Bab Dua Puluh Tiga: Menuntut Balas
"Apa pun yang mereka katakan, itu bukan alasan bagimu untuk meludahi orang lain!" Cheng Wangyuan membentak dengan keras.
Di tangannya, ia memegang sebatang ranting bambu setebal jari.
"Ulurkan tanganmu!"
Begitu Cheng Wangyuan mengucapkan perintah itu, Changqing dan Chang'an, kedua bersaudara itu, dengan patuh mengulurkan tangan mereka. Ranting bambu itu tampak tipis, namun jika digunakan untuk memukul, rasanya akan sangat menyakitkan.
Lin Jinxia baru saja mendengar satu atau dua kalimat, namun ia sudah menangkap inti pembicaraan kedua anak itu dan memahami apa yang telah terjadi.
Tepat saat ranting bambu itu hendak diayunkan ke telapak tangan Changqing, ia berteriak dengan lantang, "Berhenti!"
Cheng Wangyuan menoleh dan melihat Lin Jinxia bergegas keluar dari rumah dengan langkah cepat. Ia segera melindungi kedua anak itu di belakang punggungnya, lalu berkata dengan nada tegas, "Mereka berdua hanya membelaku, apa salahnya? Apa kau akan bertepuk tangan jika mendengar orang lain menjelek-jelekkan ibumu di luar sana?"
Changqing dan Chang'an menatap ke arah Lin Jinxia, mata mereka yang besar berkaca-kaca.
Tanpa menunggu Cheng Wangyuan membalas, ia berbalik dan bertanya pada kedua anak itu, "Siapa yang bergosip di luar dan menjelek-jelekkan Ibu? Jangan takut, ceritakan semuanya pada Ibu!"
"Itu... Nenek dari keluarga Zhao. Mereka bilang Ibu adalah penyihir dan penipu."
"Dia juga bilang Ayah dan Nenek adalah orang yang tidak tahu malu dan berkhianat, katanya keluarga kita semua adalah orang jahat."
...
Kedua bersaudara itu bersahut-sahutan. Semakin banyak mereka bicara, wajah Cheng Wangyuan semakin pucat pasi. Cheng yang kedua dan istrinya, yang baru saja keluar dari rumah berniat membantu tetangga sebelah, keluarga Chen, juga mendengar semuanya dengan jelas. Wajah mereka pun menjadi sangat masam.
Lin Jinxia menatap Cheng Wangyuan dan berkata dengan nada serius, "Jika mereka saja berani bergosip di belakang, tindakan Changqing dan Chang'an meludahi mereka itu masih terlalu ringan! Kedua anak ini membela dirimu, membela keluarga kita, apa yang salah? Mengapa kau langsung memukul mereka sebelum bertanya dengan jelas?"
Changqing merasa sedih, hidungnya terasa perih hingga air mata menetes tak tertahankan.
Lin Jinxia mengangkat sapu tangan di tangannya dan dengan sigap mengusap air mata di sudut mata anak itu, "Jangan takut, ada Ibu di sini!"
"Keluarga Zhao itu... benar-benar tidak punya hati," gumam Mo Guirong setelah terdiam cukup lama.
Cheng yang kedua melambaikan tangan, terdiam sejenak, lalu berkata perlahan, "Mulai sekarang, keluarga kita tidak perlu lagi berhubungan dengan keluarga Zhao!"
Sementara Cheng Wangyuan hanya terdiam seribu bahasa, tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Mereka mungkin bisa menelan amarah ini, tapi Lin Jinxia tidak bisa. Jelas sekali keluarga Zhao yang berkhianat lebih dulu, dan tadinya ia bisa saja mengabaikan semua itu. Namun, setelah insiden sebelumnya di mana Changqing hampir tenggelam karena ulah mereka, kini mereka malah berani menyebarkan fitnah tentang seluruh keluarganya?
"Eh, Lin, kau mau ke mana?" Mo Guirong mendongak dan melihat Lin Jinxia membuka pintu dengan kasar lalu melangkah cepat ke luar.
Cheng yang kedua segera menepuk lengan Cheng Wangyuan, "Cepat, kejar dia!"
Di depan gerbang rumah keluarga Chen, pesta pernikahan sedang berlangsung. Penduduk desa berkumpul di sana, ditambah kerabat keluarga Chen yang datang dari jauh untuk menikmati hidangan pesta.
Niu Yun sedang berbicara dengan penuh keyakinan, air liurnya muncrat ke mana-mana, "Siapa yang tidak tahu kalau pernikahan itu sudah direncanakan sejak lama? Mengapa tiba-tiba dibatalkan? Ini semua karena ulah wanita iblis itu!"
