Bab Sembilan Puluh Tiga: Memberi Sebuah Saran
Pada saat itu, Wang Chaoyang akhirnya mengerti mengapa ibunya begitu menyukai Feng Yue, bahkan ketika saat itu Feng Yue tampak begitu canggung di mata orang lain. Alasan utamanya tentu saja karena ia cantik, selanjutnya, Feng Yue jelas-jelas tipe menantu idaman di mata orang tua.
Kini, Feng Yue yang duduk di hadapannya tampak seperti gadis kecil yang berusaha menampilkan sisi terbaiknya. Ia memperkenalkan setiap hidangan dengan penuh semangat, sesekali melirik ke arahnya, wajahnya penuh harap menunggu pujian, membuatnya tampak semakin menggemaskan.
Entah kenapa, tiba-tiba terlintas di benak Wang Chaoyang gambaran Feng Yue duduk di samping bangku sekolah, menerima surat cinta dari seorang anak laki-laki yang juga polos. Tanpa sadar, Wang Chaoyang bertanya, "Pernah pacaran nggak, Kak Yue?"
Feng Yue menatapnya dengan sedikit kaget, lalu menggelengkan kepala dengan canggung.
"Aku kelihatan tua, ya? Xiaomin dan Zhang Yiwen selalu bilang begitu. Oh iya, Ma Xiaomin sekarang sudah hamil, Yiwen dan Guo Shangwu juga berencana bertemu orang tua sebelum masuk kuliah. Mereka sempat menyarankan aku buat ikut acara perjodohan..."
"Baru dua puluh dua tahun, mana bisa dibilang tua," jawab Wang Chaoyang.
Setelah bicara, Wang Chaoyang tiba-tiba sadar, zaman sekarang memang beda dengan masa depan.
"Menurutku, kalau kamu ikut acara perjodohan, pasti nggak bakal cocok sama siapa pun," katanya.
Sambil berbicara, Feng Yue mengupas telur dan menaruhnya di mangkuk Wang Chaoyang yang sudah kosong.
Wang Chaoyang ragu sejenak lalu berkata, "Akhir-akhir ini aku lagi nggak mau makan telur, Kak Yue..."
Setelah itu, mereka saling bertatapan dan akhirnya tertawa bersama.
Setelah makan malam, Feng Yue mengenakan celemek dan mulai membereskan meja serta mencuci piring. Tak bisa dipungkiri, Feng Yue yang seperti ini justru terlihat lebih memesona dibanding saat ia berdandan rapi dan memakai gaun.
Setelah duduk di halaman kecil dan mengobrol sebentar, Wang Chaoyang pamit pulang.
Di luar rumah, Feng Tianbao dan kelompoknya sudah menunggu dengan tenang. Sepanjang mata memandang, hanya tampak sekumpulan preman.
Feng Tianbao sudah tahu apa yang akan dilakukannya—bersikeras menunggu.
Melihat Wang Chaoyang keluar dari halaman, Feng Tianbao menatapnya dan tersenyum dengan tulus.
Kedua mata mereka bertemu, dan dalam tatapan itu terjalin komunikasi rahasia yang hanya bisa dipahami sesama pria.
Wang Chaoyang segera berbalik dan berteriak ke dalam rumah, "Kak Yue, Feng Tianbao bawa orang buat menghadang aku!"
Sepanjang gang, para preman yang hari ini baru saja mengakui dan memutuskan mengikuti bos mereka yang penuh perhitungan, mendadak terdiam kebingungan.
Dulu, setiap kali mendengar teriakan minta tolong, Feng Yue pasti keluar. Tapi kali ini, ia hanya tertawa kecil di dalam rumah, duduk santai di kursi dan berkata, "Mereka mana berani menghadang."
Wah, Kak Yue sekarang jadi nakal!
Melihat pengaduannya gagal, Wang Chaoyang hanya bisa memandang ke luar dengan wajah pasrah. Melihat sepanjang gang penuh orang, ia benar-benar ingin berteriak, "Aku sudah lama nggak mau jadi ketua geng,". Memang, Wang Chaoyang adalah orang yang malas, dan Feng Yue pernah menebak dengan tepat: ia paling tidak suka ribet.
Untuk menghindari kerepotan yang berlarut-larut, Wang Chaoyang memutuskan lebih baik cepat selesai. Lagi pula, Feng Tianbao begitu cepat belajar berbuat nakal, seharusnya belajar yang lain juga tidak akan butuh waktu lama.
Apa yang dulu ia katakan pada mereka?
Sepertinya ia pernah bilang akan mengajari mereka cara bertahan hidup di jalanan, memanfaatkan kemampuan mereka sendiri.
Wang Chaoyang berusaha mengingat, lalu mulai berbicara, "Kumpulkan dulu uang yang kalian punya, aku mau lihat berapa banyak yang bisa dipakai sebagai modal awal."
Begitu Wang Chaoyang bicara, Feng Tianbao dan yang lain langsung bersemangat. Sayang, hasil akhirnya justru membuktikan bahwa mereka memang sangat susah. Setelah Feng Tianbao mengeluarkan seratus delapan puluh yuan dari hasil kerjanya, total modal kelompok kecil itu hanya empat ratus yuan.
Empat ratus yuan, bisa dipakai buat apa?
Buka lapak sate? Modal segitu jelas tidak cukup buat buka usaha sendiri...
Tapi, kalau cuma buat beli tungku dan jual ubi panggang, masih cukup.
Atau beli becak? Satu kelompok saling bergantian mengayuh, satu orang mengayuh dua puluh menit, sehari pun tidak akan habis giliran.
"Bang Yang, menurutmu kita sebaiknya ngapain?" tanya seorang pengagum dengan penuh harap.
Puluhan pasang mata memandangnya. Kalau benar-benar ia suruh mereka jual ubi panggang, apa nggak malu?
Tapi kalau jujur pada Feng Tianbao bahwa ia sendiri juga tak punya ide...
...lebih baik jangan.
"Bisnis apa yang cocok buat sekelompok preman tanpa modal…"
Wang Chaoyang melirik ke arah Guo Shangwu, dan tiba-tiba teringat sesuatu—mereka bisa buka tempat penyewaan video...
Tapi, satu dua tahun lagi bisnis seperti itu sudah tidak berkembang. Kalau dipikir-pikir, seharusnya mereka membuka arcade permainan.
Setelah memutuskan, Wang Chaoyang mulai menjelaskan, "Aku tahu ada satu arcade permainan..."
"Jadi kita harus ke sana minta uang keamanan?" seru salah satu preman dengan cepat.
Wang Chaoyang menatapnya, lalu melanjutkan, "Aku tahu ada satu arcade, pemiliknya bukan orang sini, tidak punya latar belakang..."
"Jadi, kita langsung merampok toko itu?" masih orang yang sama yang menjawab.
Wang Chaoyang kembali menatapnya, lalu berkata, "Di dalam arcade itu biasanya ada sekelompok preman kecil yang suka memalak dan berkelahi..."
"Jadi, kita rampok saja uang para preman kecil itu?" lagi-lagi orang yang sama yang bicara.
"...Siapa di antara kalian yang bisa membawanya pergi dari sini?"