Rahasia Menggemparkan Dunia
Chen Yu terpaku menatap ke depan, sebab dari dalam liontin giok itu, seberkas cahaya lembut perlahan-lahan membentuk sosok seorang lelaki tua. Cahaya itu perlahan memudar, namun bayang-bayang lelaki tua itu tidak lenyap, malah melayang diam di udara.
Chen Yu menatap kosong pada sosok lelaki tua yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Rambut sang lelaki tua memutih hingga pinggang, wajahnya dipenuhi keriput sebagai jejak waktu yang tak terhindarkan. Meski hanya mengenakan kain sederhana, aura keabadian dan kebijaksanaan terpancar kuat darinya.
Chen Yu sesaat kehilangan kesadaran, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia bergumam pada dirinya sendiri, “Apa aku sedang melihat hantu…”
Namun tepat saat itu, bayangan lelaki tua itu tiba-tiba berbicara, “Anak muda, jika kau menganggapku sebagai arwah, itu juga tidak salah.” Seketika bulu kuduk Chen Yu berdiri, tubuhnya hampir melompat karena terkejut. Dengan tangan gemetar ia menunjuk lelaki tua itu dan tergagap, “...Siapa kau?”
“Bukankah kau sendiri yang tadi bilang aku arwah?” Bayangan lelaki tua itu melayang mendekat, menatap Chen Yu dari jarak dekat, dengan nada menggoda. Chen Yu merasa seluruh tubuhnya tiba-tiba tak bisa bergerak, keringat dingin menetes di dahinya, dan wajahnya memucat karena ketakutan.
“Hantu...” Akhirnya, suara Chen Yu menggema di tanah lapang yang sunyi itu, dan kini ia seperti bertemu makhluk menakutkan, terus-menerus mundur ke belakang.
“Tenanglah, diam kau! Hening!” Bayangan lelaki tua itu pun menutup telinganya, tampak tak tahan dengan suara Chen Yu. Ia segera mengacungkan satu jari ke arah Chen Yu, dan seketika Chen Yu merasakan gelombang aneh pada energi alam di sekitarnya. Ia seperti dibungkam tangan besar tak kasat mata; seberapa keras ia berusaha, suaranya tak bisa keluar. Chen Yu pun panik, mengibas-ngibaskan tangan dan kaki, tampilannya tampak sangat lucu.
“Sudah, aku tak akan bercanda lagi. Aku bukan arwah gentayangan, aku hanya seberkas kesadaran yang kutinggalkan sebelum mati, takkan bertahan lama. Sekarang, dengarkan baik-baik semua yang akan kukatakan, sebab ini sangat penting bagimu dan juga bagiku!” Bayangan lelaki tua itu tampak senang melihat Chen Yu yang panik, lalu mengibaskan tangannya lebar-lebar.
Saat itu Chen Yu merasa ia bisa bicara lagi. Ia langsung teringat bahwa seorang pendekar, setelah mencapai tingkat tertentu, bisa membentuk perwujudan jiwa dan menitipkan kesadaran pada benda tertentu. Dengan marah ia melonjak dan memaki, “Tua bangka, berani-beraninya menakutiku dengan segala tipu dayamu ...”
“Hmm? Masih mau mencoba rasanya tak bisa bicara?” Lelaki tua itu menatap Chen Yu dengan tatapan tajam penuh maksud tersembunyi. “Saya... saya dengar, kok...” Chen Yu langsung menunjukkan wajah lesu; ia tak ingin merasakan kejadian tadi lagi.
“Baiklah, aku yakin kau bisa memanggilku dengan darahmu karena kau pasti sudah tahu tentang Xiao Qian dan Xiao Tian, dua saudara itu. Aku hanya ingin kau berjanji satu hal, tolong jaga mereka baik-baik! Itu satu-satunya permintaan dariku.” Suara lelaki tua itu tiba-tiba berubah menjadi berat.
Chen Yu terdiam, lalu mengangguk mantap. Ia memang menyukai Xiao Qian dan Xiao Tian, takkan membiarkan mereka disakiti lagi. Ia menatap lelaki tua itu penuh tanya, adakah ini kakek dari dua saudara itu?
