Bab 43 Pembagian Jarahan yang Damai
【Pertempuran Dimenangkan】
【Musuh yang dikalahkan: Mahongtai, Tianmao, Yanguong, Jingshao, Ruankai, Tianyu, Tanyin, Pasukan Ringan 248, Milisi 190.】
【Pasukan kita gugur: Pasukan Lapis Baja Ringan 38, terluka: Pasukan Lapis Baja Ringan 55.】
【Tahanan perang: Pasukan Ringan 104.】
【Memperoleh: Gandum 3415, Koin Yuanqian 1870, Kuda Merah Keemasan x2, Pedang Perunggu x4, Liontin Giok Dushan, Tombak x108, Pirus, Pelana Kuda Kulit Binatang...】
Tingkat kematian Pasukan Lapis Baja Ringan lebih rendah dari yang diekspektasikan oleh Xia Shang.
Semua ini berkat karakteristik pasukan mereka serta komando dari Wu Guang.
Pertempuran-pertempuran klasik dalam sejarah Tiongkok di mana pasukan yang lebih sedikit mengalahkan pasukan yang lebih banyak tidak pernah lepas dari seorang panglima yang hebat.
Namun, kekalahan Mahongtai bukan hanya karena alasan itu.
Dia terlalu peduli pada jumlah pasukan, sementara terlalu mengabaikan atribut dan moral.
Pasukan elit yang dilengkapi dengan persenjataan lengkap dan terlatih dengan baik sangat mudah untuk mengalahkan sepuluh musuh sekaligus seorang diri.
【Kuda Merah Keemasan】
「Biasa」: Kepemimpinan +2.
【Daya Serang】: 17 【Stamina】: 27 【Stabilitas】: 26
Kuda Merah Keemasan milik Mahongtai memiliki atribut yang sedikit lebih tinggi daripada milik Xia Shang. Kebetulan kuda perang Xia Shang sedang terluka, jadi Xia Shang langsung menggantinya dengan kuda ini.
【Pelana Kuda Kulit Binatang】
「Perlengkapan Kuda」 「Biasa」: Stamina +1, Stabilitas +2.
Jenderal Jiangchen dapat dilengkapi dengan senjata, perlengkapan pelindung, aksesoris, dan kuda.
Sementara kuda juga memiliki dua slot perlengkapan, yaitu pelana kuda dan baju besi kuda.
Xia Shang memasangkan pelana kuda kulit binatang itu pada kuda perangnya, membuat penampilannya terlihat sedikit lebih mewah.
Xia Shang tidak punya waktu untuk memeriksa satu per satu sisa barang rampasan perang yang melimpah itu, lalu memasukkan semuanya ke dalam kantong. Ia kemudian membawa Gan Jiang dan memacu kudanya menuju arah seekor kuda hitam.
Yi Pi Heima melihat Xia Shang Xizhou datang mendekat bersama seorang jenderal yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Ia menghela napas, meninggalkan para pasukannya di tempat, dan meminta Xiao Mohe untuk menemaninya menyambut mereka.
"Sialan, sudah kuduga. Seharusnya kita bisa mengobrol baik-baik seperti terakhir kali. Mahongtai ini benar-benar diseret hingga hancur oleh kalian."
Yi Pi Heima mengerutkan kening, memikirkan bagaimana cara menghadapi Xia Shang.
Meskipun kekuatan pasukan di tangannya jelas lebih kuat daripada Xia Shang Xizhou, dan jenis pasukan lapis baja ringannya pun tidak sedikit.
Namun entah mengapa, sebelum memiliki kekuatan untuk meratakan Xia Shang Xizhou, metode apa pun yang dipikirkannya terasa tidak aman.
Pertempuran tadi juga telah ia saksikan. Bukan hanya senjata Xia Shang yang dapat mengeluarkan teknik bela diri, bahkan jenderalnya yang lain pun mampu mengeluarkan teknik bela diri yang dahsyat.
