Dia dan Cui Leng sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun. Mengapa pria itu...
Xu Singsheng sangat gembira.
Benar saja, hanya dengan sedikit trik, ia bisa mendapatkan belas kasihan dari Li Ruo.
Xu Singsheng menahan sudut bibirnya yang hampir terangkat, lalu kembali memasang ekspresi penuh iba dan menyedihkan.
Bagaikan Nona Daiyu, ia berbalik dengan gemulai, perlahan mengangkat sepasang mata yang berkaca-kaca, dan menatap pria berpostur jangkung tersebut.
Suara Xu Singsheng begitu lembut dan manis, membuat siapa pun tidak akan tega berbicara dengan nada tinggi kepadanya.
"Tuan Muda Li, ada apa?"
Li Ruo menatap Xu Singsheng dengan tenang tanpa sedikit pun emosi. Li Ruo bertanya, "Apakah kau datang bersama kereta kuda kediaman Liang?"
Xu Singsheng tidak tahu mengapa Li Ruo tiba-tiba membahas hal ini, tetapi dari nadanya, jelas tidak ada maksud terselubung.
Xu Singsheng menjawab jujur, "Ya, benar, aku datang bersama kereta kuda kediaman Liang."
"Oh." Li Ruo merespons dengan datar, lalu nada bicaranya berubah, "Di mana Liang Tan? Kenapa aku tidak melihatnya?"
Sudut bibir Xu Singsheng berkedut tipis.
Di dalam hatinya, ia merasa tidak senang karena Li Ruo ternyata datang untuk menanyakan Liang Tan.
Namun, ia tetap mempertahankan posenya yang bagaikan ranting lemas tertiup angin, sambil mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Li Ruo: "Tuan Muda Li, Nona Besar sudah beristirahat."
"Sudah beristirahat?" Li Ruo tampak sangat kebingungan, bagaimana mungkin ia tidak tahu bahwa Liang Tan bisa tidur secepat ini.
Jangan-jangan...
"Apakah Liang Tan merasa tidak enak badan?" Li Ruo bertanya lagi.
Xu Singsheng sangat tidak suka Li Ruo begitu peduli pada Liang Tan.
Semakin pria itu menunjukkan perhatian kepada Liang Tan, semakin bertambah pula rasa tidak suka di dalam hatinya.
Xu Singsheng tersenyum canggung lalu menjawab, "Mungkin karena kelelahan di perjalanan." Ia tidak ingin mendengar nama Liang Tan lagi dari mulut Li Ruo, jadi Xu Singsheng mengalihkan pembicaraan, "Sebaiknya aku pergi menyiapkan kue osmanthus untuk Nyonya terlebih dahulu."
Usai berkata demikian, Xu Singsheng benar-benar pergi tanpa menoleh ke belakang.
Pandangan Nyonya Li terpaku pada arah punggung Xu Singsheng yang perlahan menghilang, hingga mau tak mau ia menegur Li Ruo: "Sikap macam apa yang kau tunjukkan tadi."
Li Ruo menatap Nyonya Li dengan bingung, menunggu wanita itu melanjutkan kata-katanya.
Nyonya Li berkata, "Menurutku gadis itu cukup baik."
"Jika Ibu merasa dia baik, suruh saja Ayah membawanya pulang sebagai selir, dengan begitu kalian bisa bersama setiap hari," celetuk Li Ruo dengan nada yang menyebalkan.
"Li Ruo, sebagai seorang Menteri Muda Mahkamah Hunglu, semakin lama kau semakin tidak tahu aturan." Nyonya Li jelas sangat tidak puas dengan putranya.
Li Ruo tidak peduli dan menatap Nyonya Li dengan tenang: "Ibu, apa Ibu benar-benar tidak bisa melihatnya?"
"Melihat apa?" Nyonya Li tidak mengerti apa maksud perkataan Li Ruo.
Li Ruo tersenyum padanya: "Jika tidak bisa melihatnya, ya sudah."
Pada saat itu, seorang pelayan restoran dengan kain lap tersampir di bahu berjalan mendekat sambil tersenyum lebar.
"Dua Tuan Mulia, kamar di lantai dua telah disiapkan untuk kalian."
Li Ruo memberi respons, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. Li Ruo bertanya kepada pelayan tersebut, "Di mana kamar gadis yang tadi?"
Pelayan itu berpikir sejenak: "Oh, maksud Tuan dua tamu perempuan itu? Mereka tinggal di lantai tiga."
"Kalau begitu, atur kamarku tepat di sebelah kamar mereka," perintah Li Ruo.
Ekspresi pelayan itu tampak kesulitan dan ragu-ragu: "Tuan, maaf, kamar di lantai tiga sudah penuh semua. Kamar di lantai dua juga sangat bagus, bagaimana kalau—"
Li Ruo tidak mau tahu, ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebatang emas lalu melemparkannya kepada pelayan itu: "Apakah ini sudah cukup?"
Pelayan tersebut menangkap emas itu dengan kedua tangannya, lalu menoleh ke belakang untuk melihat sang pemilik penginapan yang sedang memegang sempoa.
Setelah mendapatkan anggukan dari sang pemilik, pelayan itu tersenyum lebar dan berseru gembira.
"Baik, Tuan! Saya akan segera menyiapkannya untuk Anda!"
Nyonya Li hanya bisa terdiam menyaksikan seluruh tindakan putranya itu.
Beberapa waktu lalu, perangai Li Ruo tiba-tiba berubah drastis.
