Jilid Pertama Bab 27 Sate Daging
Halaman 1 dari 3
Shen Yin bukannya marah, malah matanya berbinar. Ia mengamati Bibi He dari atas sampai bawah.
“Hubunganmu dengan Guru Song cukup baik? Jangan-jangan kau sedang membohongiku!”
Bibi He adalah seorang janda yang menghidupi diri dengan berjualan sayur. Ia hanya memiliki seorang putri dan tinggal bersama mertuanya. Ia tidak menikah lagi.
Pada zaman dahulu, anak perempuan tidak perlu bersekolah. Shen Yin tidak habis pikir, hubungan apa yang mungkin dimiliki Bibi He dengan Guru Song.
Bibi He mendengus. “Untuk apa aku membohongimu? Pergilah bertanya kepada siapa pun di desa. Siapa yang tidak tahu bahwa setiap hari aku memasak untuk Guru Song? Selain masakanku, ia tidak menyukai masakan siapa pun!”
Shen Yin memasang wajah seolah-olah baru menyadari sesuatu. “Oh, begitu rupanya. Bibi He ternyata sehebat itu. Maafkan aku karena kurang menghormatimu!”
Bibi He meliriknya. “Jangan kira karena kau memujiku, aku akan membantumu!”
Shen Yin segera mendorong kedua anak itu ke hadapannya. “Bibi He, kau juga menyaksikan mereka tumbuh besar. Kasihan Song Tingyuan. Ia mempertaruhkan nyawa di medan perang demi melindungi Kerajaan An, sementara kedua anaknya bahkan belum bisa bersekolah!”
Konon, Song Tingyuan sejak kecil sudah tampan. Gadis-gadis dan para menantu muda di Desa Keluarga Song diam-diam menyukainya.
Shen Yin juga sedikit menantikan suaminya yang belum pernah ia temui itu.
Tentu saja, hanya wajahnya.
Bibi He memutar bola mata. “Jangan bawa-bawa Song Tingyuan di sini. Di zaman seperti sekarang, apa gunanya anak-anak bersekolah? Kalaupun bisa mengenal beberapa huruf, memangnya apa gunanya? Lebih baik kau ajari mereka sebuah keterampilan!”
Bagaimanapun, rakyat jelata merasa bahwa mempelajari keterampilan lebih berguna daripada membaca. Begitu tiba tahun paceklik atau terjadi perang, sekolah desa pun akan terpaksa tutup!
Kebanyakan orang hanya mampu bersekolah selama satu atau dua tahun. Jika kelak mereka bisa mendapatkan pekerjaan di kota, itu sudah lebih dari cukup.
Para pelajar yang mampu belajar dengan tekun selama sepuluh tahun tanpa mengenal lelah, semuanya berasal dari keluarga bangsawan atau cabang keluarga bangsawan.
Melihat Bibi He mengenakan pakaian berbahan kasar yang warnanya telah memudar, Shen Yin mengganti siasatnya.
“Bibi He, kau memasak untuk Guru Song. Berapa upahmu setiap hari?”
Bibi He bertanya dengan waspada, “Untuk apa kau menanyakan itu?”
Shen Yin berkata, “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kau sangat lelah. Setiap hari memasak untuk Guru Song, belum lagi pergi ke Kabupaten Jinming untuk berjualan sayur. Kau hanya punya seorang putri. Untuk apa mencari uang sebanyak itu?”
Bibi He menjawab dengan kesal, “Bukankah kau juga berjualan kue setiap hari?”
Shen Yin teringat bahwa karena bertengkar dengan Nyonya Huang, selama dua hari terakhir ia meminta kakak iparnya menjual kue-kue itu. Kakak iparnya juga harus menguleni puluhan kilogram adonan dan bangun lebih pagi. Meskipun menerima dua macam upah, ia sangat kelelahan.
Shen Yin memang sedang mencari seseorang untuk membantu meringankan beban kakak iparnya.
“Aku berbeda. Aku punya empat anak, sedangkan kau hanya punya satu. Mana bisa dibandingkan?”
Bibi He berkata dengan wajah muram, “Memangnya kenapa kalau aku hanya punya satu anak? Dia tetap buah hatiku! Keluargaku hanya memiliki seorang putri. Setelah aku dan mertuaku meninggal, tidak akan ada yang meneruskan dupa persembahan keluarga. Aku harus mengumpulkan harta keluarga agar putriku bisa mencari seorang menantu laki-laki. Dengan begitu, garis keturunan keluarga kami dapat terus berlanjut!”
