Bab Sebelas: Murid Terbuang dari Gerbang Kebebasan — Chen Dong
“Kamu itu masih anak kemarin sore, mana mungkin mengerti hal seperti ini? Apa yang barusan kamu katakan pasti hanya hasil meniru dari orang lain!”
Akhirnya, seorang guru besar yang melihat para murid di sekelilingnya mulai perlahan-lahan keluar dari kendali, tak kuasa lagi menahan diri dan segera berdiri membantah.
Ilmu tenaga dalam, pada dasarnya hanyalah alat yang digunakan oleh para “guru besar” seperti mereka untuk mengeruk keuntungan dari ketidaktahuan masyarakat luas, maka tak heran jika mereka begitu yakin bahwa semua yang dikatakan Wang Chaoyang pasti omong kosong belaka.
Layaknya orang yang sudah terbiasa mengenali teh hijau gadungan, para guru besar di hadapan Wang Chaoyang saat ini juga adalah orang-orang yang paling yakin bahwa segala hal yang berhubungan dengan tenaga dalam hanyalah tipu daya.
“Hehe, kalau begitu boleh saya tahu, guru besar berlatih ilmu apa?” tanya Wang Chaoyang dengan senyum tipis di wajahnya.
“Aku? Ilmu Naga Sakti!” jawab guru besar itu dengan nada tetap tegas seperti sebelumnya.
“Oh, Ilmu Naga Sakti ya, lalu boleh tahu, sistem latihanmu seperti apa?”
“Apa maksudmu… sistem latihan seperti apa…”
“Kamu bahkan tidak tahu sistem latihan dari ilmu yang kamu pelajari?” Wang Chaoyang menatapnya dengan jijik. “Lalu bagaimana kamu menilai apakah latihanmu mengalami kemajuan atau tidak? Bagaimana kamu membedakan tingkatmu sendiri dengan para muridmu?”
Begitu pertanyaan itu terlontar, semua murid pun mengalihkan pandangan ke para guru besar, penuh keraguan di mata mereka.
“Aku… aku…”
Guru besar itu jelas kebingungan oleh pertanyaan Wang Chaoyang. Selama bertahun-tahun mengajarkan ilmu tenaga dalam, ia bahkan belum pernah merenungkan hal-hal seperti ini.
Di bawah tatapan semua orang, pikirannya pun jadi kacau. Ia buru-buru balik bertanya pada Wang Chaoyang, “Kalau kau sendiri? Ilmu pedang petir itu—”
“Ilmu Pedang Dewa Sembilan Putaran Pengendali Petir.”
Seorang murid di samping guru besar itu berbisik mengingatkan.
Guru besar itu pun melompat, “Benar! Ilmu Pedang Dewa Sembilan Putaran Pengendali Petirmu itu, sistem latihannya seperti apa?”
“Pertama-tama ada tahap Membangun Pondasi, Memupuk Inti, Menyucikan Tubuh, Inti Emas, dan Bayi Roh. Itu adalah lima tingkatan Awal Duniawi.”
Wang Chaoyang sangat memahami bahwa ia sama sekali tak boleh berbuat kesalahan saat ini, maka ia mengatur ekspresi dan nada bicaranya, menjawab pelan tapi tegas,
“Setelah itu, ada empat tingkatan Lanjutan Ilahi: Keluar Roh, Membelah Jiwa, Melintasi Petir, dan Mencapai Kesempurnaan.”
Tak satu pun di tempat itu yang benar-benar mengerti maknanya, tapi itu tidak menjadi soal. Ucapan Wang Chaoyang saja, terdengar jauh lebih hebat dibandingkan semua yang pernah diucapkan para guru besar.
Kini semua orang mengerumuni Wang Chaoyang, wajah mereka penuh semangat dan kekaguman.
Saat ini Wang Chaoyang sudah yakin, para pemuda ini telah sepenuhnya berada dalam kendalinya.
“Kalau begitu guru besar, kenapa Anda malah berjualan di sini?”
