Bab Satu: Lahir Kembali Sebagai Gadis Buruk Rupa
Rasa sesak yang membabi buta membangkitkan naluri bertahan hidup yang paling primitif. Lin Jinxia mengepakkan kaki dan tangannya sekuat tenaga, berusaha untuk mengapung ke permukaan air. Namun, pemilik tubuh aslinya sangat ingin mati, bahkan sampai mengikat kedua kakinya dengan tali rami.
Saat kepalanya berhasil menyembul ke permukaan air, sayup-sayup dia mendengar suara teriakan minta tolong yang panik.
"Tolong! Ada yang terjun ke sungai!"
"Cepat kemari, tolong!"
Tak lama kemudian, terdengar suara ceburan air saat seseorang melompat ke dalam sungai. Tubuhnya diangkat, dan saat hidungnya kembali menghirup udara segar, rasa sesak yang menyiksa itu pun seketika sirna.
Pikiran Lin Jinxia masih agak linglung, dipenuhi oleh ingatan-ingatan yang bukan miliknya.
Dia dibaringkan di atas lempengan batu di tepi sungai. Begitu orang-orang yang berkerumun melihat wajahnya, mereka langsung membubarkan diri sambil berdecak sinis, "Ternyata si gendut kejam itu. Kalau tahu dia, buat apa susah-susah menolongnya? Biar saja mati sekalian, jadi tidak ada lagi yang tersiksa di rumah!"
Seiring dengan memudarnya makian tersebut di kejauhan, tempat itu pun segera menjadi sepi.
Lin Jinxia masih berbaring di atas batu besar di tepi sungai, sementara ingatan di kepalanya hampir sepenuhnya terserap.
Pemilik tubuh asli ini menikah dan datang ke Desa Lihua lima tahun lalu. Saat itu, dia dinikahkan dengan Cheng Wangyuan sebagai pernikahan penolak bala.
Kala itu, Cheng Wangyuan pergi berburu ke gunung dan tidak sengaja bersinggungan dengan sesuatu yang gaib. Tubuhnya yang semula kekar kian hari kian kurus kering, dan kesadarannya pun menjadi linglung.
Orang tua Cheng melihat putra mereka tidak kunjung sembuh meski sudah diobati dengan berbagai cara. Akhirnya, karena putus asa, mereka menemui seorang dukun wanita di desa tetangga. Dukun itu menyimpulkan bahwa Cheng Wangyuan diganggu oleh roh jahat yang terlalu kuat, sehingga mereka harus mencari seorang wanita dengan nasib yang sangat kuat untuk menangkalnya.
Maka, keluarga Cheng mulai mencari calon pengantin penolak bala tanpa kenal lelah. Namun, seluruh penduduk desa di sekitar tahu bahwa Cheng Wangyuan sudah di ambang kematian. Menikahkan anak perempuan mereka ke sana sama saja dengan mengirimnya menjadi janda. Pada saat itu, tidak ada seorang pun yang sudi.
Hanya orang tua Lin yang datang menawarkan diri. Selain wajahnya yang kurang menarik, Lin Jinxia juga memiliki berat badan mencapai delapan puluh kilogram! Karena alasan itulah dia masih belum menikah meski sudah berusia delapan belas tahun.
Orang tua Lin sangat ingin menyingkirkan beban berat ini. Mereka tidak peduli meskipun dia dinikahkan sebagai penolak bala, bahkan menggunakan kesempatan ini untuk memeras sejumlah besar uang perak dari keluarga Cheng.
Setelah menikah, Lin Jinxia menggunakan cara yang licik agar bisa hamil anak kembar. Sejak saat itu, meskipun kesehatan Cheng Wangyuan berangsur membaik hingga pulih seperti sedia kala, dia sangat membenci Lin Jinxia.
Akibatnya, Lin Jinxia melampiaskan kemarahannya kepada kedua anaknya dan juga mertuanya.
Lama-kelamaan, Lin Jinxia menjadi sosok wanita gendut yang dibenci semua orang, sekaligus dikenal sebagai wanita ketus yang suka mengamuk di desa tersebut.
Kali ini, pemilik tubuh asli nekat terjun ke sungai karena tidak sengaja mendengar Cheng Wangyuan berdiskusi dengan orang tuanya untuk menceraikannya. Dia pun merencanakan siasat mengorbankan diri ini. Namun, dia meremehkan kemampuannya menahan napas hingga akhirnya benar-benar tewas tenggelam, memberikan kesempatan bagi Lin Jinxia yang sekarang untuk bertransmigrasi ke tubuh ini.
Setelah merapikan ingatan pemilik tubuh asli, Lin Jinxia mendesah pelan. Pakaian di tubuhnya sudah basah kuyup, dan embusan angin yang tiba-tiba lewat membuatnya menggigil kedinginan.
Jika dia diceraikan, dia pasti tidak bisa kembali ke rumah orang tuanya, mengingat bagaimana mereka membuangnya seperti sampah dulu.
Saat ini, dia tidak memiliki uang sepeser pun dan belum menemukan cara untuk mencari nafkah. Setelah menimbang-nimbang, tetap tinggal di keluarga Cheng tampaknya adalah pilihan terbaik.