Kedua jurus teknik bela diri ini saja sudah mampu menghapus perbedaan ratusan pasukan dari kedua belah pihak.
"Lao Xiao, jika mereka menyerang, apakah kamu bisa menahannya?"
Setelah mendengarkan pertanyaan Yi Pi Heima, Xiao Mohe langsung menggelengkan kepalanya.
"Satu orang masih bisa kuatasi dengan susah payah, tapi dua orang sama sekali tidak mungkin."
"Kalau begitu aku mengerti."
Yi Pi Heima mengumpat dengan kesal sambil mengerutkan kening, lalu ekspresinya berubah seketika dan tersenyum ceria.
"Xia Shang Xizhou!"
Xia Shang dan Yi Pi Heima tiba di petak tanah yang sama. Melihat antusiasme lawannya yang tampak seperti teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa, Xia Shang langsung memasang kewaspadaan dan bersembunyi di balik punggung Gan Jiang.
Sementara itu, Yi Pi Heima tampak melaju dengan cepat, tetapi begitu hampir mendekati posisi Xia Shang, ia tiba-tiba memperlambat kecepatannya seolah-olah tidak bisa mengendalikan kudanya, dan baru menyusul setelah Xiao Mohe mendahuluinya.
"Menghadapi musuh dua kali lipat lebih banyak tapi bisa menang dengan begitu mudah, dugaanku padamu memang tidak salah!"
"Bukankah itu karena Kakak Heima berbaik hati menunjukkan belas kasihan? Jika kamu juga ikut bergabung, aku pasti sudah kalah!"
Keduanya berbicara dengan dipisahkan oleh Gan Jiang dan Xiao Mohe, tetapi nada bicara mereka seolah-olah mereka sudah berpelukan erat.
"Sudah kubilang pada si bodoh itu agar tidak mencarimu, tapi anak itu kepalanya keras dan tidak mau mendengarkan. Jika bukan karena kita sesama pemain di Hongyu, aku pasti sudah membantumu menghajarnya!"
"Kamu tidak memanfaatkan saat kami bertarung untuk menjarah perbekalan sendiri saja aku sudah sangat puas!"
"Hahaha!"
"Hahaha!"
Jika ada orang yang tidak tahu situasinya melihat pemandangan ini, mereka mungkin akan mengira bahwa kedua orang inilah yang bergandengan tangan untuk memusnahkan pasukan pertahanan di tempat ini.
Tanpa disadari oleh siapapun, kedua orang ini sebenarnya sama-sama sangat menyayangi nyawa dan pasukan mereka sendiri, namun di saat yang sama juga ingin mencari kesempatan untuk menjatuhkan satu sama lain secara diam-diam.
"Kenapa kamu masih belum pergi? Masih ingin bertarung satu lawan satu denganku?"
Begitu Xia Shang mengucapkan kalimat ini, Yi Pi Heima langsung bangkit berdiri dari kudanya dengan penuh amarah. Begitu ia menyadari bahwa posisinya terlalu terbuka, ia langsung duduk kembali dengan cepat.
"Xia Shang Xizhou, apa maksudmu?"
"Bukankah sama seperti terakhir kali? Kita bertaruh untuk sumber daya di sini. Kurasa kali ini pertarungannya 2 lawan 2 saja."
Yi Pi Heima menggertakkan giginya menahan amarah, merasakan sensasi seperti sedang ditindas oleh seorang perundung.
Namun ketika melihat Xiao Mohe pun berbalik dan menggelengkan kepalanya ke arahnya, ia hanya bisa menyalahkan ketidakadilan takdir.
"Jika kamu terus menekanku, aku akan melawan ya! Setidaknya kita harus membaginya lima puluh banding lima puluh!"
"Aku delapan, kamu dua."
"Xia Shang Xizhou, jangan keterlaluan! Pembagian lima-lima tidak boleh ditawar lagi!"
Yi Pi Heima melihat penampilan Xia Shang yang tidak punya urat malu demi mendapatkan harta itu, dan ia sudah mulai menyesal karena tadi tidak membantu Mahongtai.
