Bab 35 Anjing yang Terusir dari Kediaman Liang
Halaman (1/3)
Xu Shengsheng memandangi gelang giok berbenang emas di pergelangan tangannya.
Itu adalah hadiah perkenalan dari Nenek He.
Seharusnya ia mengenakannya baik-baik.
Namun sekarang…
Demi menghilangkan bekas luka di wajahnya, ia menukarkan gelang milik Nenek. Nenek tentu tidak akan menyalahkannya, bukan?
Tanpa ragu, Xu Shengsheng melepas gelang giok berbenang emas dari pergelangan tangannya.
“Kakak yang baik, gelang giok berbenang emas ini kuberikan kepadamu.”
“Baiklah, Nona sungguh murah hati. Salep Anggrek Biru Gelombang Zamrud ini menjadi milikmu.”
Pemilik toko mengenakan gelang itu, lalu mendorong sebuah wadah kecil di tangannya ke hadapan Xu Shengsheng. Namun Xu Shengsheng masih merasa agak tidak yakin. Ia bertanya, “Kakak yang baik, salep Anggrek Biru Gelombang Zamrud ini benar-benar manjur, bukan?”
Pemilik toko menjadi tidak senang. Ia hendak melepaskan gelang giok berbenang emas dari pergelangan tangannya.
“Nih, gelangnya kukembalikan. Kembalikan salep Anggrek Biru Gelombang Zamrud milikku.”
“Jangan, jangan… Aku percaya kepadamu, Kakak.” Xu Shengsheng buru-buru memasukkan salep yang berada di atas meja ke dalam bajunya. “Kakak mampu membuka Toko Delapan Harta sebesar ini di Kota Jiangnan, dan daganganmu pun begitu laris. Tentu saja aku percaya kepadamu.”
“Nah, begitu baru benar.” Pemilik toko terkekeh pelan.
“Oh, ya, Kakak, bagaimana cara menggunakannya?” tanya Xu Shengsheng.
Pemilik toko menjelaskan cara pemakaiannya dengan terperinci.
“Terima kasih, Kakak…”
Mendapatkan benda sebagus itu, Xu Shengsheng sangat gembira.
Bekas luka di wajahnya masih bisa disembuhkan.
Pikirannya hanya tertuju pada keinginannya untuk segera kembali ke Taman Pandang Angin dan mencoba salep Anggrek Biru Gelombang Zamrud.
“Kakak, kalau begitu aku pamit lebih dahulu.”
Xu Shengsheng bergegas hendak pergi.
Namun pemilik toko kembali memanggilnya, “Nona, tunggu sebentar.”
Dengan salep Anggrek Biru Gelombang Zamrud terselip di dadanya, Xu Shengsheng menoleh. Ia memandang pemilik toko dengan waspada, mengira perempuan itu menyesal telah melakukan pertukaran tersebut.
Namun pemilik toko hanya tersenyum.
“Salep Anggrek Biru Gelombang Zamrud bekerja dengan lambat. Selama bekas lukamu belum pulih, sebaiknya kau menyiapkan sedikit bubuk mutiara untuk menutupinya.”
Benar juga. Jika tidak diingatkan, ia hampir saja lupa.
Ia datang ke Toko Delapan Harta memang untuk membeli bubuk mutiara.
Xu Shengsheng berseru, “Kakak yang baik, kalau begitu berikan aku sepuluh kotak bubuk mutiara.”
Pemilik toko menggeleng dengan wajah tak berdaya.
“Bubuk mutiara adalah barang unggulan toko kami. Persediaannya dibatasi setiap hari, dan setiap orang hanya boleh membeli satu kotak per hari.”
“Kalau begitu, berikan aku satu kotak.”
“Baik.”
Dengan hati riang, Xu Shengsheng meninggalkan Toko Delapan Harta.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Pemilik toko berdiri di jendela lantai dua, memperhatikan Xu Shengsheng menaiki kereta kuda. Setelah kereta itu pergi, barulah ia menyingkap tirai di balik pintu dan berkata kepada orang di dalam, “Kau sudah mendengar semuanya, bukan?”
“Dia benar-benar menyuruhku menukar salepku dengan benda jelek ini. Gelang ini paling-paling hanya barang kelas dua. Bagaimana mungkin sebanding dengan salep Anggrek Biru Gelombang Zamrud milikku?”
Ia melepas gelang giok berbenang emas dari pergelangan tangannya dan melemparkannya ke atas meja.
“Aku sungguh tidak tahu untuk apa kau bersusah payah meminta gelang ini. Nih, ambillah.”
Gelang itu jatuh di atas meja. Liang Tan meliriknya dengan tatapan dingin, lalu mengangkat wajahnya kepada pemilik toko yang sedang menyilangkan tangan di dada sambil menggerutu kesal.
Pemilik toko masih merasa sayang.
“Aku benar-benar merasa rugi karena salep Anggrek Biru Gelombang Zamrud milikku…”
“Bukankah salep Teratai Giok Jernih sudah kuberikan kepadamu?” jawab Liang Tan dengan suara datar.
Mendengar itu, pemilik toko mengernyitkan alis.
“Kalau menurutku, kau benar-benar keterlaluan. Kau tega menggunakan salep Teratai Giok Jernih yang begitu berharga untuk menyuapku. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?”
Liang Tan terdiam.
Pemilik toko mencibir. “Cih, sudah kuduga kau tidak akan menjawab.”
