Bab 141: Mengakui Kesalahan
Urat di dahi sang Marquis menonjol. "Panggil semua nona muda ke sini!"
Nenek menggerakkan tasbih di tangannya dengan sangat cepat, tatapan matanya suram dan sulit ditebak.
Hong Ying masuk ke paviliun untuk memanggil para nona muda. Saat melihat gurat kemarahan di wajah sang Marquis dan Nenek—yang ternyata tidak ditujukan kepadanya—Jin Tong tahu bahwa para pelayan telah mengaku. Sudut bibir Jin Tong sedikit terangkat, menyunggingkan senyum tipis.
Zhu Yanran keluar dengan dipapah oleh pelayannya. Begitu duduk di samping sang Bibi, Nenek meliriknya sekilas dengan sorot mata yang menyiratkan kekecewaan. Meski ingin melindungi ibu dan anak itu, kali ini mereka memang bersalah lebih dulu. Di hadapan sang Marquis dan anggota keluarga cabang keempat, Nenek tidak bisa bersikap pilih kasih dan membiarkan Jin Tong menanggung ketidakadilan. Dalam hati, Nenek memutar otak mencari cara agar masalah Jin Tong yang menginjak kaki Zhu Yanran bisa diselesaikan tanpa membuat Jin Tong merasa dirugikan, sekaligus tetap melindungi Zhu Yanran.
Begitu keluar dari paviliun, Zhu Yanran langsung merasakan suasana aula utama yang janggal. Saat tatapan dingin dan tegas sang Marquis tertuju padanya, raut wajah Zhu Yanran seketika berubah. Dengan nada menderita, ia berseru, "Ibu, perutku sakit sekali."
Sang Bibi terperanjat, "Mengapa tiba-tiba perutmu sakit?" Khawatir akan kondisi putrinya, ia pun berencana segera kembali ke kediamannya.
Semua orang yang hadir di sana sangat paham; ibu dan anak itu sudah tahu bahwa kedok mereka telah terbongkar, sehingga mereka berniat melarikan diri. Trik murahan seperti itu benar-benar tidak dipandang sebelah mata oleh siapa pun. Nyonya Kedua bahkan menatap sang Bibi dengan tatapan penuh penghinaan.
Kekecewaan di mata Nenek semakin dalam, namun ia hanya memiliki satu anak perempuan seumur hidupnya. Jika putrinya dimarahi oleh sang Marquis karena dianggap tidak becus mendidik anak di depan banyak orang, Nenek pasti akan merasa sangat sedih. Sebelum sang Marquis sempat angkat bicara, Nenek mendahului, "Jika perutmu tidak nyaman, kembalilah. Jangan pergi ke mana-mana sebelum kakimu benar-benar sembuh."
Itu adalah peringatan terselubung agar ibu dan anak itu tidak perlu kembali berkunjung ke kediaman ini untuk sementara waktu. Sang Bibi segera berdiri dan membawa Zhu Yanran pergi. Jin Tong menatap sang Bibi, lalu beralih menatap sang Marquis dengan kening sedikit berkerut.
Mengapa ia merasa tatapan sang Marquis kepada sang Bibi mengandung rasa benci yang tipis? Apakah sang Marquis tidak menyukai adiknya sendiri? Namun, bukankah sang Bibi adalah adik kandung sang Marquis? Mengapa sang Marquis memperlihatkan tatapan seperti itu? Hati Jin Tong dipenuhi keraguan.
Di sisi lain, saat melihat Bibi dan Zhu Yanran mencari alasan untuk melarikan diri, kening sang Marquis berkerut sangat dalam. Namun, karena Nenek sudah bersuara, ia tidak enak hati untuk melarang mereka pergi. Bagaimanapun, sang Bibi sudah menikah keluar, dan sang Marquis bukanlah kepala keluarga yang bisa seenaknya mendisiplinkan sang Bibi dan putrinya. Sudahlah, pikirnya, nanti ia akan memberikan kompensasi lebih kepada Tong'er sebagai gantinya.
Setelah urusan Zhu Yanran menggantung begitu saja, pandangan sang Marquis beralih ke arah Su Jinxiu. Nyonya Besar menatap Jin Tong dengan tajam, lalu mendorong Su Jinxiu ke depan. "Jinxiu, berlututlah dan akui kesalahanmu!"
Nyonya Besar sangat pandai membaca situasi. Ia tahu bahwa dalam kondisi sekarang, mengakui kesalahan secara sukarela adalah pilihan terbaik. Masalah ini dipicu oleh Su Jinxiu dan Zhu Yanran. Zhu Yanran adalah sepupu, sehingga sang Marquis sulit menghukumnya. Namun, Su Jinxiu adalah putri kandung sang Marquis. Membuat tuduhan palsu, menekan kakak kandung, dan berbohong setelahnya—melihat raut wajah sang Marquis saja sudah cukup menunjukkan betapa marahnya ia. Sang Marquis pasti akan menghukum Su Jinxiu dengan berat. Dengan mengakui kesalahan lebih dulu, setidaknya sang Marquis mungkin akan melunakkan hukumannya karena menganggap Su Jinxiu patuh dan penurut.
