para pelajar tersebut, tidak sedikit yang benar-benar berasal dari keluarga miskin namun memiliki budi pekerti yang luhur.
Mengetahui bahwa ini adalah kebaikan dari Daiyu, mereka juga bersedia membalas budi dan melaporkan keadaan yang sebenarnya.
Selain itu, Kota Gusu tidak bisa dikatakan sangat besar, tetapi juga tidak kecil.
Jika benar-benar ingin mencari seseorang, tidak perlu mengerahkan banyak tenaga, cukup tebarkan banyak uang, maka orang-orang akan berlomba-lomba mencarinya.
Hanya dalam beberapa hari, masalah tersebut mulai menemui titik terang.
Pertama, mengenai kekasih Lin Yuzhi yang bernama Ding Mingfan.
Orang ini berselisih dengan Lin Ruqing, lalu dihajar habis-habisan. Ditambah lagi kondisi tubuhnya yang lemah dan tidak ada yang merawat, beberapa hari lalu ia jatuh sakit karena tekanan batin dan akhirnya meninggal dunia.
Kedua, petunjuk mengenai apakah Lin Ruqing terlibat dalam perdagangan garam ilegal juga telah ditemukan.
Ternyata Lin Ruqing memiliki seorang putra bernama Lin Ziyan, yang dikenal sebagai pemuda yang tidak becus.
Setiap hari ia hanya bergaul di tempat-tempat pelacuran, bersenang-senang dengan sekelompok teman-teman yang tidak benar.
Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berselisih dengan seseorang dan bahkan menyuruh orang untuk memukulinya hingga tewas.
Seseorang berniat melerai, namun Lin Ziyan justru melontarkan kata-kata yang mencengangkan.
Ia terus-menerus berteriak, "Keluargaku berdagang garam ilegal, sudah berapa banyak orang rendahan yang mati setiap tahunnya!
Sekarang pun semuanya baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa, beraninya kalian beberapa orang menghentikannya..."
Begitu kata-kata ini terlontar, pelayan di sampingnya segera menyuqukan anggur untuk membungkam mulut Lin Ziyan.
Namun pada akhirnya, perkataan tersebut tetap bocor keluar dan diketahui oleh banyak orang.
Setelah mendapatkan kedua kabar tersebut, Jia Lang memerintahkan orang untuk menyuap seorang wanita paruh baya kasar di kediaman Lin Ruqing untuk menyelipkan pesan ke dalam.
Entah bagaimana cara Lin Yuzhi bergerak di sana, ia benar-benar membalas surat dan mengajak Jia Lang bertemu lusa di Menara Xuanhe.
Kali ini Jia Lang hanya membawa beberapa pelayan yang memiliki ilmu bela diri untuk pergi memenuhi janji sendirian.
Saat berjumpa lagi dengan Lin Yuzhi, Jia Lang terkejut mendapati wanita ini menjadi sangat kurus kering hanya dalam beberapa hari, tampaknya akibat bersedih atas kematian sang kekasih.
Hanya sepasang matanya yang tampak begitu jernih, membuat orang lain tidak berani menatapnya secara langsung.
Saat bertemu Jia Lang lagi, Lin Yuzhi sudah tidak berminat untuk berbasa-basi, ia langsung bersujud di lantai dan menyalin segala hal yang dilihat serta didengarnya di kediaman Lin Ruqing ke atas selembar kertas.
"Apakah kau mendendam?" Jia Lang bertanya padahal sudah tahu jawabannya.
Lin Yuzhi tahu bahwa kata-kata ini adalah hasutan yang sangat kentara, namun ia tetap saja terpancing oleh kebencian yang meluap-luap.
"Ya!"
Ucap Lin Yuzhi sambil menggertakkan gigi. Mengingat Fan lang, ia merasa semua kesabarannya menahan penghinaan selama ini menjadi begitu konyol.
Ia ingin sekali menyeret Lin Ruqing saat itu juga untuk merarut dagingnya, meminum darahnya, mencabut uratnya, dan menghancurkan tulangnya menjadi abu.
"Kalau begitu, bunuhlah dia!" Jia Lang mengulurkan tangannya kepada Lin Yuzhi, "Apakah Kakak bersedia membantuku?"
Lin Yuzhi mendongak dan menatap lurus ke arah Jia Lang, sesaat kemudian ia tersenyum pahit dan dengan sungguh-sungguh meletakkan jemari lentiknya di atas telapak tangan Jia Lang yang terbuka.
Jia Lang menggenggam erat tangan Lin Yuzhi yang bertumpu di tangannya, lalu berjanji.
"Kakak tidak perlu takut, setelah urusan ini selesai, aku pasti akan melindungi keselamatan Kakak."
Seorang pemuda yang begitu anggun dan tampan menggenggam tangannya dengan sumpah serapah yang tulus benar-benar mampu membuat hati berdebar.
Sayangnya di dalam hati Lin Yuzhi saat ini hanya ada mendiang Ding Mingfan, sama sekali tidak ada perasaan romantis antarlain jenis.
"Tuan Muda, Anda harus menepati janji Anda ya!"
Lin Yuzhi tidak memiliki barang apa pun di tangannya untuk mengendalikan Jia Lang, yang ia miliki hanyalah ketulusan yang membara.
Jika Jia Lang tidak bisa bertindak, maka ia, Lin Yuzhi, akan bertindak sendiri pun tidak masalah.
Selama bisa membunuh Lin Ruqing, Lin Yuzhi akan mati tanpa penyesalan.
"Pasti. Sebelum itu, Kakak juga harus menjaga diri sendiri, jangan sampai ceroboh dan kehilangan nyawa."
