Jilid Satu Bab 19: Tenggelam oleh Ludah Orang
“Kenapa sih si Lu Fei itu orangnya begitu! Jatah itu juga bukan milik dia, kok bisa setega itu, nggak tahu malu banget.”
“Aku dari dulu udah nggak suka sama dia, lihat saja wajahnya yang licik itu, dari tampangnya aja sudah kelihatan bukan orang baik!”
“Betul banget! Jatahnya Ye Linger itu, dia mau kasih ke siapa juga terserah dia, kenapa harus kamu yang dapat?”
Beberapa perempuan muda yang ikut program transmigrasi bicara dengan nada makin tajam: “Lihat saja kelakuanmu itu, untung dulu Ye Linger nggak mau sama kamu.”
“Benar! Masih berani minta jatah, kalau harus diperebutkan pun, jangan sampai jatuh ke tanganmu. Dasar tak tahu diri!”
“Urusan Ye Linger itu hak dia sendiri, kamu siapa sampai berani menjelek-jelekkan gadis baik-baik begitu!”
Orang-orang mulai saling bersahutan, membuat Lu Fei jadi makin marah.
Dia merasa harga dirinya diinjak-injak, langsung kehilangan akal sehat dan membentak keras:
“Itu dia sendiri yang nggak bisa jaga diri, kenapa kalian malah nyalahin aku, bukankah apa yang aku bilang benar?”
Sambil bicara, dia menunjuk ke arah Chen Dong, “Dia… dia sama pemuda nakal ini, ketahuan berdua-duaan di ranjang, jelas-jelas nggak tahu malu, main serong masih nggak boleh dikritik.”
Semakin lama, Lu Fei makin bersemangat, lalu berteriak lagi: “Dia sudah mau menikah sama pemuda nakal ini, tapi masih juga ngotot pegang jatah itu, salah kalau aku minta ke dia? Kalau kalian merasa mampu, coba saja minta ke dia juga…”
Chen Dong langsung sadar, anak ini mau mengadu domba supaya semuanya ikut kesal.
Belum sempat Lu Fei menyelesaikan kalimatnya, Chen Dong langsung melompat ke depan dan menampar wajahnya berkali-kali.
“Bangsat, perkara nggak benar bisa-bisanya kamu putar balik jadi seolah-olah kamu benar, kamu memang pantas dipukul, tadi aku masih belum cukup keras ya?”
Sekretaris desa Feng entah sengaja atau memang tertegun, hanya berdiri diam tanpa berkata apa-apa. Dia membiarkan Chen Dong “beraksi sepuasnya”!
Kali ini Chen Dong merasa didukung, tanpa ragu dia terus menghajar Lu Fei sambil berkata, “Urusan aku dan Linger, semua salahku, nggak ada hubungannya sama dia!”
Plak! Plak!
“Kalau bicara soal kurang ajar, itu aku, Chen Dong, yang kurang ajar, dia sebagai perempuan apa salahnya?”
Plak! Plak!
Chen Dong menindih Lu Fei, memukul dengan kekuatan penuh.
Setelah merasa sudah cukup, dan kalau diteruskan bisa celaka, Sekretaris Feng baru tersadar dan berkata,
“Eh! Eh! Kenapa kalian berdua ribut lagi, sudah… sudah, hentikan!”
Di depan orang banyak, sebagai kepala desa, dia harus menjaga wibawa. Lagi pula Chen Dong juga sudah kelelahan, jadi dia berhenti.
Chen Dong lalu berbalik menghadap orang banyak dan berkata, “Sejak Ye Linger ikut transmigrasi ke Gunung Qinglong, sudah tiga tahun lebih. Kalian pasti lebih tahu seperti apa dia sebenarnya.”
“Sebelumnya, ada nggak yang pernah dengar dia berbuat macam-macam? Aku sudah bilang, kejadian kali ini salahku, bukan salah dia. Jadi kenapa bisa-bisanya nama dia dikaitkan dengan istilah-istilah kotor seperti ‘liar’, ‘nggak tahu malu’, atau ‘main serong’?”
Mendengar kata-kata Chen Dong, beberapa orang mengangguk pelan, sementara yang lain menundukkan kepala.
Chen Dong tahu, di kelompok besar seperti ini pasti ada saja orang yang bicara buruk di belakang, dan mereka itulah yang kini menunduk.
Tapi sekarang dia tak ada waktu memikirkan hal itu.
“Sekarang Linger adalah istriku, kalau lain kali aku dengar lagi ada yang bicara macam-macam soal dia, siapapun orangnya, lihat saja nanti aku bakal bertindak!”
Semua orang mendengarkan, dan mulai merenung. Dilihat dari sudut pandang masyarakat, Ye Linger sudah datang ke sini sejak remaja, dan mereka semua tahu betul seperti apa dia.
Terutama setelah pengumuman jatah kembali ke kota, perempuan yang sebentar lagi akan pulang, mana mungkin mau berbuat macam-macam dengan Chen Dong?