Sikapnya yang tadinya begitu tergila-gila dan setia pada Xu Singsheng mendadak berubah menjadi seorang pria kejam yang penuh rasa bersalah kepada Liang Tan dan menyesali perbuatannya di masa lalu.
Bahkan Nyonya Li sendiri sempat curiga apakah putranya telah terkena ilmu hitam.
Sepanjang hari di rumah, Li Ruo sering tiba-tiba menampar wajahnya sendiri sambil merenungkan bagaimana ia bisa tega berbuat begitu rupa kepada Liang Tan berkali-kali, serta meratapi kebodohannya di masa lalu.
Belakangan, ia bahkan menyuruh para pelayannya mengirimkan surat permintaan maaf ke Taman Liming di kediaman Liang beberapa kali sehari.
Sayangnya, semua surat permintaan maaf itu dikembalikan.
Penolakan tanpa suara dari Liang Tan membuat Li Ruo semakin bertingkah seperti orang gila yang membenturkan kepalanya ke dinding...
—
Liang Tan sama sekali tidak pingsan akibat dibius oleh Xu Singsheng.
Sejak Xu Singsheng muncul di depan pintu kamarnya dan mengajak makan bersama, Liang Tan sudah menaruh curiga di dalam hatinya.
Menyetujui ajakan makan bersama itu semata-mata dilakukan untuk pura-pura terjebak dan melihat trik apa yang sebenarnya ingin dimainkan oleh Xu Singsheng.
Seseorang yang melakukan perbuatan tercela, sehebat apa pun benteng mentalnya, gerakan sekecil apa pun pada tubuhnya pasti akan mengkhianatinya.
Liang Tan menyadari pandangan mata Xu Singsheng selalu sesekali melirik ke arah mangkuk sup di atas meja.
Oleh karena itu, ia sengaja mengambil semangkuk sup di hadapan Xu Singsheng, lalu pada saat krusial ketika wanita itu meminum supnya, ia menyuruh Dengzhi untuk mengalihkan perhatian guna menarik tatapan Xu Singsheng.
Begitu pandangan Xu Singsheng kembali tertuju padanya, Liang Tan telah diam-diam menumpahkan sup tersebut, menyisakan mangkuk kosong di atas meja.
Liang Tan memberi isyarat dengan matanya kepada Dengzhi, sehingga Dengzhi terpaksa meminum habis semangkuk sup tersebut secara nyata.
Melihat Liang Tan dan Dengzhi tersungkur di atas meja secara bergantian, Xu Singsheng tahu bahwa rencananya telah berhasil.
Liang Tan menahan rasa tidak nyaman saat disentuh-sentuh oleh Xu Singsheng, dan terus mendengar wanita itu merapal nama "Li Ruo". Barulah pada saat itulah Liang Tan menyadari bahwa niat Xu Singsheng membiusnya adalah agar hubungannya dengan Li Ruo semakin dekat.
Namun kenyataannya, kedekatan hubungan antara wanita itu dan Li Ruo sama sekali tidak ia pedulikan.
Setelah Xu Singsheng meninggalkan kamar, di dalam kegelapan, Liang Tan membuka kedua matanya dan menyingkirkan tangan Dengzhi yang berada di tubuhnya.
Ia menatap lurus kain kelambu di atap tempat tidur tanpa berkedip, sementara pikirannya kembali teringat pada kejadian di siang hari.
Liang Tan membisikkan nama Cui Leng pelan-pelan.
Cui Leng, Cui Leng...
Di kehidupan sebelumnya, sebenarnya apa yang telah terjadi?
Mengapa ia dan Cui Leng tidak memiliki kaitan sama sekali, tetapi Cui Leng justru...
Liang Tan benar-benar tidak bisa memahaminya.
Ia perlahan bangkit dari tempat tidur dan duduk di tepian ranjang. Sambil menunduk, tanpa sadar tangannya kembali meraba butiran manik cendana di pergelangan tangannya.
Di dalam kegelapan, Liang Tan melihat sendiri manik cendana itu memancarkan pendar cahaya redup, dan sedetik kemudian ia tersedot ke dalamnya.
Kali ini, ia tiba di sebuah ruangan. Melalui jendela ruangan tersebut, Liang Tan mengenali tempat itu sebagai kuil gunung bersalju yang ia masuki di siang hari.
Di atas ranjang yang bersih, terbentang sehelai tikar jerami yang sudah usang. Di atas tikar itu terbaring seorang wanita dengan mata terpejam dan tubuh yang sangat kurus kering.
Liang Tan melangkah mendekat; sosok tersebut ternyata adalah dirinya sendiri setelah tewas di kehidupan sebelumnya.
Namun, ketika ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tata letak ruangan itu tampak sederhana dan bersih, sama sekali bukan tempat kumuh dan mengerikan seperti kuburan massal.
Ada apa ini.
Mungkinkah setelah dibuang oleh Xu Singsheng ke kuburan massal, ia justru dibawa kembali oleh seseorang?
Tetapi, siapa yang mau repot-repot membawa pulang sesosok mayat tanpa alasan?
Kecurigaan di dalam hati Liang Tan semakin membesar. Tepat ketika rasa penasarannya mencapai puncaknya, dua orang berjalan masuk dari luar ruangan.
Liang Tan secara refleks hendak bersembunyi, namun ia mendadak teringat bahwa wujudnya kini adalah transparan.
Ia berdiri di sisi tempat tidur, mengamati kedua orang yang berjalan mendekat itu.
Liang Tan: "..."