Bab 29: Berkat Nama Ibu
Halaman (1/3)
Saat mendekati pintu kamar rawat, Qiao Yuanxi mendengar suara seseorang berbicara dari dalam. Bukan suara pamannya, melainkan suara seorang pria muda.
“Nona Qiao, silakan masuk.” Sekretaris Li perlahan mendorong pintu yang setengah tertutup, lalu memberi isyarat mempersilakannya.
Qiao Yuanxi mengangguk kecil kepadanya, lalu masuk.
Begitu berada di dalam kamar, pandangan pertamanya bertemu dengan sang paman, kemudian beralih kepada lelaki tua yang duduk di atas ranjang.
Ingatan tentang rupa kakeknya dari pihak ibu sudah lama lenyap dari benaknya. Yang ia ingat hanyalah seorang lelaki tua yang sangat berwibawa. Kini, setelah melihatnya secara langsung, kakeknya memang tampak begitu berwibawa—wajahnya serius, matanya tajam dan penuh semangat, tubuhnya pun masih tampak sehat.
“Yuan-yuan sudah datang.” Cheng Xiangchen tersenyum dan berjalan menghampirinya.
“Paman.” Qiao Yuanxi memandangnya, dengan senyum tipis tersungging di wajah.
Cheng Xiangchen membawanya ke sisi ranjang, lalu berkata, “Sudah bertahun-tahun kalian tidak bertemu. Sepertinya sudah tidak ingat lagi, ya? Ini kakekmu!”
Qiao Yuanxi menatap lelaki tua bermarga Cheng yang duduk di ranjang dengan wajah serius. Setelah ragu sejenak, ia berkata, “Kakek.”
Suaranya terdengar kaku dan berjarak.
Lelaki tua Cheng menatap Qiao Yuanxi dengan sorot mata tajam. Sesaat kemudian, ia berkata, “Duduklah dulu.”
Tidak ada luapan kegembiraan seperti yang biasanya ditunjukkan seorang kakek kepada cucunya. Bahkan demi putrinya yang telah meninggal pun, lelaki tua itu tetap bersikap tenang.
Di sisi lain ranjang duduk seorang pria muda. Setelah mengamati Qiao Yuanxi, ia bertanya dengan rasa ingin tahu, “Kakek, siapa dia?”
Mendengar suara itu, Qiao Yuanxi menoleh kepadanya. Pria itu berwajah tampan, dengan pembawaan yang terang-terangan angkuh dan sikap penuh gaya seolah tak menganggap serius apa pun.
Qiao Yuanxi menduga, mungkin dialah cucu angkat sang kakek.
Lelaki tua Cheng melirik Chu Rui, lalu berkata, “Dia cucu perempuanku. Kalau berdasarkan usia, dia seharusnya adikmu.”
Chu Rui mengangkat alis. “Aku sudah bilang, rasanya wajah adik ini tidak asing. Seperti pernah melihatnya di suatu tempat.”
Qiao Yuanxi menatapnya dengan wajah tenang, tetapi dalam hati ia memutar bola mata setinggi langit.
Lelaki tua Cheng kembali memandang Qiao Yuanxi dan bertanya, “Tahun ini sudah dua puluh lima, bukan? Sekarang bekerja sebagai apa?”
Qiao Yuanxi menjawab, “Saya guru seni rupa di sebuah sekolah dasar di kota.”
Halaman (2/3)
“Guru.” Lelaki tua Cheng mengangguk puas. “Pekerjaan yang bagus. Mendidik dan mencerdaskan generasi penerus.”
Qiao Yuanxi tersenyum tipis tanpa mengatakan apa-apa.
“Dulu ibumu… sering memasak di rumah?” Lelaki tua Cheng menatap cucu perempuannya. Wajah gadis itu memiliki kemiripan empat hingga lima bagian dengan putrinya, membuat kerinduannya kepada sang putri semakin dalam.
Qiao Yuanxi berkata, “Biasanya di rumah ada pembantu yang memasak, jadi Ibu jarang turun ke dapur. Biasanya, kalau Ibu sedang merindukan Kakek, ia akan memasak hidangan yang Kakek sukai. Ibu bilang, kalau ia memakannya, berarti Kakek juga ikut memakannya.”
Begitu mendengar itu, hidung lelaki tua Cheng mendadak terasa masam. Ia menahan emosinya, lalu bertanya lagi, “Lalu, bagaimana dia mengajarimu memasak?”
Qiao Yuanxi memperhatikan perubahan emosi kakeknya. Seolah sedang tenggelam dalam kenangan, ia berkata perlahan, “Ibu bilang, Kakek mungkin tidak akan pernah memaafkannya seumur hidup. Kelak, ketika Kakek sudah tua, ia tidak bisa berada di sisi Kakek untuk berbakti. Setiap memikirkan hal itu, hatinya terasa sangat tidak enak. Karena itulah ia mengajariku memasak. Ia ingin aku menggantikannya berbakti kepada Kakek, agar kelak Kakek tetap dapat menikmati masakan Nenek dan Ibu.”
Kata-kata itu cukup menyentuh. Mata lelaki tua Cheng pun memerah.
“Putriku…”
Sepanjang hidupnya, lelaki tua Cheng telah mengabdikan diri kepada militer. Ia adalah seorang prajurit berdarah dingin dan berkemauan keras. Namun, setelah mendengar beberapa kalimat dari cucu perempuannya, ia tetap tak kuasa menahan air mata.
Cheng Xiangchen menghiburnya dengan suara rendah, “Ayah, jangan terlalu emosional. Kakakku selalu memikirkan Ayah. Dia tidak pernah menyimpan dendam kepada Ayah.”
