Jilid Satu Cokelat Hitam Bab Enam Puluh Empat Aktris Licik
Ling Li harus mengejar penerbangan paling pagi menuju Guangzhou untuk menghadiri sebuah konferensi puncak inovasi biomedis dan layanan kesehatan berbasis internet. Kegiatan ini membahas kolaborasi antara dunia medis dengan teknologi internet, yang sangat berkaitan dengan teknologi informasi dan jaringan dari perusahaan Ling Li. Salah satu pembicara utama dalam konferensi itu adalah Sun Linlin. Ling Li sangat tertarik dengan metode pengobatan inovatif yang akan dipresentasikan olehnya.
Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dengan jadwal yang padat. Selama dua hari pertama diisi dengan pidato utama, sementara waktu untuk bertemu langsung dengan para pembicara baru dijadwalkan pada hari terakhir.
Saat He Dongwei terbangun, ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang empuk yang nyaman. Ia menguap panjang seolah baru saja melewati ujian berat. Karena ini rumahnya sendiri, ia tidak perlu memikirkan siapa yang memindahkannya ke ranjang semalam. Ketika ia bersiap-siap dan berdandan, ia melihat di meja rias ada tumpukan rapi sketsa desainnya yang semalam dikerjakan asal-asalan. Orang pertama yang terlintas dalam pikirannya tentu saja Bibi Yang.
Selesai membersihkan diri, ia masih bingung memilih pakaian ke kantor. Tiba-tiba ia ingat kalau hari ini Ling Li sedang dinas luar, jadi ia tidak perlu ke kantor. Namun ia sudah berjanji membantu Ling Li menjaga adiknya. Ia buru-buru mengecek ponselnya, sudah pukul delapan tiga puluh dan tidak ada satu pun pesan dari Ling Li.
Sudah berangkatkah dia? Atau masih di rumah? Kenapa tidak mengirimi aku pesan? Apa dia benar-benar marah?
Sambil berpikir, He Dongwei mondar-mandir di ruang ganti sambil memegang ponsel. Ia menunggu dengan penuh kegelisahan hingga pukul sepuluh, tetap tidak ada kabar. Satu-satunya yang menelepon hanya Xiao Zeyang. Setelah berbincang singkat, Xiao Zeyang kembali meminta maaf dan menutup teleponnya.
Akhirnya, He Dongwei tak tahan lagi. Meski malu untuk memulai percakapan, ia terpaksa mengirim pesan pada Sekretaris Liu untuk menanyakan jadwal Ling Li. Sekretaris Liu membalas secepat kilat, singkat dan padat: [Jam enam].
Apa? He Dongwei seperti tersengat, langsung berdiri. Sekarang ia hampir yakin sembilan puluh sembilan persen bahwa Ling Li sedang marah padanya. Padahal ia sudah berjanji akan mengikuti saran dari para warganet yang diberikan padanya, tapi justru ia yang mengabaikan antusiasmenya, dan akhirnya malah didinginkan lebih dulu.
Jangan-jangan aku memang terlalu keterlaluan waktu bicara? Tapi sekarang ia tak sempat lagi menebak seberapa marah Ling Li. Meski marah, tak seharusnya anak dijadikan pelampiasan. Ia membayangkan adik laki-laki malang yang baru berusia sepuluh tahun itu terbangun dan mendapati rumah kosong, menunggu kedatangannya dengan penuh harap. Rasa bersalah langsung menyelimuti hatinya.
Saat ia keluar membawa sekantong buah dan camilan, situasinya persis seperti yang ia bayangkan. Rumah itu kosong, didominasi warna hitam dan putih, tanpa kehangatan kehidupan, apalagi tanda-tanda keberadaan anak kecil.
Perasaan tak enak mulai muncul di hati He Dongwei: “Jangan-jangan anak itu keluar rumah?”
“Adik kecil? Adik kecil, ...”
Ia meletakkan kantong di meja ruang tamu, melangkah hati-hati ke dalam, mencari di setiap sudut ruangan yang mungkin digunakan untuk bersembunyi. Setelah memanggil berkali-kali tanpa jawaban, ia semakin takut, lalu buru-buru menelpon Ling Li. Tapi hanya suara otomatis yang terdengar: “Mohon maaf...” Ternyata ponselnya dimatikan.
“Hei—ah—!” He Dongwei menjerit kaget, seolah seluruh jiwa dan raganya tercerabut dari tubuh. Hari ini ia mengenakan gaun putih sepanjang lutut. Tiba-tiba ia merasakan sensasi hangat dan lengket menjalar dari betisnya yang terbuka hingga ke punggung dan kepala, membuat bulu kuduknya berdiri.
Di bawah kakinya, ada sesuatu berwarna hitam-putih yang juga terkejut dan melompat menjauh refleks. “Guk!” Seekor anjing labrador campuran berkepala hitam dan berbadan putih menggonggong ke arahnya. Dari mulutnya keluar ludah yang tampak jelas, bahkan anjing itu menjilat bibirnya dengan puas sambil menatap He Dongwei dengan tatapan penuh semangat.
