Bab 48 Mengunjungi Ibu
Qiao Yuanxi dengan menurut pindah dari kursi belakang ke kursi penumpang di depan, lalu menarik dan mengenakan sabuk pengamannya.
"Punggungmu masih sakit?" tanya Jiang Yu penuh perhatian sambil mengemudikan mobil membaur ke dalam arus lalu lintas.
Qiao Yuanxi menjawab, "Sudah tidak begitu sakit, sudah jauh lebih baik."
Jiang Yu berkata, "Kalau begitu, nanti malam kita oleskan obatnya lagi, besok pasti sudah sembuh."
Qiao Yuanxi merapatkan bibirnya tanpa bersuara. Begitu teringat dirinya harus setengah melepas pakaian di hadapan pria itu, hatinya merasa canggung dan ia tidak mampu mengucapkan kata "baik".
Melihat gadis itu terdiam, Jiang Yu tidak membahasnya lebih lanjut. Kebetulan lampu lalu lintas sedang merah, ia mengambil sebuah kotak hadiah kecil dari laci konsol tengah di sampingnya dan menyerahkannya kepada Qiao Yuanxi.
Qiao Yuanxi menunduk melihatnya, lalu bertanya dengan bingung, "Apa ini?"
"Kubelikan untukmu." Jiang Yu terbatuk kecil karena merasa canggung, sebelah tangannya memegang setir sementara matanya menatap lampu merah, lalu berkata kepadanya, "Kemarin kulakukan kesalahan, seharusnya aku tidak memarahimu seperti itu, yang penting kau tahu aku tidak punya niat buruk."
Qiao Yuanxi menatapnya dengan heran, lalu menunduk menatap kotak hadiah kecil itu lagi seraya bertanya dengan nada mengejek, "Jadi, kau sedang meminta maaf padaku? Ini hadiah permintaan maaf?"
"Mau atau tidak?" Nada suara Jiang Yu langsung menjadi sedikit dingin saat melihat sikap gadis itu yang berlagak.
Qiao Yuanxi bertanya dengan rasa penasaran, "Kenapa tiba-tiba meminta maaf secara formal begini?"
"Aku tidak ingin ada orang di belakang yang mengatakan aku memanfaatkan seseorang lalu menendangnya setelah tuntas." Usai berkata demikian, Jiang Yu melirik ke arahnya. "Cepat ambil, sebentar lagi lampunya jadi hijau."
Qiao Yuanxi menerima kotak hadiah kecil itu dan berkata dengan nada bercanda, "Tuan Jiang yang terhormat takut juga dibicarakan orang di belakang?"
Jiang Yu mendengkus dingin, lalu menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya.
"Beli apa sih ini?" tanya Qiao Yuanxi penasaran sambil membuka kotak hadiah tersebut.
Jiang Yu sendiri tidak tahu karena ia menyuruh Zhao Chong yang membelinya. Ia tidak bertanya secara spesifik barang apa itu, dan Zhao Chong juga belum sempat menjelaskannya.
Ketika Qiao Yuanxi membukanya dan melihat isinya, ternyata itu adalah sepasang anting berlian berbentuk hati dengan warna merah muda di bagian tengahnya. Bentuknya terlihat begitu kecil, unik, dan sarat akan nuansa kekanak-kanakan yang manis.
"Ini... jangan-jangan Zhao Chong yang bantu belikan ya?" tanyanya penuh pengertian.
Setelah itu, ia mengangkat kotak hadiah tersebut dan menunjukkannya kepada pria di sampingnya.
Begitu melihat sepasang anting itu, Jiang Yu menghela napas berat lalu mengangguk pelan.
Qiao Yuanxi tertawa kecil, kembali melihat sepasang anting tersebut, lalu berkata kepadanya, "Permintaan maafmu kuterima, aku memaafkanmu."
"Jiang Yu, bolehkah aku bertanya? Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah, berinisiatif meminta maaf padaku, dan bahkan memberiku hadiah?" tanya Qiao Yuanxi kebingungan.
