Bab Delapan Puluh Lima: Tak Masuk Akal
“Apa, apa, apa yang bisa kamu jual kepadaku, Tuan Ichiro Oda?” tanya Xu Yunfeng sekali lagi, ragu-ragu.
Pihak seberang sudah terang-terangan menyadari dirinya adalah seorang tentara, tapi tetap bersedia menjual senjata dan amunisi kepadanya. Maka, Xu Yunfeng pun memutuskan untuk mencoba mengikuti arus.
Bagaimanapun juga, pihak Xu Yunfeng memang sangat membutuhkan senjata dan amunisi.
“Tergantung senjata apa yang kamu mau,” ujar Lin Sicheng.
“Eh, ini…” Xu Yunfeng terdiam lagi, memandang Lin Sicheng sambil berkedip. “Apa aku boleh membeli senjata apa pun yang kuinginkan?”
Sikapmu ini agak aneh, bukan?
Kalau aku membeli senapan mesin, kamu juga bersedia menjualnya?
“Asal kamu punya uang,” kata Lin Sicheng.
“Kalau begitu… bisa tidak kau jual dua puluh senapan panjang dan satu senapan mesin kepadaku?” Xu Yunfeng menatap Lin Sicheng dengan penuh harap.
“Hanya segitu?” Lin Sicheng meneguk air minumnya.
Apa maksudnya hanya segitu?
Itu dua puluh senapan panjang dan satu senapan mesin, lho.
Di tempat kami, persenjataan sebanyak itu sudah bisa melengkapi satu peleton.
Senjata satu peleton, dibilang hanya sedikit?
Ekspresi Xu Yunfeng tampak ragu saat memandang Lin Sicheng, “Apa aku boleh menambah pesanan?”
“Tentu saja, asal kamu punya uang,” Lin Sicheng mengangguk.
“Kalau aku ingin membeli lima senapan mesin dan seratus senapan panjang, bisakah?” Xu Yunfeng, memberanikan diri, langsung menambah jumlah permintaan.
“Tentu saja tidak masalah,” Lin Sicheng menatap Xu Yunfeng dan bertanya dengan sungguh-sungguh, “Kamu sudah yakin? Tidak ingin menambah lagi?”
Masih bisa menambah lagi?
Xu Yunfeng langsung kebingungan menghadapi sikap Lin Sicheng.
Aku sudah menambah sampai persenjataan satu kompi, apa masih bisa lebih?
Kamu ini cuma seorang komandan regu kecil, dari mana kamu punya senjata sebanyak itu untuk dijual?
Keraguan jelas terpancar di wajah Xu Yunfeng saat ia berkata, “Tuan Ichiro Oda, tolong jangan bercanda denganku.”
Benar, sekarang Xu Yunfeng benar-benar mengira Lin Sicheng sedang bercanda.
“Bolehkah aku bertanya, dari satuan mana kamu berasal?” tanya Lin Sicheng pada Xu Yunfeng, “Jika kamu dari Resimen 321 Tentara Daerah, barang yang bisa kujual padamu bahkan melebihi bayanganmu.”
Benar.
Resimen 321 Tentara Daerah sedang dikepung oleh Satuan Muramatsu. Masuk ke lingkaran pengepungan dan berdagang dengan Resimen 321 sangatlah sulit.
Tapi.
Jika Xu Yunfeng di hadapannya ini memang orang Resimen 321, maka bisnis ini akan jauh lebih mudah, bisa langsung menjual pada mereka.
Kalaupun dia bukan dari Resimen 321, asalkan bisa membantu menemukan anggota Resimen 321 yang masih tersisa di luar kepungan, bisnisnya tetap bisa terlaksana.
Xu Yunfeng agak tertegun begitu mendengar Lin Sicheng menyebut nama Resimen 321 Tentara Daerah.
Dia memang bukan anggota Resimen 321, namun punya hubungan erat dengan mereka.
Mendengar Lin Sicheng berkata bisa menjual barang luar biasa pada Resimen 321, Xu Yunfeng tak bisa menahan rasa ingin tahunya, “Tuan Ichiro Oda, barang apa yang bisa kau jual pada Resimen 321?”
“Aku bisa menjual kendaraan lapis baja pada mereka!” jawab Lin Sicheng tegas.
“Apa… eh…” Otak Xu Yunfeng langsung blank mendengar jawaban itu.
Dia memandang Lin Sicheng yang tampak serius, mulutnya terbuka, tapi tak tahu harus bicara apa.
Menjual kendaraan lapis baja, aku tidak salah dengar, kan?
Ichiro Oda benar-benar menawarkan kendaraan lapis baja!
Ini benar-benar lelucon.
Kamu cuma komandan regu kecil, dari mana kamu punya kendaraan lapis baja?
Kendaraan lapis baja itu andalan pasukan mekanis, mana mungkin kamu bisa menjualnya?
Komandan pasukan mekanis pasti langsung mencarimu kalau tahu kau berani menjual kendaraan mereka!
