Bab 26 Mengukuhkan Reputasi sebagai Wanita Kejam
Halaman (1/3)
“Bukan soal apa yang kuinginkan.”
Liang Tan berkata, “Tuan Muda Li, kaulah yang datang untuk memohon pengampunan sambil membawa duri. Kalau benar-benar hendak menebus kesalahan, bagaimana mungkin kau hanya membawa beberapa batang duri yang tipis dan lunak? Sama sekali tidak menunjukkan ketulusan.”
Pada saat itu, Deng Zhi terengah-engah sambil membawa seikat duri yang dibungkus kain.
Deng Zhi menyerahkan salah satu batang duri itu ke tangan Liang Tan.
Dengan tatapan dingin, Liang Tan menyapu wajah Li Ruo dan Xu Shengsheng bergantian. Ia menggerakkan duri di tangannya, lalu berkata kepada Xu Shengsheng, “Barusan kau bilang ingin memohonkan pengampunan untuk Li Ruo?”
Xu Shengsheng gemetar saat melirik duri di tangan Liang Tan yang tampak sangat mengerikan.
Kalau duri itu benar-benar dicambukkan ke tubuhnya…
Ngeri sekali.
Namun, kata-kata telanjur terucap dan Xu Shengsheng tentu tak mungkin menariknya kembali. Lagi pula, jika ia menahan cambukan demi Li Ruo, perasaan Li Ruo kepadanya pasti akan semakin dalam.
Suara Xu Shengsheng ikut bergetar. “Benar, aku bersedia memohonkan pengampunan Nona Besar untuk Tuan Muda Li.”
Li Ruo berkata dengan wajah terharu, “Shengsheng, aku menghargai ketulusanmu.”
“Baiklah.” Liang Tan menjawab tanpa emosi.
Ia mengangkat tinggi-tinggi batang duri itu, lalu mencambukkannya tepat ke arah Xu Shengsheng.
Srak!
Kulit dan daging Xu Shengsheng langsung terbelah. Ia meringis kesakitan.
Namun, begitu bertatapan dengan pandangan penuh iba dari Li Ruo, Xu Shengsheng segera mengendalikan ekspresinya dan menutup mulutnya yang menganga karena nyeri.
Dengan wajah nelangsa, ia memandang Li Ruo sambil mengerucutkan bibir. “Tuan Muda Li… aku tidak apa-apa.”
“Shengsheng…”
Melihat bahu Xu Shengsheng yang gemetar ketakutan, naluri melindungi Li Ruo pun mencapai puncaknya.
“Liang Tan, kalau mau memukul, pukul aku saja. Untuk apa menindas seorang perempuan lemah yang tak bersenjata?”
Dengan gagah, ia menarik Xu Shengsheng ke belakang tubuhnya. Sambil menatap Liang Tan dengan penuh kebencian, ia memaki, “Perempuan keji! Hari ini aku datang untuk menebus kesalahan dengan membawa duri. Ini tidak ada hubungannya dengan Shengsheng!”
“Tidak, Tuan Muda Li… jangan bertengkar dengan Nona Besar…”
Kata-kata itu ditujukan kepada Li Ruo, tetapi matanya justru mengamati wajah Liang Tan.
Serpihan ejekan melintas di dasar mata Xu Shengsheng.
Perempuan seperti Liang Tan jelas tidak tahu bagaimana berpura-pura lemah dan lembut di hadapan seorang pria. Ia malah beradu mulut dan tidak memberi muka. Mana mungkin seorang pria menyukainya?
Pantas saja ia disebut perempuan bodoh dari zaman kuno.
Benar-benar tidak salah.
Namun, sekalipun Liang Tan berpura-pura lemah seperti dirinya, Li Ruo tetap tidak mungkin menaruh rasa iba kepadanya.
Dengan hanya menggerakkan jarinya, ia sudah cukup untuk membuat Liang Tan belajar seumur hidup.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Tak ada jalan lain. Siapa suruh ia memiliki “aura tokoh utama perempuan” yang begitu kuat?
Tampaknya ia terlalu larut dalam rasa bangganya sendiri hingga sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.
“Hahaha…” Xu Shengsheng tertawa puas.
Detik berikutnya, ia tiba-tiba membelalakkan mata!
Barulah ia sadar bahwa dirinya baru saja mengeluarkan tawa yang sama sekali tidak pada tempatnya.
Kulit kepala Xu Shengsheng terasa kebas. Ia buru-buru menutup mulut dengan kedua tangan, lalu kembali menatap Liang Tan dan Li Ruo dengan panik.
Melihat tidak ada perubahan apa pun pada wajah mereka, Xu Shengsheng baru sedikit merasa lega.
Ia kembali mempertahankan citra dirinya. “Nona Besar, kalau ingin memukul, pukul aku saja.”
Begitu banyak orang sedang menyaksikan. Ia tidak percaya Liang Tan berani memukulnya untuk kedua kalinya.
Kalau perempuan itu berani melakukannya lagi, reputasinya sebagai perempuan keji pasti akan tersebar ke seluruh Kota Jiangnan mulai esok hari!
Saat itu, lihat saja bagaimana perempuan bodoh ini dapat bertahan di Kota Jiangnan.
Siapa sangka, Liang Tan justru seperti orang kesurupan. Ia kembali mengayunkan batang duri ke arah Xu Shengsheng—
Yang benar saja! Perempuan bodoh ini sungguh melakukannya!
Melihat batang duri yang melayang ke arahnya, Xu Shengsheng hampir pingsan karena ketakutan.
