Bab Enam Puluh Delapan: Membeli Rumah Baru (Bagian Satu)
Keesokan paginya, Wang Chaoyang menerima telepon lebih awal. Petugas pengantar pos memberitahunya bahwa surat pemberitahuan penerimaan telah tiba.
Tahun 1990 sangat berbeda dengan masa depan. Internet belum tersebar luas seperti sekarang, sehingga tidak ada yang tahu pasti apakah mereka diterima di pilihan pertama atau tidak. Semua hanya bisa diam-diam berdoa dalam hati, berharap surat yang datang bertuliskan nama universitas yang diidamkan pada bagian depannya.
“Pak, boleh saya minta tolong? Bisa lihat dari mana kiriman surat saya berasal?”
Sebenarnya ini bukan ide mendadak Wang Chaoyang. Cara seperti ini sudah menjadi kebiasaan para calon mahasiswa, dan para petugas pos pun sudah terbiasa dengan permintaan seperti ini.
“Coba saya lihat... ini dari Shenghai,” jawab suara di seberang, terdengar seperti pria paruh baya, suaranya berat dan ramah.
“Baiklah! Terima kasih, Pak.” Wajah Wang Chaoyang langsung berseri-seri. Kini ia yakin, pasti sudah diterima. Shenghai Hukum dan Pemerintahan, aku datang!
Meski dengan aset yang dimilikinya sekarang, selembar ijazah perguruan tinggi tak akan berpengaruh banyak terhadap pekerjaan dan kehidupannya ke depan, namun ia masih ingat ucapan haru teman sekamarnya saat lulus di kehidupan sebelumnya:
“Kuliah itu sungguh indah. Andaikan bisa mengulang, aku ingin seumur hidup tinggal di lingkungan kampus.”
Kenangan masa kuliah di kehidupan lalu kembali terbayang di benaknya. Walau bukan di Shenghai Hukum dan Pemerintahan, masa-masa santai itu tetap membuat Wang Chaoyang tak bisa melupakannya.
Setelah menutup telepon dan menjawab tatapan penuh tanya dari keluarganya, Wang Chaoyang tersenyum lebar, lalu mengambil kunci mobil dari meja dan langsung berlari keluar.
“Hati-hati di jalan!” seru ibunya, nada suaranya tak bisa menyembunyikan kegembiraan.
Tak sabar menunggu petugas pos mengantar, Wang Chaoyang langsung menyetir menuju kantor pos, menyerahkan identitas diri dan melakukan verifikasi wajah, barulah ia menerima surat pemberitahuan itu.
Begitu amplop pos dibuka, pada halaman depan surat itu, empat huruf besar Shenghai Hukum dan Pemerintahan terpampang jelas. Ia membuka bagian dalam dan memperhatikan dengan saksama, tanggal mulai kuliah adalah 1 September.
Hari ini tanggal 11 Agustus, masih ada dua puluh hari lagi.
Saat tiba di rumah, ibunya sudah menyiapkan makan. Seluruh keluarga duduk melingkar di ruang tamu kecil, menunggu kepulangan Wang Chaoyang.
Begitu masuk rumah, Wang Chaoyang meletakkan surat itu di meja teh, lalu berdiskusi dengan kedua orang tuanya, “Ayah, Ibu, besok kita lihat-lihat rumah, yuk. Aku ingin beli rumah yang lebih besar di dekat pusat perbelanjaan, sekalian memudahkan Ibu berangkat dan pulang kerja.”
Wang Chaoyang memang sudah pernah menyinggung soal membeli rumah baru, jadi Wang Zhen dan istrinya tidak terkejut. Ibunya berkata, “Kalaupun kamu beli rumah hari ini, menunggu renovasi dan beli perabot, sebelum masuk kuliah kamu juga belum sempat menempatinya... Gimana kalau ditunda saja?”
Dengan nada pasrah, Wang Chaoyang menjawab, “Ibu, meskipun sebelum aku kuliah belum bisa pindah ke rumah baru, setidaknya saat liburan musim dingin nanti aku bisa punya kamar sendiri, kan? Masa aku harus tidur di sofa terus...”
Ia menambahkan dengan nada sedikit mengeluh, “Satu rumah cuma beberapa puluh ribu, anak Ibu ini sudah menghasilkan ratusan juta...”
Wang Zhen dan istrinya saling bertatapan, lalu ibunya mengangguk setuju, “Baiklah, makan dulu. Besok aku minta Xiaoyue jagain toko, besok kita lihat-lihat rumah.”
Di samping, Wang Yating berseru riang, “Aku juga ikut!”
Wang Chaoyang tertawa kecil, menepuk kepala adiknya, “Siapa juga yang melarang kau ikut?”
Gadis kecil itu tersenyum senang, “Memang kakakku yang paling baik!”
Keesokan paginya, Wang Chaoyang menyetir membawa seluruh keluarga ke pusat kota Harbin, di dekat gedung pusat perbelanjaan.
Pusat perbelanjaan itu cukup jauh dari Sekolah Menengah Satu, naik mobil butuh waktu belasan menit. Sebenarnya, ini bukan area incaran utama Wang Chaoyang sejak awal.
