Bagian 066: Pandai Mengurus Dapur
Malam ini masih ada dua bab lagi yang akan diposting.
Ketika Su Chen terbangun, ia mendapati dirinya berada di ranjang apartemennya sendiri. Ia penasaran mencoba mengingat-ingat, namun tetap saja tidak bisa memikirkan bagaimana caranya ia bisa kembali ke sana.
Ia menggelengkan kepalanya. Ini sudah kedua kalinya ia mabuk berat. Baru saja selesai membersihkan diri dan berjalan keluar kamar, ia langsung berpapasan dengan Cao Qingcheng. Melihat Cao Qingcheng membawa kantong makanan yang besar di tangannya, sambil tersenyum ia berkata, “Kakak Su, aku membeli beberapa makanan. Makan bersama, ya?”
Sebagai seorang laki-laki, apalagi sudah perempuan yang mengajak sampai seperti itu, Su Chen tidak punya alasan untuk menolak atau mengusirnya. Akhirnya ia mempersilakan masuk ke dalam, mengambil mangkuk dan sumpit dari dapur, lalu menata semuanya di atas meja. Mereka pun mulai makan bersama.
“Oh iya, bagaimana kau tahu aku di rumah?”
Cao Qingcheng menjawab, “Bukankah mobilmu terparkir di bawah?”
Su Chen merasa pertanyaannya barusan benar-benar tidak penting, lalu segera mengoreksi, “Maksudku, kau tahu aku mabuk semalam?”
Cao Qingcheng mengangguk, “Tentu saja, pemilik bar bahkan menelepon. Saat aku ke bar untuk menjemputmu, Yang Yiru juga datang. Kami berdua yang membantumu pulang.”
Su Chen mengangguk pelan, “Pantas saja sampai sekarang aku belum menerima telepon darinya. Biasanya, jangankan tidak masuk kerja, terlambat saja teleponku pasti sudah dihujani panggilan.”
Jelas sekali Cao Qingcheng tidak suka Su Chen menyebut nama perempuan lain di depannya, apalagi Yang Yiru. Ia terlihat sedikit gelisah lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan, “Tapi Kak Su, kenapa pemilik bar bisa menelepon ke nomor kita berdua?”
Su Chen tertawa canggung, “Sebenarnya, di kontak teleponku sepertinya memang hanya ada kalian berdua.”
Kalau saja yang satunya bukan Yang Yiru, Cao Qingcheng pasti akan sangat bahagia.
Selesai makan, Cao Qingcheng buru-buru merebut sumpit dan mangkuk dari tangan Su Chen sambil berkata, “Biar aku saja yang cuci. Sejak kecil aku memang sudah biasa melakukan ini di rumah. Ibuku selalu bilang, perempuan itu harus bisa di ruang tamu dan juga di dapur.”
Su Chen tidak paham maksud ucapannya, tapi karena ia sudah bersikeras ingin mencuci, akhirnya pekerjaan itu ia serahkan saja. Sementara itu, ia sendiri duduk di sofa ruang tengah dan menyalakan televisi dengan remote.
Ketika menonton, Su Chen tiba-tiba mengernyit bingung, “Bukankah televisiku sudah hancur semua?”
Saat pikirannya belum tuntas, tiba-tiba terdengar suara pecahan piring dari dapur. Dengan gesit Su Chen langsung muncul di ambang pintu dapur. Begitu melihat, matanya membelalak. Di lantai, pecahan mangkuk dan piring bertebaran, jumlahnya ada lima atau enam.
Wajah Cao Qingcheng sudah semerah tomat, hampir menangis, “Ibuku benar-benar sudah mengajarkan ini padaku.”
Su Chen tidak bisa menahan tawa sekaligus ingin menangis, “Aku percaya, biar aku saja yang cuci.”
Cao Qingcheng buru-buru menjelaskan, “Sebenarnya ini gara-gara sabun pencuci piringnya terlalu banyak, jadi tanganku licin dan mangkuknya jatuh. Semua ini cuma kecelakaan.” Ia berusaha berbalik untuk menunjukkan cara mencuci piring yang benar, tapi baru saja berputar, pergelangan tangannya malah menyenggol tumpukan piring kotor lain di pinggir meja dapur. Terdengar lagi suara benda pecah.
Suasana langsung hening, seolah hanya ada sekawanan burung gagak melintas di atas kepala Cao Qingcheng. Wajahnya penuh rasa malu, canggung, dan bingung. Melihat ekspresi Su Chen yang sudah tidak habis pikir, ia buru-buru menjelaskan lagi, “Tapi lemari dapur di rumahku biasanya lebih pendek, dapurmu terlalu tinggi…”
Akhirnya ia sendiri sadar tak bisa lagi menutupi kecanggungannya. Ia berdiri di situ sambil tertawa kikuk, membuat Su Chen hanya bisa ikut tertawa pahit.