Dia bangkit berdiri dengan susah payah. Di saat pikirannya masih berputar memikirkan bagaimana menjalani hidup ke depannya, dari kejauhan dia melihat seorang pria bertubuh tinggi berdiri di ujung gang, menatapnya dengan dingin. Kedua tangannya masing-masing menggandeng seorang anak laki-laki kecil. Wajah kedua anak itu bagaikan pinang dibelah dua dengan Cheng Wangyuan, dan ekspresi jijik di wajah mereka pun sama persis dengan pria itu.
Baru saja Lin Jinxia hendak menyapa mereka, pria itu sudah melayangkan tatapan jijik ke arahnya, lalu berbalik pergi sambil menuntun kedua putranya.
"..."
Baiklah, dia mengerti. Kebencian Cheng Wangyuan padanya bukanlah pura-pura.
Namun, sebelum rasa kecewa menyelimuti Lin Jinxia terlalu lama, dia menyadari bahwa di atas kepala ayah dan kedua anak yang berjalan di depannya itu tampak samar-samar kepulan kabut hitam!
Penemuan ini membuat Lin Jinxia hampir menangis karena gembira.
Di dunianya yang dulu, dia memiliki kemampuan untuk melihat keberuntungan orang lain. Berdasarkan kabut merah atau hitam yang muncul di atas kepala seseorang, dipadukan dengan apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat, dia bisa mengetahui apakah mereka akan berhasil atau gagal, sekaligus membantu mereka menghindari marabahaya.
Di dunia modern, selain bekerja seperti biasa, Lin Jinxia mengandalkan kemampuan ini untuk meramal nasib orang lain. Selama bertahun-tahun, dia berhasil menabung cukup banyak uang, hanya saja rumah baru yang dibelinya belum sempat selesai didekorasi sebelum dia bertransmigrasi ke tempat ini.
Rasa frustrasi Lin Jinxia tidak bertahan lama. Dia melangkah dengan berat mengikuti di belakang Cheng Wangyuan, "Tunggu aku!"
Dia ingin memperingatkan Cheng Wangyuan bahwa peruntungannya akhir-akhir ini sedang tidak baik.
Namun di luar dugaan, Cheng Wangyuan menghentikan langkahnya. Sebelum Lin Jinxia sempat berbicara, pria itu sudah menyindir dengan sinis, "Nyonya Lin, sampai kapan kau mau terus membuat keributan? Dulu kau menyiksa anak-anak, sekarang kau malah bersandiwara dengan menyakiti diri sendiri. Aku benar-benar telah meremehkanmu."
Kata-kata yang sudah berada di ujung lidah Lin Jinxia terpaksa ditelannya kembali.
Saat ini, jika dia bersikap lemah lembut, hal itu justru akan membuat Cheng Wangyuan semakin jijik padanya.
Harus diakui, ketampanan Cheng Wangyuan memang luar biasa. Jika bukan karena pernikahan penolak bala itu, dengan penampilan pemilik tubuh asli yang seperti ini, rasanya sulit bahkan hanya untuk sekadar berbicara sepatah kata pun dengannya.
Rasa sesak dan getir merebak di dalam dadanya. Lin Jinxia menduga ini adalah sisa emosi dari pemilik tubuh asli yang belum sepenuhnya hilang.
Karena itu, Lin Jinxia menatap mata tajam Cheng Wangyuan dan berkata dengan sangat tenang, "Apakah kau pikir aku ingin menjadi seperti ini? Jika kau tidak selalu menganggapku seperti angin lalu, mengabaikanku, dan membuat perasaanku terabaikan, apakah aku akan bertingkah seperti ini?"
"Ya, pernikahan penolak bala ini memang bukan keinginanmu, dan melahirkan kedua anak itu juga karena aku menggunakan kelicikan. Tapi, bukankah fakta bahwa kau kembali sehat itu nyata? Dulu tidak ada seorang pun yang sudi menikah denganmu untuk menangkal nasib buruk, bukankah hanya aku yang bersedia datang? Kalau aku tidak datang, kau pasti sudah mati sejak lama!"
"Habis manis sepah dibuang! Di mana ada aturan seperti itu di dunia ini!"
"Jika kau berani menceraikanku, aku akan membeberkan semua perbuatan kalian kepada orang-orang, agar keluarga Cheng kalian tidak bisa lagi berlagak suci!"
Lin Jinxia menumpahkan semua kekesalannya tanpa memedulikan wajah Cheng Wangyuan yang kian menggelap.
Dia melangkah lebar-lebar dan langsung pulang ke rumah. Pak Cheng dan Mo Guirong sedang menjemur rebung kering di halaman. Mereka terkejut saat melihat Lin Jinxia kembali dengan marah dan sekujur tubuhnya basah kuyup.
Namun selama bertahun-tahun ini, Lin Jinxia sudah terbiasa bersikap semena-mena dan kasar di rumah, dan hanya menciut seperti burung puyuh di hadapan Cheng Wangyuan. Oleh karena itu, mertuanya pun agak segan dan takut padanya, khawatir jika salah melangkah akan membuat Lin Jinxia murka.
