Bab Tiga Puluh Dua: Petunjuk
Halaman (1/3)
Lin Jinxia langsung mengenalinya.
Pasti Zhao Huanhuan.
Keluarga Zhao baru saja dihukum cambuk oleh Hakim Kabupaten Chu, jadi di seluruh desa hanya keluarga merekalah yang berjalan terpincang-pincang.
Ia mendengar kabar bahwa bokong Nyonya Niu telah membusuk hingga tak lagi menyerupai manusia. Baru beberapa hari terbaring untuk memulihkan diri, entah karena Kakek Zhao kurang merawatnya atau karena cuaca terlalu panas, tubuhnya malah dipenuhi luka baring.
Itu masih belum seberapa.
Selama dua hari setelah mereka dipapah pulang ke desa oleh para kerabat, keluarga yang terdiri atas tiga orang itu bahkan harus hidup dari sesuap nasi ke sesuap nasi berikutnya.
Kaki Kakek Zhao dan Zhao Huanhuan sama-sama sakit sampai-sampai tak mampu turun dari ranjang.
Mengingat berbagai hal yang pernah dilakukan keluarga Zhao, Lin Jinxia mencibir dalam hati.
Rasain!
Dengan susah payah, ia membawa seember besar air ke tepi ladang.
Dari kejauhan, kedua anak itu sudah melihatnya datang. Mereka pun berlari kecil menyambutnya.
“Ibu, kenapa tidak beristirahat di rumah? Untuk apa datang kemari? Berat sekali membawa air sebanyak itu.”
“Aku bantu!”
Changqing dan Changan, dua bocah kecil itu, terus berceloteh sepanjang jalan. Mereka berdesakan dengan tangan yang sibuk hendak merebut ember dari tangan ibunya.
Lin Jinxia berkata sambil tersenyum lebar, “Aku juga tidak mungkin terus-menerus berdiam diri di kamar. Kalau terlalu lama, orang bisa menjadi tidak berguna. Beberapa hari ini aku sibuk membantu orang melihat peruntungan, jadi pekerjaan di ladang terbengkalai.”
“Nyonya Lin, jangan bicara begitu. Hasil panen di ladang ini memang bisa bernilai berapa? Tidak sepadan jika sampai membuatmu kelelahan!”
Mo Guirong menyeringai lebar. Ia berjinjit lalu berteriak ke arah kejauhan, “Ayah anak-anak, Nyonya Lin datang mengantarkan air untuk kita! Cepat hentikan pekerjaanmu sebentar, kemari minum dan beristirahat!”
Lin Jinxia menggunakan gayung untuk menuangkan air ke mangkuk Chang’an dan Changqing.
Ia duduk di tepi ladang, mendongakkan kepala menatap langit.
Langit di tempat ini sangat berbeda dari langit di ruang tempat tinggalnya.
Meskipun berada di tengah malam, pandangan di hadapannya tetap terasa luas dan sekelilingnya terang.
Bulan tampak besar.
Angin berembus melintasi rerumputan, membawa semerbak tanah ke dalam hidungnya, bercampur dengan suara jangkrik dan burung di telinga. Sungguh menenangkan.
“Nyonya Lin bahkan sengaja memasukkan daun mint ke dalam air minum ini. Sungguh perhatian sekali!”
Mo Guirong terus memujinya.
Belakangan ini, pasangan Mo Guirong dan Cheng Er semakin menyukai Lin Jinxia.
Dalam hati, mereka bahkan semakin yakin bahwa keputusan membawa Lin Jinxia masuk ke keluarga mereka dahulu merupakan keputusan yang paling tepat.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Adapun berbagai hal tidak menyenangkan yang terjadi sebelumnya, itu tak lebih dari ujian yang diberikan Langit kepada keluarga mereka.
“Ayah, Ibu, belakangan ini kalian harus lebih berhati-hati saat bekerja.”
Begitu Lin Jinxia mengucapkan kalimat itu, Cheng Er dan istrinya menatapnya dengan wajah penuh keheranan.
Ucapan orang lain mungkin tidak penting.
Siapa yang tidak tahu bahwa perkataan Lin Jinxia selalu menjadi kenyataan?
Tak pernah ada satu pun ucapannya yang sia-sia.
Mo Guirong tampak cemas dan muram saat memandangnya. “Nak, ada apa? Apakah Ibu atau ayahmu akan mengalami penyakit atau bencana?”
“Bukan, bukan begitu. Malam ini, ketika datang mengantarkan air kepada kalian, aku melihat Zhao Huanhuan bersembunyi-sembunyi di dekat pintu rumah kita. Aku juga tidak tahu apa yang hendak dilakukannya.”
Lin Jinxia menatap mereka berdua dengan geli sekaligus tak berdaya.
Pada akhirnya, agar kedua orang tua itu merasa tenang, ia sengaja menambahkan, “Ibu, kalau benar-benar ada masalah di keluarga kita, aku pasti akan lebih cemas daripada kalian. Kita ini satu keluarga. Sekalipun telapak tangan terputus, uratnya tetap tersambung.”
Mendengar itu, hati Mo Guirong terasa sangat lega.
Namun…
Tiba-tiba Cheng Er menampakkan senyum yang agak licik. “Nyonya Lin, sekalian lihatkan peruntungan Cheng Wangyuan. Bagaimana kira-kira hasilnya dalam ujian negara berikutnya?”
Ujian negara?
Lin Jinxia menggaruk kepalanya. Ia agak kesulitan dan tidak berani mengangkat pandangan untuk menatap mata Cheng Wangyuan secara langsung.