“Ayo, nona besar, lebih baik kau ke ruang tamu saja dulu. Dapur ini belum cocok untukmu,” kata Su Chen sambil tersenyum getir, menarik tangannya dan mengingatkan, “Hati-hati, jangan sampai menginjak pecahan.”
Dengan susah payah Su Chen mendorong Cao Qingcheng ke ruang tengah. Melihat dapur yang kini sudah seperti kapal pecah, ia tertawa getir, “Orang lain kalau ke dapur namanya perempuan idaman, kalau gadis ini masuk dapur, seperti naga mengamuk saja.”
Sementara itu, Cao Qingcheng di luar malah larut dalam penyesalan. Ia sama sekali tidak bisa duduk tenang, menggigit bibir dan memaki dirinya sendiri, “Cao Qingcheng, kamu benar-benar bodoh. Sudah tidak bisa jadi juara kelas, keterampilan hidup sederhana saja tidak bisa, benar-benar payah. Selesai sudah, pakai alasan ibuku, malah mempermalukan diri sendiri. Benar-benar bikin malu mama. Bagaimana ini? Kak Su akan mengira aku perempuan manja yang tak bisa apa-apa?”
Kedua tangannya saling mengatup gelisah. Saat itu, Su Chen keluar dari dapur sambil membawa panci dan menatap Cao Qingcheng dengan ekspresi tak percaya, “Nona besar, apa ibumu tidak pernah bilang kalau bagian bawah panci yang gosong itu tidak perlu dicuci?”
Cao Qingcheng ternganga, lalu dengan ragu bertanya, “Benar tidak perlu dicuci?”
Su Chen memutar bola matanya, “Lupakan saja, anggap aku tidak pernah tanya.” Ia pun kembali lagi ke dapur.
“Habis sudah, kali ini benar-benar gagal total!” Cao Qingcheng semakin panik, “Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku bisa memperbaiki citraku di hadapan Kak Su?”
Dalam kegelisahannya, ia mengintip ke dapur, melihat Su Chen masih sibuk membersihkan. Ia pun buru-buru berlari ke sofa, mengambil ponsel dari tas kecilnya, lalu menelpon Lin Yue. Dengan suara singkat dan penuh harap ia menceritakan kejadian barusan dan memohon, “Lin Zhuge, tolong ajari aku harus bagaimana?”
Lin Yue terdiam sebentar lalu berkata, “Baik, aku ajarkan satu cara. Angkat jari telunjukmu, ketukkan di dahi, lalu di dada, kemudian di bahu kanan, terakhir di bahu kiri.”
Cao Qingcheng benar-benar menuruti, lalu terdengar Lin Yue berkata, “Sekarang ikuti aku ucapkan: Tuhan, tolonglah aku.”
Cao Qingcheng hampir saja benar-benar mengucapkannya, tapi baru sadar sedang dikerjai, ia langsung mengomel, “Dasar, aku serius ini.”
Lin Yue menghela napas, “Nona besar, kalau kamu sudah melakukan hal sebodoh mencuci bagian bawah panci yang gosong, menurutku hanya Tuhan yang bisa menyelamatkanmu. Katamu kamu bisa mengurus dapur, aku rasa bahkan orang gila pun tak percaya. Istilah 'bencana' itu pasti muncul gara-gara orang sepertimu.”
Cao Qingcheng menggertakkan gigi, “Lin Yue, aku minta kamu ajari cara memperbaiki keadaan, bukan untuk menghinaku. Percaya tidak, aku akan langsung ke perpustakaan mencarimu sekarang juga? Jangan pikir kau bisa sembunyi di bawah meja dan aku tidak tahu.”
Lin Yue langsung menyerah, “Nona, ampun, penjaga perpustakaan sudah bilang kalau kau membuat keributan lagi seperti dulu, aku akan masuk daftar hitam! Dan, bagaimana kau tahu aku sembunyi di bawah meja?”
Cao Qingcheng mendengus meremehkan, “Apa kau tidak tahu forum kampus itu alat gosip paling sakti? Ada yang bilang, di perpustakaan muncul seorang kakak kelas yang suka baca di bawah meja, dan begitu mereka menunduk katanya bisa melihat bra pink, aku langsung tahu itu kau.”
Lin Yue melongo, “Dasar brengsek mereka.”
Cao Qingcheng masih menambah, “Dan, semua komentar di forum itu isinya ‘sudah di-screenshot’.”