Jilid Satu Cokelat Berhati Gelap Bab Delapan Puluh Lima Kekacauan
Pada awalnya, He Dongwei mengira mereka melarangnya keluar dari ruang perawatan demi mencegah keluarga terdakwa mengganggunya. Kenyataannya, Yang Li justru mengantisipasi para wartawan di luar. Ia sudah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit, menempatkan beberapa petugas keamanan di sekitar lantai tersebut.
Petugas keamanan bisa menghalau wartawan yang ribut, tetapi tak mungkin melarang pasien yang hendak berobat atau keluarga yang ingin menjenguk. Akibatnya, ibu dari Zou Xiaoxiao berhasil menyelinap masuk. Ketika ia membuat keributan, para petugas keamanan yang berjaga di tangga langsung berusaha menangkapnya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh para wartawan yang sudah lama bersembunyi, mereka berdesakan naik ke atas.
Bunga rapuh bernama He Dongwei pun remuk dihantam badai kecil ini. Ia terluka parah dan jatuh koma.
Berita yang semula sudah mereda, kembali menjadi sorotan akibat insiden itu. Kini gelombangnya semakin besar, datang bertubi-tubi, seolah ada tangan tak kasat mata yang terus mengaduk lautan kabar itu.
Para wartawan dari rubrik ekonomi, hiburan, dan gosip sama sekali tak menyerah. Mereka menjadikan rumah sakit sebagai markas, hanya demi menjadi yang pertama menyajikan kabar panas pada khalayak.
Sementara itu, Ling Li dan Grup Ling miliknya, meski bukan dalang utama, tetap terseret dalam pusaran. Naluri media selalu tajam; meski tidak terkait langsung, demi menciptakan sensasi besar, mereka tetap berupaya mencari-cari sangkut paut dengannya. Ling Li pun terpaksa segera kembali ke perusahaan untuk menstabilkan situasi.
Badai pemberitaan itu akhirnya sampai ke Myanmar, tempat Xiao Zeyang selama ini sibuk menambang. Mengabaikan penolakan keluarganya, ia pulang dengan tergesa-gesa seperti anjing gila yang kehilangan akal, bahkan jika harus menempuh perjalanan dengan kaki sendiri, ia tetap harus kembali.
Untungnya, He Dongwei hanya mengalami luka di permukaan kepala, dengan sedikit gegar otak ringan. Setelah koma sehari semalam, akhirnya ia sadar kembali.
“Weiwei, bagaimana perasaanmu? Ini aku, Zeyang.”
He Dongwei berusaha sadar sepenuhnya. Ya, ia tak salah dengar, itu suara Xiao Zeyang.
Ia berdeham pelan, lalu mengangkat tangan ke arah Xiao Zeyang, berkata dengan suara parau, “Zeyang.”
“Aku di sini, aku ada di sini,” Xiao Zeyang buru-buru menggenggam tangan He Dongwei.
Tangan kecil yang dulu putih bersih dan lembut kini penuh goresan luka dan bekas suntikan, membiru di banyak tempat—membuat hatinya pilu. Baru sebulan ia tinggalkan, boneka porselen mungil nan cantik ini kini sudah penuh memar.
Kepala He Dongwei dibalut perban tebal, bahkan sampai menutupi mata, seluruh kepala, hanya separuh wajah bagian bawah yang tampak. Ia tampak lucu sekaligus menyedihkan.
Ia tidak bisa melihat, lalu mencoba menggerakkan tubuh, terasa sedikit ngilu, syukurlah tidak ada tulang yang patah.
“Bagaimana keadaanku sekarang?”
“Maksudku, dari segi penampilan,” tambah He Dongwei.
Xiao Zeyang menjawab kesal, “Seperti mumi, puas? Saat begini pun kau masih sempat bercanda.”
He Dongwei menanggapi, “Ya, benar. Harusnya aku bereaksi normal, mungkin menangis?,” ucapnya dengan nada penuh pertimbangan.
Xiao Zeyang pun menyerah, “Sudahlah, aku kalah. Dokter bilang dua hari ini matamu harus dijaga baik-baik, jangan sampai menangis. Luka di kepala hanya di permukaan, tapi kau juga kena gegar otak ringan. Kalau merasa pusing atau mual, harus jujur bilang, tahu? Kalau tubuhmu merasa tidak enak di bagian lain, bilang juga, mengerti?”
“Ya.”
“Dan lagi, dua hari ini harus banyak istirahat. Usahakan pikiran kosong saja. Kalau mau makan apa, bilang padaku.”
“Baik.”
“Sekarang keadaannya agak kacau di luar, jadi kita tetap di sini saja.”
“Baik.”
Xiao Zeyang terdiam beberapa saat, menyadari He Dongwei hanya mengiyakan semua ucapannya, padahal pikirannya sudah melayang entah ke mana. Ia menunggu cukup lama, namun He Dongwei tak menyadari. Ia pun menggenggam tangan gadis itu, “Hei! Lagi mikir apa, sampai melamun begitu?”
He Dongwei segera menarik balik lamunannya, merespons cepat, “Tidak, kan kau bilang aku harus mengosongkan pikiran? Tapi yang ada di kepalaku malah hanya dirimu. Aku harus mengusirmu keluar dulu, terlalu banyak, tak habis-habis. Kau harus beri aku waktu lagi.”