Bab 159: Bola Lampu Super Besar
Su Chen akhirnya menurunkan kotak tersebut dengan kedua tangannya, lalu membukanya. Orang-orang yang hadir langsung berseru kaget.
Keempat buah dadu itu menunjukkan angka 1, dengan total keseluruhan 4 mata dadu.
Su Chen berkata dengan santai, "Ambil uangnya, ayo pergi."
Yuan Yuan merasa kesal, namun dia tentu tidak ingin melewatkan uang di depan mata. Ia langsung menyambar keping cip senilai 1.200 dolar AS dari tangan lawannya, lalu berbalik mengikuti langkah Su Chen.
"Tuan, mohon tunggu sebentar."
Su Chen dipanggil oleh pria pengocok dadu tadi. Ia menoleh ke arah pria itu dan bertanya, "Bagaimana kalau satu ronde lagi?"
Su Chen tersenyum tipis. "Maaf, setelah aku menang, biasanya aku tidak akan berjudi lagi."
Pria itu mendorong seluruh keping cipnya ke depan. "Bagaimana kalau semua ini untukmu?"
Su Chen mengangkat alisnya. "Apa maksudmu?"
"Jika kalah, kau hanya kehilangan 1.200 dolar AS. Tapi jika menang, kau boleh mengambil semua uang ini. Ini semua adalah uang hasil kemenanganku, aku hanya ingin menebus harga diriku," kata pria itu.
Su Chen menyeringai. "Bukankah akan lebih baik kalau kau langsung memberikannya saja padaku?"
Pria itu tersenyum. "Menangkan dulu baru bicara. Aku ingin meningkatkan tingkat kesulitannya. Berani main dengan delapan buah dadu?"
Su Chen mengangkat bahu. "Bagiku tidak ada bedanya. Silakan mulai duluan."
Pria itu mengangguk, lalu memasukkan empat buah dadu lagi ke dalam kotak, sehingga totalnya menjadi delapan buah dadu. Ukurannya tentu jauh lebih besar daripada saat menggunakan empat buah dadu. Namun, pria itu tampak begitu percaya diri. Di bawah tatapan banyak orang, ia mulai mengocok dadu tersebut. Harus diakui, gerakannya sangat anggun dan luwes. Dipadukan dengan ekspresi percaya diri di wajahnya, ia memancarkan kesan yang sangat tenang. Baik Yang Yiru maupun Yuan Yuan merasa gerakan ini bagaikan bumi dan langit jika dibandingkan dengan cara Su Chen sebelumnya.
Yuan Yuan bergumam, "Inilah perbedaan antara kekasaran dan seni."
Su Chen tersenyum kecil tanpa memedulikan sindiran itu.
Begitu pria tersebut membanting kotak dadu ke atas meja, semua penonton langsung memusatkan perhatian, menunggu kotak itu dibuka dan hasilnya diumumkan.
Saat pria itu mengangkat kotaknya, kehebohan seketika membahana di sekeliling. Kedelapan buah dadu tersebut ternyata tersusun tumpuk ke atas secara vertikal. Dadu pertama menunjukkan angka 1. Satu per satu dadu dengan angka 1 di atasnya ia ambil, hingga tersisa satu buah dadu terakhir yang ternyata menunjukkan angka 2! Hal ini membuat sang pengocok dadu seketika mengerutkan kening. Ia sangat yakin bisa mendapatkan delapan buah dadu berangka 1. Pengalamannya selama bertahun-tahun telah membuktikannya berkali-kali. Namun kali ini, di luar dugaan, dadu yang berada di paling bawah justru bernilai 2!
Sebagai total minimal, jumlah mata dadunya adalah 9. Meski demikian, itu sudah cukup bagus. Dari tepuk tangan penonton di sekitar, terlihat jelas bahwa keahlian yang ditunjukkan lewat trik ini sudah sangat luar biasa, apalagi dengan total nilai mata dadu yang serendah itu. Meskipun ada sedikit cacat, ia tetap merasa kemenangan sudah berada di genggamannya.
"Giliranmu," ucap pria itu sambil tersenyum kepada Su Chen.
Su Chen bersiap melangkah maju untuk mengambil dadu, tetapi Yuan Yuan tiba-tiba melontarkan komentar dengan nada menyindir, "Jika kau mengocok dadu dengan cara yang konyol seperti tadi lagi, jangan harap aku dan Yiru mau diakui sebagai wanita pendampingjudimu."
"Baiklah, demi kalian berdua, sepertinya aku harus tampil lebih mencolok," balas Su Chen sambil tersenyum. Ia menepuk meja dengan sebelah tangan, dan sebuah pemandangan yang membuat semua orang terpana pun terjadi.
Kedelapan buah dadu di atas meja terpelanting terbang ke udara. Dalam satu gerakan cepat, Su Chen menyambar kotak di udara, menampung seluruh dadu yang berhamburan ke dalam kotak tanpa satupun yang tertinggal, lalu mulai mengocoknya. Seluruh rangkaian gerakan itu dilakukan dalam satu tarikan napas, begitu keren hingga para pria asing di sekitar berseru kagum, "Whoa!"
Yuan Yuan menghela napas takjub. "Yiru, apa kataku? Sikap rendahan pria ini sebelumnya ternyata hanya persiapan untuk pamer di akhir."
