Bab Empat Puluh Satu: Diracuni
Wang Ermao bergegas keluar dari dapur membawa sebaskom air mendidih. Ia hendak menyiramkan air panas itu ke tubuh ayam untuk mulai mencabuti bulunya.
Song Yan'er menatapnya dengan raut wajah cemas, "Ermao, sebaiknya kita tidak memakannya. Dengarkan saja kata-kata Lin Shi!"
"Wah, ayam ini benar-benar bau sekali. Sepertinya sudah mati cukup lama," gumam Wang Ermao sambil terus bekerja. Ia sama sekali tidak memedulikan perkataan Song Yan'er.
Bagi keluarga mereka, bisa menyantap daging saja sudah merupakan kemewahan, apalagi ayam. Melihat istrinya masih ingin bicara, ia menyahut lagi, "Ayam ini tidak apa-apa, lihatlah, hanya matinya saja yang sudah agak lama."
Karena tidak bisa membujuk suaminya, Song Yan'er memutuskan untuk mencari Lin Jinxia guna meminta kejelasan. Ia pun bergegas pergi.
Namun, pada saat itu, Lin Jinxia sudah menemukan Changqing dan Chang'an, serta telah menanyakan kejadian sebenarnya. Chang'an menundukkan kepala, menceritakan detail kejadian tanpa ada yang ditutup-tutupi, lalu dengan wajah malu ia membela diri, "Ibu, maafkan kami. Kami seharusnya tidak berbohong tadi malam. Kami benar-benar tahu kami salah."
Wajah Lin Jinxia tidak membaik. Dengan raut serius, ia menepuk pahanya, "Gawat!"
"Apa yang gawat?" tanya Changqing bingung, sambil melangkah mundur secara naluriah karena takut Lin Shi akan marah besar dan menghajar mereka habis-habisan.
Lin Jinxia melangkah tergesa-gesa menuju rumah Ermao, "Ayam itu mengeluarkan busa dari mulutnya, pasti sudah diracun! Kalau keluarga Wang Ermao sampai memakannya, bagaimana jadinya!"
Ia berjalan cepat dengan kedua anak itu mengikuti di belakang. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Song Yan'er.
Song Yan'er melambai dari kejauhan, "Kakak ipar, kakak ipar! Mau ke mana? Tunggu sebentar, ada dua hal yang ingin kutanyakan!"
"Tidak usah bertanya lagi! Aku sedang menuju rumahmu! Di mana Ermao?"
"Ermao sedang di rumah membersihkan ayam. Aku sudah melarangnya, tapi dia tidak mau dengar, tetap bersikeras ingin merebusnya."
Begitu mendengar jawaban Song Yan'er, kecemasan Lin Jinxia semakin menjadi. Ia berlari kencang menuju rumah Ermao sambil bergumam, "Jangan sampai dimakan! Kalau sampai termakan, bisa melayang nyawa orang!"
Siapa sangka, mereka terlambat selangkah. Begitu tiba di depan rumah, mereka melihat Wang Ermao sudah tergeletak tak sadarkan diri. Untungnya, ayam itu belum sempat direbus. Syukurlah mereka belum memakannya, jika tidak, masalahnya akan jauh lebih rumit.
Song Yan'er menangis sesenggukan sambil mendekap tubuh Wang Ermao, "Ermao, ada apa denganmu! Aku baru pergi sebentar, kenapa kau sudah terkapar di lantai! Kau jangan sampai kenapa-kenapa!"
"Ibu, haruskah aku dan Chang'an pergi memanggil tabib?" tanya Changqing dengan suara pelan dan pasrah melihat kondisi Song Yan'er.
Lin Jinxia mengangguk dan berpesan, "Cepatlah!" Kedua anak itu segera berlari pergi.
Tangisan Song Yan'er yang cukup keras tak lama kemudian menarik perhatian orang-orang sekitar. Para tetangga yang baru pulang dari ladang bergegas masuk ke halaman dan tampak panik melihat situasi tersebut.
Lin Jinxia mengerutkan kening menatap Wang Ermao. Aura hitam di wajahnya sudah sedikit memudar, namun di atas kepalanya masih tampak kabut hitam yang menyelimuti, dan wajahnya tampak pucat kebiruan. Saat ini, Lin Jinxia pun tidak bisa memastikan apakah Wang Ermao keracunan atau memang sedang bernasib buruk sehingga wajahnya tampak begitu suram.
