Jilid Dua: Stroberi Mentah Bab 135: Berani Membela Kebenaran
Kondisi kesehatan nenek sudah pulih sepenuhnya, luka-luka di kulitnya telah mengering, dan ia bisa beraktivitas seperti biasa. Setelah hari ketiga tahun baru, Ling Li kembali bekerja di tempat karaoke.
Saat itu, segala tempat hiburan yang cocok untuk berkumpulnya para pelajar, teman-teman, atau ajang kencan buta sedang sangat ramai. Bahkan meski harga dinaikkan, permintaan tetap melampaui penawaran. Karena kekurangan staf, manajer meminta Ling Li untuk kembali bekerja lembur.
Dalam perjalanan pulang, angin dingin menerpa wajah, menyatu dengan hawa beku yang naik dari permukaan tanah, mengamuk hebat di tengah malam. Lampu jalan yang berwarna-warni masih bersinar terang, namun suasana jalanan mulai sepi. Angin dingin melolong di setiap sudut kota.
Saat Ling Li berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil motornya, ia melilitkan syal abu-abu miliknya lebih erat di leher. Ia ingin syal itu memeluknya lebih erat; setidaknya, mencium aroma lembut yang tertinggal di sana bisa memberinya sedikit kehangatan.
Ketika melewati gang di belakang tempat karaoke, seorang gadis bertubuh tinggi dengan pakaian trendi sedang muntah di samping tempat sampah. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tak terlihat jelas, namun sepasang kaki jenjangnya yang terbalut celana ketat warna kulit sangat mencolok mata.
Belum selesai muntah, gadis itu tiba-tiba diseret ke dalam gang oleh seseorang.
"Eungh—"
Suaranya teredam paksa. Tiga pria yang berbau alkohol menyeretnya ke dalam lorong dan menekannya ke tumpukan kardus.
Dikuasai oleh pengaruh minuman keras, hawa dingin pun tak mampu meredam nafsu birahi mereka. Dua pria mengendalikan gadis itu dengan kasar dan mulai merobek pakaiannya, sementara pria berjanggut di tengah sibuk melepas ikat pinggangnya.
Gadis itu, yang tadinya mabuk berat, tersentak sadar. Wajahnya yang dingin dan cantik seketika dipenuhi amarah. Dengan kakinya yang panjang, ia menendang keras ke arah selangkangan pria berjanggut itu.
"Argh!"
Pria berjanggut itu melompat-lompat kesakitan sambil memegangi selangkangannya. Melihat gadis itu melawan, dua pria yang menindihnya menampar wajahnya beberapa kali.
"Sialan, bukankah dengan berpakaian seperti ini kau memang ingin ditiduri?"
Gadis itu meringis kesakitan, sudut bibirnya berdarah. Selama beberapa detik, ekspresinya tampak kaku, seolah terlalu takut hingga kehilangan kes