Melihat wajah Liang Tan yang tetap dingin, ia sengaja meninggikan suaranya untuk mengusiknya.
“Oh? Aku sudah mendengar seluruh kisah cinta dan kebencian antara Nona Besar Liang dan Tuan Muda Li…”
“Tak kusangka Nona Besar Liang juga bisa dipermainkan seseorang. Kudengar bahkan ada perempuan rendahan yang menyelusup di antara kalian… Coba kutebak, gadis tadi jangan-jangan perempuan rendahan itu?”
“...Oh, rupanya tebakanku benar?”
“Pantas saja tindakanmu begitu kejam. Kau bahkan mampu memikirkan rencana seperti ini—membunuh tanpa meninggalkan jejak…”
“Kau benar-benar layak disebut ‘perempuan berbisa’ oleh tunanganmu. Hahahaha…”
Liang Tan menatapnya. Ekspresinya yang tenang tiba-tiba memancarkan sedikit keganasan.
“Diam.”
Pemilik toko pun menutup mulut dengan enggan.
Liang Tan hendak pergi.
“Hati-hati di jalan, Nona Besar Liang,” ujar pemilik toko.
Liang Tan telah sampai di depan tirai ketika tiba-tiba ia berbalik dan berkata, “Mengenai kejadian hari ini…”
Pemilik toko memasang wajah polos.
“Kejadian hari ini? Kejadian apa?”
Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Liang Tan pun pergi.
Sesampainya di pintu belakang Toko Delapan Harta, Dengzhi telah menunggunya cukup lama.
“Nona, ada surat balasan.”
Surat itu diserahkan kepada Liang Tan. Ia membukanya.
“Tan’er, semoga ketika membaca surat ini kau berada dalam keadaan baik…”
Setelah membaca seluruh isi surat, Liang Tan diam-diam memasukkannya kembali ke dalam amplop tanpa mengubah apa pun.
“Nona, ada satu hal lagi…” Dengzhi agak kesulitan untuk membuka suara.
“Apa?”
“Nona Kedua… Nona Kedua…”
Dengzhi menceritakan apa yang dilihatnya tadi. Melihat wajah Liang Tan berangsur-angsur menjadi muram, ia buru-buru mengubah ucapannya.
“Mungkin penglihatanku keliru…”
“Kita kembali dahulu ke Taman Ikan Cemerlang.”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Baik.”
…
Taman Ikan Cemerlang.
“Kau bilang, saat menungguku di pintu belakang Toko Delapan Harta, kau tanpa sengaja melihat You’er terus mengejar seorang pria?”
“Ya…”
“Seperti apa pria itu?”
“Wajahnya cukup tampan, tetapi sekilas sudah terlihat seperti seorang pelajar miskin. Rambutnya kering dan kekuningan, pakaiannya penuh tambalan, bahkan sepatunya berlubang hingga ibu jari kakinya terlihat. Di punggungnya tergantung keranjang buku…”
“Nona, mengapa Nona Kedua mengikuti pria seperti itu? Jangan-jangan ia jatuh hati kepada pelajar miskin itu?”
Benar. Bagaimana mungkin Nona Kedua Liang yang bagaikan dahan emas dan daun giok bisa jatuh hati kepada seorang pelajar miskin?
Liang Tan juga ingin mengetahui jawabannya.
Di kehidupan sebelumnya, Liang You jatuh cinta kepada seorang pelajar miskin. Pelajar itu berasal dari keluarga melarat dan hanya memiliki seorang adik perempuan sebagai tempat bergantung. Setelah disukai Liang You, ia berusaha menghindar berkali-kali, tetapi pada akhirnya tetap tidak mampu menahan serangan cinta Liang You yang begitu gigih.
Pada akhirnya, pelajar miskin itu juga jatuh cinta kepada Liang You.
Liang You memang keras kepala. Ia membawa pelajar miskin itu langsung menemui Liang Su dan menyatakan keinginannya untuk menikah dengannya. Namun, tak disangka, Liang Su menolaknya dengan keras.
Dua orang yang saling mencintai itu terpaksa berpisah. Tentu saja Liang You tidak akan menyerah begitu saja.
Saat itu, hubungannya dengan Xu Shengsheng sudah sangat dekat. Liang You pun meminta nasihat Xu Shengsheng. Dengan rencana yang diberikan Xu Shengsheng, Liang You akhirnya berhasil bersama pelajar itu.
Kemudian, pelajar tersebut berhasil lulus ujian negara dengan peringkat tinggi. Ia menunggangi kuda tinggi dan gagah, lalu menjemput Liang You dalam pernikahan yang megah.
Setelah itu, pelajar tersebut menjadi tangan kanan Xu Shengsheng dan Li Ruo…
Liang Tan menenangkan pikirannya dan berkata dengan ringan, “Dia sudah tidak kecil lagi. Sudah waktunya dia menentukan pilihannya sendiri.”
“Pilihan apa?” Dengzhi tidak memahami maksud perkataan Liang Tan.
Liang Tan menopangkan siku di atas meja, mengepalkan tangan untuk menyangga dagu, lalu berkata sambil berpikir,
“Memilih untuk tetap menjadi Nona Kedua keluarga Liang, atau menjadi anjing terlantar yang terusir dari kediaman keluarga Liang.”
“Nona, apa yang sedang Nona bicarakan?”
Nona Kedua ya tetap Nona Kedua.
Bagaimana mungkin ia berubah menjadi…
Anjing terlantar?
—
—
Halaman (3/3)