Bab Enam Belas: Uangmu, Tak Akan Kuterima.
Halaman (1/3)
Nyonya Zhang tercengang dan terdiam.
Sebelum sempat mengatakan apa pun, Cheng Wangyuan kembali menambahkan, “Kau juga tahu sendiri, dia memang tidak pernah becus mengurus sesuatu, jadi—”
“Anak ini, apa yang kaubicarakan? Aku datang kemari memang khusus untuk berterima kasih kepada Nyonya Lin! Kalau bukan karena Nyonya Lin menyarankan agar Chen Xiao lebih sering keluar rumah, mana mungkin kami menemukan jodoh sebagus ini? Chen Xiao akan menikah tanggal lima belas bulan depan!”
Nyonya Zhang berkata dengan wajah ceria dan penuh semangat.
Dengan girang, ia menyodorkan bungkusan permen di tangannya kepada Cheng Wangyuan. “Kau bilang Nyonya Lin tidak becus? Kalau dia tidak becus, berarti di seluruh desa ini tidak ada seorang pun yang bisa diandalkan! Ini permen pernikahan, bawalah dan berikan kepada anak-anak!”
Kini giliran Cheng Wangyuan yang terpaku.
Cukup lama ia tak mampu mencerna perkataan Nyonya Zhang. Orang yang dimaksudnya itu benar-benar Nyonya Lin?
Chen Xiao sungguh akan segera menikah?
Setelah Nyonya Zhang menemui Lin Jinxia dan menceritakan seluruh duduk perkaranya, Cheng Wangyuan akhirnya mengembuskan napas panjang penuh kelegaan.
Untung saja kali ini Nyonya Lin justru mendapat hasil baik secara kebetulan dan tidak menimbulkan masalah besar.
Kalau tidak, bagaimana mungkin keluarga mereka bisa tetap tinggal di desa?
Namun, setelah mendengar kabar baik dari keluarga Chen, wajah Nyonya Lin sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya berkata dengan tenang, “Meskipun itu pernikahan keduanya, tetap saja ini bisa dibilang jodoh yang sangat baik. Seandainya Nyonya Liu belum pernah menikah sebelumnya, keluarga seperti itu bahkan tidak akan mampu dijangkau oleh keluarga Chen.”
“Benar sekali ucapanmu itu. Chen Xiao bahkan berkata ingin datang sendiri untuk berterima kasih kepadamu. Hanya saja, karena pernikahannya sudah dekat, dia benar-benar tidak punya waktu, jadi akulah yang datang.”
Nyonya Zhang menarik kursi dan duduk dengan wajah penuh semangat.
Ia terus memberi isyarat kepada Chen Rong dengan matanya.
Chen Rong menundukkan kepala dengan canggung, lalu menggaruk pipinya. Setelah cukup lama, barulah ia berkata dengan susah payah, “Nyonya Lin, maukah kau melihat peruntunganku juga? Keluarga kami sudah bertahun-tahun mengalami kesialan. Apa pun yang kami kerjakan selalu gagal. Bahkan persediaan makanan untuk musim dingin tahun ini sampai berkecambah. Sungguh…”
Saat menyebutkan hal yang memalukan itu, Chen Rong berulang kali menghela napas.
Begitu melihat Chen Rong, Lin Jinxia sudah dapat menebak maksud kedatangan mereka hari ini. Ia tentu tahu bahwa Chen Rong ingin meminta dirinya melihat peruntungan.
Di atas kepala Chen Rong, ia melihat segumpal hawa merah yang samar. Dibandingkan dengan milik Chen Xiao, hawa itu jauh lebih lemah.
“Hmm… ini…”
Lin Jinxia sengaja menundukkan wajah dengan ekspresi serba salah. Ia tidak segera menjawab.
Nyonya Zhang yang memahami keadaan buru-buru menyenggol siku Chen Rong. “Ramalan tidak boleh diberikan tanpa imbalan!”
Chen Rong menyerahkan sebuah kantong kain merah yang telah disiapkannya. Di dalamnya terdapat dua tahil perak.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Nyonya Zhang menambahkan, “Nyonya Lin, tolong lihatkan peruntungan Bibi Rong. Kami ini bukan orang luar. Tenang saja, kami pasti tidak akan menceritakan hal ini kepada orang lain. Aku tahu, membocorkan rahasia langit berarti harus menanggung akibatnya.”
“Bibi Rong, belakangan ini apakah kalian sedang berencana berdagang dengan seseorang?”
Lin Jinxia memiringkan kepala, lalu menatap Chen Rong dengan sungguh-sungguh.
Mendengar pertanyaan itu, Chen Rong langsung menepuk pahanya. Matanya memancarkan cahaya aneh. “Luar biasa! Bagaimana kau bisa tahu? Suamiku belakangan ini berencana bekerja sama dengan seseorang untuk mendatangkan sedikit bahan pangan. Hujan deras kali ini membuat banyak keluarga kehilangan persediaan karena semuanya terendam dan tidak bisa dimakan. Ah, sudahlah, jangan dibicarakan. Harga bahan pangan juga tidak murah. Setelah menghitung kerusakan dan biaya pengangkutan bolak-balik, hampir tidak ada keuntungan.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kalian menggantinya dengan benih pangan? Melihat keadaan tanah sekarang, menanam bahan pangan seperti tahun-tahun sebelumnya pasti tidak akan berhasil. Padi justru cukup baik. Selama ini juga tidak banyak orang di daerah kita yang menanam padi.”