Setelah Chen Yu menyanggupi, lelaki tua itu menghela napas pelan, “Aku tahu kau punya banyak pertanyaan, tapi tunggu sampai aku selesai bicara, nanti akan kujawab satu per satu.”
Chen Yu mengangguk lalu mendengarkan dengan saksama. Setelah beberapa saat, lelaki tua itu menghembuskan napas panjang dan bertanya, “Semua yang kukatakan, sudah kau mengerti?”
Chen Yu mengangguk kaku, namun dalam hatinya badai besar membuncah; ia belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan atas apa yang didengar barusan. Sebab, jika yang dikatakan lelaki tua itu benar, sungguh ini terlalu mengejutkan.
Ternyata lelaki tua itu telah menceritakan identitas dirinya dan asal-usul Xiao Qian serta Xiao Tian. Ia bermarga Feng, bernama Yao, seorang tetua agung di Lembah Dewa Abadi, dan Xiao Qian juga Xiao Tian adalah cucu kandungnya. Jika dihitung, kedua anak itu adalah murid garis utama Lembah Dewa Abadi!
Lembah Dewa Abadi adalah kekuatan besar yang mengakar di Benua Timur!
Sejak zaman pertengahan, banyak sekte bangkit dan jatuh di Benua Timur, namun hanya lima kekuatan besar yang bertahan selama ribuan tahun, tetap berdiri hingga kini. Mereka adalah lima penguasa terbesar yang dikenal semua orang di Benua Timur. Konon, beberapa dari mereka bahkan mewarisi garis keturunan langsung dari Tiga Maharaja!
Chen Yu menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mencerna semua yang didengar. Semua ini sungguh luar biasa; siapa sangka Xiao Qian dan Xiao Tian adalah cucu tetua agung Lembah Dewa Abadi. Jika berita ini tersebar, seluruh Benua Timur pasti akan gempar! Penyebabnya bukan hanya nama besar Lembah Dewa Abadi, namun juga karena mereka keturunan Feng Yao!
Feng Yao, Chen Yu menatap bayangan lelaki tua di hadapannya dengan rasa tak percaya, sukar membayangkan bahwa dialah Feng Yao yang begitu termasyhur. Meski Chen Yu belum pernah melihatnya secara langsung, ia sudah sering membaca tentang nama itu di berbagai buku.
Feng Yao adalah tokoh legendaris di Benua Timur, kekuatannya tak terukur, melanglang buana selama ribuan tahun. Saat Lembah Dewa Abadi diambang kehancuran, ia seorang diri menegakkannya. Selain itu, ia juga memperoleh warisan istimewa yang membuat namanya semakin termahsyur: Seni Mencari Sumber!
Di dunia ini, energi spiritual semakin langka. Para pendekar tingkat tinggi tak bisa lagi sekadar mengandalkan energi alam, mereka membutuhkan batu sumber sebagai penopang latihan. Namun zaman telah berubah; batu sumber yang dahulu melimpah kini nyaris punah, bahkan yang tersisa pun terkubur jauh dalam tanah. Karena itu, muncul banyak teknik rahasia untuk melacak keberadaan batu sumber. Selama ribuan tahun, berbagai metode dan cabang seni ditemukan, namun yang paling murni dan asli dipegang oleh Feng Yao. Tak ada yang tahu dari mana ia mendapatkan warisan ini, namun berkat itu, Lembah Dewa Abadi tetap menjadi satu dari lima kekuatan besar.
Feng Yao mengaku dirinya generasi kelima Guru Sumber, dan mengatakan bahwa seni rahasia itu diperolehnya secara kebetulan, tak bisa diwariskan sembarangan, jika tidak pasti mendatangkan bencana. Karena itu, ia menolak banyak orang yang ingin menjadi muridnya.
“Guru Sumber, Feng Yao, Lembah Dewa Abadi...” Chen Yu menggumamkan nama-nama itu. Semua ini sungguh menakjubkan, hingga lama ia tak bisa menenangkan diri.
