Bab Dua Belas: Pembagian Uang
Pukul sembilan malam, Stasiun Kereta Api Kota Hitam.
Menjelang turun dari kereta, Wang Chaoyang meraba tas selempang yang selalu dibawanya. Setelah memastikan uang di dalamnya masih aman, barulah hatinya yang telah gelisah seharian itu merasa tenang.
Sesampainya di penginapan kecil yang sudah dikenalnya, baru saja masuk, Wang Chaoyang langsung dihentikan oleh pemilik penginapan yang berlari kecil penuh semangat menghampirinya.
“Kamu akhirnya pulang juga!” seru sang pemilik dengan penuh kegembiraan. Ia menarik tangan Wang Chaoyang dan membawanya ke arah meja resepsionis.
“Lihat! Semua manik-manik ini sudah selesai aku rangkai!”
Saat itu, pemilik penginapan tampak seperti murid yang dengan bangga memperlihatkan pekerjaan rumahnya pada guru. Wang Chaoyang mengambil seuntai kalung dari keranjang yang penuh itu. Setelah mengamatinya dengan seksama, kalung yang dirangkai dengan telaten oleh perempuan itu memang terlihat berbeda dari hasil karyanya sendiri.
Kalung hasil rajutan Wang Chaoyang, menurut sang pemilik, paling banter hanya bisa disebut kalung. Bentuknya hanya diikat dengan simpul-simpul sederhana, tanpa sentuhan seni. Tetapi versi baru hasil tangan pemilik penginapan itu, tidak hanya memadukan warna manik-manik dengan harmonis, tapi juga dihiasi simpul-simpul besar dan indah. Melihatnya, bahkan Wang Chaoyang sendiri tak bisa menahan kekaguman atas keindahannya.
Tidak bisa lagi dijual sepuluh yuan saja!
Harus dinaikkan! Aku mau jual dua puluh yuan seuntai!
Ia bersorak gembira dalam hati.
“Tolong periksa, di keranjang ini ada seribu seratus kalung semuanya,” kata pemilik penginapan sambil mengangkat keranjang besar ke atas meja dengan susah payah.
Wang Chaoyang tidak khawatir soal jumlah kalung. Mulai hari ini, ia masih akan memberikan pekerjaan baru pada pemilik penginapan itu. Setelah semua kalung terjual, ia hanya perlu memeriksa jumlah uang di tangannya untuk mencocokkan hasilnya.
Ia tidak melihat isi keranjang. Wang Chaoyang mengeluarkan lima puluh yuan dari tasnya, lalu menatap pemilik penginapan dengan senyum, “Kakak, aku belum tahu namamu...?”
“Namaku Liu Yufen, panggil saja aku Yufen!”
Melihat Wang Chaoyang mengeluarkan lima puluh yuan, mata Liu Yufen langsung berbinar. Ia sudah membayangkan dalam hati, hari ini upahnya pasti akan berlipat ganda.
“Baiklah, aku akan memanggilmu Kak Yufen,” kata Wang Chaoyang sambil menyerahkan uang itu. “Kak Yufen, terima kasih banyak untuk hari ini. Ini upahmu.”
Lalu, ia mengambil sepuluh kalung dari keranjang, “Seperti yang sudah dijanjikan, sepuluh kalung ini sebagai tanda terima kasih dariku.”
Setelah menerima kalung itu, Liu Yufen tidak lagi seantusias siang tadi. Ia menatap Wang Chaoyang dengan penuh harap, “Besok masih lanjut merangkai kalung?”
“Untuk besok, sementara belum ada...” Belum selesai Wang Chaoyang berbicara, wajah pemilik penginapan sudah mulai menunjukkan kekecewaan.
“Tapi besok, upahmu tetap akan diberikan seperti biasa, tetap lima puluh yuan. Hanya saja, besok kerjamu bukan merangkai kalung,” lanjut Wang Chaoyang sambil meminta Guo Shangwu membawa kembali keranjang ke kamar.
“Besok, aku minta bantuanmu mencari sekitar sepuluh perempuan yang terampil. Tugas mereka tetap merangkai kalung, dan upahnya masih tiga sen per untai.”