Pesan Jia Lang, lalu bertanya lagi, "Aku dengar orang-orang sepertimu tidak bisa keluar masuk kediaman dengan sembarangan.
Mengapa Kakak bisa begitu santai, tidak ada yang menyelidiki?"
Lin Yuzhi tertegun sejenak mendengar itu, lalu tersenyum pahit, "Ini juga karena keberuntungan hamba.
Beberapa hari lalu hamba mendapat perhatian dari Tuan Muda, jika bukan karena kedatangan Tuan Muda, hamba tadinya tidak perlu lagi melayani tamu."
Ia mengusap perutnya perlahan, lalu berucap lirih, "Beberapa hari lalu tabib mendiagnosis nadi hamba, katanya hamba sudah berbadan dua, jika dihitung dari waktunya, ini adalah anak dari Tuan Muda itu.
Orang tua bangka Lin Ruqing itu adalah tipe orang yang paling mementingkan garis keturunan dan hubungan darah.
Meskipun itu dari rahim wanita hina sepertiku, jika mengandung anak, pasti akan dipertahankan.
ditambah lagi hamba biasanya sangat penurut, lambat laun membuat Lin Ruqing melepaskan kewaspadaannya."
Usai berkata demikian, melihat tatapan Jia Lang yang tertuju pada perutnya, Lin Yuzhi melanjutkan.
"Tuan Muda tidak perlu memikirkan hamba, hamba tahu apa yang harus dilakukan. Hanya berharap Tuan Muda tidak melupakan janji kita."
Sekembalinya Jia Lang ke kediaman lamanya, ia berpikir keras dan merasa ada yang tidak beres.
Lin Ruqing sedang berdagang garam ilegal!
Saat ini negeri sedang aman dan tenteram, garam dan besi dimonopoli oleh negara, semua pedagang garam harus mendapatkan surat izin dari istana baru bisa menjual garam, dan keuntungan yang diperoleh sudah mencapai lima kali lipat.
Namun, bagaimana bisa sifat serakah manusia terkikis.
Jika menjual garam ilegal, tanpa ada batasan surat izin, satu kati garam yang sama bisa dijual seharga empat puluh wen per kati, padahal modalnya bisa ditekan hingga lima wen per kati!
Jika dihitung-hitung, setiap kati menghasilkan keuntungan sebesar tiga puluh lima wen.
Begitu besar keuntungannya, sehingga meskipun istana berulang kali melakukan penindasan, perdagangan garam ilegal tidak pernah benar-benar padam.
Ayah Daiyu, Lin Hai, semasa hidupnya merangkap jabatan sebagai Inspektur Garam, dan bahkan meninggal di masa jabatannya.
Dari berbagai hal tersebut, baru terlihat ujungnya saja sudah membuat orang merasa ngeri.
Jia Lang ingin membuat sedikit kehebohan, tetapi bukan berarti ia ingin mencari kematian sendiri.
Batasan dalam hal ini harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.
Jika tidak, jarak ke ibu kota begitu jauh, pihak kerajaan bagaimana pun tidak akan mampu menjangkaunya.
Jia Lang tahu bahwa masalah ini sangat dalam dan tidak bisa bertindak gegabah untuk sementara waktu, setelah berpikir sejenak ia mengirim orang untuk mengundang Deng Wenrong datang berunding.
Mendengar masalah ini, Deng Wenrong tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, ia benar-benar tidak mengerti bagaimana pemuda bangsawan ini bisa membuat masalah sebesar itu hanya dalam beberapa hari.
Hanya saja, urusan garam ilegal ini melibatkan banyak hal, sehingga harus ditangani dengan sangat hati-hati.
Jia Lang memiliki Lin Yuzhi di dalam untuk mengorek informasi, dan Deng Wenrong di luar untuk mencari berbagai petunjuk ke sana ke mari.
Segera ia mengetahui bahwa orang yang bersekongkol dengan Lin Ruqing dalam bisnis garam ilegal ini, selain beberapa kerabat dari marga Lin, juga ada keluarga besar lain di Gusu yang bermarga Liu.
Keduanya membahas masalah ini semalaman suntuk dan mengerahkan lebih banyak orang untuk menyelidiki ke berbagai tempat, barulah mereka memastikan bahwa ini hanyalah perdagangan garam ilegal skala kecil.
Bukan seperti para pedagang garam besar lainnya yang memiliki jaringan sangat luas hingga langsung menduduki ladang garam dan menambang garam tanpa modal untuk dijual.
Barulah Jia Lang merasa sedikit lega, ia menyimpan semua bukti tersebut sebagai persiapan jika sewaktu-waktu diperlukan.
Setelah semuanya jelas, Jia Lang mengajak Deng Wenrong untuk berjaga-jaga dan langsung pergi mengunjungi kediaman Prefek Suzhou.
Meskipun Gusu sangat makmur, kediaman Prefek Suzhou sama sekali tidak terlihat mewah.
Dibandingkan dengan kediaman Lin Ruqing yang dilihat Jia Lang hari itu, tempat ini jauh bagaikan langit dan bumi.
Kunjungan kali ini, selain untuk mengungkap keterlibatan Lin Ruqing dalam perdagangan garam ilegal, Jia Lang juga ingin memastikan apakah Prefek Suzhou turut bersekongkol.
Jika sang prefek juga ikut serta dalam perdagangan garam ilegal, kediamannya tidak mungkin sesederhana ini.
Sekalipun ada niat untuk menyembunyikannya, hal-hal kecil tetap akan memperlihatkannya.
Jia Lang terus mengelus manik-manik di pergelangan tangannya.
Batu pirus itu terasa dingin saat disentuh, membuat hatinya semakin tenang, dan senyum tipis terukir di bibirnya.
Ia berkata dalam hati: Separuh jalan telah berhasil!