Shen Yin mengangguk. “Pikiranmu bagus. Kalau begitu, kau harus bekerja keras mencari uang. Bibi He, apa kau ingin mendapatkan lebih banyak uang?”
“Siapa yang tidak ingin mendapatkan uang?” jawab Bibi He kesal.
Shen Yin berkata, “Kemarilah dan bantu aku menjual kue. Aku akan memberimu upah. Syaratnya, kau harus membantuku menemui Guru Song!”
Selama dua hari terakhir, ia mondar-mandir di luar Kediaman Keluarga Song, tetapi bahkan bayangan Song Qinghe pun tidak terlihat.
Ia juga tidak bisa masuk ke sekolah di seberang sungai. Setelah mengajar, entah ke mana Guru Song pergi. Jangan-jangan karena menghindarinya, ia bahkan tidak menyeberangi sungai untuk pulang?
Memangnya ia punya wajah setebal itu?
Halaman 2 dari 3
Bibi He langsung menolak tanpa berpikir. “Tidak mau. Guru Song adalah orang yang tidak bisa diganggu gugat. Kalau ia sudah memutuskan sesuatu, tidak ada seorang pun yang dapat mencampurinya. Bahkan ayah mertuamu saja tidak mampu melakukan hal yang kau minta, apalagi aku!”
Shen Yin berkata, “Seratus keping uang tembaga!”
“Sebulan?” tanya Bibi He. Seratus keping uang tembaga bahkan lebih rendah daripada upahnya memasak untuk Guru Song.
“Sehari!” jawab Shen Yin.
Bibi He begitu terkejut sampai mulutnya menganga. “Seratus keping sehari? Berarti tiga tahil sebulan! Kau begitu royal?”
Ia memasak makan siang dan makan malam untuk Guru Song, tetapi dalam sebulan hanya menerima upah lima ratus keping uang tembaga. Itu sudah termasuk upah yang sangat tinggi.
Konon, keluarga asal Song Qinghe bukan berasal dari Desa Keluarga Song, melainkan sebuah keluarga besar. Adapun alasan mengapa ia mengajar di desa pada usia semuda itu, orang-orang lain juga tidak mengetahuinya.
Shen Yin menjawab, “Tidak ada pilihan lain. Aku punya uang. Jadi, kau mau membantuku atau tidak?”
Bibi He berada dalam dilema. Uang sebanyak itu benar-benar godaan yang besar.
Namun, ketika teringat pada sikap Song Qinghe yang dingin dan sulit didekati, ia merasa dirinya sama sekali tidak mungkin berhasil.
“Ini bukan soal mau membantu atau tidak. Kau tidak mengenal Guru Song. Ia sangat sulit diajak bicara.”
Bibi He takut membuat Guru Song kesal hingga kehilangan upah lima ratus keping uang tembaga setiap bulan. Itu jelas tidak sebanding dengan keuntungannya.
Shen Yin berkata, “Kau hanya perlu memperkenalkanku. Setelah itu, aku sendiri yang akan memohon kepada Guru Song. Aku sama sekali tidak akan membiarkanmu menyinggung perasaannya!”
Bibi He membayangkan tiga tahil perak itu, lalu menggertakkan gigi dan menyetujuinya. “Baik! Tapi sudah kukatakan, kau tidak boleh mengkhianatiku! Kalau sampai aku kehilangan pekerjaan, kau harus menggantinya!”
“Tidak masalah! Kalau itu terjadi, akan kubayar upahmu selama tiga bulan!” Shen Yin langsung menyanggupi. Bagaimanapun, keberhasilan bergantung pada usaha. Ia harus mencoba.
Bibi He memberi tahu Shen Yin bahwa belakangan ini Song Qinghe sering menikmati cahaya bulan di sebuah gazebo kecil di depan sekolah. Setiap hari ia baru pulang larut malam.
Shen Yin pun mengerti. Ternyata Song Qinghe bukan sedang menghindarinya, melainkan memang tidak pulang ke rumah.
Saat itu pertengahan bulan. Bulan bundar laksana piring perak, sementara langit tanpa awan dan dipenuhi kerlip bintang.
Sungguh cuaca yang sangat cocok untuk menikmati bulan, pikir Shen Yin. Song Qinghe ternyata cukup pandai menikmati hidup.
