Bab Seratus Tiga Puluh Tiga: Hendak Berperang
Kereta kuda melaju dengan suara gemuruh. Pemuda gemuk berkulit putih yang tadinya berada di bawah kaki Yue Kui, tiba-tiba menoleh dan menatap tajam ke arah Wang Jintong. Ia tertegun sejenak, lalu matanya dipenuhi rasa ngeri dan ia meronta-ronta dengan sisa tenaganya. Begitu ia mulai meronta, Yue Kui telah melepaskannya. Dengan tatapan agak linglung, ia melirik sekilas ke dalam kereta kuda, lalu melarikan diri terbirit-birit.
"Ah..."
Pemuda gemuk putih itu menjerit. Ia ingin bangkit berdiri, namun karena terlalu panik, ia kembali terjatuh. Setelah itu, ia merangkak beberapa langkah di tanah, lalu dengan gemetar menopang tubuhnya menggunakan tangan sambil mundur ke belakang.
"Kau sudah gila, ya?" Meng Zifan menarik lengan Wang Jintong, lalu menyeretnya ke samping sambil menarik kendali kuda.
"Kenapa aku harus menghabisinya, kau tidak paham!" Mata Wang Jintong memerah, keadaannya tampak agak gila. Sambil berteriak sekuat tenaga, ia mencoba melepaskan diri dari pegangan Meng Zifan, namun ia bertindak selangkah lebih cepat dan berhasil mengendalikan kuda tersebut.
"Bruk... Prang..."
Karena menghadapi situasi yang begitu mendadak dan berhadapan dengan dua "kusir" sekaligus, kuda itu kebingungan harus menuruti siapa. Kuda tersebut langsung berlari menerobos jalan raya menuju ke dalam hutan, menabrak sebatang pohon secara langsung hingga kereta terbalik.
"Ah... ah... ah..."
Pemuda gemuk putih yang kedua kakinya berada tepat di bawah kepala kuda, dengan jarak tidak lebih dari dua puluh sentimeter dari roda kereta, memejamkan mata dan mulai menjerit histeris. Cahaya bulan yang terang menembus pepohonan, menyinari wajahnya yang sepucat mayat.
"Ini... tidak ada hubungannya dengan dia, Jintong," ucap Meng Zifan dengan suara pelan sambil merangkak keluar dari reruntuhan dengan tatapan kosong.
"Sialan, terserah kau mau berbuat apa!" maki Wang Jintong. Ia mulai memeriksa apakah kuda tersebut baik-baik saja, namun begitu mendekati kuda itu, ia tidak bisa menahan kerutan di keningnya. Wang Jintong kemudian berjalan menghampiri pemuda gemuk putih tersebut. Kedua kaki pemuda itu masih bergetar hebat, dan celananya telah basah oleh air seni.
"Aku tanya, kau jawab, mengerti?" Wang Jintong menatapnya dan kembali bertanya.
"Baik... baik," jawab pemuda gemuk putih itu tanpa menggelengkan kepala ataupun menutup telinganya lagi. Tatapannya tampak kosong saat menatap Wang Jintong.
"Anek buah siapa?"
"Kong Ergou."
"Sudah berapa lama?"
"Sejak kasino itu dibuka, aku langsung bergabung..."
"Bagaimana cara menyampaikan informasinya?"
"Jika ada informasi, disampaikan ke kasino Bai Yunrui. Untuk masalah selevel kalian, sekali informasi dihargai dua tael perak... tetapi untuk Huo Jun dan Qiu Haiyue—tidak, tidak... Tuan Huo dan Tuan Qiu, sekali informasi dihargai seratus ribu tael perak."
"Sudah berapa kali menyampaikan informasi?"
"Tiga kali..."
Wang Jintong tersenyum tipis lalu mengangguk. Ia melanjutkan, "Bagus... Coba sebutkan. Tiga kali yang mana saja?"
"Fan Jinhu, Si Babi Tua, dan waktu kalian pergi ke luar kota."
"Salah, jawabanmu keliru," tukas Wang Jintong sambil menatapnya tajam dan menunjuk batang hidungnya.
