Bab Tujuh: Ulat Es Impian Surgawi
Pemuda itu memiliki perawakan yang ramping dan tegak. Rambut pendeknya yang berwarna biru tua memancarkan kilau bagaikan permata di bawah cahaya matahari. Dari kejauhan, ia memberikan kesan anggun, dengan senyum lembut yang sedikit malas menghiasi wajahnya yang tampan.
Gadis yang berjalan di depan pria itu melangkah dengan cepat menghampiri Xiao Yan. Dengan tatapan yang seolah ingin meneteskan air liur, ia menatap kelinci panggang di tangan Xiao Yan dan bertanya, "Adik kecil, kelinci panggangmu harum sekali! Bagaimana cara membuatnya?"
"Bagaimana cara membuatnya? Ya dipanggang. Apa kau tidak melihatnya?" Mendengar itu, Xiao Yan mengangkat kelinci panggang di tangannya dengan ekspresi datar.
"..." Gadis itu terdiam seribu bahasa, namun matanya tetap terpaku pada kelinci tersebut. Dengan mata yang berbinar, ia berkata, "Adik kecil, apakah kelinci panggangmu ini dijual