Bab 148 Berbeda
Akhirnya Wang Hui pergi ke tempat yang sering mereka kunjungi, berniat mengadu nasib. Jika tidak berhasil menemui siapa pun, sekadar duduk minum seorang diri di sana pun tidak masalah. Entah karena keberuntungannya sedang bagus atau bagaimana, setibanya di sana ia justru mendapati Li Yan sedang berada di dalam ruang pribadi bersama Xu Zhengdong.
Xu Zhengdong tampak terkejut melihat kehadirannya, sementara Li Yan berdiri tepat di samping pria itu.
Meskipun pandangan Wang Hui tertuju pada Xu Zhengdong terlebih dahulu, tatapannya dengan cepat beralih kepada Li Yan.
Li Yan tampak berpakaian rapi dan elegan, berdiri di sisi Xu Zhengdong.
Melihat Wang Hui seperti hendak menyampaikan sesuatu kepada Li Yan, Xu Zhengdong dengan penuh pengertian langsung berkata, "Kalau begitu, aku ke toilet sebentar."
Sebenarnya Xu Zhengdong juga khawatir pertemuannya dengan Wang Hui akan terasa canggung. Namun, Wang Hui sama sekali tidak mempedulikan kepergian Xu Zhengdong; seluruh perhatiannya tercurah pada Li Yan. Begitu Xu Zhengdong berlalu, ia langsung melangkah mendekat.
Dari caranya melangkah, sama sekali tidak terlihat bahwa pertemuan ini adalah sebuah kebetulan. Karena itu, Li Yan langsung bertanya, "Kau datang untuk mencariku?"
Wang Hui tidak tahu bagaimana harus memulai, bagaimanapun juga ini menyangkut urusan pribadi Li Yan.
Namun, hal ini memiliki kaitan yang begitu rumit dengan Wang Li, sehingga ia langsung mengutarakan niatnya, "Beberapa hari lalu di depan pusat perbelanjaan, aku melihatmu."
Ia mencoba melontarkan kalimat itu terlebih dahulu.
Tanpa diduga, Li Yan tidak menyangkalnya sama sekali, melainkan mengakuinya dengan terus terang, "Benarkah? Aku juga melihatmu hari itu, kupikir itu hanya perasaanku saja."
Senyum tipis masih terukir di sudut bibirnya.
Wang Hui tidak menyangka pria itu akan mengakuinya secara langsung tanpa berbelit-belit seolah-olah pertemuan kemarin hanyalah perjumpaan biasa yang sama sekali tidak istimewa.
Setelah ragu-ragu sejenak, Wang Hui kembali bersuara, "Kulihat kau tidak sedang sendirian."
Begitu kalimat itu meluncur, tujuan Wang Hui pun menjadi sangat jelas.
Li Yan tetap bergeming, tanpa sedikit pun berusaha menutupi, "Ya, aku datang untuk menjemput seseorang."
Ia memesan dua gelas minuman. Pelayan segera mengantarkannya, lalu Li Yan menyerahkan segelas koktail kepada Wang Hui, sementara ia sendiri mengambil segelas tequila.
Wang Hui menerima gelas tersebut, dan di saat yang sama, Li Yan mengangkat gelasnya lalu menegaknya dalam sekali teguk.
Wang Hui menatapnya. Sebenarnya ia sangat takut melakukan percakapan seperti ini dengan Li Yan, sebab mustahil untuk menebak apa yang sedang bergolak di dalam benaknya.
"Li Yan, aku berharap penglihatanku salah. Tapi aku tidak bisa memungkiri apa yang kulihat kemarin."
Mendengar ucapan itu, jemari Li Yan bergerak membelai permukaan gelas kristal dengan perlahan.
Dengan nada bicara penuh tersirat, Li Yan berkata, "Sepertinya hari ini kau ingin mengorek keterangan dariku."
Wang Hui berkata, "Jika aku tidak salah ingat, perempuan itu adalah Liao Yan."
Dengan nada acuh tak acuh, Li Yan menjawab, "Hm."
Melihat tidak ada orang di sekitar mereka, Wang Hui memberanikan diri untuk bertanya, "Apa hubungan kalian sebenarnya?"
Ia berpikir sejenak, lalu menambahkan, "Kurasa hubungan kalian tidak sekadar sesederhana itu."
Wajah tampan dan tegas milik Li Yan menyiratkan keseriusan.
Wang Hui melanjutkan, "Li Yan, kau bukan tipe pria yang kekurangan wanita. Tapi aku tidak begitu paham dengan hubunganmu dan Liao Yan itu."
"Harus sekali bertanya?" tanya Li Yan padanya.
Wang Hui menjawab, "Tentu saja kau berhak untuk tidak menjawab. Tapi kurasa, sikapmu padanya bukanlah sikap yang biasa kau tunjukkan pada seorang adik."
Li Yan tersqum tipis. "Kau tahu masalah ini mencakup berbagai aspek. Aku tidak menyangkal bahwa ada hubungan di antara kami, tetapi kurasa kau tidak perlu ikut campur dalam urusan ini."
Suatu firasat memberitahu Wang Hui bahwa hubungannya dengan gadis itu sangat rumit dan jauh dari kata sederhana.
Ada perlakuan yang berbeda yang ditunjukkan Li Yan kepada gadis itu, itulah yang dirasakan Wang Hui saat ini.
Namun, bagi pria seperti Li Yan, keistimewaan apa yang bisa ia berikan kepada seorang wanita?
Ia sudah terbiasa melihat berbagai macam wanita datang dan pergi di sisi pria itu. Jika ia hanya ingin mempermainkannya, sama sekali tidak perlu memilih sosok yang begitu berbahaya.
Bukankah wanita di mata seorang pria hanyalah sebatas itu? Siapa pun bisa dijadikan pilihan, lantas mengapa ia harus melibatkan gadis itu?
Jika dihubungkan dengan apa yang terjadi pada Wang Li sebelumnya, sangat sulit baginya untuk tidak mengaitkannya dengan gadis ini.
"Li Yan, sampai detik ini aku masih tidak percaya—"
Ia tidak percaya bagaimana seorang pria yang begitu rasional dan kejam bisa melakukan hal seperti ini!