Di luar dugaan mereka, Lin Jinxia hari ini tampak berbeda dari biasanya. Dia bahkan menyunggingkan senyum tipis ke arah mereka, "Ayah, Ibu."
Setelah itu, dia menambahkan, "Akhir-akhir ini cuaca sangat panas, biar aku dan Wangyuan saja yang mengerjakan pekerjaan di sawah."
Sebab, Lin Jinxia melihat bahwa di atas kepala Pak Cheng dan Mo Guirong juga diselimuti kabut hitam yang pekat.
Hal ini membuatnya merasa cemas. Meskipun bisa melihatnya, dia tidak tahu persis kemalangan apa yang akan terjadi, sehingga dia hanya bisa memperingatkan mereka secara tidak langsung dengan cara ini.
Mo Guirong yang pertama kali tersadar dari keterkejutannya. Dia mengangguk sambil tersenyum, meski senyum itu jelas-jelas menyiratkan rasa takut, "Ah, iya, baiklah."
Lin Jinxia merapatkan bibirnya dengan dada terasa sesak. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup.
Tak lama kemudian, Cheng Wangyuan pulang ke rumah. Kedua putranya sedang bermain di luar halaman.
Pak Cheng melambaikan tangan kepada Cheng Wangyuan, memberi isyarat agar putranya itu mendekat.
Cheng Wangyuan merapatkan bibirnya. Mengingat kembali kata-kata Lin Jinxia membuat keningnya berkerut dalam tanpa sadar.
Pak Cheng bertanya, "Apa yang terjadi? Mengapa pakaian Nyonya Lin basah kuyup saat pulang tadi?"
Cheng Wangyuan menghela napas berat, "Dia melompat ke sungai dan diselamatkan orang."
"Dia juga bilang, jika aku menceraikannya, dia akan membeberkan kepada semua orang bahwa kita berniat membuangnya setelah memanfaatkannya."
Wajah Pak Cheng yang kurus kering seketika dipenuhi kecemasan. Mengingat Lin Jinxia berkata demikian, kemungkinan besar pembicaraannya dengan Cheng Wangyuan mengenai rencana perceraian telah terdengar oleh menantunya itu.
Jika sudah begitu, rencana menceraikan istrinya tidak mungkin dilanjutkan untuk saat ini.
Mengenang peristiwa pernikahan penolak bala bertahun-tahun yang lalu, Pak Cheng akhirnya hanya bisa menghela napas panjang, "Dulu, ini semua adalah kesalahan ayah dan ibumu."
Mendengar hal itu, Cheng Wangyuan hanya terdiam membisu.
Kejadian itu sudah berlalu bertahun-tahun, tidak ada gunanya lagi untuk diungkit.
Ketika Zhao Huanhuan datang berkunjung, pemandangan itulah yang menyambutnya. Anggota keluarga Cheng tampak murung, seolah-olah sedang terjebak dalam dilema yang sulit. Mengingat kabar yang baru didengarnya tentang Lin Jinxia yang melompat ke sungai, dia yakin hal itu pasti membuat Kak Wangyuan semakin tidak senang.
Memikirkan hal itu, senyum di wajahnya semakin mengembang. Dengan ramah dia menyapa orang tua Cheng, "Paman, Bibi, kalian semua ada di rumah?"
Cheng Wangyuan merasa tidak nyaman karena terus ditatap olehnya. Dengan alasan hendak pergi ke sawah, dia memikul cangkulnya dan melangkah keluar rumah.
Mo Guirong menariknya untuk duduk di bangku kecil di dekatnya, lalu menuangkan secangkir air dingin untuknya, "Sifat Wangyuan memang seperti itu, jangan dimasukkan ke dalam hati."
Zhao Huanhuan tersenyum penuh pengertian, lalu mengeluarkan dua keping kue kering taosu dari lengan bajunya, "Hari ini aku pergi ke kota dan membeli dua keping kue taosu. Nanti kalian bisa mencicipinya bersama-sama."
Di zaman ini, bisa makan kenyang saja sudah dianggap sebagai berkah yang luar biasa. Kue taosu seperti ini adalah kemewahan yang mungkin tidak akan pernah bisa dinikmati seumur hidup oleh keluarga biasa.
Mo Guirong berulang kali menolak, "Aduh, jangan. Kue taosu ini sangat mahal, bawa pulang saja untuk orang tuamu!"
Tentu saja Zhao Huanhuan tidak membiarkan Mo Guirong mengembalikan kue itu. Setelah mengucapkan beberapa kalimat manis, dia langsung berpamitan pergi, meninggalkan kue taosu tersebut di tangan Mo Guirong.
Mo Guirong menatap punggung gadis itu yang kian menjauh, lalu beralih menatap suaminya, Pak Cheng. Dia mendesah pelan, "Huanhuan benar-benar anak yang baik."
Pak Cheng ikut menghela napas, "Memang benar."
Hanya saja, keluarga Cheng mereka tidak memiliki berkah untuk mendapatkannya.