Bukan karena ia tidak mampu melihatnya. Hanya saja, kenyataannya terlalu kejam. Kalau benar-benar ia katakan, dengan hati Cheng Wangyuan yang rapuh seperti kaca, apakah ia sanggup menerimanya?
“Nasib berada di tangan sendiri. Mana mungkin seseorang dapat memutuskannya hanya dengan beberapa patah kata?”
Cheng Wangyuan meliriknya lalu berkata dengan nada datar, tak dingin tetapi juga tak hangat.
Namun, sekalipun Lin Jinxia tidak mengatakan apa-apa, reaksinya sudah cukup membuat kedua orang tua itu samar-samar menebak kebenarannya.
Wajah mereka langsung dipenuhi kesedihan, disertai keluhan dan helaan napas panjang.
Dengan suara sangat lirih, Mo Guirong bergumam, “Wangyuan hanya punya cita-cita sebesar itu. Kalau kali ini dia kembali gagal…”
“Jangan asal bicara! Putraku sangat berbakat dalam kesusastraan, sejak lahir memang ditakdirkan untuk menjadi orang terpelajar. Dia bahkan belum mengikuti ujian, mengapa kau sudah berkata begitu?” Cheng Er buru-buru memberi isyarat kepada Mo Guirong.
Namun, daerah pedesaan dan ladang itu begitu terbuka. Sekecil apa pun suara mereka, tetap saja terdengar oleh Cheng Wangyuan.
Cheng Wangyuan menundukkan kepala, patah semangat seperti terong yang layu diterpa embun beku.
Begitu tiba di rumah, ia kembali menyalakan lampu dan belajar hingga larut malam.
Di kamar yang memang sudah sempit itu, Lin Jinxia mendengar suara halaman buku yang dibolak-balik tanpa henti. Suara itu begitu mengganggu hingga ia tidak dapat tidur nyenyak sepanjang malam.
Selama beberapa hari berikutnya, selain bekerja, Cheng Wangyuan hanya membaca dan belajar.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Kalau membicarakan kegigihan dan kerja keras, dialah orang nomor satu.
Lin Jinxia melihatnya, tetapi hatinya justru semakin cemas.
Terkadang, sekeras apa pun seseorang berusaha, jika ia mengerahkan tenaga di tempat yang salah, belajar selama sepuluh tahun pun tetap akan sia-sia.
Terlebih lagi, Lin Jinxia dapat melihat bahwa Cheng Wangyuan belajar hanya dengan cara menghafal mati. Ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh menyukai kegiatan itu.
Semata-mata mengandalkan hafalan, sekalipun ia berhasil meraih gelar sarjana tingkat awal, dengan bakatnya yang terbatas dan nasib buruknya yang tak berpihak, melanjutkan jalan itu pun tetap tidak akan membuahkan hasil.
Tubuh Lin Jinxia juga benar-benar tidak sanggup menahannya.
Cuaca begitu panas dan gerah. Walaupun belakangan ini hanya dua atau tiga orang yang datang menemuinya setiap hari, tidur yang tidak nyenyak membuatnya tidak bersemangat pada siang hari.
Siang itu, tepat setelah semua orang meletakkan mangkuk dan sumpit, Lin Jinxia melihat Cheng Wangyuan kembali berjalan menuju kamar sebelah.
Ia pun memutuskan untuk berbicara baik-baik dengan Cheng Wangyuan!
“Cheng Wangyuan.”
Lin Jinxia berjalan lurus menghampirinya sambil membawa sebuah pir liar yang renyah dan manis.
Pir itu dipetik Chang’an dan Changqing ketika mereka berjalan-jalan di luar tadi.
Cheng Wangyuan bahkan tidak meliriknya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berkata, “Aku sedang sibuk. Tidak mau makan.”
Baiklah.
Dengan tegas, Lin Jinxia mengambil buah pir itu lalu memasukkannya ke dalam mulut sendiri. “Apa kau tidak pernah berpikir untuk melakukan hal lain selain mengikuti ujian negara?”
“Bagi anak dari keluarga miskin, selain belajar dan mengikuti ujian negara demi mengubah nasib, apa lagi yang bisa dilakukan untuk menentang takdir?”
Cheng Wangyuan tiba-tiba mengangkat pandangan. Sepasang mata hitamnya yang dalam dan tak berdasar menatap Lin Jinxia tanpa berkedip.
Perkataan itu memang tidak salah.
Masalahnya, ada begitu banyak jalan dalam hidup, dan setiap bidang dapat melahirkan orang hebat.
Mengapa harus memaksakan diri menempuh jalan yang jelas-jelas tidak cocok?
“Menurutku, jalan hidup harus ditempuh oleh diri sendiri. Kalau kau suka belajar dan senang menulis, tentu tidak ada masalah. Keluarga akan bersusah payah menyekolahkanmu. Selama kau berhasil meraih gelar dan kehormatan, semua pengorbanan itu akan sepadan.”
“Namun, lihatlah keadaan keluarga kita. Kita masih harus menghidupi dua anak, dan Changqing serta Changan juga semakin besar setiap hari. Kalau kali ini kau berhasil lulus, tentu semuanya akan mudah dibicarakan. Tapi kalau kau kembali gagal, apakah kau akan menghabiskan seluruh hidupmu tanpa melakukan apa-apa selain terus bersikeras mengikuti ujian negara?”
Lin Jinxia meletakkan sisa bonggol pir di atas meja, lalu melanjutkan, “Lihatlah, pir tetaplah pir. Kalau kau memaksanya tumbuh menjadi apel, bukankah itu sama saja dengan mempersulit buah pir ini?”