Bab 105: Menyelamatkan Nyawa (Bagian Pertama)
"Benar. Aku tidak bisa mendapatkannya, maka orang lain pun tidak boleh. Jika hidupku tidak bahagia, kau juga jangan harap bisa hidup tenang. Hari itu, saat aku menemukan bunga yang kuberi padamu di tempat sampah, aku sempat berpikir untuk mengirimkan bom untukmu. Namun, aku mengurungkan niat itu karena aku takut kau hancur berkeping-keping hingga tak bisa dikenali. Lagipula, aku takut jika kau mati, aku tidak akan bisa melihat wajah orang yang kurindukan siang dan malam selama bertahun-tahun ini untuk terakhir kalinya. Itulah sebabnya aku datang hari ini. Aku menggunakan surel internal perusahaan lama untuk melacak jadwal konferensi pers penandatanganan kontrakmu. Aku sudah datang sejak pagi tadi. Kau tetap begitu populer, tetap begitu angkuh. Satu tatapan, satu gerakanmu saja sudah mampu mencuri jiwa siapa pun, dan itu semakin menguatkan tekadku."
Ye Yunshi membelalakkan matanya, lalu berseru dengan nada tajam, "Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?"
Liu Yunhao terkekeh, suaranya terdengar sangat mengerikan, "Mari kita mati bersama, bagaimana? Seperti dulu, saat kau bilang kita harus berjuang bersama. Bukankah kau selalu menempel padaku karena tidak punya teman di industri ini?"
"Aku selalu menganggapmu sebagai kakakku sendiri."
"Kakak?" Liu Yunhao tertawa terbahak-bahak, "Kau berbohong! Kau jelas menyukaiku. Siapa yang mau jadi kakakmu? Apa kau pikir aku sebodoh itu untuk kau tipu? Katakan bahwa kau menyukaiku!" Ia menodongkan pisau belati ke leher Ye Yunshi.
Mata Ye Yunshi memerah, "Kalau begitu bunuh saja aku! Aku memang tidak menyukaimu, lalu kenapa? Itu kenyataannya! Aku selalu menganggapmu sebagai penunjuk jalan di industri ini, tidak ada perasaan lain selain rasa terima kasih. Kalau kau merasa puas dengan membunuhku, lakukan saja!"
Liu Yunhao tertegun sejenak, lalu berubah marah, "Jangan paksa aku!"
"Kaulah yang sedang memaksakan kehendakmu sendiri," ucap Ye Yunshi dengan suara tercekat. "Berhentilah, aku bisa memaafkanmu."
"Berhenti?" Liu Yunhao tersenyum dingin. "Untuk apa aku berhenti? Apa kau sedang mengasihaniku? Aku beritahu padamu, aku tidak butuh rasa kasihan palsu dari kalian. Aku sudah menunggu hari ini sejak lama. Karena saat hidup kita tidak bisa bersama, maka mari kita menjadi pasangan suami istri hantu di alam baka sana, ha-ha-ha."
Setelah berkata demikian, Liu Yunhao langsung mendekap erat tubuh Ye Yunshi dan menerjang ke arah pagar balkon. Wajah Ye Yunshi pucat pasi, ia memejamkan mata dan berteriak histeris, "Jangan!"
Kekuatan Ye Yunshi tentu bukan tandingan Liu Yunhao. Saat pinggangnya didorong hingga menabrak pagar balkon, tubuhnya terdorong ke atas karena tekanan di leher dan bahunya. Akhirnya, Liu Yunhao dan Ye Yunshi terjatuh bersama-sama melewati pagar gedung itu.
Seorang staf wanita menutup matanya rapat-rapat, tidak berani melihat. Setelah mengeluarkan jeritan nyaring, ia terduduk lemas sambil menangis tersedu-sedu.
Su Chen menjentikkan puntung rokoknya, lalu seketika menghilang dari tempatnya berdiri.
Di bawah Gedung Longyun yang lapang, para penggemar dan awak media yang sebelumnya diusir masih enggan meninggalkan lokasi karena syok. Saat itulah, entah siapa yang berteriak lantang dengan panik.
"Ah! Ada orang jatuh!"
Bruk!
Bersamaan dengan teriakan panik yang bersahutan, tubuh Liu Yunhao jatuh dari lantai 25 dan menghantam atap sebuah mobil. Kaca di sekelilingnya pecah berhamburan.
Separuh wajah Liu Yunhao yang menghantam tanah hancur berlumuran darah. Darah segar menetes dari atap mobil. Terutama tatapan matanya yang seolah tersenyum namun tak terpejam, membuat semua orang yang menonton merasa ngeri. Beberapa orang pingsan di tempat karena terlalu syok, sementara yang lain wajahnya memucat pasi karena fobia darah.