Kalau laki-laki sih mungkin saja, setelah bertahun-tahun di desa, sebelum kembali ke kota bisa saja nekat tidur dengan perempuan yang disukai. Itu masih masuk akal.
Jadi, secara logika, kalau memang ada yang salah, itu salah Chen Dong, bukan Ye Linger.
Lu Fei menjelek-jelekkan teman sendiri, itu jelas keterlaluan.
Jadi, wajar kalau Chen Dong memukulnya, memang Lu Fei sendiri yang cari gara-gara.
Lu Fei mendengar Chen Dong membela Ye Linger dan menjelekkan dirinya, lalu dengan berani berkata, “Apa yang aku bilang itu fakta, kalian berdua jelas-jelas ketahuan di ranjang, kalau itu bukan kelakuan liar, lalu apa?”
“Bangsat! Kalau nggak bisa jaga mulut, lebih baik diam, percaya nggak kalau aku bikin gigimu rontok semua?”
Lu Fei ketakutan dan langsung mundur.
Chen Dong menunjuk ke arah Lu Fei dan melanjutkan, “Aku dengar sendiri, kamu dulu pernah naksir Linger, tapi ditolak berkali-kali! Makanya kamu sekarang dendam dan mau balas sakit hati! Lihat saja, dia lebih milih aku yang kamu bilang nakal, daripada kamu, jadi kamu nggak terima, kan?”
Ucapan itu langsung menusuk batin Lu Fei, tapi dia masih ngotot,
“Aku… aku nggak begitu!”
“Jangan pura-pura suci, semua orang di sini tahu siapa kamu sebenarnya!”
“Sekarang aku juga mau bilang, Linger cuma menunda waktu pulang ke kota, belum tentu dia nggak pulang sama sekali, jadi kenapa jatahnya harus dikasih ke kamu?”
Kata-kata ini Chen Dong tujukan ke seluruh peserta transmigrasi, maksudnya jelas: jangan ada yang berharap mendapat jatah itu. Bagaimana mengaturnya, itu terserah Ye Linger sendiri.
Chen Dong melanjutkan, “Di Gunung Qinglong ada lebih dari tiga puluh orang transmigran, yang dari Provinsi Qin saja ada lebih dari sepuluh orang. Andaikan Linger memang nggak jadi pulang, masih banyak orang lain, kenapa harus kamu yang dapat? Kamu itu siapa, beraninya macam-macam?”
“Kamu... mulutmu jaga sedikit, jangan... jangan maki-maki orang?”
Chen Dong hampir tertawa mendengar Lu Fei bicara begitu.
Sudah dipukul bolak-balik, sekarang baru ingat soal sopan santun.
“Kamu itu, kata-katamu lebih kotor daripada makian aku, sekali lagi kamu macam-macam, lihat saja nanti aku hajar lagi!”
Saat ini seluruh peserta transmigrasi menatap Lu Fei, pandangan mereka penuh jijik dan benci, membuat Lu Fei gemetar ketakutan.
Tak ada yang lebih tahu daripada mereka sendiri, betapa berharganya satu jatah kembali ke kota. Sejak pemerintah mengumumkan kepulangan, banyak orang rela berkelahi sampai babak belur demi satu jatah itu.
Bahkan ada yang rela meninggalkan keluarga demi jatah itu!
Demi satu jatah, memberi uang, memberi hadiah, itu sudah biasa, bahkan ada yang rela mengorbankan diri sendiri demi mendapatkan kesempatan itu.
Lu Fei cuma modal ngomong doang mau minta jatah, apa mungkin?
“Mereka kan bukan saudara, paling-paling cuma satu kampung, kenapa Ye Linger harus kasih jatahnya ke Lu Fei?”
“Benar, orang nggak mau kasih malah kamu maki-maki, sampai merusak barangnya segala, kok bisa ada orang setega itu!”
“Iya banget! Benar-benar bikin malu peserta transmigrasi.”
“Betul, orang kayak dia karakternya buruk, mulai sekarang kita harus jauhi dia.”
“Haha! Pantas aja Ye Linger lebih pilih nikah sama pemuda nakal itu, daripada sama dia, pasti ada alasannya?”
“Apa alasannya?”
“Gampang saja, mungkin barangnya nggak becus!”
“Hahahaha!”
Mendengar ocehan orang-orang, Lu Fei berharap bisa lenyap dari muka bumi.
Sementara Chen Dong puas memukul dan merasa menang, tahu bahwa opini masyarakat kini berpihak padanya.
Jadi dia memanfaatkan momentum, menatap Lu Fei dan berkata, “Sekali lagi aku ingatkan, kalau aku dengar kamu ganggu perempuan, terutama istriku, aku patahin kakimu itu pun masih ringan!”
Lalu dia berbalik ke orang banyak dan berkata dingin, “Sekali lagi aku tegaskan, sebulan lagi aku akan menikahi Ye Linger secara resmi. Kalau selama waktu itu aku dengar ada yang bicara di belakang, jadikan Lu Fei ini sebagai contoh!”