Bab 50: Hukuman (Bagian 2)
Jintong berkata, “Kedua barang itu diambil oleh Adik Ketiga dan Sepupu Zhu dari kamarku tanpa seizinku, mereka sembarangan mengambil barang-barangku untuk dijadikan hadiah taruhan. Perhiasan giok itu sudahlah, tapi batu tinta itu adalah pemberian Paman. Ayah pasti tahu, batu tinta itu adalah barang upeti, biasanya sangat langka. Paman memberikannya padaku karena sangat menyayangiku, aku sangat menyukainya hingga tak rela menggunakannya. Tapi Adik Ketiga dan Sepupu Zhu berani-beraninya mengambil barangku tanpa izin. Kalau Paman tak tahu, itu tak masalah. Tapi bagaimana kalau suatu saat Paman tahu bahwa batu tinta yang ia berikan padaku sudah dijadikan hadiah taruhan? Bagaimana aku harus menjelaskannya padanya?”
Mungkin aku bahkan tak akan punya kesempatan menjelaskannya, sebab jika Paman tahu, ia mungkin hanya diam-diam kecewa dan takkan benar-benar menyalahkanku.
“Kedua barang itu kusimpan di gudang, kuncinya ada pada Nyonya Jiang. Kalau Nyonya Jiang mengambil barang dari gudang tanpa seizinku lalu memberikannya pada orang lain, bukankah sudah sepantasnya ia dihukum? Di gudang banyak barang berharga, termasuk mas kawin Ibu. Jika kali ini Nyonya Jiang tak dihukum, apa harus menunggu gudangku kosong, mas kawin Ibu diambil semua olehnya baru kemudian dihukum?”
Semakin lama Jintong berbicara, semakin nampak kemarahannya. Ia memang benar-benar marah. Batu tinta itu telah dijadikan hadiah taruhan, ia bahkan tak tahu siapa yang membawanya, dan sekalipun tahu, ia tak bisa mengambilnya kembali.
Barang yang sudah diberikan orang, demi menjaga nama baik keluarga, Nyonya Besar pasti takkan memerintahkan Su Jinxiu dan Zhu Yanran untuk mengambilnya kembali.
Tuan Besar dan Nyonya Besar mendengar itu, wajah mereka langsung menggelap. Wajah Nyonya Pertama pun tak jauh berbeda. Hari ini memang Su Jinxiu yang berbuat salah, sudah pasti ia akan dihukum.
“Panggilkan Gadis Ketiga dan Nyonya Jiang kemari!” perintah Nyonya Besar dengan suara dingin.
Jintong lalu menyuruh Zier dan Bier membawa masuk Nyonya Jiang.
Nyonya Jiang tampak pucat pasi. Jintong menghukumnya dengan tiga puluh cambukan, tanpa menyuruh siapa pun memanggil tabib untuknya. Para pelayan di Paviliun Mei pun tahu diri, melihat Nyonya Jiang jelas-jelas sudah memusuhi Jintong, mereka semua menghindar darinya, khawatir Jintong akan melampiaskan amarah pada mereka, sehingga tak ada yang mau membantu mengobati luka Nyonya Jiang.
Nyonya Pertama menatap Nyonya Jiang yang tergeletak di lantai, bokongnya berdarah-darah dan masih merintih minta keadilan, sorot matanya penuh kebencian.
Nyonya Jiang, hari ini sudah pasti tak akan selamat.
Ia sama sekali tak bisa membela Nyonya Jiang. Sebab dari awal, sekalipun ada kesalahpahaman, yang mungkin terjadi hanyalah Su Jinxiu dan Zhu Yanran memakai nama Jintong untuk menipu Nyonya Jiang agar mengeluarkan barang itu. Yang salah tetap saja Su Jinxiu, bahkan kesalahannya semakin besar. Mengambil barang orang tanpa izin sama saja dengan mencuri. Su Jinxiu menginginkan barang kakaknya, sampai-sampai berbohong dan menipu pengasuh kakaknya untuk mencuri barang itu. Bila kabar ini menyebar, nama baik Su Jinxiu akan hancur.
Tak lama kemudian, Su Jinxiu pun datang. Begitu masuk, ia langsung berlutut dengan suara keras.
“Ayah, Nenek, Kakak menuduhku, aku tidak pernah mengambil barangnya tanpa izin!”
Mata Su Jinxiu merah, bibirnya mengerucut, seolah-olah ia sangat teraniaya.
Nyonya Pertama ingin sekali berdiri dan memaki bodohnya anak itu!
Bagaimana bisa ia punya anak sebodoh ini? Dulu mengambil barang Jintong tanpa izin sudah pernah kena batunya, sekarang masih saja tak mau belajar, malah akhirnya menjerumuskan diri sendiri dan memberi Jintong alasan untuk menyingkirkan Nyonya Jiang.
Tuan Besar dan Nyonya Besar bukan orang bodoh. Jika Su Jinxiu dan Zhu Yanran memang berniat menyiapkan hadiah taruhan, untuk apa mereka ke Paviliun Mei? Nyonya Jiang juga bukan orang tolol, tak mungkin ia berani mengambil risiko dimarahi majikan hanya untuk mengambil barang dari gudang lalu memberikannya pada Su Jinxiu dan Zhu Yanran. Kalau memang ia berbuat seperti itu, mungkin kepalanya sudah terjepit pintu berkali-kali.