"Ah! Itu Ye Yunshi! Dia juga akan jatuh!" teriak seorang penggemar. Semua orang di bawah langsung menghindar karena takut tertimpa. Saat mereka mendongak, mereka melihat tubuh Ye Yunshi terjuntai di udara, nyaris jatuh. Pergelangan tangannya dicengkeram oleh Su Chen, sementara tangan Su Chen yang lain berpegangan kuat pada ambang jendela lantai gedung. Jika saja tangan Su Chen kendur sedikit saja, keduanya akan jatuh dan tewas mengenaskan seperti Liu Yunhao.
Orang-orang di bawah hampir tidak sanggup melihat. Mereka berlarian menjauh seolah melihat wabah, terutama para penggemar yang tidak tega menyaksikan Ye Yunshi mengalami nasib yang sama.
Ye Yunshi mendongak menatap Su Chen. Mungkin karena sadar akan ajalnya, ia tidak lagi merasa takut. Ia bertanya pada Su Chen, "Kenapa kau menyelamatkanku?"
Su Chen, yang satu tangannya mencengkeram ambang jendela, mencoba menenangkan Ye Yunshi sambil tersenyum, "Bukankah kau selalu bilang aku ingin memanfaatkanmu? Kali ini pun begitu."
Wajah pucat Ye Yunshi menyunggingkan senyum tipis yang tampak tragis namun indah, "Terima kasih atas kejadian yang lalu, tapi kali ini, lepaskan saja aku. Jika terus begini, kita berdua akan mati."
Su Chen tidak terlihat panik, ia menatapnya dan berkata, "Bisakah kali ini kau percaya padaku?"
Ye Yunshi bertanya, "Apa yang akan kau lakukan?"
Su Chen mengerahkan tenaga, menariknya ke atas, dan berkata, "Cepat peluk pinggangku, jangan lepaskan sama sekali, dan jangan melihat ke bawah, nanti kau akan pusing karena takut ketinggian."
Ye Yunshi menelan ludah, bibirnya gemetar, "Tapi aku merasa sudah lemas sekali, aku takut tidak bisa berpegangan kuat."
Su Chen mengangkat alis, "Kalau begitu, kau mau mati begitu saja dan pergi ke alam baka menjadi pasangan hantu dengan orang itu?"
Ye Yunshi mendengar itu wajahnya semakin pucat. Su Chen kembali berkata, "Kalau begitu cepat peluk pinggangku, peluk dengan sekuat tenaga. Kalau takut, tutup matamu dan jangan lihat seberapa tinggi tempat ini."
Ye Yunshi memejamkan mata dan mengangguk. Ia melingkarkan satu tangannya di pinggang Su Chen. Saat Su Chen melepaskan cengkeraman pada pergelangan tangannya, ia langsung memeluk erat tubuh Su Chen dengan kedua tangannya.
Su Chen baru bisa menggerakkan tangan yang satunya untuk meraih ambang jendela. Ia menarik beban tubuh Ye Yunshi dengan kekuatan lengannya hingga keduanya berhasil naik. Tepat saat dada Su Chen menempel di ambang jendela dan separuh tubuhnya hendak naik, tiba-tiba ia merasakan ikat pinggangnya longgar.
Srek!
Celananya tertarik turun oleh Ye Yunshi, hingga celana dalamnya yang berwarna hitam terlihat.
Ye Yunshi merasa pegangannya melonggar dan berteriak ketakutan, "Su Chen, aku mau jatuh! Kakiku lemas!"
Su Chen melihat Ye Yunshi hendak membuka mata, ia segera berkata, "Jangan buka matamu, peluk erat-erat, jangan dilepas!"
Ye Yunshi kini benar-benar menganggap Su Chen sebagai satu-satunya harapan hidup. Karena celana Su Chen melorot, ia terpaksa memeluk bagian bawah pinggang Su Chen lebih erat lagi. Dengan mata terpejam, ia tidak sadar wajahnya menempel tepat di bagian sensitif Su Chen. Ia terus bergesekan karena takut jatuh, membuat Su Chen hampir tidak tahan menahan sensasi yang terasa menyengat itu. Begitu tubuhnya berhasil naik ke ambang jendela, ia segera menarik lengan Ye Yunshi dan melemparkannya masuk ke dalam ruangan. Saat bagian sensitifnya terbebas dari gesekan, Su Chen sampai gemetar sejenak, seperti rasa lega setelah buang air kecil.
Su Chen menghela napas panjang dan bergumam pada diri sendiri, "Kalau bukan karena terlalu banyak orang di bawah yang mungkin mengira aku manusia super yang memakai celana dalam di luar, aku sudah bisa melemparmu ke balkon sejak tadi dengan tangan kosong."
Orang-orang di bawah akhirnya bisa bernapas lega, beberapa penggemar bahkan menangis bahagia.