Lin Jinxia menganalisis keadaan itu untuk mereka dengan alasan yang masuk akal.
Chen Rong segera mengangguk kuat-kuat. “Ucapan Nyonya Lin masuk akal! Tunggu saja, aku akan pulang dan membicarakannya dengan suamiku. Sekarang harga benih padi sedang paling murah. Bukankah keluarga besan kita membuka toko bahan pangan? Nanti kita juga sudah punya tempat untuk menjualnya!”
Nyonya Zhang dan Chen Rong datang dengan penuh semangat, lalu pergi dengan kegembiraan yang sama.
Lin Jinxia memperkirakan bahwa mereka mungkin bisa mendapatkan sedikit keuntungan dari penjualan benih pangan.
Namun, mereka jelas tidak akan mendadak menjadi kaya raya.
Bagaimanapun, pemerintah pasti akan segera mengambil tindakan untuk menangani bencana banjir.
Karena itu, ia secara khusus berpesan kepada Chen Rong agar membeli benih pangan sebanyak yang tersedia pada pengiriman pertama, tetapi sama sekali tidak melakukan pembelian tambahan.
Di halaman, Cheng Wangyuan mengamati perempuan di hadapannya dengan saksama.
Tadi ia mendengar baik-baik perkataan Lin Jinxia. Analisisnya ternyata bukan omong kosong dan cukup masuk akal.
Namun, semakin normal sikap Nyonya Lin, semakin aneh pula perasaan Cheng Wangyuan terhadapnya.
“Setelah menerima uang mereka, apa kau tidak takut kalau semua ucapanmu ternyata omong kosong dan tidak membuahkan hasil? Bagaimana kalau mereka datang mencarimu?”
Cheng Wangyuan membuka bibir tipisnya. Tatapannya yang muram dan dalam tertuju kepadanya.
Lin Jinxia tak kuasa mengecap lidah. Setelah mengembuskan napas panjang, ia berkata dengan sungguh-sungguh, “Tenang saja, Cheng Wangyuan. Kalau benar-benar terjadi sesuatu yang buruk akibat perkataanku, kau boleh langsung menceraikanku dan mengusirku tanpa membawa apa pun. Aku, Lin Jinxia, tidak akan mengucapkan sepatah kata pun untuk menolak!”
Perceraian?
Bukankah sebelumnya perempuan ini sampai menangis, merajuk, bahkan mengancam bunuh diri agar tidak meninggalkan keluarga Cheng?
Sekarang ia malah bisa mengucapkannya dengan begitu terus terang.
Ketika Lin Jinxia bangkit dan hendak pergi, Cheng Wangyuan jelas melihat bahwa perutnya tampak sedikit mengecil.
Sebelumnya, perut Lin Jinxia begitu besar dan berlebihan, bahkan melebihi perut perempuan yang mengandung sepuluh bulan. Punggungnya yang kekar dan tubuhnya yang lebar hampir lebih besar daripada daun pintu.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Namun, baru saja ia melihat pakaian yang dikenakan Lin Jinxia tampak sedikit longgar. Tidak lagi melekat ketat di tubuhnya seperti sebelumnya.
“Besok pagi carikan aku pedati sapi. Aku ingin membawa kedua anak itu ke kota.”
Lin Jinxia sudah sampai di pintu halaman ketika tiba-tiba teringat sesuatu. Ia berbalik dan menoleh kepada Cheng Wangyuan.
Tanpa berpikir, Cheng Wangyuan langsung bertanya, “Untuk apa pergi ke kota?”
Lin Jinxia meraih kantong kain merah itu, lalu merobeknya dengan kedua tangan hingga terdengar suara kain terkoyak.
Ia mengeluarkan dua tahil perak dari dalamnya.
“Membelikan mereka makanan, sekalian membeli sedikit daging. Bukankah kau juga bilang persediaan beras di rumah sudah habis?”
Ia mengatakannya dengan acuh tak acuh, lalu menyelipkan dua tahil perak itu ke tangan Cheng Wangyuan.
Cheng Wangyuan paling memahami harga-harga barang di daerah ini. Jika ia yang berbelanja, tentu tidak akan keliru.
Selain itu, Cheng Wangyuan selalu sangat cermat dalam mengatur pengeluaran, jadi Lin Jinxia merasa tenang menyerahkan uang itu kepadanya.
Lagipula, ia bahkan tidak memiliki tempat untuk menyimpan uang di tubuhnya. Keadaan rumah mereka memang sudah tidak berkecukupan, dan besok ia masih harus membawa kedua anak itu. Bagaimana kalau uang tersebut sampai hilang?
Pemandangan itu membuat Cheng Wangyuan terpaku.
Perempuan itu ternyata memberikan uang milik orang lain kepadanya?
Ini benar-benar pertama kalinya dalam sejarah.
Sebelumnya, kalau Lin Jinxia tidak meminta uang kepada Cheng Wangyuan saja sudah terbilang baik.
“Jangan merasa terbebani. Aku juga sudah berjanji kepadamu. Kalau benar-benar terjadi sesuatu yang buruk pada orang lain karena perkataanku dan mereka datang menuntut, kau tinggal bilang bahwa kau sudah menceraikanku. Dengan begitu, masalah ini tidak ada hubungannya dengan keluarga Cheng.”
Lin Jinxia mengatakannya dengan terus terang.
Setelah mengembuskan napas panjang, Cheng Wangyuan kembali menyodorkan dua tahil perak itu kepadanya. “Itu uangmu. Aku tidak mau menerimanya.”
Halaman (3/3)