Sebelum Niu selesai bicara, kerumunan orang yang sedang makan di hadapannya tiba-tiba berubah ekspresi. Mereka saling memberi isyarat mata. Niu menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan menoleh ke belakang.
Ia melihat Lin Jinxia datang dengan langkah cepat, wajahnya tampak garang dan penuh amarah. Sambil berjalan, ia menggulung lengan bajunya, "Bibi Niu, coba ulangi apa yang baru saja kau katakan. Siapa yang kau sebut wanita iblis?"
Begitu suara lantang Lin Jinxia terdengar, kerumunan orang yang tadi asyik makan dan tertawa segera membubarkan diri. Mereka semua sadar, sebuah pertarungan sengit akan segera pecah!
Wajah Niu tampak masam, namun ia tetap bersikeras, "Aku tidak menyebut namamu, apa urusannya denganku jika aku ingin bicara tentang siapa pun?"
"Berani-beraninya bergosip di belakang, tidak takut lidahmu keseleo? Keluarga sendiri melakukan perbuatan hina, malah menyebarkan fitnah tentang orang lain. Sudah tua, apa tidak punya rasa malu?"
"Kalau aku jadi kau, aku sudah menabrakkan diri ke pohon sekarang juga. Mata keranjangan sepanjang hari hanya mengawasi rumah orang lain. Pantas saja selama bertahun-tahun tetap miskin, malah datang ke sini menumpang makan dengan muka tembok, sok hebat, cih!"
Lin Jinxia berkacak pinggang, menunjukkan sikap seorang wanita yang tangguh. Ia memaki dengan lantang, kalimatnya mengalir deras tanpa henti. "Untung saja mertuaku dulu tidak menjalin hubungan keluarga dengan orang seperti kalian. Siapa pun yang menjadi besan kalian pasti akan sial seumur hidup!"
"Kau bicara tentang siapa? Lin, bagaimanapun aku ini orang yang lebih tua darimu, bagaimana kau bicara padaku!" Niu sangat marah hingga wajahnya merah padam.
Niu Yun ingin melawan, namun ia harus mempertimbangkan fisiknya sendiri. Ia tahu ia bukan tandingan Lin Jinxia, jadi ia berdiri berjinjit dan berteriak sekeras-kerasnya, "Aduh, lihatlah kemari! Tidak ada keadilan lagi, Lin sedang mengamuk lagi di luar, menindas orang tua yang sudah renta ini!"
Mendengar teriakan Niu, Pak Tua Zhao dan Zhao Tiantian juga bergegas datang dari dalam halaman. Hari ini adalah hari bahagia keluarga Chen, keributan ini membuat keluarga Chen merasa terganggu.
Begitu Nyonya Zhang keluar, tanpa bertanya apa pun ia langsung memaki, "Kami yang menyediakan makan dan minum untuk kalian, keluarga Zhao benar-benar tidak tahu diri! Pagi-pagi sudah berteriak di depan rumah kami. Apa kau mau aku juga menyuruh orang duduk di depan rumahmu dan menangis saat putrimu menikah nanti?"
"Nyonya Zhang, lihatlah baik-baik, si jalang kecil inilah yang memulainya duluan!" Niu menunjuk Lin Jinxia dengan tangan yang gemetar karena marah.
Zhao Huanhuan menerobos kerumunan dan mendorong lengan Lin Jinxia dengan keras, "Aku pikir kau masih punya nurani. Dulu Ayahku menyelamatkan Changqing-mu, tapi kau malah membalas air tuba dengan air susu. Sekarang kau berani menghina ibuku di depan umum, apa kau masih punya rasa malu?"
Lin Jinxia tidak marah. Ia mundur selangkah dan menatap keluarga itu dari atas ke bawah dengan tatapan heran, "Memangnya aku menyebut nama Bibi Niu saat aku memaki tadi? Seumur hidup baru kali ini aku melihat orang yang sengaja mencari makian. Jadi, Bibi Niu, kau mengakui bahwa kau baru saja bergosip di belakang dan menjelek-jelekkan aku?"
"Ya! Aku memang memaki kau, dasar jalang terkutuk!"
"Kau menipu orang dengan kedok bisa meramal, kau menggunakan ilmu hitam untuk membodohi orang, bahkan membuat calon menantuku lari, sehingga putriku sampai sekarang belum menikah. Memaki kau itu masih kurang! Harusnya kau dikurung dalam kerangkeng babi!"