Jilid Pertama Bab 28 Kami Datang untuk Menjual Resep
Kembali berbaring di tempat tidur, jantung Su Qiaoqiao masih berdegup kencang.
Pria itu terlalu berbahaya, dia nyaris bisa membaca pikiran Su Qiaoqiao tadi.
Sejak tiba di dunia ini, ini adalah kali pertama Su Qiaoqiao merasakan ancaman. Jika bukan karena A-Chen, dia tidak akan sudi memiliki hubungan apa pun dengan Qin Xu.
Di kamar A-Chen, sebelum pergi, Qin Xu sempat menyerahkan tumpukan uang kertas kepadanya.
"Aku sudah memeriksa, keluarganya tidak kaya. Berikan ini padanya saat ada waktu."
"Aku telah menugaskan An San untuk mendampingimu. Jika ada situasi mendesak, kau bisa mencariku melalui dia."
Setelah berpesan, dia memberikan beberapa nasihat lagi kepada A-Chen sebelum akhirnya meninggalkan kediaman keluarga Su.
***
Pagi hari, Su Qiaoqiao bangun sedikit lebih lambat dari biasanya. Saat dia selesai membersihkan diri dan berpakaian, Nyonya Lin sudah menyiapkan sarapan dan menatanya di meja ruang tengah.
Melihat Su Qiaoqiao keluar, Nyonya Lin buru-buru bertanya, "Qiaoqiao, apa kau kelelahan kemarin? Apa perlu istirahat lebih lama lagi?"
"Ibu, tidak perlu," jawab Su Qiaoqiao sambil menggeleng. "Hanya saja semalam aku terlalu lama memikirkan sesuatu sebelum tidur. Tidak apa-apa, nanti aku akan beristirahat lebih awal."
Sementara itu, A-Chen yang sedang membantu Nyonya Lin tampak enggan menatap mata Su Qiaoqiao. Saat makan pun, dia terlihat tidak fokus.
Setelah sarapan, saat Su Qiaoqiao bersiap untuk berangkat bersama Su Yan dan Su Xiuxiu, A-Chen menyusul mereka. "Kakak..."
"Aku juga ingin ikut."
Saat mengatakannya, dia terus menunduk, takut jika Su Qiaoqiao akan bersikap dingin padanya karena kejadian kemarin.
Melihat sikap A-Chen, Su Qiaoqiao menghela napas pasrah. "A-Chen, apakah ada hal lain yang ingin kau katakan?"
A-Chen buru-buru mendongak. "Kakak, aku tidak bermaksud menyembunyikan apa pun darimu. Aku hanya takut jika hal ini terungkap, akan merugikanmu. Lagipula..."
Sebelum A-Chen sempat melanjutkan, Su Qiaoqiao menyela dengan lembut, "Kakak tidak menyalahkanmu. Sikapku yang buruk kemarin itu karena Qin Xu, tidak ada hubungannya denganmu."
"A-Chen, karena aku sudah setuju kau tinggal di sini, berarti aku menganggapmu sebagai adikku sendiri. Tentu saja aku tidak akan melampiaskan amarah padamu karena pria itu. Kata-kata seperti ini, tidak perlu diucapkan lagi di kemudian hari."
Mengenai permintaan A-Chen untuk ikut berjualan di kota, Su Qiaoqiao tidak melarangnya. Kondisi tubuhnya sudah jauh lebih baik, jadi tidak perlu lagi berdiam diri di rumah.
"Jika kau ingin pergi ke kota, ikutlah."
***
Dalam perjalanan menuju kota, A-Chen berinisiatif mengambil alih beban kastanye yang seharusnya dibawa oleh Su Xiuxiu. Melihat A-Chen tampak kesulitan membawa barang tersebut, dia tidak terlihat seperti orang yang pernah berlatih bela diri. Su Qiaoqiao pun merasa curiga.
Benar saja, A-Chen berjalan ke sisi lainnya dan berbisik, "Kakak, orang yang memanah harimau itu adalah paman kecilku, aku sama sekali tidak bisa bela diri. Busur itu juga milik paman."
Su Qiaoqiao merasakan perasaan yang sulit dijelaskan.
Tubuh A-Chen sangat lemah, hal itu bisa dia pastikan saat memeriksa denyut nadinya. Sebelumnya dia mengira itu karena cedera, dia tidak pernah menyangka bahwa orang yang menyelamatkan nyawanya bukanlah A-Chen.
Namun, memikirkan bahwa dia berutang nyawa pada Qin Xu tanpa alasan, Su Qiaoqiao merasa tidak nyaman.
Sudahlah, dia hanya bisa menunggu kesempatan nanti untuk membalas budi pria itu agar hatinya tidak lagi merasa gelisah.
Baru saja sampai di gerbang desa, mereka berpapasan dengan Kakek Su dan Su Siniu.
Melihat Su Qiaoqiao, Su Siniu menyapa dengan senyum canggung, "Qiaoqiao, mau ke kota?"
