Jilid Satu: Cokelat Hitam Berhati Jahat Bab Dua Puluh Tujuh: Sudah Saatnya Memulai Perang
Ia menarik napas lewat hidung, menyeruput yogurt, lalu dengan dingin berkata kepada Paman He, “Panggil Dokter Li ke sini, suruh dia ukur tekanan darahku.”
He Dongwei kembali tersenyum cerah, merasa kakek tua ini cukup menggemaskan. Untuk mengukur tekanan darah saja, kenapa harus memanggil dokter? Paman He sendiri sudah sangat profesional. Jelas ada maksud lain di balik permintaannya, tapi tetap keras kepala tidak mau mengaku. Ia pun dengan riang mengetuk-ngetukkan kaki kanannya yang tidak terluka ke lantai.
He Zheng selalu dikenal tegas, ia tentu sangat paham watak kakeknya. Kalau ia menangis dan mengadu, hal pertama yang terjadi pasti ia sendiri yang kena marah, lalu baru urusannya diurus. Jika He Zheng sendiri turun tangan, pasti penyelesaiannya tidak akan sesederhana itu. Menurutnya, masalah ini belum sampai ke tahap saling membinasakan.
Awalnya ia mengira semuanya akan kembali seperti semula, namun ternyata angin yang ingin berhenti malah makin kencang. Mungkin hanya dirinya saja yang masih merasa dunia damai dan waktu berjalan tenang, padahal di gedung pusat utama Ling, suasana sudah seperti ladang perang, neraka dunia.
“Sial, si Raja Setan ini mau bawa kami semua mati bersamanya? Membunuh orang saja biasanya cukup satu kali, tapi dia ini bolak-balik menggiling kami tanpa henti, siapa yang sanggup?” Zhang Meng menatap penuh keluhan pada rekannya, Xiao Hou, si ahli data yang selalu bersamanya dalam suka duka.
Xiao Hou berkata, “Jangan-jangan kamu diam-diam melakukan sesuatu yang tidak seharusnya?”
Zhang Meng membalas, “Untuk apa aku sengaja cari gara-gara sama dia?”
Xiao Hou lanjut, “Kalau begitu, berarti kamu akhir-akhir ini cuma sibuk pacaran, kerja jadi malas, pantas saja kena semprot.”
Ucapan Xiao Hou sebetulnya tanpa maksud apa-apa, tapi membuat Zhang Meng mendadak tersentak sekujur tubuhnya. Ia menepuk tangannya, menunjuk ke udara dengan tangan yang gemetar, baru setelah beberapa saat berhasil berkata, “... Pantas saja, astaga, benar-benar pamer kemesraan itu cepat membawa petaka, kenapa aku bisa lupa memblokir dia?”
Ia segera mengeluarkan ponselnya, membuka media sosial, melihat foto mesra dirinya dengan pacar, seketika wajahnya berubah panik, seperti jatuh ke neraka.
Ling Lie biasanya tidak pernah tertarik membuka media sosial yang menurutnya membosankan, tapi akhir-akhir ini pikirannya kacau, ia jadi sering memperhatikan ponselnya. Ia merasa sangat ingin tahu apa yang sedang dilakukan orang lain, lalu dari sedikit potongan kehidupan yang mereka bagikan—bahkan sekadar omongan “hari ini cuaca cerah”—ia mencoba menganalisis berbagai emosi tersembunyi dari detail-detail kecil itu.
Kebetulan, unggahan Zhang Meng langsung menarik perhatiannya. Hanya dengan sekali lirik, ia sudah tahu—orang ini sedang sangat santai.
Seorang manajer tanpa tekanan kerja, bukanlah manajer yang baik.
Seorang bos yang membiarkan pegawainya tanpa tekanan, bukanlah bos yang baik.
Perusahaan tanpa tekanan, bukanlah perusahaan yang baik.
...
Seseorang yang tidak aktif melapor perkembangan, bukanlah orang yang baik.
Pria yang tidak berinisiatif mengambil langkah, bukanlah pria sejati...
Semakin Ling Lie memikirkan semua alasan itu, ia semakin merasa punya seribu satu alasan untuk bertindak. Pandangannya mendadak berubah dingin, menatap meja di pojok ruangan dengan suram.
Sementara itu, He Dongwei di rumah sedang berusaha menulis, tapi inspirasinya mentok lagi. Ia pun memutuskan mengalihkan perhatian dengan berselancar sebentar di internet.
Tak disangka, ia justru menemukan sebuah berita berjudul “Skandal Menggemparkan di Perusahaan Perhiasan Ternama, Grup Xiao Terbongkar.” Setelah dibuka, ternyata Grup Xiao yang dimaksud memang milik keluarga Xiao Zeyang.
Ia diam-diam mengumpat kecerobohannya sendiri. Sudah terjadi hal sebesar ini di pihak Xiao Zeyang, tapi ia sama sekali tidak tahu apa-apa.
Ia panik bukan main, langsung menelpon Xiao Zeyang, tapi tidak bisa tersambung. Ia terus mencoba menghubungi banyak orang terkait, juga semua koneksi yang ia punya, namun jawabannya selalu sama: “Tidak tahu, Grup Xiao sedang menutup rapat semua informasi, mereka belum memberi tanggapan apa pun.”
Barulah sekarang ia sadar, selama ini ia tidak pernah peduli urusan rumah, juga tidak mengurus perusahaan, tidak perlu menghadiri pertemuan, tidak perlu repot-repot. Ia benar-benar terpisah dari apa yang disebut lingkaran elit itu, sehingga ketika ia ingin mencari informasi dari sana, mereka pun sama sekali tak menggubrisnya.
Terus terang saja, tanpa keluarga He, bahkan tak ada seorang pun yang mau peduli padanya, ia bukan siapa-siapa.
Ia merasa dirinya seperti vas bunga tak berguna, hanya memenuhi tempat, sayang jika dibuang, dan itulah definisi yang ia berikan pada situasinya sekarang.
Ia langsung berdiri, berjalan menuju ruang kerja Yang Li.
Satu-satunya orang yang mungkin tahu kabar pasti sekarang hanya Yang Li. Ia sendiri belum pernah meminta apa-apa, meski ‘ibu tiri’ ini memang tak pernah punya ikatan emosional dengannya, tapi masa iya benar-benar tega tak peduli padanya?
—Tapi sepertinya memang bisa sekejam itu.
Begitu seseorang sudah dicap berhati dingin dan tak berperasaan, sementara ia sendiri tak peduli untuk menjelaskan atau tidak, maka ia pun bisa berbuat apa saja tanpa memperhatikan perasaan orang lain.
Hal-hal seperti hati dan perasaan, itu hanya membuat hidup terasa berat. Kalau sudah tak punya hati, hidup jadi ringan! Inilah prinsip Yang Li dalam mengelola emosinya.