Namun, ayahnya yang pernah mendapatkan SIM saat wajib militer, sudah lama berencana membeli mobil sendiri. Dengan begitu, di tahun 90-an yang belum mengenal zona sekolah atau kemacetan, lokasi rumah baru menjadi tidak terlalu penting.
Alasan utama memilih lokasi ini, karena di pusat kota baru saja dibuka kompleks perumahan baru bernama Xiangshan Indah, mengusung desain perkotaan modern yang paling tren, dilengkapi taman buatan dan aliran air di dalam kompleks, diakui sebagai kawasan paling mewah di Harbin saat ini.
Hari itu, untuk pertama kalinya mereka melihat-lihat rumah. Empat orang keluarga masuk ke kantor pemasaran, mencari seorang sales untuk konsultasi.
Kompleks ini baru dibuka pada bulan Juni tahun ini, semua unitnya bangunan rendah 6+1 lantai.
Xiangshan Indah menawarkan banyak tipe, mulai dari 70 meter persegi, unit utama 80-100 meter persegi, dan yang paling besar mencapai 185 meter persegi.
Unit 185 meter persegi terdiri dari empat kamar tidur, dua ruang tamu, dan dua kamar mandi. Sangat luas, setiap kamar pun lega, dan tiga kamar tidur menghadap ke selatan.
Namun, pada masa ini belum ada tren ruang contoh berperabot, sehingga rumah yang dilihat masih berupa bangunan kosong.
Sales wanita itu membawa keluarga masuk ke dalam kompleks. Taman buatan dan aliran airnya jelas dibangun dengan penuh perhatian, cukup megah untuk ukuran tahun 1990, benar-benar luar biasa.
Memasuki rumah kosong, sang sales dengan bangga memperkenalkan, “Inilah tipe 185 meter persegi, mengusung konsep desain paling modern dan nyaman dari kota pelabuhan, serta menjadi yang pertama di Harbin dengan kamar utama berfasilitas kamar mandi dalam.”
Wang Zhen, ibunya, dan Wang Yating baru pertama kali mendengar dan melihat kamar utama dengan kamar mandi dalam, mereka pun terkagum-kagum.
Bagi Wang Chaoyang, yang sudah terbiasa dengan desain seperti ini di masa depan, hal itu tidak lagi istimewa. Walaupun desain ini memang nyaman, tapi kelembaban di kamar mandi utama merupakan masalah yang harus diperhatikan.
Namun melihat keluarganya begitu menyukai desain itu, ia tidak mengungkapkan kekurangannya. Dalam hati, ia bertekad saat renovasi nanti harus menggunakan bahan terbaik, supaya kelembaban di kamar mandi utama bisa diatasi sebaik mungkin.
Mereka pun mulai memeriksa setiap ruangan di rumah itu dengan saksama. Layak saja disebut tipe besar 185 meter persegi, semua ruangannya luas dan tata letaknya pun sangat baik. Keempat anggota keluarga langsung jatuh hati pada tipe ini.
“Sebenarnya, unit lantai enam punya nilai terbaik. Loteng di atasnya gratis. Kalau beli lantai satu, dapat halaman kecil. Tapi harga per meter di lantai satu memang lebih tinggi,” jelas si sales.
Wang Chaoyang menghitung dalam hati. Sebenarnya loteng di lantai enam tidak terlalu berguna, karena kedua sisi loteng itu miring dan sempit, kurang nyaman untuk dihuni, paling hanya cocok jadi gudang.
Namun, untuk keluarga berempat, 185 meter persegi sudah lebih dari cukup. Ruang penyimpanan tambahan pun tidak terlalu diperlukan.
Sebaliknya, lantai satu justru lebih nyaman.
Selain tidak perlu naik tangga, juga mendapatkan halaman kecil sekitar empat puluh meter persegi.
Unit lantai 2-6 dihargai 400-600 per meter, sedangkan lantai satu, karena mendapat halaman, harganya 680 per meter.
Ibunya sangat suka lantai satu, karena bisa memanfaatkan halaman untuk menanam sayur dan parkir sepeda. Namun, selisih harga 80 per meter berarti harus menambah hampir lima belas ribu, membuatnya sedikit berat hati.
Tapi bagi Wang Chaoyang, harga 680 per meter untuk satu rumah tetap sangat murah, total hanya sekitar 120-130 ribu.
Ia juga tahu, ibunya selalu suka bercocok tanam di rumah. Kalau punya halaman kecil, pasti akan sangat senang.
Wang Chaoyang menoleh pada Wang Yating, bertanya, “Kamu suka rumah ini?”
Wang Yating tertawa, “Tentu saja suka! Tapi bukankah rumah ini terlalu besar?”
Mendengar adiknya, ia tertawa lepas, “Aku malah merasa kurang besar. Andai rumah ini lebih luas lagi, meja belajar dan lemari bajumu bisa lebih besar, dan kamar pun tidak terasa sempit.”
“Kakak, kau memang paling baik!”
Melihat semua anggota keluarganya puas dengan rumah ini, Wang Chaoyang pun langsung memutuskan membeli unit lantai satu secara tunai.
Karena membeli rumah jadi, urusan pun jadi mudah. Setelah membayar lunas, mereka langsung menandatangani kontrak di kantor pemasaran, gesek kartu, dan menerima kunci rumah di tempat.