Semua orang yang mengerti pasti tahu, Su Jinxiu dan Zhu Yanran telah menjebak Jintong, mengambil barangnya tanpa izin lalu dijadikan hadiah taruhan.
Sebenarnya, andai saja Su Jinxiu mengakui kesalahannya, Nyonya Besar dan Tuan Besar mungkin masih akan memaafkan karena sikapnya yang mau mengakui salah dan berjanji memperbaiki diri.
Tapi justru sebaliknya, ia malah masuk dan langsung membela diri, sama sekali tak menunjukkan penyesalan. Pasti hukumannya akan makin berat.
Benar saja, wajah Nyonya Besar dan Tuan Besar makin gelap usai Su Jinxiu membela diri. Seperti dasar panci tua yang telah digunakan ratusan tahun.
Kalau bicara siapa yang paling dicintai Tuan Besar dalam hidupnya, tak diragukan lagi, itu adalah Qu Yunyan. Setelah Qu Yunyan meninggal, Jintong menjadi anak emas baginya.
Andai bukan karena kejadian di masa lalu, ia takkan pernah menikahi Nyonya Pertama.
Meskipun Su Jinxiu juga putrinya, tapi mana mungkin dibandingkan dengan Jintong? Sekarang Su Jinxiu malah berani-beraninya menindas Jintong, tidak tahu menyesal, dan hanya bisa menyalahkan orang lain. Bagaimana ia tidak marah?
Ia benar-benar sangat marah!
Seluruh tubuh Tuan Besar memancarkan kemarahan, sambil menunjuk Su Jinxiu ia membentak Nyonya Pertama, “Putri utama keluarga bangsawan, menginginkan barang kakaknya sendiri, mengambil tanpa izin, sudah berbuat salah malah tak tahu menyesal, hanya bisa menyalahkan orang lain. Inikah anak baik yang kau didik?!”
Su Jinxiu menggigil, baru sadar ia sudah berbuat salah lagi. Seharusnya ia tidak membela diri, tapi langsung mengakui kesalahan!
Matanya makin merah, kali ini ia benar-benar akan menangis.
Tuan Besar marah, mana mungkin ia tidak takut.
Ia sudah berbuat salah, bahkan ibunya ikut dimarahi ayah.
Semuanya gara-gara Su Jintong!
Dulu ia pun pernah mengambil barang Jintong, dan Jintong selalu diam saja. Jadi ia pikir Jintong memang rela. Sekarang tiba-tiba Jintong tidak rela, tapi tidak bilang dari awal, malah mengadu pada ayah dan nenek, hingga ia dan ibunya dimarahi.
Semuanya salah Su Jintong!
Su Jinxiu menggigit bibir, menatap Jintong dengan pandangan sedingin es.
Jintong menoleh padanya, mengangkat alis dengan tenang.
Tiba-tiba dimarahi Tuan Besar, Nyonya Pertama pun merasa sangat tertekan. Beberapa waktu ini demi pesta pernikahan Jun-ge, ia sibuk dari pagi hingga malam. Selama bertahun-tahun menikah dengan keluarga bangsawan, ia merasa sudah mengatur semua dengan baik, tak pernah membiarkan urusan dapur mengganggu Tuan Besar.
Ia telah mengurus rumah tangga belasan tahun, kini Tuan Besar malah memarahinya demi Jintong?!
Di dalam ruangan masih ada para pelayan, Tuan Besar memarahinya di depan mereka, apa lagi yang tersisa dari wibawa dan martabatnya!
Hati Nyonya Pertama terasa dingin, tapi sekarang ia dan putrinya sedang dalam posisi lemah. Selain mengakui kelalaian dan meredakan amarah Tuan Besar dan Nyonya Besar, ia tak punya pilihan lain.
Dengan mata memerah, Nyonya Pertama berlutut dan berkata, “Jinxiu berbuat salah dan tidak tahu menyesal, semua adalah kesalahanku. Aku sebagai ibunya yang tidak mendidiknya dengan baik. Tuan Besar, Nyonya Besar, Jinxiu masih kecil, meski berbuat salah, itu hanya pertengkaran kecil antara dua saudara. Jinxiu sudah sadar akan kesalahannya, jika harus dihukum, hukumlah aku saja. Semua salahku yang gagal mendidiknya, hingga ia melakukan hal seperti ini.”
“Ibu…” Su Jinxiu menangis dan memeluk Nyonya Pertama, “Ayah, Nenek, aku tahu aku salah, aku takkan mengulanginya lagi, hu hu…”
Tangisan Su Jinxiu terdengar memilukan, hati Nyonya Besar pun sedikit luluh. Bagaimanapun, ia adalah cucu kandungnya.
Lagi pula, orang tua memang cenderung berhati lembut.
Nyonya Besar menghela napas pelan, “Sudahlah, jangan menangis lagi.”