"Tidak ada, sungguh tidak ada, benar-benar hanya tiga kali." Pemuda gemuk putih itu menunjukkan ekspresi seolah-olah ingin merobek dadanya untuk memperlihatkan isi hatinya kepada Wang Jintong.
"Lima kali. Kau telah membocorkan informasi sebanyak lima kali," desak Wang Jintong sambil terus menatapnya.
"Tidak... sungguh tidak..."
"Bruk! Prang!"
Wang Jintong tiba-tiba menghantam bodi kereta kuda dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang nyaring. Ia lalu kembali menatap pemuda gemuk putih itu dan berkata perlahan, "Coba ingat-ingat baik-baik, apakah lima kali?"
Pemuda gemuk putih itu melirik ke arah kakinya yang tertindih kereta, lalu beralih menatap roda kereta yang masih mengeluarkan bau menyengat. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengangguk dan berkata, "Lima kali! Lima kali, benar-benar lima kali!"
"Waktu kami berada di luar halaman rumah petani itu, bukankah kau yang melapor kepada Kong Ergou?"
"Iya," angguk pemuda gemuk putih itu.
"Waktu kami dikepung oleh para petugas pengadilan di toko obat, bukankah itu juga ulahmu?"
"Iya, semuanya benar." Pemuda gemuk putih itu kembali mengangguk.
"Bagus. Naiklah ke kereta. Ingat baik-baik perkataanmu, nanti ucapkan sekali lagi di depan mereka."
Dalam waktu sebatang teh, Jiao Yu tiba dengan menyewa kereta kudanya sendiri. Keenam orang di pihak Wang Jintong kini menggunakan dua buah kereta kuda. Dengan membawa dua orang tawanan, mereka meninggalkan kasino dan melaju kencang menuju Restoran Zuixian tempat Huo Jun berada.
Dari awal keenam orang Wang Jintong pergi menjalankan misi hingga semuanya selesai, total waktu yang dihabiskan kurang dari satu jam. Meskipun mereka harus melalui dua pertempuran sengit secara beruntun, anehnya tidak satupun dari mereka yang terluka. Apakah ini berarti kemampuan bertarung mereka meningkat jika dibandingkan dengan sebelumnya? Tentu saja bukan itu alasannya.
Di depan pintu Restoran Zuixian, mereka memarkirkan kedua kereta kuda tersebut, lalu menggiring kedua tawanan masuk melalui pintu belakang.
"Jintong, terima kasih ya..." ucap Meng Zifan dengan suara pelan bagaikan dengungan nyamuk, bergumam melalui hidungnya.
"Kau ini... apakah maksudmu mau bilang kalau malam ini aku boleh menidurimu?" Wang Jintong mengelus kepalanya dengan perasaan gemas, lalu tertawa mengejek dan melontarkan kalimat itu.
"Sungguh... terima kasih." Di luar dugaan, Meng Zifan tidak membalas candaan Wang Jintong, melainkan mengulanginya dengan nada serius.
"Jangan dibahas lagi masalah ini... menurutlah ya." Wang Zintong melotot kepadanya.
"Baiklah... sudah lewat." Meng Zifan menghela napas lalu mengangguk.
"Haha, ayo masuk." Wang Jintong menarik tangannya, melangkah masuk ke dalam Restoran Zuixian, dan langsung menuju ke kamar pribadi di lantai atas.
Ketika Wang Jintong kembali ke kamar pribadi, situasinya masih sama seperti sebelumnya. Sejak keenam orang itu pergi, persediaan anggur sama sekali tidak berkurang. Ruangan itu dipenuhi asap tipis, sementara mereka terus meminum teh sambil menikmati udara segar.
"Urusannya sudah beres?" Huo Jun melirik ke arah Yu Haishan sambil tersenyum tipis, lalu bertanya kepada Wang Jintong.
"Sudah, semuanya beres," jawab Wang Jintong santai sambil melepas pakaian luarnya. Dengan bertelanjang dada, ia mengambil cangkir anggur milik Huo Jun dan langsung menegguknya hingga tandas.