Su Chen meletakkan kotak itu di atas meja. Di bawah tatapan penuh antisipasi dari semua orang, ia menarik kembali tangannya, lalu meninggalkan kerumunan begitu saja tanpa menoleh ke belakang untuk menuntaskan aksi pamer tersebut. Ia hanya meninggalkan satu kalimat untuk Yuan Yuan: "Ambil uangnya, ayo pergi."
Dengan rasa penasaran, Yuan Yuan menerobos kerumunan dan membuka kotak tersebut. Hasilnya sama, dadu tersusun tegak lurus dari yang pertama hingga terakhir, semuanya menunjukkan angka 1! Total 8 mata dadu berhasil mengalahkan 9 mata dadu milik lawannya!
Yuan Yuan tersenyum tipis. "Maaf ya, membuatmu percuma menang banyak malam ini dan malah berbaik hati menyerahkan semuanya."
Meskipun berkata demikian, wanita itu sama sekali tidak ragu memasukkan seluruh keping cip senilai tiga ratus ribu milik lawannya ke dalam wadah cip, dengan senyum merekah di wajahnya.
Pria yang kalah hanya bisa tersenyum masam. Pada saat itu, seorang petugas kasino datang menghampiri dengan kening berkerut dan bertanya, "Kau kalah?"
Pria itu mengangguk. "Aku tidak mengerti kenapa hasil angka daduku sepertinya dicurangi. Kenapa bisa ada satu dadu yang bernilai 2? Aku sudah mengocok delapan dadu selama bertahun-tahun, dan baru kali ini hasilnya di luar prediksiku, terlebih lagi itu terjadi pada dadu yang paling bawah! Pria itu jelas bukan orang sembarangan!"
Petugas itu mengangguk. "Aku mengerti, kalau begitu aku akan meminta manajer untuk mengawasinya."
Ketika Yuan Yuan mendatangi Su Chen sambil membawa wadah berisi tumpukan cip, Su Chen berkata kepadanya, "Minta pelayan untuk menukarnya dengan cip nominal besar. Kita ke ruang privat lantai atas, tempat itu jauh lebih menegangkan."
Mendengar kata menegangkan, Yang Yiru langsung teringat kejadian sebelumnya. Bibirnya menyunggingkan senyum, lalu ia mengangguk dan mengikuti Su Chen melangkah masuk ke ruang privat, yang merupakan area VIP dengan taruhan tingkat tinggi di kasino tersebut.
Begitu Su Chen yang berwajah Asia melangkah masuk bersama dua wanita cantik, mata sebagian pria penjudi di dalam ruangan langsung berbinar, terutama tatapan yang tertuju pada Yang Yiru yang tampak begitu kompleks.
Las Vegas bukan hanya dikenal sebagai kota perjudian, tetapi juga dijuluki sebagai kota dosa. Para penjudi yang terbuai dalam kemewahan serta para wanita yang memimpikan kekayaan instan berkumpul di sini. Peluang terjadinya cinta satu malam di kota ini sangat tinggi, terutama di tempat-tempat seperti ini. Untuk apa para wanita mendatangi tempat ini? Jawabannya sudah sangat jelas. Ketika pria cerdas bertemu dengan wanita cerdas, tidak banyak kata yang diperlukan—mereka langsung sehati.
Oleh karena itu, tatapan orang-orang tersebut dipenuhi dengan hasrat serakah, benar-benar terpesona oleh kecantikan Yang Yiru yang luar biasa.
Pandangan-pandangan semacam itu membuat Yang Yiru merasa tidak aman. Su Chen tentu saja menyadari tatapan orang-orang tersebut. Mereka tidak kekurangan uang, sehingga di mata mereka, tujuan para wanita di sini sangatlah sederhana dan seolah hanya berputar di sekitar mereka. Su Chen pernah berada di lingkungan serupa sebelumnya, jadi ia sangat memahami isi kepala para pria itu. Ia meletakkan sebelah tangannya di bahu Yang Yiru dan berbisik rendah, "Kau seharusnya merasa senang, karena kau telah menarik perhatian mereka. Sialnya, aku sebagai pengawalmu jadi punya masalah lagi."
Yang Yiru tadinya berniat menepis tangan pria itu, namun ia menahannya. Mendengar perkataan Su Chen, ia justru tersenyum manis dan berkata, "Membereskan masalah untuk klien adalah hal yang sudah sepatutnya kau lakukan. Apakah kau takut?"
Dengan ekspresi khawatir, Su Chen berkata, "Aku takut tiba-tiba ada seorang gay di kerumunan ini yang bukan menyatakan cinta padamu, malah mengejar-ngejarku."
Yang Yiru memukulnya dengan gemas. "Bisakah kau bersikap serius sedikit!"
Su Chen tertawa kecil. "Aku justru ingin kau bersikap seperti ini, kalau tidak mereka akan mengira kita bukan sepasang kekasih. Nanti kalau ada yang datang menggoda sembarangan, urusannya jadi rumit."
Yang Yiru mendelik tajam. "Siapa juga yang menjadi pasanganmu?"
Su Chen membantah, "Kenapa bukan? Bukankah aku ini pacar sewaanmu?"
Yuan Yuan tiba-tiba menyela dengan nada menggoda, "Lalu bagaimana dengan aku?"
Su Chen terdiam sejenak, lalu mencibir, "Kuberi kau peran penting deh."
Yuan Yuan: "Apa?"
Su Chen: "Lampu penerangan super besar."
Yuan Yuan: "Pergilah ke neraka!"