Melihat Xu Yunfeng masih tercengang dan belum juga sadar, Lin Sicheng mengingatkan, “Tuan Xu, jika kamu memang dari Resimen 321, kamu bisa langsung membawakan uang dan membeli kendaraan lapis baja dariku.”
Xu Yunfeng tersadar, langsung berdiri dan tanpa ragu pamit pada Lin Sicheng, “Tuan Ichiro Oda, terima kasih banyak atas bantuanmu di Kota Xian’an, aku masih ada urusan, mohon pamit dulu.”
Xu Yunfeng pun meletakkan kotak itu dan segera beranjak pergi.
Jelas, Xu Yunfeng benar-benar mengira Lin Sicheng hanya main-main.
Kamu cuma seorang perwira Jepang berpangkat rendah, mana mungkin bisa menjual kendaraan lapis baja.
Kenapa tidak sekalian bilang kamu bisa jual pesawat tempur atau kapal perang saja?
Lin Sicheng menahan Xu Yunfeng, “Tuan Xu, jangan terburu-buru pergi. Kamu bisa membantu Resimen 321 untuk melihat barangnya dulu. Aku tahu kamu tidak percaya, tapi kamu bisa lihat dulu barangnya, baru pertimbangkan lagi.”
“Bisa lihat barangnya dulu?” Xu Yunfeng melirik Lin Sicheng dengan penuh keraguan.
Benar.
Seorang komandan regu kecil menjual kendaraan lapis baja, ini sudah sangat aneh.
Tapi kalau barangnya benar-benar bisa dilihat… ini malah makin tidak masuk akal!
Seorang perwira Jepang berpangkat rendah bisa menguasai kendaraan lapis baja dan berani menjualnya, siapa yang percaya?
“Tentu saja bisa,” Lin Sicheng mengangguk dengan sikap serius, “Kalau kamu percaya padaku, sekarang juga aku bisa mengajakmu melihat barangnya.”
“Kalau begitu…” Xu Yunfeng sebenarnya tidak percaya Lin Sicheng punya kendaraan lapis baja, tapi kakinya jadi susah beranjak.
Sudah terlanjur datang, tidak ada salahnya melihat barangnya sekalian.
Toh, tidak akan memakan banyak waktu.
Namun, sebelum Xu Yunfeng selesai bicara, seorang sersan dari Osaka berlari tergesa-gesa dan melapor pada Lin Sicheng, “Komandan, ada masalah, Komandan Yokoi datang!”
“Kenapa panik?” Lin Sicheng menenangkan, lalu menoleh pada Xu Yunfeng, “Tuan Xu, mohon tunggu sebentar di sini. Aku harus mengurus sesuatu, setelah itu akan kuajak kamu melihat barangnya.”
“Tuan Ichiro Oda, baiklah, aku akan menunggu di sini,” jawab Xu Yunfeng setelah berpikir sejenak.
“Layani tamuku baik-baik,” pesan Lin Sicheng, lalu segera melangkah keluar.
Koteru Kumaichi juga sudah bangun dan dengan cepat menyusul langkah Lin Sicheng, “Komandan, pasti Komandan Yokoi mau cari gara-gara lagi.”
“Tak perlu takut, aku masih di sini, kan!” Lin Sicheng melirik Koteru Kumaichi, “Kalau kamu takut, silakan kembali tidur.”
“Takut? Kapan aku pernah takut! Aku akan berdiri di sisimu, Komandan,” ujar Koteru Kumaichi dengan wajah tegas, “Kalau Komandan Yokoi berani macam-macam, kita lawan saja!”
Lin Sicheng dan Koteru Kumaichi sampai di pintu gerbang, tepat ketika sepeda motor Komandan Yokoi tiba.
Sepeda motor berhenti, Komandan Yokoi turun sambil melototi Lin Sicheng dan Koteru Kumaichi, “Ichiro Oda, Koteru Kumaichi, kenapa kalian berdua tadi malam tidak mengirim pasukan untuk membantu?!”
“Kami harus membantu apa?” tanya Lin Sicheng pura-pura tidak tahu.
“Tim penyelamatku disergap, lokasinya tak jauh dari pos Li Cun, kalian pasti dengar keributannya!” Mata Komandan Yokoi membelalak marah.
Komandan Yokoi telah memeriksa lokasi kejadian dengan saksama, masih ada beberapa jenazah prajurit dari dalam kendaraan lapis baja yang tenggelam bersamanya.
Jelas sekali, tim penyelamat tidak hanya mengangkat kendaraan lapis baja, tapi juga mayat-mayat itu.
Sayangnya, dalam perjalanan pulang, mereka disergap musuh, semua anggota tewas, kendaraan lapis baja pun raib entah ke mana.
Orang-orang Osaka ini sungguh keterlaluan, sudah jelas ada rekan yang butuh bantuan di depan mata, tapi tetap diam saja, benar-benar tak tahu malu.