Yang lebih ia sesali lagi adalah ketika Tiga Tuan Muda ingin menyerang tempat itu di masa lalu, dirinya justru menghentikannya.
"Apakah kamu tahu, sebenarnya target yang ingin kita serang kali ini adalah tempat di mana kita pertama kali bertemu?"
"Hmm?"
Merasa sudah tidak punya pilihan lain, dan Yi Pi Heima juga tidak ingin benar-benar mengorbankan seluruh pasukannya di sini, ia pun terpaksa menggunakan akal sehat dan pendekatan emosional.
"Di sebelah utara tempat itu, ada sebuah kota bernama Kota Luocheng, yang sekarang telah diduduki oleh Klub Tianwu."
"Dan orang dari pihak Hongyu yang bertanggung jawab atas garis depan Kota Luocheng adalah Tiga Tuan Muda dari Grup Hongyu, aku juga salah satu pemain di bawah komandonya."
"Kali ini aku datang ke selatan bersama para pemain yang tewas di tanganmu, tujuannya adalah untuk mencari jalan memutar ke bagian belakang Kota Luocheng."
"Target utama Tiga Tuan Muda adalah wilayah tempat kita bertemu terakhir kali, wilayah yang kuberikan kepadamu!"
Xia Shang, yang awalnya mendengarkan dengan sangat serius, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang terasa ganjil.
"Wilayah yang kamu berikan padaku? Bukankah itu wilayah yang kubenangkan?"
"Ck, detail itu tidak penting, jangan potong pembicaraanku!"
Yi Pi Heima mendelik ke arah Xia Shang, tetapi mendapati pandangannya terhalang oleh kedua jenderal tersebut. Setelah mengumpat dalam hati, ia pun melanjutkan perkataannya.
"Kelinci Gula Kelinci yang ada waktu itu, langsung ditendang keluar dari Hongyu tanpa perlindungan dariku, oleh karena itu hanya aku yang memiliki peta wilayah pandang di sana."
"Aku tahu wilayahmu terhubung dengan jalan menuju ke Kota Luocheng, tetapi karena aku adalah pria baik sejati yang memegang janji, makanya aku menutup-nutupinya untukmu."
"Jika kamu masih bersikap tidak tahu malu seperti ini, aku tidak akan bisa memberikan laporan saat kembali nanti, dan aku terpaksa harus menggunakan informasi ini untuk menutupi kesalahanku."
Setelah mendengarkan perkataan Yi Pi Heima, sebuah ide tiba-tiba muncul di benak Xia Shang.
"Kesepakatan bagus, ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui!"
"Bukan begitu, kawan?"
Melihat sikap Xia Shang yang begitu acuh tak acuh, Yi Pi Heima merasa terkejut, namun setelah berpikir sejenak ia pun bisa menebak siedikit banyak situasinya.
Sepertinya Xia Shang Xizhou sudah tahu bahwa Tianwu telah memasuki Kota Luocheng, dan juga mengetahui perang antara Hongyu dan Tianwu. Ia menyadari bahwa wilayah kekuasaannya adalah titik strategis penting yang diperebutkan oleh kedua belah pihak.
Oleh karena itu, sejak jauh-jauh hari ia pasti telah mengosongkan tempat di sana, dan mungkin hanya menygalkan sebuah istana kosong saja.
'Xia Shang Xizhou, kamu benar-benar pria aneh yang menyebalkan. Kenapa aku harus berpapasan denganmu di Distrik Changzhou?'
'Jelas-jelas memiliki jenderal dan senjata yang begitu kuat, tetapi orangnya juga tidak bodoh. Jika sampai kamu mendapatkan Kartu Penguasa, bagaimana bisa dibayangkan akibatnya?'
'Tapi untungnya, pilihanmu seperti ini setidaknya membuktikan bahwa kamu masih lebih memihak pada Hongyu. Kalau tidak, aku harus memikirkan bagaimana cara keluar dari Hongyu dengan aman.'