“Hah? Cari orang lagi?” raut wajah pemilik penginapan berubah bingung, “Memangnya ada sebanyak itu kalung yang harus dirangkai? Sebenarnya aku sudah sangat mahir, sekarang sehari paling sedikit bisa merangkai seribu lima ratus kalung!”
Pekerjaan mudah dengan gaji tinggi seperti ini, siapa yang mau melepaskannya? Wang Chaoyang seolah sudah menduga situasi ini. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum, “Tenang saja, mulai besok pesanan kita akan berlipat ganda. Suatu saat, kalian harus merangkai ribuan, bahkan puluhan ribu kalung sehari. Aku hanya khawatir kalian nanti kelelahan dan tak sanggup lagi.”
Mendengar itu, pemilik penginapan langsung semangat kembali. Ia bersumpah layaknya prajurit di medan perang, “Tuan kecil, tenang saja! Aku jamin para pekerja perempuan yang kubawa nanti semuanya terampil!”
Kembali ke kamar penginapan yang sempit, Guo Shangwu meletakkan keranjang, lalu tak sabar bertanya, “Ada berapa banyak uang di tas itu? Kurasa paling tidak ada tiga ribu!”
Tak ingin meladeni pertanyaan bodoh itu, Wang Chaoyang langsung melemparkan tas ke arah Guo Shangwu dengan nada kesal, “Cek saja sendiri. Kalau kurang dari lima ribu, berarti ada uang yang hilang!”
Lima ratus potong pakaian, sepuluh yuan sepotong. Wang Chaoyang benar-benar penasaran, dengan otaknya ini, bagaimana orang-orang di masa depan bisa menghasilkan uang sebanyak itu.
Dalam temaram cahaya kamar penginapan, sosok kekar tengah fokus menghitung tumpukan uang di hadapannya. Kursi kecil yang didudukinya berderit-derit setiap kali ia bergeser.
Setengah jam berlalu, setelah menghitung sampai enam kali, akhirnya Guo Shangwu memastikan jumlahnya: di dalam tas ada lima ribu tujuh ratus yuan!
“Chaoyang!”
Ia menarik Wang Chaoyang yang hampir tertidur di ranjang, lalu mengguncangnya dengan penuh semangat, “Dalam sehari, kita berhasil menghasilkan lima ribu tujuh ratus yuan!”
“Hah?” Wang Chaoyang duduk dengan wajah bingung.
“Jualan baju ternyata juga bisa dapat tip!” Guo Shangwu sudah benar-benar kegirangan; lima ribu lebih, itu sama dengan pendapatan toko makanan keluarganya dalam dua bulan!
“Sudahlah, jangan terlalu senang.” Wang Chaoyang turun dari ranjang, mengambil seribu yuan dari atas meja dan menyerahkannya pada Guo Shangwu, “Ini seribu, buat modal yang kau keluarkan pagi tadi.”
Setelah itu, ia membagi sisa uang di atas meja menjadi dua bagian, lalu mendorong salah satunya ke arah Guo Shangwu, “Yang empat ribu tujuh ratus ini, kita bagi dua.”
“Tidak bisa!”
Diluar dugaan Wang Chaoyang, Guo Shangwu menolak. Ia mendorong kembali uang itu, lalu berdiri sambil berkata tegas, “Semua ini hasil kerja kerasmu, bisa laku keras hanya karena usahamu!”
Melihat reaksi Guo Shangwu, Wang Chaoyang tak bisa menahan tawa, “Kau ini bodoh ya? Diberi uang malah menolak?”
Guo Shangwu hanya mengambil dua lembar seratus yuan dari tumpukan uang itu. “Aku ambil ini saja sudah cukup!” katanya dengan senyum polos. “Kalau ibu tahu aku bisa mendapatkan dua ratus yuan sehari, pasti bahagia sekali...”
“Begini saja, sebelum kita pulang ke Kota Sungai Hitam, aku belum akan membagi hasil. Nanti, saat kita pulang, aku akan memberimu sepuluh ribu yuan,” kata Wang Chaoyang sambil menggabungkan kembali semua uang di atas meja. Ia menatap Guo Shangwu dengan serius.
Nada bicaranya begitu tegas, membuat Guo Shangwu terdiam.
“Sudah, tidur sekarang. Besok kita harus pergi ke Shenghai...” Wang Chaoyang menguap lalu kembali ke tempat tidur.