Ia memeriksa sekeliling dengan teliti dan tidak melihat ada luka luar pada tubuh Wang Ermao. Halaman rumah pun tidak menunjukkan tanda-tanda adanya orang asing yang datang.
Song Yan'er sesenggukan sambil menatapnya, "Kakak ipar, tolong periksa Ermao dengan baik. Apakah ini masalah besar?"
"Pertanyaanmu itu sulit kujawab. Ermao sudah jatuh pingsan, ini menyangkut nyawa, mana mungkin masalah kecil. Kita tunggu tabib datang untuk memeriksa penyebab pingsannya. Soal ayam tua ini, jangan dimakan," ucap Lin Jinxia dengan nada tegas sambil melirik ayam yang sudah dicabuti bulunya itu.
Orang-orang yang ada di sana belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka menunggu kedatangan tabib dengan perasaan cemas. Hanya setelah diperiksa tabib, penyebabnya akan diketahui.
Tak lama kemudian, Changqing dan Chang'an datang bersama seorang tabib. Setelah memeriksa denyut nadi Wang Ermao, tabib itu berkata, "Sepertinya dia tidak sedang sakit. Kemarin saya masih melihat Ermao bekerja di ladang, dia sehat-sehat saja. Bagaimana bisa tiba-tiba pingsan? Apa dia memakan sesuatu yang tidak seharusnya?"
Sesuatu yang tidak seharusnya?
"Ti-tidak ada. Ermao baru saja pulang dari luar dan langsung sibuk membersihkan ayam ini, lalu tiba-tiba pingsan," jawab Song Yan'er dengan samar. Ia tidak berani langsung mengatakan ayam itu beracun, apalagi menyebut-nyebut soal keluarga Zhao.
Tadi malam, kabar hilangnya ayam milik keluarga Zhao sudah menjadi buah bibir. Jika ia membuat keributan sekarang dengan menuduh ayam itu beracun dan berasal dari keluarga Zhao, ia khawatir keluarga Zhao yang licik itu justru akan balik menuduh keluarganya yang melakukan sesuatu.
"Nyonya Song, jangan terlalu cemas. Saya akan mencoba akupunktur untuk Ermao," kata sang tabib.
"Syukurlah, dia tidak dalam bahaya besar. Hanya pingsan, nyawanya tidak terancam," lanjut tabib tersebut sambil mengeluarkan tabung bambu kecil dari lengan bajunya, lalu mengambil beberapa jarum perak yang lebih panjang dari jarum jahit kasur.
Melihat jarum sepanjang itu, Lin Jinxia merasa merinding. Menakutkan sekali! Ia memberi isyarat kepada Song Yan'er.
"Sudah tidak apa-apa. Kalian semua bisa kembali beraktivitas, jangan sampai pekerjaan di rumah terbengkalai," ujar Song Yan'er kepada kerumunan orang di halamannya.
Setelah halaman sepi, ia dan tabib memapah Wang Ermao ke dalam kamar. Lin Jinxia terus mondar-mandir di halaman. Ia menatap ayam mati di lantai itu dengan penuh tanya, bagaimana bisa Ermao keracunan padahal ia merasa baik-baik saja?
Tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari luar. Ia mendongak dan mendapati wajah tampan Cheng Wangyuan di depan mata. Pria itu tampak bermandi keringat karena terburu-buru, butiran keringat halus membasahi dahinya.
"Kenapa kau kemari?" tanya Lin Jinxia heran. Bukankah seharusnya dia di rumah menyalin dokumen?
"Ayah pulang dan memberitahuku. Bagaimana keadaan Ermao?" Cheng Wangyuan melihat ke sekeliling, tidak mendapati Wang Ermao, tetapi justru melihat ayam mati yang tergeletak di lantai. Ekspresinya langsung berubah, penuh kewaspadaan!
Lin Jinxia menggelengkan kepala sambil menguap bosan, "Tabib sudah memeriksanya, katanya nyawanya tidak terancam, namun dia menduga Ermao keracunan."
"Keracunan?"
"Apakah saat kau datang dia sudah terkapar?"
"Iya, Chang'an dan Changqing bisa menjadi saksi. Kenapa nada bicaramu seperti itu? Aku dan Ermao tidak punya dendam, seolah-olah kau menuduh aku yang meracuninya!"