Ini sama sekali tidak seperti hal yang biasa dilakukannya. Sekalipun dirinya mengatainya di belakang sebagai orang yang melupakan jasa setelah urusan selesai, pria itu pasti tidak akan peduli sama sekali.
Jiang Yu mengelak, "Bukan apa-apa, jangan banyak tanya."
Qiao Yuanxi mengangkat bahunya. "Kalau tidak mau bilang ya sudah, kalian para pria memang sangat gengsian."
Jiang Yu meliriknya sekilas. Gadis itu sedang asyik mencoba mengenakan anting tersebut dengan wajah gembira. Melihat ekspresinya yang begitu senang, Jiang Yu merasa hadiah yang ia berikan ini tidak sia-sia.
Waktu berlalu begitu cepat. Dua atau tiga hari kemudian, tibalah hari Sabtu, hari libur.
Sejak pagi-pagi sekali, Qiao Yuanxi sudah bangun. Ia memasak mi sederhana dan memanggil Jiang Yu turun untuk sarapan.
Pukul tujuh lebih, keduanya berangkat. Perjalanan menuju pemakaman memakan waktu lebih dari satu jam.
"Terakhir kali aku datang menjenguk ibuku adalah saat Festival Qingming, dan sekarang sudah beberapa bulan tidak datang lagi." Khawatir pria itu mengantuk, Qiao Yuanxi berinisiatif mengajaknya mengobrol.
Jiang Yu menoleh sedikit, menutupi mulutnya untuk menguap kecil. "Dulu kau datang ke sini hanya bersama ayahmu?"
"Lebih sering aku sendirian," jawab Qiao Yuanxi. "Ayahku takut datang ke pemakaman, katanya tempat ini auranya terlalu gelap dan pekat, jadi dia tidak berani datang. Kalau dia merindukan ibu, dia akan mengobrol dengan foto ibu dan melihat videonya di ruang kerja."
"Lalu, bagaimana dengan pamanmu?" tanya pria itu.
"Pamanku hanya datang menjenguk ibuku setiap tahun saat Qingming, Zhongyuan, dan menjelang malam Tahun Baru Imlek. Dia sibuk bekerja dan tinggal di Jingzhou, jadi tidak mudah jika harus sering-sering datang."
"Kalau aku, asalkan merindukan ibu, aku akan datang melawat. Sejak ayah mengalami kecelakaan, seluruh perhatianku tersita untuk mengurus urusannya, jadi aku belum sempat datang ke sini lagi."
Usai berkata demikian, Qiao Yuanxi menghela napas panjang dan mendesah, "Ah... aku sangat merindukan ibu."
Jiang Yu berkata, "Sebentar lagi kita akan sampai dan bisa melihatnya."
Qiao Yuanxi tersenyum, teringat akan hal yang ingin ia mintakan tolong sebelumnya, lalu bertanya dengan nada meraba-raba, "Jiang Yu, mengenai urusan ayahku, apakah kau masih bisa membantuku mengurusnya?"
"Masih ingin pergi menemui ayahmu?" tanya pria itu.
Qiao Yuanxi merenung sejenak, lalu berkata kepadanya, "Selasa depan adalah hari ulang tahunnya. Aku ingin membuatkan beberapa buah pangsit dan pergi menjenguknya. Jika dia tidak mau menemuiku, bisakah kau membantuku membawakan pangsit itu untuknya? Setiap tahun di hari ulang tahunnya, dia selalu makan pangsit buatan tanganku."
Jiang Yu bertanya, "Bagaimana jika ayahmu tetap tidak mau menemuimu?"
"Aku akan mencatatnya. Nanti setelah dia dijatuhi hukuman, aku akan pergi menjenguknya di penjara dan menghitung semua utang ini dengan tuntas!" kata Qiao Yuanxi dengan gigi Gemeletuk penuh geram.
Jiang Yu menarik sudut bibirnya. "Baiklah, kalau begitu tunggu kabarku. Kali ini aku akan langsung menanyakan apakah dia mau menemuimu atau tidak."