Tiba-tiba, sebuah suara penuh keraguan terdengar di antara kerumunan.
Benar juga, guru sehebat ini, mengapa sampai harus berjualan pakaian di taman?
Pertanyaan itu pun membawa semua orang kembali ke kenyataan, mereka kini menatap Wang Chaoyang dengan tanda tanya di wajah.
“Ehem! Kalau soal itu, ceritanya panjang…” Wang Chaoyang benar-benar telah masuk dalam perannya, sosok baru pun mulai terbentuk di benaknya.
“Sebenarnya, aku adalah ketua generasi ke-72 dari Perguruan Bebas… namaku Chen Dong.”
Saat berkata demikian, matanya menatap jauh ke depan, penuh nada haru.
“Prinsip Perguruan Bebas adalah membebaskan para muridnya dari keterikatan duniawi, jangan sampai terjerat oleh urusan fana… Namun, tiga tahun lalu, saat turun gunung untuk berlatih, aku bertemu seorang gadis jelita di Shenghai…”
Wang Chaoyang perlahan mulai bertutur. Taman yang tadinya riuh, kini mendadak sunyi. Bahkan orang-orang yang bukan murid perguruan pun ikut mendekat, mendengarkan kisah cinta pilu itu dengan khidmat.
“Begitulah, aku mengundurkan diri dari jabatan ketua Perguruan Bebas, dan sepenuh hati mencari gadis itu. Karena aku telah keluar dari perguruan, aku pun bersumpah untuk tidak lagi menggunakan satu jurus pun dari Perguruan Bebas seumur hidup!”
Ucapnya, sembari menghela napas panjang lalu melanjutkan, “Namun hidup harus terus berjalan, jadi aku pun mulai berjualan di taman ini demi menyambung hidup…”
“Guru Chen Dong! Kami mendukungmu!” seru seorang gadis yang tak kuasa menahan tangis, berteriak lantang pada Wang Chaoyang.
“Benar! Guru Chen Dong, berapa harga satu kaos ini? Kami beli semua!”
“Benar! Kami beli semua bajunya!”
“Chen Dong! Kau harus temukan gadis itu!”
Seluruh orang di alun-alun mulai menyemangati Wang Chaoyang, seolah-olah merekalah tokoh utama dalam cerita itu.
Melihat reaksi semua orang, Wang Chaoyang pun nyaris menitikkan air mata: sepertinya kaos ini tak perlu lagi khawatir tak laku!
Di depan semua orang ia mengusap matanya, dengan nada haru dan hampir menangis berkata, “Terima kasih atas dukungan kalian, terima kasih!”
Selesai berkata, ia mengangkat kaos di lapaknya dan melanjutkan, “Semua kaos harganya sepuluh ribu perak, hanya sepuluh ribu perak saja!”
“Beri aku sepuluh buah!”
Baru saja Wang Chaoyang mengumumkan harga, tiba-tiba dari kerumunan muncul sebuah tangan yang langsung menyelipkan selembar uang seratus ribu ke bajunya.
“Aku juga mau sepuluh buah!”
“Aku juga!”
Suara-suara itu bersahutan, taman yang baru saja sunyi kini kembali bergemuruh.
“Jangan berebut! Mendukung guru besar adalah tanggung jawab semua orang! Sisakan untuk kami juga!”
Melihat uang yang melayang-layang di udara, Wang Chaoyang merasa hidupnya belum pernah sebahagia ini.
Lima menit kemudian.
“Jangan bertengkar! Jangan bertengkar!” Wang Chaoyang berdiri di atas podium air mancur alun-alun, berusaha menenangkan kerumunan di bawah.
Lima ratus kaos itu, dalam hitungan detik, ludes terjual habis oleh ribuan orang di taman. Kini, banyak orang yang tidak kebagian kaos mulai memburu mereka yang membeli banyak, memaksa mereka menerima harga dua kali lipat, asal mau menukar satu kaos.
