Jilid Satu Cokelat Hitam Bab Delapan Puluh Enam Menyaksikan Lagi Kemesraan Mereka
"Ha-ha!" Kesediaan hati Xiao Zeyang menerima kekalahannya begitu tulus; jika saja ia tidak memikirkan luka di tubuhnya, ia pasti sudah menerjang dan mencium wanita itu dengan penuh hasrat.
Saat itu, Ling Li datang tepat waktu, namun ia dihentikan oleh petugas keamanan di depan pintu, "Maaf, Tuan Ling, bos kami memerintahkan Anda tidak boleh masuk."
Sekarang, bukan hanya seluruh pintu masuk di lantai ini dijaga oleh keamanan, bahkan di depan kamar He Dongwei pun ada penjaga. Bos yang dimaksud adalah Tuan He Zheng.
Sejak bertukar pandangan dengan Ling Li, tanpa mengandalkan pengalaman bertahun-tahun di dunia bisnis, hanya lewat instingnya, ia dengan tajam mencium aura berbahaya yang menguar dari pria itu.
Kali ini, setelah He Dongwei kembali mengalami insiden, ia berniat menumpas segala potensi ancaman sejak awal.
Lewat laporan dari Paman He sebelumnya, ia sudah tahu pemuda ini adalah sumber masalah. Kali ini ia menyelidiki lebih dalam, memang bukan dia pelakunya, namun semua kejadian tetap berkaitan dengannya.
Pertengkaran antara beberapa wanita itu pun bermula karena dirinya. Luka yang dialami He Dongwei, wanita yang paling membuat keributan ternyata adalah ibu kandung Ling Li.
Jika menilik kepribadian, latar belakang, pendidikan, bahkan penampilan, tak satu pun yang cocok di matanya.
Aura penuh kemarahan itu, jika ia kehilangan kendali, tak ada yang bisa menahannya. Bagaimana mungkin cucunya boleh disentuh oleh orang seperti itu?
Ling Li sama sekali mengabaikan larangan keamanan. Ia hanya berhenti karena lewat kaca pintu, ia melihat sepasang pria dan wanita di dalam sedang bercengkerama manis.
Xiao Zeyang dengan lembut mengusap hidung He Dongwei. Kedua insan itu begitu mesra, membuat Ling Li ingin masuk dan merobek Xiao Zeyang.
Dada Ling Li dipenuhi amarah yang ingin menghancurkan segalanya—Xiao Zeyang, ia harus lenyap!
He Dongwei meneguk air yang diberikan Xiao Zeyang, lalu berkata lembut, "Zeyang, kali ini kamu sengaja pulang, berapa lama kamu berniat tinggal?"
Xiao Zeyang membalas dengan penuh kasih, "Aku akan tinggal selama yang aku mau."
He Dongwei langsung duduk tegak penuh semangat, "Maksudnya kamu tidak akan pergi, kan?"
"Ya, aku tidak akan pergi," suara Xiao Zeyang begitu lembut, seolah mampu membuat siapa pun mabuk.
He Dongwei berusaha menahan sudut bibirnya, namun akhirnya tak kuasa menahan senyum lebar, "Apakah aku terlalu menunjukkan perasaanku?"
"Sedikit, tapi aku sangat suka kamu begitu terbuka," jawab Xiao Zeyang.
Tiba-tiba Xiao Zeyang meletakkan jeruk yang sedang ia kupas, wajahnya menjadi serius, "Weiwei, jika nanti terjadi hal seperti ini lagi, kamu harus segera memberitahuku. Tidak bisa melindungimu tepat waktu saja sudah membuatku merasa gagal. Jika aku harus mengetahui kondisimu dari orang lain, maka keberadaanku sebagai kekasarmu tak ada artinya."
Ia memang tidak pernah menyangka semuanya akan seperti ini. Saat baru sadar, ia sangat berharap Xiao Zeyang segera muncul agar ia bisa manja dan meminta pelukan, tapi ia berpikir dirinya bukan lagi gadis muda berusia delapan belas tahun.
Ia harus belajar dewasa, jangan hanya karena sedikit luka langsung menangis dan meminta hiburan. Meski sampai usia dua puluh delapan, Xiao Zeyang tetap akan memanjakannya.
Namun tiga puluh delapan, empat puluh delapan, lima puluh delapan… lalu bagaimana? Sekalipun Xiao Zeyang bersedia, ia sendiri tak mungkin melakukan hal itu lagi.
Karena menurutnya, setiap umur ada sikap yang harus diambil. Memang bisa menjaga sifat kekanak-kanakan, tapi bukan berarti terus bersikap kekanak-kanakan dan naif.
Namun ia justru melupakan perasaan Xiao Zeyang. Mencintai seseorang, bukankah karena tak tergantikan di hati kita?
Cinta berarti membiarkan dia tahu betapa pentingnya dirinya. Ini bukan soal kedewasaan atau kemandirian, tapi tentang posisi orang itu dalam hati kita.
He Dongwei tak ingin berpikir lebih jauh lagi. Siapa pun yang mempertanyakan, ia akan tetap tegas menjawab, "Aku mencintai Zeyang."
Ia memberikan jaminan penuh, lalu berkata lembut, "Baik, mulai sekarang aku pasti akan segera memberitahumu."