Sejak kejadian Su Jinxiu mengambil barang Jin Tong tanpa izin sebagai taruhan yang berujung pada hancurnya bidak catur bernama Bibi Jiang, Nyonya Besar dan Liu Shiqing telah bergantian mengajari Su Jinxiu taktik di dalam kediaman. Hasilnya terlihat jelas. Begitu Nyonya Besar memberi perintah, Su Jinxiu benar-benar berlutut dan mengakui kesalahannya. Ia sadar bahwa itu adalah jalan terbaik; para pelayan sudah mengaku, jika ia tetap keras kepala dan memancing kemarahan sang Marquis, ia pasti akan menanggung akibat yang fatal.
Melihat hal itu, alis Jin Tong terangkat sedikit. Su Jinxiu mengalami banyak kemajuan. Ia mengira Su Jinxiu akan terus menyangkal atau menuduh para pelayan telah disuap, namun ternyata ia berinisiatif mengaku. Sepertinya ia benar-benar telah dididik oleh Nyonya Besar.
Su Jinxiu berlutut di lantai sambil terisak, "Ayah, aku tahu aku salah. Aku tidak seharusnya berbohong, tapi aku tidak berniat menekan Kakak Sulung untuk mengeluarkan uang demi membeli batu bara. Aku hanya merasa Kakak Sulung sudah mendapatkan banyak uang dari hasil penjualan batu bara, dan sekarang kediaman Marquis tidak memiliki cukup uang untuk membeli batu bara. Aku pikir lebih baik meminjam uang dari Kakak Sulung terlebih dahulu. Aku juga tahu perkataanku tadi mudah disalahpahami, itulah sebabnya..."
Singkatnya, ia ingin berdalih bahwa tujuannya adalah agar Jin Tong meminjamkan uang untuk menutupi krisis kepercayaan di kediaman Marquis. Toh mereka semua tinggal di bawah atap yang sama, uangnya bisa dicicil nanti. Ia tidak bermaksud menekan Jin Tong, namun kata-katanya terlalu ambigu, dan karena takut semua orang salah paham, ia tidak berani mengakui. Jadi, ia tidak sengaja berbohong.
Su Jinxiu mengucapkan kalimat itu dengan sangat manis. Ia mengakui kesalahan, lalu menjelaskan alasan di baliknya seolah-olah ia berbuat demi kebaikan kediaman Marquis, hanya saja takut disalahpahami. Dengan kelihaian lidahnya, ia melepaskan sebagian besar beban tanggung jawab, bahkan membuat dirinya tampak berbakti dan peduli pada keluarga. Di saat yang sama, ia juga menjatuhkan Jin Tong; lihatlah betapa ia peduli pada kediaman, sementara Jin Tong yang punya uang dan batu bara justru tidak mau membantu, bahkan menyalahartikan niat baiknya. Benar-benar serigala tak tahu berterima kasih.
Jin Tong tercengang; kemampuan bicara Su Jinxiu benar-benar sudah meningkat pesat. Nyonya Besar tampak terkejut sekaligus senang, sementara Nyonya Kedua, Ketiga, dan Keempat tidak bisa menahan diri untuk melirik Su Jinxiu lebih sering.
Setelah Su Jinxiu selesai bicara, sang Marquis meliriknya dingin. "Pergi berlutut di ruang sembahyang, jangan keluar sampai besok pagi."
Telapak tangan Nyonya Besar mencengkeram erat. Saat ini belum waktunya makan siang, jika harus berlutut hingga besok, berarti makan siang dan makan malam hari ini akan terlewati. Hukuman ini tergolong berat. Apakah inisiatif mengakui kesalahan dan rangkaian kata-kata tadi masih belum cukup meluluhkan hati sang Marquis?
Jin Tong meliriknya dengan senyum tipis. Ayahnya bukanlah orang bodoh yang bisa dibodohi oleh ibu dan anak itu semudah membalik telapak tangan. Su Jinxiu bicara manis tentang kepentingan kediaman, tetapi mungkinkah kediaman Marquis yang sebesar ini bahkan tidak memiliki seratus ribu tael di kas umum hingga harus meminjam uang dari seorang junior? Jika hal ini sampai terdengar ke luar, orang-orang akan mencemooh sang Marquis sebagai sosok yang tidak kompeten.
Beberapa pelayan datang menjemput Su Jinxiu ke ruang sembahyang. Su Jinxiu menggigit bibirnya erat-erat, matanya merah saat ia melangkah pergi.
Urusan Jin Tong sudah selesai, tetapi kekacauan yang ditinggalkan sang Bibi masih tersisa. Bagaimana dengan belasan kereta batu bara itu? Jika diambil dari kas umum, Nyonya Kedua dan Keempat pasti menolak keras. Nyonya Besar dan Nyonya Ketiga memiliki hubungan darah dengan sang Bibi, jadi meski sikap mereka tidak sekeras Nyonya Kedua dan Keempat, di dalam hati mereka pasti tidak setuju. Sang pelaku utama, Bibi, sudah pergi, dan masalah ini pun menemui jalan buntu.