Malam itu, Shen Yin memanfaatkan kegelapan untuk menyiapkan sedikit makanan ringan. Ia membawa lentera menyeberangi sungai dan pergi mencari Song Qinghe di sebuah gazebo pegunungan yang tidak jauh dari sekolah di seberang sungai.
Tidak heran ia berani bertindak seperti itu. Pada jam selarut ini, semua penduduk desa sudah tidur.
Kalau siang hari, Shen Yin masih akan memedulikan gunjingan orang lain.
Namun, karena ini malam hari, jangan salahkan keberaniannya.
Bulan purnama yang besar menggantung di antara dahan-dahan pohon. Cahaya beningnya menyelimuti hutan dengan lapisan selubung tipis.
Sepanjang perjalanan, suara jangkrik dan berbagai serangga bersahut-sahutan dari dalam rerumputan.
Halaman 3 dari 3
Angin malam tidak terlalu dingin, tetapi juga sama sekali tidak panas. Musim panas akan segera tiba, dan udara terasa begitu menyegarkan.
Kalau dipikir-pikir, Song Qinghe benar-benar orang yang tahu cara menikmati hidup. Di tempat terpencil dan miskin seperti ini pun ia bisa tetap hidup dengan santai.
Kotak makanan di tangan Shen Yin masih mengepulkan uap panas.
Cara jitu yang selalu berhasil—Bibi He berkata bahwa Song Qinghe menyukai makanan lezat, jadi tentu saja Shen Yin harus mengambil hati dengan menyajikan makanan yang ia sukai.
Setelah menyeberangi sungai, ia menaiki lereng bukit. Jalan itu seluruhnya terbuat dari lempengan batu hijau, membentang mulus tanpa hambatan.
Jalan berbatu itu terus memanjang hingga ke gazebo di depan. Song Qinghe, yang mengenakan jubah hijau, bersandar pada salah satu tiang sambil menatap bulan purnama di cakrawala dengan tatapan mendalam.
Di luar gazebo, seorang bocah kecil tertelungkup di atas meja batu dan tidur mendengkur.
Pemandangan itu sungguh indah.
Shen Yin sengaja memperingan langkahnya, tetapi tetap saja ia membangunkan orang yang sedang menikmati cahaya bulan.
Song Qinghe segera menoleh dan melihat seorang wanita asing membawa sesuatu, berjalan ringan ke arahnya.
Orang-orang berkata bahwa perempuan di bawah cahaya bulan tampak memesona, sementara di bawah cahaya lentera tampak seindah batu giok. Perkataan itu ternyata benar.
Seandainya pakaian Shen Yin tidak begitu sederhana, Song Qinghe mungkin akan mengira dirinya sedang melihat Dewi Chang’e.
Namun, ia tetap mengernyitkan dahi dan bertanya, “Siapa kau?”
Shen Yin memasang senyum lebar dan mengangkat kotak makanan di tangannya. “Aku teman Bibi He. Aku khawatir Guru Song akan merasa bosan menikmati bulan sendirian, jadi aku sengaja datang mengantarkan sedikit makanan malam.”
Saat itu, cahaya bulan menyinari wajah wanita tersebut, membuat seluruh dirinya tampak suci dan cantik.
Song Qinghe sedikit mengernyit. Ia tidak menyangka Desa Keluarga Song ternyata memiliki wanita secantik itu.
Untuk sesaat, ia terpaku.
Ketika melihat tatapan Song Qinghe berhenti agak lama di wajahnya, Shen Yin tidak tahan untuk melambaikan tangan. “Guru Song?”
Song Qinghe tersadar dan terbatuk dua kali. “Bagaimana kau tahu aku berada di sini?”
Shen Yin menjawab dengan lembut, “Tentu saja dari Bibi He. Katanya kau hanya makan sedikit saat makan malam, jadi ia sengaja menyuruhku menyiapkan makanan dan mengantarkannya.”
Setelah itu, ia membuka kotak makanan. Seketika, aroma harum menyebar ke udara.
Mendengar nama Bibi He, Song Qinghe segera memahami semuanya. Ia menatap tusuk-tusuk daging di dalam kotak makanan, lalu menelan ludah.
Bocah kecil di luar gazebo tiba-tiba terbangun dan mengendus-endus udara.
“Aroma apa ini? Harum sekali!”
Sudut bibir Shen Yin sedikit terangkat. Hehe, ini tusuk daging yang ia panggang sendiri. Tentu saja aromanya harum!