“Uu guk~~~,” anjing itu kembali menggonggong. He Dongwei meringkuk, kedua tangan memegangi dadanya, tubuhnya gemetar, dan kedua kakinya terasa berat seperti menyeret bola timah. Ia hanya bisa berbaring di lantai sambil menangis, “Aduh, Mama...”
“Jangan dekati aku, aduh, Mama, tolong aku, aku orang baik!” “Adik, adik kecil, jangan bercanda, cepat ikat anjingmu, adik kecil... uu~”
He Dongwei meronta-ronta di lantai sambil menangis memohon, dan anjing itu justru semakin bersemangat mendengar jeritannya, mendekatkan moncongnya ke wajah He Dongwei sambil menjulurkan lidahnya.
He Dongwei menahan leher anjing yang gemuk dan lembut itu, matanya membelalak seperti lonceng tembaga. Astaga, gigi-giginya rapi dan putih, kalau sampai tergigit pasti bekasnya seperti ukiran di kulit.
“Uu uu uu~~~ tolong, adik, adik kecil, aku salah, tolong...”
“Uu, guk! Uu, iiiiii~~~,”
Suara permohonan ampun He Dongwei bersahut-sahutan dengan gonggongan si anjing. Anjing itu malah semakin panik, hampir saja ngompol, ekornya bergoyang nyaris copot.
He Dongwei akhirnya menyadari bahwa anjing itu sepertinya tidak berniat jahat, hanya terlalu bersemangat tadi. Setiap kali ia memanggil “adik kecil”, anjing itu makin tersulut semangatnya.
“Adik kecil?” He Dongwei mencoba memanggil lagi.
“Iiiiii~~~” si adik kecil mengeluarkan suara pelan dan menggeliat seperti belut.
Suka makan daging, cocok makanan lunak, tidak boleh makan cokelat, sepuluh tahun...
He Dongwei akhirnya sadar dan menahan diri agar tidak memaki Ling Li.
Ia memaksakan senyum sopan, “Adik, adik kecil, kita sudah dewasa, kan? Bagaimana kalau kita bicara dengan cara orang dewasa, kamu duduk, aku bawa makanan enak untukmu.”
Ia mengelus kepala anjing hitam itu dengan mantap, menepuk sofa putih di sebelahnya sebagai isyarat untuk duduk. Benar saja, sentuhan itu membuat anjing tua yang bersemangat itu merasa terpuaskan, ia duduk rapi di sofa dengan tatapan berbinar, seperti ingin berkata, “Aku anak baik.”
“Bagus, sangat bagus, anak baik, ini, daging kering sebagai hadiah.”
He Dongwei langsung merobek bungkus daging kering, lalu dengan hati-hati menyodorkannya. Benar saja, anjing tua itu tidak bisa menahan diri di depan daging, mulutnya menganga lebar, gigi belakangnya terlihat jelas, ia membuka mulutnya lebar-lebar ke arah daging di tangan He Dongwei. Begitu daging dilepas, langsung disambar dan ditelan tanpa suara.
“Kakak, gigimu begitu terawat, pasti karena jarang digunakan, ya? Tidak perlu dikunyah kah?” Ia bersyukur bisa melepaskan daging dengan cepat. Kalau tidak, mungkin lengannya sudah dihiasi bekas gigitan.
Adik kecil masih belum puas, kembali menjilat-jilat bibirnya, mata berbinar lapar. He Dongwei buru-buru merobek bungkus daging kering lainnya, menghamparkan semua daging di depan anjing itu, membuat gerakan mempersilakan dengan hormat, lalu perlahan mundur ke kamar mandi dan menutup pintu rapat-rapat.
Ia bersandar di balik pintu, akhirnya bisa mengembalikan ketenangan hatinya. Rumah Ling Li hanya berwarna hitam dan putih, anjing itu juga hitam-putih. Tak heran ia tak melihatnya saat masuk tadi. Dalam keadaan lengah, tiba-tiba saja ia dijilat, untung anjing itu tidak menggigit, hanya terlalu bersemangat, seperti bertemu orang tua sendiri.
Ling Li pasti sengaja. Ia benar-benar ketagihan mengerjai orang. Begitukah caranya menunjukkan rasa suka? Menggunakan anjing untuk menakutinya? Ia ingin tahu apa alasan Ling Li kali ini.
Tak peduli sedang perang dingin atau tidak, ia kesal setengah mati dan segera mengirim pesan: [Ling Li, kenapa kamu tidak bilang kalau adik kecil itu anjing? Hampir saja aku mati muda di umur 27!]
Sudah lama menunggu, tak juga ada balasan. Ia berjalan ke wastafel, membasuh wajah dengan air dingin untuk menenangkan diri. Setelah lama menunggu, ia baru sadar suasana di luar sangat sunyi.
Anak kecil kalau diam, pasti sedang berulah.