Sebaliknya, Kakek Su menatap Su Qiaoqiao dengan tatapan kelam, membuat orang tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya.
"A-Yan, tunggu di sini bersama Xiuxiu," perintah Su Qiaoqiao, lalu dia melangkah mendekati kedua pria itu.
"Jangan pikir aku tidak tahu apa yang terjadi tadi malam. Kalian beruntung karena tertangkap basah. Jika ada orang dari keluarga kalian yang berani masuk ke pekarangan rumahku lagi, aku pasti akan melaporkannya ke pihak berwenang!"
Ekspresi Kakek Su semakin kelam. Saat kembali ke rumah nanti, dia pasti akan duduk dengan amarah yang meluap.
Kakek Su membalas dengan suara rendah, "Su Qiaoqiao, kau berani membantah orang tua, apa kau tidak takut kena batunya?"
"Hah!" Su Qiaoqiao mencibir, "Kau saja belum kena balasan atas perbuatanmu, kenapa aku harus takut?"
Setelah berkata demikian, dia berbalik, menggandeng adik-adiknya, dan mengajak A-Chen untuk terus berjalan menuju kota.
Di rumah, dia sudah meminta Bibi Zhang untuk menemani Nyonya Lin bersama si kecil Bao, jadi dia tidak perlu khawatir keluarga besar Su akan membuat keributan. Saat ini, keluarga Su hanya bisa mengusik bisnisnya. Selama dia berhati-hati, dia yakin mereka tidak akan berhasil.
Setelah dua hari berjualan di kota, para pelanggan sudah mengenali Su Qiaoqiao. Mereka mengantre lebih awal di tempat biasanya, bahkan pedagang di sekitar pun telah membantunya menjaga posisi.
"Nona Su, akhirnya kau datang, semua orang sudah tidak sabar!"
Seorang wanita penjual kue yang berada di sebelah menyapanya dengan ramah.
Sejak berjualan di samping Nona Su, dagangannya jauh lebih laris dari biasanya. Dia harus menjaga tempat ini dengan baik agar tidak direbut orang lain.
Pria penjual teh di sebelah kanan pun berpikiran sama. Dia membantu menata lapak mereka dan memberikan beberapa mangkuk teh secara cuma-cuma.
"Nona Su, sisakan satu porsi untukku dari panci kastanye yang pertama ini."
Su Qiaoqiao menyanggupi permintaan itu sambil meminta Su Xiuxiu dan Su Yan menyalakan api. Dia mulai menyiapkan kastanye dengan cekatan.
Kastanye buatannya sangat lezat, dan antrean pembeli di kota sangat panjang. Belum sampai siang, semua kastanye yang dibawa sudah habis terjual.
"Kakak, aku ingin membeli sesuatu," ujar A-Chen saat Su Qiaoqiao sedang membereskan lapak.
Tanpa perlu bertanya, dia tahu Qin Xu pasti meninggalkan uang untuk A-Chen.
"Pergilah, Kakak akan menunggumu di sini."
Setelah meninggalkan lapak, A-Chen langsung pergi ke toko alat tulis. Dia sudah berjanji pada Su Qiaoqiao untuk mengajari Su Yan dan Su Xiuxiu membaca, dan dia tidak boleh mengingkari janji itu.
Mengetahui keluarga Su terbiasa hidup hemat dan tidak ingin terlalu mencolok di desa, A-Chen hanya membeli kertas biasa. Namun, dia memilihkan kuas yang cocok untuk Su Yan dan Su Xiuxiu, serta membeli sebuah buku "Seribu Karakter" sebagai bahan ajar mereka.
Dalam perjalanan pulang ke desa, dia menunjukkan barang-barang tersebut kepada Su Qiaoqiao, "Kakak, mulai hari ini, aku akan mengajari A-Yan dan Xiuxiu membaca."
***
Di kota, tidak lama setelah rombongan Su Qiaoqiao pergi, Nyonya Wang datang membawa Su Daniu dan Su Erniu ke Restoran Laifu.
Melihat pakaian mereka yang kasar dan sudah agak lusuh, pelayan restoran langsung berniat mengusir mereka. Nyonya Wang buru-buru berkata, "Mas, kami datang untuk menawarkan bisnis pada restoran kalian!"
"Kalian?" pelayan itu menatap mereka dengan hina. "Hanya kalian bertiga, bisnis apa yang bisa kalian tawarkan?"
Melihat mereka tidak membawa barang dagangan maupun hasil buruan, pelayan itu secara naluriah menganggap ketiganya hanya pengemis.
Nyonya Wang tersenyum memelas, "Mas, kami datang untuk menjual resep. Akhir-akhir ini ada kastanye goreng gula, apa kalian pernah mendengarnya? Itu adalah buatan keluarga kami."
Begitu mendengar kata "kastanye goreng gula", ekspresi pelayan itu langsung berubah.
Akhir-akhir ini, sang pemilik restoran sedang pusing memikirkan hal itu. Ini adalah masalah besar, dia tidak bisa memutuskannya sendiri.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan memanggil pemilik restoran."