Qiao Yuanxi menundukkan mata tanpa mengucapkan kata-kata penghiburan. Ia tidak sanggup mengatakannya. Sejak awal, ia selalu merasa bahwa kakeknya telah bersikap terlalu kejam kepada ibunya.
Chu Rui duduk di sana, menatap Qiao Yuanxi seperti serigala. Di sudut bibirnya tersungging senyum samar yang sulit ditebak.
Qiao Yuanxi merasakan tatapan itu, lalu mengangkat mata dan melirik Chu Rui. Tatapan mereka bertemu. Chu Rui memberinya senyum yang tampak tidak berbahaya.
Lelaki tua Cheng menyadari bahwa dirinya telah kehilangan kendali. Merasa sedikit canggung, ia berkata kepada Cheng Xiangchen dan Chu Rui, “Kalian berdua keluar dulu. Aku ingin berbicara berdua dengan Yuan-yuan.”
Chu Rui berdiri dan mengikuti Cheng Xiangchen keluar dari kamar rawat.
“Paman, nanti siang ajak adik makan bersama,” kata Chu Rui kepada Cheng Xiangchen.
Cheng Xiangchen duduk di kursi dan meliriknya. “Nanti saja.”
Di dalam kamar, lelaki tua Cheng yang sangat merindukan putrinya menanyakan banyak hal kepada Qiao Yuanxi tentang kehidupan Cheng Xiangyan selama bertahun-tahun ini. Seperti yang dikatakan pamannya, kakeknya memang sangat merindukan ibunya. Saat mengingat kejadian-kejadian di masa lalu, matanya bahkan kembali memerah karena emosi.
Apakah setelah seseorang mencapai usia tertentu, ia akan semakin peduli pada penyesalan dari masa lalu?
Lelaki tua Cheng hanya menanyakan tentang putrinya. Selain menanyakan pekerjaan Qiao Yuanxi di awal, ia tidak lagi bertanya bagaimana kehidupan cucunya setelah ibunya meninggal. Ia juga tidak menanyakan perkara Qiao Hongbo yang ditahan untuk pemeriksaan disipliner.
Halaman (3/3)
Kalau begitu, identitasnya sebagai cucu perempuan sama sekali tidak memiliki bobot di hati lelaki tua itu. Hari ini ia bisa dipanggil kemari semata-mata karena mendapat cahaya dari ibunya.
Ketika percakapan mereka hampir selesai, Cheng Xiangchen masuk.
“Ayah, perawat datang untuk mengukur tekanan darah.”
Qiao Yuanxi berdiri dan menyingkir, lalu menunggu di samping.
Chu Rui menghampirinya dan berdiri di sebelahnya. Ia menunjukkan kode untuk menambahkan kontak dari ponselnya, lalu berkata sambil tersenyum, “Tambahkan aku di WeChat. Kalau nanti ada urusan di Jingzhou, cari saja Kakak.”
Dalam hati Qiao Yuanxi mencibir, Huh, aku tidak akan mencarimu kalau ada urusan!
Ia tidak bergerak, hanya melirik ke arah Cheng Xiangchen.
“Kenapa melihat Paman? Kau bukan anak kecil lagi. Masa menambahkan kontak saja dia tidak mengizinkan?” tanya Chu Rui setengah bercanda.
Karena ia sudah berkata begitu, Qiao Yuanxi pun tidak memiliki alasan untuk menolak. Ia mengeluarkan ponsel, memindai kode tersebut, lalu menambahkan Chu Rui.
Setelah perawat selesai mengukur tekanan darah dan pergi, Cheng Xiangchen membungkuk dan bertanya, “Ayah, siang ini ingin makan apa? Biar Yuan-yuan pulang dan memasakkannya untuk Ayah.”
Lelaki tua Cheng telah kembali pada sikapnya yang berwibawa dan tegas seperti semula.
“Anak muda sibuk bekerja. Pulanglah dan urus kesibukanmu sendiri.”
“Baik.” Cheng Xiangchen mengikuti perkataannya. “Kita masih punya banyak waktu. Nanti kalau Ayah ingin makan apa pun, aku akan menjemput Yuan-yuan kemari.”
Qiao Yuanxi tahu bahwa ia harus pergi. Setelah berpikir sejenak, ia kembali berjalan ke sisi ranjang dan berkata dengan suara lembut, “Kakek, rawatlah luka Kakek baik-baik. Nanti saat Kakek berulang tahun, aku akan datang lagi menjenguk Kakek. Kakek tidak tahu, setiap tahun pada hari ulang tahun Kakek, Ibu selalu menyiapkan hadiah ulang tahun untuk Kakek.”
Mata lelaki tua Cheng berbinar. “Kalau begitu, datanglah. Selama bertahun-tahun, kita juga belum pernah merayakannya bersama.”
“Bawa juga semua hadiah yang disiapkan ibumu.”
Qiao Yuanxi kembali mengeluarkan seuntai kunci dari sakunya. Ia melepas sebuah hiasan naga merah rajutan dari sana, lalu menyerahkannya kepada lelaki tua itu sambil tersenyum.
“Kakek, Ibu bilang Kakek bershio Naga. Ini ia rajut sendiri dulu. Kelihatannya agak jelek, bukan?”
Lelaki tua Cheng menerimanya dan tertawa getir. “Mana mungkin jelek? Tangan putriku memang yang paling terampil.”
Sambil berkata demikian, ia mengusap-usap hiasan itu dengan ibu jarinya.
Qiao Yuanxi merasa semua yang perlu disampaikan sudah cukup. Ia pun berpamitan, lalu keluar dari kamar rawat bersama pamannya.