"Merepotkanmu ya," kata Qiao Yuanxi penuh rasa terima kasih.
"Kita ini mitra kerja, jadi jangan mengucapkan kata-kata yang merepotkan atau tidak," ucap Jiang Yu acuh tak acuh.
Setibanya di kompleks pemakaman, Qiao Yuanxi berjalan menaiki tangga dengan tangan kiri membawa buket bunga segar dan tangan kanan menjinjing kantong berisi kotak bekal.
Ia berhenti di depan sebuah batu nisan, lalu berkata kepada Jiang Yu, "Kita sudah sampai."
Ia membungkuk untuk meletakkan bunga segar, lalu mengeluarkan buah-buahan serta kue dari kantong bekal dan menatanya di sana. Keduanya membungkuk tiga kali ke arah batu nisan tersebut.
"Ibu, sudah lama aku tidak datang menjengukmu, jangan marah padaku ya, ayah mengalami kecelakaan." Qiao Yuanxi kembali berjongkok dan mengulurkan tangan untuk menyapu sisa-sisa salju tipis di kedua sisi batu nisan.
"Hari ini aku membawa seorang teman untuk datang menjengukmu, namanya Jiang Yu."
"Sebelumnya, aku telah membawanya menemui paman dan kakek. Kakek sangat merindukanmu sekarang, dan penyesalannya begitu mendalam karena dulu bersikap begitu kejam kepadamu. Aku sama sekali tidak merasa kasihan padanya."
"Paman baik-baik saja, hanya saja dia belum punya pacar. Di sana nanti, kau tidak perlu merasa khawatir untuknya."
Melihat Qiao Yuanxi berhenti berbicara, Jiang Yu lantas berujar, "Bibi, halo, saya Jiang Yu. Terima kasih atas bantuan tidak terlihat yang telah Bibi berikan. Yuanxuan dan saya sekarang tinggal di bawah atap yang sama, Bibi tenang saja, saya tidak akan membiarkan dia menderita kerugian apa pun."
Qiao Yuanxi berdiri, menatap foto sang ibunda, lalu teringat pada sang ayah. Hatinya terasa sesak dan air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Mengobrolah lagi dengan bibi, aku turun dulu untuk menunggumu." Usai berkata demikian, Jiang Yu berbalik dan berjalan menuruni tangga.
Begitu pria itu pergi, air mata Qiao Yuanxi langsung tulus merembes dan menetes tak tertahankan. Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan yang ia hadapi begitu besar akibat masalah sang ayah. Saat menatap foto ibunya detik ini, ia seolah menemukan tempat untuk meluapkan perasaannya dan mulai menceritakan isi hatinya yang paling dalam kepada sang ibunda.
Setelah Jiang Yu merokok dua batang rokok di bawah sana, Qiao Yuanxi berjalan turun dengan menenteng kantong bekalnya.
Pria itu melirik mata gadis itu yang memerah karena menangis, lalu segera berbalik dan melangkah turun lebih dulu.
Tangga-tangga yang tertutup salju masih menyisakan sisa-sisa salju tipis, membuat kecepatan jalan mereka berdua tidak terlalu cepat.
Qiao Yuanxi melangkah dengan sangat hati-hati, namun ia tetap kurang berhati-hati hingga kakinya terpeleset. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terdorong ke belakang. Ia menjerit kaget, "Eh! Eh!" sambil memejamkan mata, bersiap menerima rasa sakit saat bokongnya menghantam tanah.
Dengan sigap dan gerakan cepat, Jiang Yu berbalik dan menarik lengannya, lalu merengkuhnya ke dalam pelukan. Namun, karena tarikan yang terlalu kuat ditambah pijakan kaki yang tidak stabil, mereka berdua akhirnya terjatuh bersama-sama ke tanah.
Gadis itu jatuh menindih tubuhnya. Tidak ada adegan ciuman romantis seperti di drama televisi; yang terdengar hanyalah suara gigi mereka yang berbenturan keras, serta sensasi bibir yang tertekan gigi dan seketika memenuhi rongga mulut dengan rasa amis darah.