Bab 050: Coba Gali dan Lihat
Setelah efek obatnya hilang, Lin Yue menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Cao Qingcheng di depannya tanpa berkedip. Akhirnya ia tak tahan lagi dan meledak, meraih kedua bahu Cao Qingcheng lalu mengguncangnya keras-keras sambil berteriak histeris, “Aaa~! Habis sudah, seluruh reputasiku hancur!”
Tulang-tulang Cao Qingcheng hampir terlepas akibat guncangan dari wanita gila ini, ia berdeham, “Yang lebih parah lagi, aku sudah merekam semua aksi barumu yang sangat tidak feminin dan biadab tadi dengan kualitas HD di ponselku. Kalau kamu tidak lepaskan, aku pasti unggah ke forum kampus. Pilih sendiri.”
Lin Yue langsung melepaskan tangannya, matanya menyipit, lalu bertanya kering, “Ceritakan kenapa kamu nggak datang. Kamu tahu nggak aku sampai ketiduran.”
Cao Qingcheng menghela napas, “Aku semakin memahami Kak Su. Sebenarnya dia sudah tahu aku dulu gadis seperti apa, tapi dia bilang dia nggak peduli. Jadi aku menyesal, aku nggak perlu lagi pakai cara yang kamu kasih.”
Lin Yue terdiam, “Apa maksudmu pakai cara yang aku kasih? Kayak semua kelakuan bar-bar itu aku yang nyuruh kamu. Sudah gitu, cukup satu kalimat ‘aku menyesal’, masalah langsung beres, seolah-olah aku nggak pernah sakit hati.”
Cao Qingcheng mengeluarkan ponsel dan membuka videonya, “Bukan begitu, coba kamu lihat sendiri betapa kamu menikmati. Bahkan lebih dari pemeran utama perempuan di film-film yang biasa kita tonton, hebat benar.”
Lin Yue marah, langsung menerkam, merebut ponsel Cao Qingcheng, melirik sebentar, lalu melotot tak percaya, “Kamu yakin perempuan rambut awut-awutan itu aku?”
Cao Qingcheng mengangguk, “Satu dus pisang di kulkas asrama sudah porak-poranda kamu perlakukan, belum lagi tongkat-tongkat besi di kamar kita, pokoknya barang apapun yang bulat, besar, dan panjang, semuanya sudah kamu jilat sampai basah. Coba saja cium sendiri.”
Wajah Lin Yue tampak sangat terluka, “Pantas saja lidahku masih mati rasa sampai sekarang. Sudahlah, biarkan aku sendiri.”
“Mana bisa! Aku sengaja buat kamu sadar supaya kamu ikut aku pergi.”
“Enggak mau, aku harus menjauh dari kamu, nanti-nanti yang tersakiti tetap aku.” sahut Lin Yue.
Cao Qingcheng bersiul, “Gak masalah. Toh video itu sudah kubackup di cloud. Kalau kamu nggak ikut, aku takut akunku diretas lalu tersebar sendiri.”
Tatapan Lin Yue menjadi ganas, “Alasannya terlalu dibuat-buat. Kenapa nggak bilang saja kalau aku nggak ikut, kamu bakal langsung sebar videonya?”
Cao Qingcheng tertawa, “Jadi, kamu ikut atau nggak?”
“Bilang dulu, kita mau ke mana?”
“Ke bawah pohon bodhi tempat orang biasa berdoa itu. Malam-malam begini gelap, aku takut sendirian, jangan-jangan ketemu orang mesum.”
Lin Yue memutar bola matanya, “Orang mesum nggak ketemu kamu saja sudah untung. Mau ngapain?”
“Hari ini aku sama Kak Su menulis harapan di kertas, lalu dikubur di sana. Aku mau gali lagi, pengen tahu Kak Su nulis apa.” Wajah Cao Qingcheng penuh harap.
Karena kelemahan sudah di tangan Cao Qingcheng, Lin Yue tak bisa menolak. Akhirnya mereka berdua membawa sekop, meraba-raba dalam gelap menuju hutan pohon bodhi yang gelap gulita.
Begitu sampai, Cao Qingcheng mengumpat, “Sial, kenapa malah turun hujan, tanahnya jadi becek, nggak kelihatan mana yang baru. Aku saja lupa di mana aku dan Kak Su mengubur botolnya.”