Namun sejujurnya, kaos yang tadi dibeli Wang Chaoyang seharga tiga ribu satuan itu kualitasnya tak kalah dengan merek-merek di toko yang harganya dua puluh sampai tiga puluh ribu, apalagi di bagian belakangnya ada sablon khusus yang unik.
Tanpa efek “guru besar Chen Dong” pun, kaos seharga sepuluh ribu dengan kualitas seperti ini di Shenghai tetap sangat layak dibeli.
Tiba-tiba, dua kali suara petir menggelegar di langit.
“Duar!”
“Duar!”
Mendengar dua suara petir yang datang tiba-tiba, semua orang spontan menghentikan aksi saling dorong, dan serentak menoleh ke arah Wang Chaoyang yang berdiri di podium.
Wang Chaoyang sendiri kaget bukan main oleh suara petir itu. Tangan yang tadi diangkat untuk menenangkan massa masih teracung di udara, dari jauh tampak seperti seorang master sedang merapal mantra.
“Guru besar! Itu Guru Besar Chen Dong sedang menggunakan jurusnya!”
“Ternyata Ilmu Pedang Dewa Sembilan Putaran Pengendali Petir itu sungguhan!”
“Guru Chen Dong rela melanggar sumpah demi menghentikan pertengkaran kita, sungguh berhati mulia!”
Taman kembali bergemuruh oleh sorak-sorai.
Melihat suasana yang semakin tak terduga dan berkembang ke arah yang tak pernah ia bayangkan, Wang Chaoyang pun akhirnya harus tetap melanjutkan sandiwara ini.
“Terima kasih atas dukungan semuanya, hari ini semua kaos sudah habis terjual!”
Ia perlahan turun dari podium batu, berteriak sekuat tenaga ke arah kerumunan.
“Guru, besok Anda akan berjualan lagi, kan!”
Mendengar suara itu, Wang Chaoyang dalam hati memujinya, lalu berkata,
“Tenang saja! Besok di jam yang sama, aku pasti akan datang lagi!”
Setelah berkata demikian, Wang Chaoyang membungkuk, mengemas semua barang di lantai, lalu menarik Guo Shangwu untuk keluar dari taman.
Melihat gerak-geriknya, orang-orang di sekitar reflex memberi jalan, membiarkan mereka lewat.
Begitu keluar dari kerumunan, Wang Chaoyang tidak berani menoleh lagi, hanya melambaikan tangan ke belakang sebagai tanda terima kasih.
Sebagai balasan, tepuk tangan riuh kembali bergema di alun-alun…
Di luar Taman Shenghai.
“Kenapa diam saja? Nanti terlambat naik kereta pulang ke Kota Wu,” Wang Chaoyang menoleh, heran melihat Guo Shangwu yang berdiri tak bergerak di tempat.
“Itu… Chaoyang, kita sudah kenal lama, aku sahabat baikmu, kan?”
Guo Shangwu tampak sangat ragu, dengan wajah penuh pertimbangan bertanya.
“Tentu saja! Mana mungkin tidak!”
“Kalau begitu, bisa tidak kau ajari aku cara berlatih Ilmu Pedang Dewa Sembilan Putaran Pengendali Petir itu?”
Tatapan Guo Shangwu saat itu sungguh serius dan tulus.
“Kalau harus bayar uang pendaftaran murid, aku cuma punya empat setengah juta di dompet…”
???
Mendengar ucapan Guo Shangwu, Wang Chaoyang hanya bisa melongo.
“Benar-benar tak habis pikir, dengan otak seperti itu, dulu kau bisa jadi pengusaha besar bagaimana caranya ya!”
Melihat Guo Shangwu yang polos seperti anak kecil, Wang Chaoyang akhirnya malas menjelaskan.
Sudah tiga tahun satu sekolah, dia benar-benar percaya aku bisa tenaga dalam?
“Sudahlah, hari ini sudah untung, kita makan enak, tak usah naik bus lagi.”
Selesai bicara, Wang Chaoyang melambaikan tangan memanggil taksi, lalu dengan cepat menyeret Guo Shangwu yang masih bengong masuk ke dalam mobil.