“Kalau benar kau Feng Yao, kenapa bersembunyi di kota kecil ini? Tidakkah kau tahu Xiao Qian dan Xiao Tian bisa saja disakiti siapa saja? Sebagai tetua agung Lembah Dewa Abadi, kekuatan dan pengaruhmu setara dengan pemimpin sekte. Dengan satu gertakan saja, seluruh Benua Timur pasti gemetar. Apa yang kau katakan barusan, apa bisa dipercaya?” Chen Yu masih sulit percaya lelaki tua itu adalah Feng Yao, tokoh legendaris Benua Timur.
“Ah, semua ini bukan hal yang bisa kuceritakan. Kesadaranku pun tidak akan bertahan lama, tak banyak kata yang bisa kusampaikan. Aku tahu kau heran, bagaimana aku tahu kau adalah Tubuh Dewa Purba, dan kenapa hanya darahmu yang bisa mengaktifkan liontin ini. Semuanya sudah kuhitung sebelum aku mati.” Lelaki tua itu berkata dengan tenang.
Tubuh Dewa Purba! Wajah Chen Yu langsung berubah. Ini rahasia terbesarnya, bahkan ayahnya pun tak tahu, tapi lelaki tua ini justru mengatakan semuanya sudah diperhitungkan sebelum kematiannya? Bagaimana mungkin? Namun saat itu ia teringat ucapan Xiao Qian, “Tubuh Dewa belum muncul, waktu belum tiba, Dewa Abadi tak menampakkan diri, ketajaman pun tersembunyi!”
Baru sekarang ia mulai menyadari makna mendalam kalimat itu. Tubuh Dewa maksudnya dirinya, Dewa Abadi adalah Lembah Dewa Abadi, tapi apa itu waktu yang dimaksud? Dan apa makna ketajaman tersembunyi?
“Ketahuilah, jika seseorang telah mencapai kekuatan tertentu, mereka bisa melihat sekilas masa depan. Kehadiranmu, baik bagimu maupun bagi dua saudara itu, merupakan sebuah anugerah. Soal sisa kalimat tadi, kelak kau akan memahaminya.” Bayangan Feng Yao mulai meredup.
“Waktuku tak banyak, terakhir aku katakan, jika suatu hari orang Lembah Dewa Abadi datang mencari Xiao Qian dan Xiao Tian, biarkan mereka membawa keduanya, namun pastikan apapun yang terjadi, jangan sampai mereka berdua terluka. Sebagai imbalan, aku akan mengajarkanmu Seni Mencari Sumber, menjadikanmu Guru Sumber generasi keenam!”
Mendengar itu, jantung Chen Yu langsung berdebar kencang. Seni Mencari Sumber, warisan luar biasa ini, jika ia memilikinya, berarti ia bisa menyelesaikan masalah kekurangan sumber daya saat berlatih.
“Aku tahu kau takkan menolak, sebab kau Tubuh Dewa Purba. Tanpa menjadi Guru Sumber, kau takkan bisa melanjutkan latihanmu.” Feng Yao seakan sudah bisa membaca pikiran Chen Yu, dan tanpa menunggu jawaban, seberkas cahaya putih ditembakkan dan masuk ke dalam benak Chen Yu.
Sekejap, Chen Yu merasa ada sesuatu yang bertambah dalam pikirannya, membuatnya sakit kepala hebat. Setelah beberapa saat, rasa sakit itu perlahan mereda. Ia tahu, pengetahuan tentang Guru Sumber kini telah tertanam dalam benaknya. Tak sempat lagi meneliti, ia buru-buru menengadah, namun mendapati bayangan Feng Yao perlahan menghilang. Suara terakhirnya bergema di antara langit dan bumi, “Apakah Tubuh Dewa Purba bisa kembali memancarkan cahaya masa lalu di dunia ini, semua tergantung seberapa jauh kau bisa melangkah...”
Bayangan Feng Yao lenyap sepenuhnya, Chen Yu hanya bisa terpaku memandang ke depan, masih belum pulih dari kenyataan yang mengguncang ini. Ia menatap liontin giok di tangannya, kini tak lagi memancarkan cahaya, simbol-simbol di permukaannya pun kehilangan aura, hingga menjadi tak beda dengan liontin biasa.