Saat duri itu hampir mengenai tubuhnya lagi, pada detik terakhir Li Ruo membalikkan badan dan menahan cambukan itu dengan punggungnya.
Xu Shengsheng memandangi Li Ruo yang dahinya mulai dipenuhi butiran keringat. Suaranya melunak, “Tuan Muda Li, kau…”
Li Ruo mengertakkan gigi, lalu menenangkannya. “Shengsheng, jangan takut…”
Tangan Li Ruo menyentuh rambut di pelipis Xu Shengsheng. Kemudian, dengan wajah menghitam dan tatapan penuh permusuhan, ia mengarahkannya kepada Liang Tan.
“Perempuan keji! Kalau ingin memukul, pukul aku saja!”
Liang Tan terdiam.
Sungguh sepasang kekasih malang.
Dengan wajah sedingin es, Liang Tan menampilkan senyum yang sangat tipis dan kejam. Ia mengarahkan batang duri itu kepada Li Ruo.
Liang Tan membuka bibirnya. “Tuan Muda Li, maafkan aku.”
Begitu kata-kata itu jatuh, terdengar suara cambukan.
Srak!
Dada Li Ruo robek oleh satu garis luka panjang yang mengucurkan darah.
Sambil menyeringai menahan sakit, Li Ruo menatap luka di dadanya. Tatapan beracun mengarah kepada Liang Tan. “Hari ini kau berhasil menjebakku karena aku lengah. Tunggu saja nanti…”
Srak!
Satu garis luka lagi muncul di tubuh Li Ruo.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Liang Tan, perempuan keji! Perempuan keji! Aku hanya menyesal karena tidak lebih awal melihat wajah aslimu!”
Kebetulan sekali. Liang Tan juga menyesal karena tidak lebih awal melihat wajah aslinya.
Lagi pula, ia terus-menerus memanggilnya perempuan keji. Kalau Liang Tan tidak membuktikan sebutan itu, bukankah berarti ia menyia-nyiakan kebenciannya?
Tanpa sedikit pun berbelas kasihan, Liang Tan kembali mencambukkan batang duri itu beberapa kali ke tubuh Li Ruo.
Xu Shengsheng, yang ditahan Li Ruo di belakangnya, kembali berpura-pura hendak menerjang untuk melindunginya. Namun, Li Ruo bersikeras menjaga Xu Shengsheng tetap di belakang tubuhnya.
Baru setelah dada Li Ruo dipenuhi luka-luka darah yang bersilang tak beraturan, Liang Tan melemparkan batang duri di tangannya.
Li Ruo akhirnya mengembuskan napas lega, mengira Liang Tan tidak akan memukulnya lagi.
Namun, ia tidak menyangka pelayan di sisi Liang Tan kembali menyodorkan sebatang duri baru.
Li Ruo tertegun. Ia memandangi batang duri baru itu, lalu berteriak kepada Liang Tan, “Liang Tan, kau sudah gila?”
Liang Tan menatapnya dingin. “Tuan Muda Li, mengapa berkata begitu?”
Li Ruo ingin menutupi luka-luka di tubuhnya, tetapi jumlahnya terlalu banyak. Kedua tangannya sama sekali tak mampu menutup semuanya.
Darah mengalir dari sudut bibir Li Ruo. Ia menunjuk batang duri baru di tangan Liang Tan. “Kau ingin membunuhku?! Jangan lupa, ini di depan rumahmu sendiri. Kau sudah mencambukku berkali-kali di depan umum. Kalau kabar ini tersebar, apa kau masih punya muka untuk ditunjukkan!”
“Tak akan ada seorang pun di Kota Jiangnan yang berani menikahi perempuan keji sepertimu!”
Dahulu, tunangan yang begitu mesra kini menunjukkan sifat aslinya, melontarkan kata-kata kasar kepadanya, melindungi biang keladi sebenarnya, dan malah meminta pertanggungjawaban darinya.
Betapa… ironisnya.
“Tuan Muda Li, kau bertindak seperti ini terhadap mantan tunanganmu sendiri. Tidakkah kau takut menjadi bahan tertawaan seluruh dunia?”
Tatapan Liang Tan melewati Li Ruo dan berhenti tepat di wajah Xu Shengsheng.
Xu Shengsheng kembali gemetar ketakutan saat ditatap oleh Liang Tan.
Bahkan ia sendiri tidak mengerti mengapa tatapan Liang Tan begitu membuatnya gentar.
“Apa maksudmu dengan tindakanku? Apa yang telah kulakukan?! Aku datang untuk menebus kesalahan dengan membawa duri, bukan untuk menjadi pelampiasan dendam pribadimu. Lagi pula, mengapa kau menyeret seorang gadis tak bersalah ke dalam urusan kita?”
Saat menyebut Xu Shengsheng, Li Ruo masih sempat menoleh dan melirik kecantikan yang bersembunyi di belakangnya.
Mendengar kata-kata Li Ruo, Liang Tan merasa semuanya sungguh konyol.
Dengan dingin ia melontarkan, “Bukankah Xu Shengsheng sendiri yang maju untuk dipukul?”
Begitu Liang Tan mengucapkan kalimat itu, Li Ruo seketika terdiam seperti patung kayu.
Sesaat kemudian, ia menegakkan leher dan membantah dengan tidak puas, “Itu karena kau sudah keterlaluan. Gadis ini tidak tahan melihatnya, jadi ia ingin menolongku.”
Liang Tan terdiam.