Lin Yue berkata, “Udah, jangan dicari, pulang saja. Di sini gelap, cuma mengandalkan lampu ponsel, aku nggak merasa aman.”
Cao Qingcheng menyahut, “Meski aku telanjang berdiri di sini, siapa juga yang berani datang?”
Lin Yue malah merasa lebih aman, “Dengar kamu ngomong gitu, aku jadi tenang. Tapi kamu saja nggak tahu di mana kuburnya, mau gali gimana?”
“Pokoknya, malam ini aku harus gali sampai ketemu botol Kak Su dan lihat dia nulis apa.” Cao Qingcheng bersikeras.
“Kak, aku mulai curiga zodiakmu jangan-jangan Virgo?” Lin Yue memandangnya dengan ekspresi heran.
Cao Qingcheng malas menanggapi, “Bantu aku pegang lampunya. Aku harus gali semua tanah di sini sampai ketemu botol Kak Su.”
Lin Yue menyeringai, “Di sini bukan cuma botol kamu sama Kak Su, tapi juga banyak punya kakak tingkat. Nanti mereka datang lihat hasil karyamu, rasanya kayak orang menggali kuburan keluarga.”
Cao Qingcheng meliriknya tajam, “Tengah malam begini, kamu ngomong kayak gitu, enak aja.”
Lin Yue juga merasa kata-katanya terlalu seram untuk waktu begini, sampai tubuhnya sendiri merinding.
Cao Qingcheng mengambil sekop dan mulai menggali dengan kekuatan ala perempuan tangguh. Tak butuh waktu lama, ia menemukan sebuah botol yang mirip dengan miliknya. Dengan gembira ia mengorek lalu membukanya. Di atas kertas ada banyak lingkaran, dan tertulis kalimat: “Cao Qingcheng, aku kutuk kamu dan suamimu kelak mandul.”
Cao Qingcheng langsung naik darah, mengumpat tanpa peduli citra, “Sialan! Siapa brengsek yang nulis kutukan kejam begini, seenaknya saja. Jangan sampai aku temukan kamu!”
Ia melempar kertas itu, tapi Lin Yue mencegah, “Balikin, bagaimanapun itu harapan orang.”
Cao Qingcheng melirik tajam.
Ia terus menggali di sekeliling, hanya memilih botol yang mirip. Tak lama, ia dapat lagi botol sejenis, dibuka, dan…
“Cao Qingcheng, aku suka sifat galakmu, jiwa maskulinmu, rambut kribomu, dan dada ratamu. Mau nggak kamu jalin cinta sesama jenis yang penuh kontroversi denganku?”
Cao Qingcheng hampir berasap dari hidungnya, “Orang ini pasti matanya buta.” Ia menunduk, menatap dadanya yang menonjol, lalu bersungut-sungut, “Kalau ukuran C masih dibilang rata, terus A, B gimana hidup?”
“Ahahaha…” Lin Yue tertawa sampai keluar air mata, tak pernah lupa untuk menjatuhkan sahabatnya, “Kalau aku jadi kamu, pasti udah nggak berani lanjut gali.”
Cao Qingcheng menghela napas, “Aku benar-benar merasakan kebencian dunia padaku.”
Ia melanjutkan menggali. Kali ini butuh waktu lama, akhirnya ia menemukan botol miliknya sendiri, terlihat masih baru, jelas tadi siang baru dikubur. Ia buka botol itu, menemukan kertasnya sendiri, tapi yang ia ambil justru kertas milik Su Chen. Setelah dibentangkan, ia terdiam tanpa suara.
Lin Yue melihatnya diam membeku di tempat, lalu bertanya cemas, “Kenapa?”
Cao Qingcheng bergumam linglung, “Kenapa kosong?”
Lin Yue mendekat, melihat kertas milik Su Chen benar-benar kosong, tak ada tulisan sedikit pun.
“Itu nggak masalah kan, justru kosong berarti dia belum punya orang yang dia suka. Artinya kamu dan Yang Yiru masih berada di garis start yang sama, jangan langsung putus asa.”
Cao Qingcheng tersenyum pahit, “Padahal aku kira di dalamnya akan tertulis namaku…”